Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Neko Si Kucing
Wartawan semakin mendesak Rei dan Rin dengan pertanyaan yang sekarang sudah tidak terdengar jelas lagi karena mereka mengajukan ratusan pertanyaan bersamaan.
Pihak sekolah langsung turun tangan, penjaga sekolah mengusir wartawan-wartawan itu dan mengamankan Rei dan Rin di dalam sekolah.
Gerbang sekolah langsung ditutup dan dikunci. Kepala sekolah menyambut langsung Rei dan Rin didalam sekolah, diikuti tepuk tangan siswa siswa yang ada disana.
Hari ini hari jum'at, seharusnya para siswa memakai seragam olahraga. Tapi mereka menyambut Rei dan Rin dengan seragam resmi yang biasa dipakai di hari senin.
"Kenapa ini?" Tanya Rin pada kepala sekolah.
"Jangan disembunyikan! Kalian sudah menjadi anggota Organisasi Sakaki di usia yang sangat muda. Kalian adalah anggota Organisasi termuda dalam sejarah. Katanya kalian berhasil menangkap Yui Yuki. Selamat, sekolah bangga punya murid seperti kalian." Ujar Kepala sekolah dengan nada kebapakan, saat ini usianya sudah tergolong lanjut. Dia menyalami Rei dan Rin.
"Papa sialan, asal ngomong..." Rei berbisik pada Rin setelah menyalami sedikit banyak ratusan murid Akademi Hakuo dan di foto-foto.
"Idenya bagus sekali, orang jadi tak akan curiga kalau kita dekat-dekat dengan papa." Rin balas berbisik pada Rei.
Kerumunan siswa bubar dan kembali ke kelas masing-masing, berganti baju dan melakukan senam seperti jadwal sekolah sehari-hari.
"Hei, katanya Nico pindah sekolah keluar negeri."
Tersebar gosip hangat tentang Nico di kelas 2A saat jam istirahat siang, entah informasi itu bocor darimana...
"Enaknya, aku juga ingin sekolah di luar negeri." Temannya menjawab dengan antusias.
"Uhuk!... Uhuk... Maaf, aku tersedak..." Kata Rei pada teman-temannya yang menoleh. Rei tersedak air minum karena menahan tawa, mereka mau jadi Prisoner juga.
Sekolah kembali berjalan seperti biasa setelah keributan pagi hari tadi. Sama membosankan seperti biasa.
KRING!
Bel sekolah berbunyi, anak-anak kelas 2A bubar, pulang ke rumah.
Rei dan Rin juga berjalan pulang ke rumah seperti biasa. Ditengah perjalanan mereka melihat ada sebuah kotak kardus pada tengah-tengah celah gedung.
"Hei, lihat itu." Rei menunjuk kotak kardus itu, "Buka, yuk." Rei mendekati kotak kardus tersebut.
"Ehh, jangan... Punya mungkin punya orang ketinggalan." Rin menahan gerakan Rei.
"Kalau gitu kita bawa ke kantor polisi, aku ingin tahu apa isinya." Sahut Rei, menarik Rin ikut menuju kotak kardus itu.
"Benar tidak apa-apa?" Tanya Rin saat mereka sudah dekat dengan kotak.
"Tidak apa-apa, kotaknya bahkan tidak disegel, mungkin sampah rongsokan?" Jawab Rei, berjongkok di samping kotak kardus itu dan menyentuh kotaknya.
"Buka..." Rei membuka kotak itu.
Tiba-tiba muncul seekor kucing dari dalam kardus, setengah wajahnya berwarna oranye, setengah wajahnya yang lainnya bewarna hitam, itu kucing Chimera.
Mata kucing itu sebelah berwarna kuning, sebelahnya lagi berwarna biru, heterokromia, atau bisa disebut juga odd-eye... Tubuhnya bewarna oranye belang-belang hitam seperti harimau.
"Imut!" Seru Rin, langsung mendekat ke kotak kardus itu. "Kucing ini dibuang? Ayo kita pelihara!" Rin mengangkat kucing Chimera itu dari dalam kotak kardus.
"Kucing ini luar biasa! Keren!" Rei juga berseru takjub, dia mengelus kepala kucing itu.
Kucing Chimera itu menatap tajam Rei dan Rin, sepertinya dia sedang menyelidiki apakah mereka orang jahat atau bukan.
"Beneran dibuang, 'kan? Kalau nggak ada pemiliknya, yuk bawa pulang." Ujar Rin, memeluk kucing itu.
Mereka berjalan pulang ke rumah sambil menggendong kucing Chimera itu...
"Kami pulang!" Rei dan Rin mengucapkan salam dengan semangat ketika sampai di rumah.
"Kalian sudah pulang..." Kaoru menyambut Rei dan Rin, "Tumben sekali sepertinya semangat... Wahh, ada oleh-oleh." Kaoru tersenyum melihat kucing Chimera yang dibawa Rei dan Rin.
"Iya ma! Ini jadi anggota keluarga baru, yah!" Rin mengangkat tinggi-tinggi kucing Chimera itu.
"Hmm, baiklah, lucu sekali... Mau diberi nama apa?" Tanya Kaoru, menggendong kucing Chimera yang diberikan Rin.
"Karena aku yang menemukan, aku kasih nama 'Neko', artinya kucing." Rei memejamkan matanya dan tersenyum sombong.
"Neko? Boleh juga, Neko! Mulai sekarang namamu Neko!" Rin terus memanggil nama kucing itu didepan Neko.
Kucing Chimera itu sekarang menatap tajam Kaoru yang menggendongnya. Lalu melihat kiri-kanan rumah Kaoru... Ada bau yang tidak asing di tubuh wanita ini...
"Aku mau bawa ke atas." Rin mengambil Neko dari mamanya.
"Oke, mama belikan makanan kucing di toko pet shop yang baru buka dulu, ya." Kaoru berjalan keluar rumah.
"Oke." Rin dan Rei berlari menaiki tangga sambil membawa Neko. Mereka berganti baju dan sekarang berkumpul di kamar Rei.
"Imut sekali..." Rin menarik kumis Neko, Neko tampak tidak senang.
"Kau benar-benar terlihat seperti anak umur 7 tahun sekarang." Rei menggoda Rin, Rin sedang duduk di kasur bersama Neko.
"Suka-suka, 'kan." Rin masih asik menggoda Neko. Neko mencakar kasur Rei karena kesal.
"Ehh, jangan, nanti rusak." Rei mengangkat Neko, merebutnya dari Rin.
"Kau bisa membelinya lagi dengan kekayaan Akira." Tiba-tiba terdengar suara serak laki-laki dari Neko, Neko berbicara.
"WAAA!! Kucingnya ngomong!"
Rei berteriak kaget, melempar kucing itu ke dinding didekat kasur. Untung dia ditangkap Rin.
"Ya, ampun... Mentalmu lemah, tidak seperti Akira... Terkejut hanya dengan kucing bicara?" Neko melompat turun dari tangan Rin. Mulut Rin sedikit menganga, jelas-jelas dia mendengar kucing itu berbicara untuk kedua kalinya.
"Ehh? Akira? Kau kenal dia Neko?" Rin bertanya pada Neko, mendapat kembali keberaniannya setelah terkejut beberapa saat. Tenang, tenang, di dunia ini masih banyak hal yang lebih aneh...
"Anak ini sifatnya cukup mirip, walau wajahnya jauh beda." Kata Neko, menolehkan melirik Rin.
"Aku kucing peliharaan Organisasi Sakaki. Bertugas menyelidiki tempat berbahaya yang tak bisa didatangi manusia." Neko berdiri di atas kasur Rei dengan kedua kakinya.
"Bi—Bisa berdiri!" Rei berseru terkejut lagi, menunjuk Neko yang berdiri dengan dua kaki belakangnya.
"Berdiri pun kau terkejut... Puluhan ribu hewan di dunia bisa berdiri dengan dua kaki." Neko menyisir kumis dengan tangannya.
"Kalian anaknya, 'kan? Aku sudah tau saat si rambut merah yang mirip Akira ini membuka kotak kardusnya. Padahal sedang menjalankan misi rahasia."
Sekarang Neko melipat tangan di depan tubuhnya, benar-benar seperti manusia.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Rin.
"Jangan meremehkan aku. Aku punya radar pendeteksi DNA di mata biruku ini... Lagipula aku merasakan aroma tubuh Akira, walau sudah di hapus." Neko menunjuk-nunjuk mata birunya dengan ekor panjangnya, tetap berpangku tangan.
"Mengapa kau bisa berbicara dan melakukan itu?" Rei menatap Neko dengan pandangan menyelidik.
"Kurasa kalian sudah tau karena sudah menghancurkannya." Kata Neko, dan dia mulai menjelaskan, "Aku keturunan kucing kloning Chimera, perkawinan silang ras Anggora hitam bermata biru dengan Calico belang tiga bermata kuning. Dimasukkan kecerdasan otak dengan mekanisme rumit, kecerdasanku melebihi kalian tentunya. Aku dibuat dalam waktu 5 tahun, dan dijual mahal pada anggota Organisasi."
Neko mengerakkan ekor panjangnya kesana-kemari, "Sekarang sang pembuat sudah diringkus ke penjara, karena kalian menemukan tempat penampungan hewan-hewan cacat itu. Terima kasih, sekarang pengembangan hewan itu dihentikan." Neko menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya, hormat ala kucing.
"Kau tidak diincar penjahat? Tidak di culik? Bagaimana pun juga kau terlihat sangat keren dan imut, apa mereka tidak tertarik menjualmu kalau andaikan bertemu?" Tanya Rin.
"Tenang saja, aku bisa tranformasi seperti ini..."
Neko turun dari kasur Rei dan sedikit demi sedikit berubah menjadi harimau sepanjang 3,1 meter dengan berat 290 kg.
"KYAAA!! Jadi harimau!" Rin berteriak kaget, bersembunyi di belakang punggung Rei.
"Ini aneh... Keren sekali..." Rei terpesona melihat harimau heterokromia bermata odd-eye.
"Berhenti berteriak-teriak dirumah ini. Apakah tidak ada tetangga di sebelah rumah?" Neko melihat keluar jendela dalam wujud harimau.
"Kau kenapa mau dibeli Organisasi? Hewan hebat tak perlu majikan." Rei bertanya pada Neko.
"Aku tidak dibeli, hanya datang dengan sukarela untuk memberi tahu kalau ada percobaan ilegal yang menyiksa hewan. Anggota Organisasi berinisiatif memberikan uang untuk membeliku... Yah, setidaknya Organisasi ini isinya orang baik semua." Neko berdiri dengan dua kakinya dalam wujud harimau.
"Kalau kau berubah wujud jadi harimau begini, namamu kuganti menjadi 'Tora'..." Rei mengerutkan kening, berpikir sejenak.
"Terserah kalian, tapi 'Neko' lebih bagus dari 'Tora'..." Neko kembali naik ke atas kasur Rei.
"Ehh, jangan naik, roboh nanti... Beratmu pasti berton-ton." Rei mengusir Neko.
"Hanya 290 kg." Neko menjawab santai, "Kau benar-benar hanya mirip wajahnya saja, tak seperti dia yang elegan bergaya sultan."
Neko melompat turun dari kasur Rei.
"Tepatnya Si bodoh yang bergaya sultan." Rei menjawab ketus.
"Sudahlah... Malas aku meladeni kau, lebih baik bicara pada anak bermata biru ini." Neko menoleh ke arah Rin.
"Kalian anak-anaknya, sangat bisa di percaya dan aku yakin kalian sangat berbakat... Mau ikut? Membantuku menyelesaikan misi rahasia yang tertunda karena kalian." Neko bertanya pada Rin sambil memiringkan kepala.
"Misi rahasia? Misi seperti apa?" Rin balik bertanya.
"Petualangan mungkin... Ohh bukan, lebih tepatnya perebutan." Jawab Neko singkat.
"Sepertinya menarik, kami akan mencobanya." Ujar Rin.
"Kami? Siapa yang bilang aku mau ikut? Aku malas meladeni kucing yang menjunjung tinggi nama tuannya." Rei memalingkan wajahnya ke arah tembok.
"Ayolah, ini karena kau ingin membuka kotak itu, 'kan? Tanggung jawab." Bujuk Rin, "Ini akan sangat seru, mungkin ada informasi baru." Rin berbisik di telinga Rei, membuat Rei mengerutkan kening.
"Baiklah... Ayo pergi..." Rei menuruti dengan terpaksa, petualangan baru dimulai.
To be continued...
Gubrak!