NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhitungan Yang Matang

Ketenangan Misca yang biasanya sudah sangat dingin berubah menjadi sesuatu yang sangat mencekam—seperti badai salju yang membekukan segalanya yang disentuhnya.

Vino berteriak penuh amarah yang sudah tidak terbendung lagi, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cekalan kuat Gus yang terasa seperti dicengkeram oleh mesin hidrolik. Wajahnya sudah memerah, urat-urat di lehernya tampak menonjol karena tenaga yang ia keluarkan, tapi semuanya sia-sia.

Bima mencoba memasang posisi bertahan meski tangannya sedikit gemetar—ia tahu lawannya kali ini jauh berbeda dari preman-preman jalanan biasa yang pernah ia hadapi. Ini adalah predator sejati.

Di belakang mereka, suara teriakan panik dari Raya dan Dhea memecah suasana festival yang tadinya meriah. Banyak orang mulai menoleh ke arah parkiran, penasaran dengan keributan yang terjadi. Beberapa mulai mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam, menambah ketegangan yang semakin memuncak di area parkir itu.

Misca bergerak dengan kecepatan yang luar biasa—jauh lebih cepat dari yang bisa diantisipasi oleh kebanyakan orang. Ia mencapai posisi konflik dalam hitungan menit, dan target pertamanya jelas: menyelamatkan Bima yang sedang dalam posisi paling berbahaya.

Pria A yang tadi memukul Jeka sudah bersiap melayangkan tendangan keras ke arah perut Bima—tendangan yang jika sampai mengenai sasaran bisa membuat Bima pingsan atau bahkan mengalami cedera internal yang serius.

Tapi tendangan itu tidak pernah sampai.

Dengan perhitungan timing yang sangat tapat—hasil dari ribuan jam latihan dan puluhan pertarungan nyata—Misca mendorong tubuh Bima ke samping dengan kekuatan yang cukup untuk mengeluarkannya dari trajectory serangan, kemudian ia sendiri merunduk rendah dengan gerakan yang sangat halus.

Kaki Pria A menebas udara tepat di atas kepala Misca yang merunduk—hanya meleset beberapa sentimeter saja. Misca bisa merasakan hembusan angin dari tendangan yang sangat kuat itu.

Tanpa membuang satu detik pun atau membiarkan momentum menghilang, Misca langsung memutar tubuhnya dengan gerakan seperti penari yang sangat terlatih, lalu menyapu kaki tumpuan Pria A dengan satu hentakan kaki yang sangat kuat dan presisi—mengincar tepat pada titik keseimbangan yang paling lemah.

BRUK!

Pria A jatuh terjungkal dengan keras ke aspal. Punggungnya membentur tanah dengan suara yang cukup keras hingga membuat beberapa penonton meringis. Tapi dugaan Misca salah jika mengira pria ini akan langsung tumbang dan menyerah seperti kebanyakan lawan yang pernah ia hadapi.

Pria A—yang jelas-jelas bukan petarung sembarangan—justru berguling ke samping dengan sangat lincah dan gesit, mengambil jarak aman beberapa meter dari Misca, lalu kembali bangkit dengan posisi siaga bertarung yang sempurna. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya fokus dan kewaspadaan penuh.

Pria itu mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah karena jatuh tadi, lalu menatap Misca dengan pandangan yang jauh lebih waspada dan serius dari sebelumnya. Matanya menyipit, mengamati setiap detail dari postur tubuh Misca—cara berdiri, distribusi berat badan, posisi tangan—semua hal yang bisa memberikan informasi tentang level kemampuan lawannya.

Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa remaja di depannya ini bukan lawan sembarangan yang bisa dijatuhkan hanya dengan gertakan atau intimidasi fisik. Gerakan Misca terlalu tenang, terlalu matang, terlalu akurat—menandakan bahwa anak ini sudah sering menghadapi situasi hidup-mati yang nyata, bukan sekadar tawuran jalanan yang amatiran.

"Teknik yang bagus," puji Pria A sambil memutar bahunya yang sedikit pegal karena jatuh tadi. Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan sambil menyeringai—bukan seringai meremehkan, tapi seringai orang yang menemukan tantangan yang menarik. "Belajar di mana kamu bisa punya refleks dan timing seperti itu? Kamu masih sekolah tapi bisa bergerak seperti petarung profesional."

Misca tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak dengan postur yang sangat rileks tapi siaga—seperti pegas yang dikompresi dan siap meledak kapan saja. Mata hitamnya yang dingin menatap lurus pada Pria A tanpa emosi apa pun, tanpa kemarahan yang terlihat, tanpa ketakutan, tanpa keraguan. Hanya fokus murni pada target di depannya.

Vino memanfaatkan momen ketika perhatian Gus sedikit teralihkan ke pertarungan antara Misca dan Pria A untuk berusaha melepaskan diri. Ia menyentak tangannya dengan sekuat tenaga, dan kali ini—mungkin karena Gus sedikit melonggarkan cengkeramannya—ia berhasil melepaskan diri.

Vino langsung berlari ke arah Jeka yang masih terduduk di aspal sambil memegang bibirnya yang berdarah. "Jek! Kamu baik - baik saja ?!" tanya Vino dengan nada panik sambil membantu Jeka berdiri. Ia mengambil kacamata Jeka yang retak dan menyerahkannya dengan hati-hati.

Jeka menerima kacamatanya sambil meringis kesakitan. "Aku... aku tidak apa-apa, Vin," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar—lebih karena shock daripada rasa sakit fisik. "Cuma lecet sedikit."

Tapi tubuhnya masih tampak gemetar—kombinasi dari shock, adrenalin, dan rasa sakit. Jeka memang bukan petarung, ia adalah strategist, otak di balik operasi. Kekerasan fisik langsung seperti ini bukan dunianya.

Sementara itu, Misca dan Pria A masih saling berhadapan dalam jarak sekitar tiga meter—seperti dua predator yang saling mengukur kekuatan sebelum melancarkan serangan selanjutnya.

Pria A tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dengan tiba-tiba, ia menerjang maju dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya, melayangkan kombinasi pukulan yang sangat cepat—jab kiri, hook kanan, uppercut—semuanya dilakukan dalam satu gerakan mengalir yang menunjukkan latihan bertahun-tahun.

Pukulan-pukulan itu semua mengincar wajah Misca—area yang paling rentan dan paling mudah untuk membuat lawan kehilangan fokus jika terkena.

Tapi tidak satupun dari pukulan itu mengenai sasaran.

Misca tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri saat jab datang—membiarkan kepalan tangan itu lewat hanya selisih beberapa milimeter dari kulitnya, begitu dekat hingga ia bisa merasakan hembusan angin dari pukulan itu.

Kemudian ia memiringkan kepala ke kanan saat hook datang—dengan timing yang sama akuratnya. Dan saat uppercut datang dari bawah, ia hanya mundur setengah langkah kecil—gerakan minimal yang sangat pas untuk menghindari serangan.

Semua penghindaran itu dilakukan dengan gerakan yang sangat minimal dan efektif—tidak ada gerakan yang berlebihan, tidak ada kepanikan, tidak ada pemborosan energi. Setiap gerakan diperhitungkan dengan sangat presisi untuk menggunakan energi sesedikit mungkin sambil tetap menghindari serangan.

Dan di saat yang sama—tepat saat Pria A selesai melayangkan kombinasi pukulannya dan posisinya sedikit terbuka karena momentum serangan—Misca melancarkan serangan baliknya.

Siku.

Siku adalah senjata yang sangat mematikan dalam pertarungan jarak dekat—keras seperti palu, tajam seperti pisau, dan sangat sulit untuk diblok atau dihindari karena jarak tempuhnya yang sangat pendek.

Misca melayangkan hantaman siku yang sangat tajam dan sangat tepat—bukan mengincar kepala yang terlindungi refleks defensif, tapi mengincar area yang jauh lebih rentan: tulang rusuk kiri, tepat di bawah jantung, area yang jika terkena pukulan keras bisa membuat seseorang kehilangan napas atau bahkan mengalami patah tulang rusuk.

THUD!

Suara benturan siku Misca dengan tulang rusuk Pria A terdengar sangat jelas—suara yang membuat beberapa penonton yang menonton dari jauh meringis.

Pria A terkejut dengan kecepatan dan kekuatan serangan balasan yang begitu tepat itu. Meski ia sempat mundur setengah langkah untuk meredam sebagian dari dampak benturan—mengurangi kerusakam yang diterima—siku Misca tetap menghantam telak sasarannya dengan kekuatan yang luar biasa.

"Ugh!" Pria A mengerang sambil terhuyung ke belakang beberapa langkah. Tangannya refleks memegang tulang rusuknya yang berdenyut sakit. Ia bisa merasakan ada yang tidak beres di sana—mungkin retak, mungkin memar yang sangat dalam. Napasnya jadi sedikit sesak.

Tapi ia tetap memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak, tidak mau menunjukkan kelemahan. Ia menyeka sudut bibirnya yang mulai berdarah sedikit—mungkin karena ia menggigit lidahnya sendiri saat terkena serangan tadi.

"Kamu memang berbeda dari yang lain," akui Pria A sambil mengatur napasnya yang mulai tidak teratur. Ia meludah sedikit darah ke samping. "Tapi aku belum selesai."

Pria A segera mengubah gaya tarungnya menjadi lebih tidak beraturan dan unpredictable. Kali ini gerakannya tidak lagi mengikuti pola atau kombinasi yang jelas—ia melompat dari sisi ke sisi dengan sangat cepat seperti boxer profesional, mengubah level serangan secara acak, melepaskan serangkaian pukulan cepat yang mengincar berbagai target berbeda.

Satu detik ia menyerang kepala dengan hook, detik berikutnya tiba-tiba ia merendah dan menyerang kaki dengan low kick yang sangat keras, kemudian naik lagi menyerang perut dengan kombinasi jab-cross yang cepat.

Strategi ini dirancang untuk mengacaukan fokus dan ritme lawan—memaksanya untuk terus bergerak, terus bereaksi, terus membuang energi untuk bertahan. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, Misca tidak bisa langsung mengakhiri pertarungan dengan cepat seperti biasanya.

Ia harus benar-benar fokus dan waspada, terus bergerak mundur sambil menghindar dan memblok serangan yang datang dari berbagai sudut dengan kecepatan tinggi. Setiap serangan harus direspon dengan tepat—satu kesalahan kecil bisa berarti pukulan telak yang mengenai area vital.

Misca menjaga jarak aman sambil terus mengamati pola—mencari celah, mencari kelemahan, menunggu timing yang tepat. Karena tidak peduli seberapa acak dan chaos gerakannya, setiap petarung pasti punya pola. Tidak ada yang benar-benar random. Dan Misca sangat ahli dalam membaca pola.

"Kamu terlalu kaku, Nak!" teriak Pria A sambil terus menyerang dengan agresif, mencoba memprovokasi Misca untuk kehilangan kesabaran dan melakukan kesalahan. "Aku dengar kamu hebat, tapi nyatanya kamu cuma seperti orang yang hafal gerakan dari buku! Tidak ada improvisasi! Tidak ada naluri!"

Misca tidak bergeming sama sekali dengan provokasi itu. Baginya, amarah hanya akan merusak fokus dan membuat perhitungannya menjadi tidak tepat. Emosi adalah musuh terbesar dalam pertarungan. Ia tetap tenang, tetap fokus, tetap mengamati.

Dan kemudian ia melihatnya—celah yang ia tunggu.

Saat Pria A melompat untuk melakukan spinning kick—tendangan berputar yang sangat kuat tapi membutuhkan waktu eksekusi yang lebih lama dan meninggalkan posisi yang sangat terbuka saat eksekusi—Misca melihat opening yang sempurna.

Timing adalah segalanya dalam pertarungan. Dan Misca adalah master dalam timing.

Saat kaki Pria A masih di udara dalam posisi paling vulnerable, Misca langsung bergerak maju dengan sangat cepat—bukan mundur menghindar seperti yang diharapkan lawannya. Ia masuk ke dalam jangkauan serangan dengan timing yang sangat pas, tepat sebelum kaki lawan mencapai puncak kecepatan dan kekuatannya.

Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat dan brutal, Misca menangkis tendangan berputar itu dengan lengan bawahnya—tapi bukan menangkis di area yang kuat seperti tulang kering, melainkan menangkis tepat di area terlemah: pergelangan kaki.

KRAK!

Suara tangkisan itu begitu keras dan presisi hingga terdengar seperti ada sesuatu yang patah atau setidaknya terkilir sangat parah. Misca menangkis dengan kekuatan penuh tepat pada titik lemah struktur tulang kaki, memutar sendi pergelangan kaki Pria A ke arah yang tidak natural.

"AAAAAAKH!" Pria A menjerit kesakitan dengan suara yang sangat keras—jeritan yang membuat semua penonton terdiam seketika. Ini adalah suara murni dari rasa sakit yang luar biasa.

Keseimbangannya hancur total dalam sekejap. Ia tidak bisa mendarat dengan proper setelah tendangan yang gagal itu. Tubuhnya jatuh ke aspal dengan posisi yang sangat buruk—berat badannya mendarat dengan tumpuan kaki yang salah, memperparah cedera pada pergelangan kakinya yang sudah terkilir parah.

BRAK!

Ia terjatuh dengan sangat keras, bahunya membentur aspal duluan diikuti oleh kepalanya yang hampir ikut membentur—untungnya ia sempat melindungi kepalanya dengan tangan di detik terakhir.

Saat Pria A tergeletak di tanah dalam posisi yang sangat terbuka—napas terengah-engah, pergelangan kaki berdenyut kesakitan, bahu juga sakit karena benturan keras—Misca tidak membuang waktu untuk memberikan kuliah moral atau memamerkan kemenangannya seperti petarung amatir.

Ia langsung merangsek maju dengan sangat cepat, tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi lawan untuk recover atau bangkit kembali.

Misca tidak memukul—itu akan membuang energi dan memberikan kesempatan bagi lawan untuk membalas atau kabur. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih efektif dan lebih cepat untuk melumpuhkan lawan: kuncian.

Dengan gerakan yang sangat cepat Misca menangkap pergelangan tangan Pria A yang masih mencoba untuk bangkit, kemudian memelintirnya ke belakang punggungnya dengan angle yang sangat tidak natural.

Tekanan diberikan pada tiga titik sekaligus—pergelangan tangan dipelintir ke arah yang berlawanan dari ruang gerak alaminya, siku dikunci dengan posisi pengungkit yang membuat gerakan apa pun akan menyebabkan rasa sakit luar biasa, dan bahu didorong ke posisi yang membuat socket shoulder joint terasa akan copot.

Ini adalah armlock yang sempurna—kuncian yang jika dipaksa untuk melawan akan mengakibatkan dislokasi bahu atau patah tulang lengan.

Pria A tidak punya pilihan selain ambruk sepenuhnya ke tanah. Bahunya terasa akan copot jika ia mencoba bergerak sedikit saja. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pergelangan tangannya, melalui sikunya, sampai ke bahunya yang sudah dalam posisi sangat tidak nyaman.

"Argh! Lepas! LEPAS!" jeritnya dengan suara yang penuh rasa sakit dan—untuk pertama kalinya—ketakutan.

Misca tidak langsung melepaskan kunciannya. Ia menambah sedikit tekanan—hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Pria A merasakan tulangnya akan patah—sebagai peringatan dan reminder tentang siapa yang sedang mengendalikan situasi sekarang.

Bahunya terkilir hebat karena tekanan yang brutal itu. Pria A akhirnya benar-benar ambruk dengan wajah menyentuh aspal dingin, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali merasakan rasa sakit yang luar biasa di hampir seluruh tubuhnya.

Misca akhirnya berhasil melumpuhkannya secara total—tanpa harus melanjutkan dengan pukulan atau tendangan yang brutal. Sangat efektif. Tepat sasaran. Tidak ada energi yang terbuang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!