Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 (Part 2)
Mereka tiba di Jakarta menjelang sore. Dalend tidak membawa Marisa ke apartemen mewah lamanya. Ia membawanya ke sebuah apartemen yang lebih kecil, lebih modern, dan terletak di kawasan bisnis yang kurang menonjol, jauh dari radar Angkasa Raya. Apartemen itu minimalis, dengan pemandangan kota yang padat.
"Ini bukan ballroom mewah, tapi ini rumah baru kita," kata Dalend, meletakkan koper Marisa. "Ini juga hadiah dari aku. Kamu bisa mulai membangun Dapur sejati Jakarta di sini."
Marisa tercengang melihat dapurnya. Daour itu besar, profesional, dan dilengkapi peralatan canggih.
"Dalend, ubi terlalu mahal!" Marisa memprotes. "Aku bilang aku akan pakai uangku sendiri!"
"Dan aku bilang, aku akan menggunakan uang ku untuk mendukung kamu," Dalend membalas. "Anggap saja ini adalah investasi dari Manajer Operasional Properti Angkasa Raya untuk start-up calon istrinya."
Dalend memeluk Marisa dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Marisa. "Kamu harus siap menghadapi persaingan di sini, Tunangan. Kamu enggak boleh sibuk dengan peralatan pasar. Kamu harus fokus pada strategi."
Marisa tersentuh. Dalend tidak meremehkan usahanya, melainkan mendorongnya untuk berkembang.
...
Malam itu, mereka memutuskan untuk memasak bersama. Marisa, dengan senang hati, menunjukkan pada Dalend cara memotong bumbu yang benar.
Dalend, mengenakan hoodie abu-abu kesayangannya, berdiri terlalu dekat di belakang Marisa di dapur yang luas itu. "Kamu cantik," bisik Dalend, bibirnya menyentuh tengkuk Marisa.
"Kamu emm ganteng." Marisa balas berbisik, membiarkan sentuhan itu.
"Kenapa pakai em?" Dalend bertanya, membalikkan tubuh Marisa agar menghadapnya.
"Karena aku sedikit gugup, maaf." Marisa tersenyum, melingkarkan tangannya di leher Dalend. Ia ingin mengatakan sesuatu setelah mendapatkan banyak kasih dari Dalend. "Kamu adalah Manajer Operasional Properti yang sudah membuktikan dirinya. Dan kamu layak mendapat reward."
Dalend mendekat, pandangannya mengunci. "Aku mau reward yang lebih baik dari nasi goreng."
Marisa membalas ciuman Dalend. Ciuman itu dimulai di antara bau bawang dan jahe, intens, dan intim. Dalend mengangkat Marisa, mendudukkannya di atas counter dapur.
"Kita harus bicara strategi besok," bisik Dalend, bibirnya menjelajahi leher Marisa.
"Aku tahu," Marisa membalas, nafasnya terengah. "Tapi malam ini, strategi kita adalah merebut kembali waktu yang hilang."
Dalend tertawa, suara tawa yang dalam dan penuh kebahagiaan. Ia menyisipkan tangannya ke rambut Marisa.
"Aku sudah siap, Tunangan. Sekarang, tunjukkan pada Aku kenapa Bara harus menyesal selamanya. "
Dalend membawa Marisa ke kamar, tidak dengan buru-buru, tetapi dengan kelembutan yang lebih mendalam, merayakan reuni mereka. Keintiman mereka di rumah kecil Marisa telah menjadi fondasi. Ini bukan lagi tentang pelarian, tetapi tentang kepemilikan yang lembut dan penuh cinta. Ini hanya sekedar tidur bersama. Dalend sangat menghormati Tunangan nya ini. Ia bisa menahan diri.
Malam yang menenangkan.
...
Keesokan paginya. Dalend terbangun dengan perasaan sangat segar. Ia menemukan Marisa sudah di dapur, mengenakan apron dan sedang mencoba resep baru.
"Pagi, Chef," sapa Dalend, memeluk Marisa dadi belakang.
"Pagi. Kamu harus sarapan dulu. Aku bikin omelet truffle," kata Marisa.
Dalend tertawa. "Truffle? Kamu sudah kembali ke Jakarta sepenuhnya, Tunangan."
"Aku harus beradaptasi dengan persaingan fine dining di sini," Marisa membalas. "Sekarang, kita bicara rencana. Besok, Kamu masuk kerja, dan Aku akan mengurus Dapur Sejati Jakarta. Tapi kapan kita akan menghadap keluarga mu?"
Dalend menyeruput kopi, wajahnya kembali serius.
"Setelah makan. Kita akan menunjukkan pada mereka, kita enggak lari. Kita kembali sebagai pasangan yang setara. Kamu dengan start-up katering kamu, dan aku dengan jabatan baru ku. "
"Aku siap, Dalend," Marisa mengangguk, tatapannya tegas. Ia melihat cincin safir birunya bersinar, mengingatkan pada janji yang mereka buat di tengah kehancuran.
Dalend mengambil tangan Marisa, mencium punggung tangannya.
"Selamat datang kembali di medan perang, Marisa. Kali ini, kamu adalah kekasihku. Dan aku enggak akan membiarkan siapa pun, termaksuk Mama ku, menghancurkan hubungan kita. "
...
Setelah makan dan berberes. Dalend mengenakan kemeja biru navy yang pas di badannya, menanggalkan citra "pemberontak" dan menggantinya dengan aura pemimpin yang tenang. Marisa mendampinginya, mengenakan blazer formal namun tetap mempertahankan gaya khasnya yang minimalis.
Saat mereka melangkah masuk ke lobi utama Gedung Angkasa Raya, suasana seketika berubah. Bisik-bisik karyawan terdengar seperti lebah yang terusik.
"Itu dia, kan? Gadis penipu dari Surabaya itu?"
"Kenapa Tuan Dalend membawanya kembali?"
Marisa berjalan dengan dagu terangkat. Ia sudah menghadapi Nyonya Elvira sendirian di rumah mewahnya: bisikan karyawan kantoran tidak akan membuatnya goyah.
Di lantai 40, di depan pintu ruang kerja Tuan Wijaya, berdiri sosok yang paling tidak ingin mereka temui: Bima.
Bima tampak lebih kurus, posisinya sebagai "pengawas" kini telah turun menjadi staf administrasi logistik, namun tatapannya tetap setajam silet.
"Selamat pagi, Tuan Dalend. Nona Marisa," sapa Bima, suaranya mengandung racun yang disamarkan. "Saya tidak menyangka Anda akan membawa... beban ini kembali ke kantor pusat."
Dalend berhenti tepat di depan Bima, menatapnya dengan pandangan yang membuat pria itu sedikit mundur. "Bima, saya sarankan kamu mulai membiasakan diri. Marisa bukan beban. Dia adalah alasan kenapa divisi properti kita untung 100 juta dolar dalam enam bulan terakhir. Dan jika kamu masih punya harga diri, kamu akan membukakan pintu untuk kami tanpa banyak bicara."
Bima terdiam, wajahnya mengeras, namun ia tidak punya pilihan lain selain membukakan pintu jati besar itu.
...
Di dalam ruangan, Tuan Wijaya sedang duduk menatap jendela, sementara Nyonya Elvira sedang menyesap tehnya dengan ekspresi yang bisa membekukan air terjun.
"Jadi, kamu benar-benar membawanya kembali," suara Nyonya Elvira memecah keheningan. "Setelah semua skandal itu, Dalend? Kamu tidak punya rasa malu?"
Dalend duduk di kursi depan meja ayahnya, menarik kursi untuk Marisa. "Ma, kita sudah melewati fase itu. Marisa ada di sini sebagai partner aku. Bukan hanya secara personal, tapi secara profesional. 'Dapur Sejati' akan menjadi vendor katering utama untuk seluruh proyek perumahan buruh yang sedang kita bangun. "
Tuan Wijaya berbalik, matanya menatap Marisa lama sebelum beralih ke putranya. "Vendor utama? Itu keputusan besar, Dalend. Apa jaminannya dia tidak akan lari dengan uang muka perusahaan?"
Marisa memajukan duduknya. Ia mengeluarkan sebuah berkas laporan keuangan dari kiosnya di Surabaya.
"Jaminannya adalah integritas saya, Tuan Wijaya," suara Marisa tenang namun bertenaga."Dalam enam bulan, Saya mengubah modal dari nol menjadi bisnis yang menghidupi sepuluh keluarga di kampung saya. Saya tidak butuh uang muka Angkasa Raya untuk hidup. Saya butuh kesempatan untuk membuktikan bahwa makanan yang sehat dan jujur bisa meningkatkan produktivitas pekerja Anda. Jika dalam tiga bulan performa saya buruk, Anda bisa memutus kontrak tanpa pesangon satu rupiah pun."
Tuan Wijaya mengambil berkas itu, membacanya dengan teliti. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik. Nyonya Elvira meletakkan cangkir tehnya dengan teliti. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik. Nyonya Elvira meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang keras.
"Integritas? Kamu membohongi seluruh Jakarta dengan pertunangan palsu!" Seru Elvira.
"Dan siapa yang mengajari kami untuk selalu mementingkan citra di atas kebenaran, Ma?" Balas Dalend telak. "Kita semua bersalah dalam sandiwara itu. Tapu Marisa adalah satu-satunya yang berani berkata 'cukup' dan pergi. Dia kembali bukan karena dia butuh kita, tapi karena saya yang memohon padanya untuk tetap menjadi anchor saya."
...
Tuan Wijaya menutup berkas itu. Ada secercah rasa hormat yang bersembunyi di balik matanya yang lelah. Ia melihat seorang pria dalam diri putranya. Bukan lagi anak manja yang hanya bisa menghamburkan uang.
"Tiga bulan, Marisa," ujar Tuan Wijaya. "Jika karyawanku menyukai makananmu dan anggaran logistik tetap stabil, aku akan meresmikan 'Dapur Sejati' sebagai mitra strategis. Tapi jika tidak... Dalend harus setuju untuk mempertimbangkan kembali posisinya di dewan direksi."
"Sepakat," jawab Marisa dan Dalend serempak.
...
Setelah pertemuan yang melelahkan itu, Dalend dan Marisa berjalan keluar menuju lobi. Saat mereka sedang menunggu lift, Marisa merasakan seseorang memperhatikan mereka dari balik pilar.
Itu adalah Aurelia Tirtayasa.
Wanita itu tampak jauh lebih murung, kehilangan kilau sosialitanya yanh dulu selalu ia pamerkan. Ia mendekat dengan langkah ragu.
"Marisa," panggilnya pelan.
Marisa berbalik, waspada. "Ya, Aurelia?"
Aurelia menatap cincin safir di jari Marisa, lalu menatap Dalend yang berdiri protektif di sampingnya. "Aku... aku hanya ingin mengatakan, Bima masih sering menghubungi ibuku. Dia mencoba menghasut keluarga Tirtayasa untuk menarik saham dari proyek Dalend. Berhati-hatilah. Bima tidak akan berhenti sampai dia melihat kalian hancur."
Marisa tertegun. Ia tidak menyangka Aurelia akan memberikan peringatan. "Kenapa kamu memberi tahu kami?"
Aurelia tersenyum pahit. "Karena melihat Dalend bekerja keras di pabrik selama enam bulan membuatku sadar... dia tidak pernah mencintaiku, bahkan dalam mimpi sekalipun. Dan kamu... kamu punya sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku beli dengan semua perhiasanku, keberanian untuk menjadi nyata. Jangan biarkan Bima menang." Berbalik dan pergi, meninggalkan aroma parfum mahal yang kini terasa sedikit sedih.
....
Kembali di apartemen, Marisa berdiri di balkon, menatap lampu Jakarta. Dalend datang dari belakang, menyelimutinya dengan hoodie abu-abu yang legendaris itu.
"Bima nggak bakal berhenti, kan?" Tanya Marisa pelan.
"Dia bisa mencoba," Dalend memeluk Marisa dari belakang, menaruh dagunya di bahu wanita itu. "Tapi dia lupa satu hal. Kita tidak lagi bermain peran. Kita punya 'Dapur Sejati', kita punya proyek perumahan, dan kita punya satu sama lain. Kita bukan lagi mangsa yang bisa dia sudutkan."
Marisa berbalik di pelukan Dalend, melingkarkan lengannya di leher pria itu. "Enam bulan kemarin melatihku untuk sabar, Dalend. Tapi Jakarta melatihku untuk menjadi singa. Jika Bima ingin bermain kotor, dia akan menemukan bahwa nasi gorengku kali ini jauh lebih pedas dari yanh dia bayangkan."
Dalend tertawa, mencium kening Marisa lama. Di bawah langit Jakarta yang penuh polusi namun indah, mereka tahu perang baru saja dimulai. Tapi kali ini, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi kebohongan. Hanya ada dua orang manusia yang siap membakar dunia demi mempertahankan kejujuran yang baru mereka temukan. "Janji seumur hidup?" Bisik Dalend.
"Janji seumur hidup," balas Marisa tegas.
...