Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Apa buktinya jika kau memang pamannya baby Alexie?" tanya Cintya memastikan, matanya menyipit curiga. Ia tidak bisa mempercayai orang asing begitu saja, apalagi ini menyangkut keselamatan baby Al. "Jangan-jangan kamu tukang tipu yang nyamar jadi pangeran, eh, paman. Modus baru ya ini?" tuduh Cintya dramatis.
Arkana menghela napas, lalu mengeluarkan tabletnya. Di sana ada kedua orang tuanya, Alexander, dan Anastasya. Lalu, foto Alexander yang menggendong baby Alexei dengan berbagai ekspresi.
"Nih," ucap Arkana, menyodorkan tablet yang terpampang foto-foto keluarganya pada Cintya. "Apa ini cukup?" lanjutnya.
Cintya mengamati foto-foto itu dengan seksama, memastikan tidak ada editan atau rekayasa. Ia mengangguk paham, akhirnya percaya bahwa pria di hadapannya ini benar-benar keluarga baby Alexei.
"Oke, saya percaya. Maaf ya, tadi aku suudzon. Maklum, emak-emak rempong kalo soal anak," kata Cintya, cengengesan.
Arkana hanya menggelengkan kepala, tidak menanggapi celotehan absurd Cintya. Ia sudah mulai terbiasa dengan keanehan gadis ini.
Setelah saling memperkenalkan diri dengan canggung di dalam mobil, Arkana akhirnya membawa Cintya dan Alexei ke mansionnya. Cintya masih diliputi kebingungan dan kecemasan, namun ia merasa sedikit lebih tenang setelah mengetahui bahwa Arkana adalah paman Alexei.
Selama perjalanan, kedua kucing itu yang merupakan reinkarnasi Alexander dan Anastasya terlihat sangat lengket dan tidak ingin terpisahkan. Pus selalu berada di dekat kucing betina itu, menjilati bulunya dengan lembut dan melindunginya dari guncangan mobil. Cintya tersenyum melihat tingkah kedua kucing itu, merasa gemas dengan keakraban mereka.
"Cie-cie ... romantis banget sih kalian berdua. Jadi pengen nyari pacar juga deh," cetus Cintya, melirik kedua kucing itu dengan tatapan geli. "Tapi pacar zaman sekarang suka ghosting, ujung-ujungnya bikin sakit hati." cibik Cintya memasang wajah cemberut.
Arkarna diam-diam tersenyum tipis, sangat tipis hanya dia yang menyadarinya.
Saat mobil memasuki gerbang mansion keluarga Dimitri, Cintya ternganga tak percaya. Mansion itu sangat besar dan mewah, dengan taman yang luas dan indah dengan aneka bunga dan pohon bonsai yang di dekor indah, air mancur yang megah, dan arsitektur yang menakjubkan. Ia merasa seperti masuk ke dalam dunia lain.
"Ini ... rumah kamu?" tanya Cintya, dengan nada tak percaya pandangannya menyapu kesetiap sudut taman. "Ini mah bukan rumah, istana! Bunda jadi minder deh, Al, kita kayak Cinderella nyasar di kerajaan."
Arkana hanya tersenyum tipis, tidak menjawab celotehan Cintya.
Saat pintu mobil terbuka, Pus dan kucing betina itu melompat keluar dan berlari masuk ke dalam mansion lebih dulu. Arkana dan Cintya mengikuti mereka dari belakang, dengan Al yang tertawa riang di gendongan Cintya.
Saat mereka memasuki ruang tamu mansion, mata Cintya semakin membulat. Ruang tamu itu sangat luas dan mewah, dengan perabotan antik yang mahal, lukisan-lukisan indah, dan lampu kristal yang berkilauan. Ia merasa seperti sedang berada di dalam istana benaran.
"Ya ampun, ini beneran rumah? Apa museum? Jangan-jangan nanti aku disuruh bayar tiket masuk lagi," celetuk Cintya, sambil mengagumi kemewahan ruang tamu itu.
Di ruang tamu itu, Antony Dimitri dan Laudya, kedua orang tua Arkana, sedang menikmati waktu bersama. Mereka sedang duduk di sofa sambil membaca buku dan menyesap teh hangat.
Keduanya terkejut saat melihat Arkana masuk ke dalam ruang tamu bersama seorang gadis muda yang sedang menggendong seorang bayi. Mereka saling pandang, bingung dengan kehadiran sang putra yang membawa gadis dan bayi di gendongannya.
Namun, keterkejutan mereka semakin bertambah saat melihat wajah polos nan ceria Alexei. Wajah Alexei sangat mirip dengan Alexander, putra mereka yang telah meninggal dunia. Mereka merasa seperti melihat Alexander kembali hidup.
"Siapa mereka, Arkana?" tanya Laudya, dengan nada penasaran.
Arkana menyuruh Cintya duduk di sofa terlebih dahulu, lalu memperkenalkan Cintya pada kedua orang tuanya.
"Mom, Dad, perkenalkan, ini Cintya.
"Jadi selama ini kamu diam-diam sudah punya anak di laur nikah?" sembur Laudya dengan tatapan horornya terhadap sang putra.
Arkana mengerutkan keningnya dalam, "Apa maksud Mommy?"
"Dia yang selama ini merawat Alexei, Mam!" tutur Arkana lebih lanjut sebelum ke salah pahaman ini berlanjut.
Cintya dengan ragu mengelurkan tangannya, lalu menyalami Antony dan Laudya dengan canggung. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri berada di hadapan orang tua Arkana yang kaya dan berkuasa.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan dan Nyonya, saya Cintya," ucap Cintya memperkenalkan dirinya, dengan suara yang pelan.
"Senang bertemu denganmu juga, Nak Cintya," balas Laudya, yang telah mengubah tatapannya kini tersenyum ramah. "Panggil saja Mommy, ya?"
"Eh, iya ... Mommy," balas Cintya, cengengesan. Ia merasa asing dengan panggilan itu. "Maaf ya, Mommy kedatangan saya membuat Mommy jadi salah paham. Tapi jangan khawatir, saya nggak akan minta endorse kok."
"Ceritakan semuanya, Arkana. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi," cetus Antony, dengan nada tegas menatap sang putra dengan tatapan tajamnya.
Arkana mengangguk, lalu mulai menceritakan semua yang terjadi.
Setelah mendengar cerita dari Arkana, kedua orang tua Arkana beralih pada Cintya, seolah belum puas dan ingin mendengar lebih lanjut.
Cintya yang mengerti langsung menceritakan tentang bagaimana awal mula ia menemukan Alexei, bagaimana ia merawat Alexei dan tentang bagaimana ia dikejar-kejar oleh orang-orang jahat.
Setelah mendengar cerita Arkana dan Cintya, Antony dan Laudya terdiam sejenak. Mereka masih tidak percaya dengan semua yang telah mereka dengar.
"Ini ... semua anugerah terindah, ternyata cucu kita selama ini berada di tangan yang tepat, terima kasih banyak Cintya," ucap Antony, dengan nada tulus penuh rasa syukur.
Antony dan Laudya saling pandang, lalu menatap Alexei yang sedang tertawa riang di pangkuan Laudya. Laudya gegas memeluk sang cucu. pandangannya tak lepas dari wajah baby Alexie yang sangat mirip dengan Alexander dan sang menantu, Anastasya.
Laudya menatap Cintya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Cintya," ungkap Laudya, dengan nada tulus. "Terima kasih sudah merawat cucu kami dengan begitu baik. Kamu adalah malaikat penolong bagi keluarga kami. Kalau kamu nggak ada, entah bagaimana nasib cucu kami ini. Dan untuk itu, kamu boleh meminta apapun yang kamu inginkan, dan kami akan memberikannya." lanjutnya dengan perasaan mengharu biru, atas kembalinya sang cucu ke pangkuannya.
Cintya tersenyum lega. Ia merasa diterima dan dihargai oleh keluarga Dimitri. Ia merasa seperti berada di tengah keluarga yang tulus, yang selama ini ia harapkan.
"Saya senang bisa membantu, Mommy, saya merawat dan menjaga baby Al tulus, dan jika boleh ... saya hanya ingin di berikan izin untuk bisa ketemu Al jika tiba-tiba saya kangen sama dia," balas Cintya yakin. "Al sudah saya anggap seperti anak saya sendiri," pinta Cintya dengan mata berkaca-kaca, yang merasa sedih akan berpisah dengan Al.
"Wanita ini sangat berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya, dia terlihat tulus dan polos! Cantik dan juga lucu!" batin Arkana yang mengagumi karakter gadis di depannya.
"Panggil saja Mommy Laudya, Sayang," koreksi Laudya lembut. "Biar lebih akrab, kalau itu pasti sayang! Kamu bebas menemui baby Alexie kapanpun kamu mau," lanjutnya sambil menyunggingkan senyum hangatnya.
"Wah! Terima kasih banyak, Mommy Laudya," balas Cintya, tersenyum lebar. "Eh, jika boleh saya ingin minta foto bareng Mommy? Buat kenang-kenangan aja. Siapa tahu nanti saya bisa pamer ke May dan teman-teman di cafe. Jika saya sedang ketemu orang hebat seperti
Mommy laudya.
Antony dan Laudya tak bisa menahan senyumnya saat mendengar celotehan Cintya. Mereka merasa terhibur dengan celotehan gadis muda itu.
"Tentu saja boleh, Sayang," balas Laudya, merangkul Cintya dengan hangat. "Kita akan foto sepuasnya."
Arkana diam-diam menyunggingkan senyum tipisnya. Dan ia tanpa membantah gegas mengabadikan momen langka itu di ponselnya.
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus