Season satu : Polisi Sang Penakluk Hati
Season dua : Antara Aku Kamu dan Dia
Season ke tiga : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU.
Berkisah tantang rumitnya perjalanan sebuah rasa yang di sebut cinta.
Angga jatuh cinta kepada Cia.
Cia yang justru jatuh cinta kepada Arfi
Dan Arfi yang masih menharapkan Sisi sang mantan Istri.
Kejutan kian menjadi, saat Cia tahu ia mencintai mantan suami sahabatnya sendiri.
***
Follow IG aku yak : @shanty_fadillah123
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Matahari mulai tenggelam, suasana lapas mulai hening, tak ada hiruk pikuk suara keramaian, sebab sesama para tahanan kini tengah mengistirahatkan tubuh dan pikiran.
"Rin, kau tidak makan. Kenapa nasimu masih utuh?" tanya Ria, sebab Airin tak menyentuh santap makan malamnya.
"Gaa.. nafsu," jawabnya ketus.
"Mikirin apa sih?"
"Alvian," jujurnya.
"Udah... ga usah di pikirin, pak Alvian pasti baik-baik saja, dia akan melewati hari-harinya dengan sebaik mungkin," Ria menenangkan temen satu tahananya itu.
"Tapi, Ri,"
Airin menceritakan kegelisahanya, bahwa sejak tadi otaknya tak berhenti memikirkan Alvian.
"Aku takut, Ri," jujurnya.
"Takutmu itu wajar, tapi kau harus bepikir positif!"
Airin terbayang-bayang, wajah tampan Alvian yang tampak sedih namun berusaha untuk tetap tersenyum, bahkan di kondisi batin yang tengah tak baik-baik saja, Alvian sempat menyatakan cinta padanya.
Sementara kini, Alvian tengah dalam perjalan untuk pulang ke rumah.
"Al.. kau dimana?" tanya sang mama melalui sambungan telponya.
"Aku masih di jalan, mah, tadi aku terjebak macet," jelas Alvian berbohong, karena sebenarnya Alvian tadi butuh waktu untuk menyendiri.
"Baiklah, hati-hati ya di jalan!" titah Tania lagi.
Alvian tersenyum simpul, suara si mama terdengar begitu mengkhawatirkanya. Meski sebenarnya saat ini Alvian memang tengah tak baik-baik saja.
"Aaaaaa...........!!" teriak Alvian sekuat tenaga setelah si mama mematikan sambungan telpon.
Alvian melajukan mobil miliknya dengan kecepatan di atas rata-rata, sebab emosi kini tengah menguasai pikiranya.
"Nino.... sialan!" umpatnya kesal, sesaat mengingat wajah pria yang telah membuatnya di berhenti dari kepolisian.
Karena emosi yang begitu berapi-api membuat Alvian tak sadar bahwa ia tengah melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Aaaaaaa.....!!"
Chiiiit...! Braaak...!
Alvain menabrak pembatas jalan, akibat tak konsentrasi, ia hampir saja menabrak kendaraan lain.
"Kecelakaan!" pekik seseorang seketika sesaat melihat mobil yang sudah ringsek dengan kondisi rusak parah.
Alvian jatuh terpental hingga tak sadarkan diri bahkan tubuhnya berlumuran darah, ia di bantu banyak orang untuk di bawa ke rumah sakit.
"Masih hidup, sepertinya dia polisi," ujar seseorang.
"Hubungi keluarganya!" seru seseorang yang lainya.
Alvian segera masuk ke ruangan Unit Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan, sesaat setelah para penolong itu tiba di rumah sakit.
"Dimana Alvian?" Tania dan Reyhan, kini sudah tiba di rumah sakit setelah di hubungi dan di beri tahu bahwa Alvian mengalami kecelakan tunggal.
"Sabar bu.. anak anda sudah di tangani oleh dokter, sekarang Alvian ada di ruang "UGD".
"Bagaimana kondisinya?"
"Nanti anda tanya saja kepada dokter yang menangani! Kalau begitu kami permisi,"
"Baiklah... sekali lagi, terima kasih banyak pak, sudah menolong anak kami," ujar Reyhan tulus.
"Sama-sama, pak, semoga anak anda baik-baik saja," tambahnya.
"Terima kasih,"
30 menit kemudian dokter pun keluar dari ruang UGD. Kedua orang tua Alvian dengan sigap segera bertanya kepada dokter tersebut.
"Dok.. bagaimana kondisi anak kami?"
"Kalian orang tua, saudara Alvian?"
"Iya.. kami orang tuanya,"
"Baiklah... mari ikut ke ruang kerja saya!" ajak si dokter lalu di ikuti langkah Tania dan Reyhan.
Kini kedua orang tua Alvian sudah berada di ruangan si dokter, mereka menunggu penjelasan dengan harap-harap cemas.
"Bagaimana dok?" Tania sudah tak sabar.
"Begini, pak bu.. anak kalian masih di lindungi Tuhan, benturan keras yang menghantam tubuhnya tak membuat Alvian ke hilangan nyawa."
"Syukurlah," ucap keduanya lega.
"Tapi,"
Si dokter menatap sendu dua orang yang kini ada di hadapanya.
"Lalu.. apa? Katakan!" sergah Reyhan tak sabar.
"Tapi, jika Alvain sadar nanti, kemungkinan besar, kedua kakinya akan gagal fungsi, hingga dia akan mengalami kelumpuhan,," jelas si dokter.
Bak di sambar petir, hati Tani dan Rayhan sakit luar biasa setelah mendengar penjelasan si dokter.
"Alvian, harus melakukan pengobatan rutin setiap bulan, dan kakinya harus di latih berjalan. Mudah-mudahan kelumpuhan itu hanya bersifat sementara, dan Alvian akan sembuh seperti sedia kala," jelas si dokter lagi.
Kedua orang tua Alvian menarik nafas panjang, setelah mendengar si dokter menjelaskan kondisi Alvian saat ini.
"Lalu.. kapan anak kami akan sadar dok?"
"Mudah-mudahan secepatnya," harap dokter itu lagi.
Tania dan Reyhan kini sudah keluar dari ruangan si dokter yang menangani, anaknya.
"Selamat malam, bu Tania dan pak Rayhan," sapa Toni seseorang dari kantor kepolisian yang tak lain sahabat anaknya sendiri.
Dengan binar mata yang memancarkan kesedihan, Toni datang dengan membawa laporan tentang hal yang menyebabkan Alvian kecelakaan.
"Tante, aku melaporkan bahwa kecelakaan Alvian, memang ada yang menyabotase mobilnya. Aku kesini sebagai polisi juga sebagai sahabat, hatiku juga hancur mendengar Alvian mengalami kecelakaan," jelas Toni yang datang ke rumah sakit bersama dengan rekan-rekan kepolisian, yang juga sedih atas kecelakaan yang menimpa Alvian.
"Siapa yang melakukan itu? Katakan pada kami!" todong Reyhan emosi.
"Kami belum tau pasti, om,"
"Apakah Nino dan anak buahnya?"
"Bisa jadi, tapi tuduhan ini justru tak mengarah ke Nino. Karena Nino sudah berada di kantor polisi,"
"Lalu!" titah Tania yang juga emosi bercampur penasaran.
"Musuh anda sendiri om, sebagai jaksa, anda pasti banyak tak di sukai juga, dan ini mengarah ke anak dari orang yang anda tuntut hukuman seumur hidup," ungkap Toni lagi.
"Haaah...!"
Seketika persendian Reyhan melemas, ia sebenarnya sadar bahwa banyak orang yang tak menyukai dirinya, tapi ia tak menyangkan jika akan membahayakan keselamatan anaknya.
"Al.. maafkan, papa!" lirih Reyhan merasa bersalah, meski ini bukanlah kesalahanya.
Toni mengajak Tania dan Reyhan duduk bersama, untuk mengungkapkan hal apa yang akan mereka putuskan.
"Selidiki sampai tuntas!" titah Reyhan.
"Siap.. laksanakan!" tegas Toni.
Di sisi lain, Airin yang mendengar kabar bahwa Alvian mengalami kecelakaan pun merasa sedih dan gelisah, ia resah karena pikiranya melayang-layang entah kemana. Ingin memastikan kondisi Alvian, namun ia tak mampu untuk itu, sekali lagi Airin mengutuki keberadaanya di dalam penjara.
"Bagaimana ini, Ri, aku harus apa?" tanya Airin dengan kegundahan yang semakin menjadi.
"Kau, hanya perlu berdo'a, agar Alvian baik-baik saja,"
"Ini alasan, kenapa sejak sore tadi perasaanku tak enak, aku selalu terbayang-bayang wajahnya, bahkan khawatirku prihal dia sangat luar biasa, dan ternyata benar, Alvian mengalami kecelakaan,"
Ria hanya terdiam, ia tak mampu berkata-kata, karena nyatanya sejak sore tadi Airin memang gelisah luar biasa.
"Besok kau harus sidang, istirahatlah, Rin!" titah Ria.
"Apakah, tante Tania akan datang besok? Sementara anaknya sedang terbaring di rumah sakit. Sepertinya aku akan lama mendekam di dalam penjara,"
Lagi-lagi, Ria hanya terdiam ia tak tau bagaimana menghadapi gadis yang ada di hadapanya kini.
"Aku tidak masalah, akan mendekam di sini lebih lama, tapi harapku pada Tuhan, tolong selamatkan hidup Alvian," lirih Airin di dalam hati.
Sementara di rumah sakit Alvian tengah berjuang, untuk meminta agar malaikat maut tak mencabut nyawanya dan Tuhan memberinya kesempatan untuk bertahan.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu