Kesedihan kadang membuat kita lupa dan menjadi gelap susah membedakan mana yang salah dan benar hingga menimbulkan kemarahan yang menyebabnya sulit tuk menyengarkan penjelasan hingga akhirnya penyesalan pun datang dan membuat kita menjadi Sadar namun semua sudah terlambat, Waktu yang dulu sudah berputar tidak mungkin bisa kembali lagi.
Ikuti kelanjutan Kisah Nadia Dan Kasih yang berjuang menjaga ibunya membalas budinya dulu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
"Aduhh!! huhuhu sakittt!! " jerit tangis Kasih.
Nadia yang baru keluar dari kelas begitu mendengar suara Kasih ia segera berlari menghampiri adiknya itu, dan saat mengetahui adiknya terluka ia pun panik dan bertanya.
"Ya ampunn dek, kok kamu terluka kamu jatuh? " tanya Nadia panik.
"Huhuhu... sakitt! hiks sakit kak, " Kasih tak menjawab malah menangis.
"Iya tapi kamu kenapa bisa begini? jatuh dimana tadi? " tanya Nadia sekali lagi.
"Aku gak jatuh kak! tapi itu tadi ada anak nakal hiks... dorong aku dan lempar hiks... batu ke arahku, " jawab Kasih dengan terisak.
"Apa!! kok bisa emang kamu ngapain anak itu sampai kamu di nakalin begini? kamu nakal duluan ya? " tanya Nadia lagi.
Belum sempat Kasih menjawab pertanyaannya Nadia membawa Kasih keruang guru untuk di obati dulu karena luka di dahinya terus mengeluarkan darah, membuat Nadia jadi panik.
"Huhuhu... huhuhu! sakit! " Kasih masih menangis.
Di depan Kantor guru Nadia langsung mengetuk pintu agar kehadirannya bisa di ketahui, dan kebetulan ada guru kelasnya Kasih yang sedang duduk sambil minum teh.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, bu guru permisi boleh saya minta obat merahnya! " pinta Nadia menberi salam.
"Ya ampun Kasih! sini-sini masuk duduk dulu disini ya, ibu ambil obatnya dulu! " kata bu guru, "Kenapa bisa terluka Kasih jatuh ya? kalo main hati-hati ya biar tidak jatuh lagi?! " kata ibu guru bertanya.
"Kasih gak jatuh kok bu, katanya Kasih tadi di dorong sama temen laki-lakinya dan di lempar batu membuat Kasih terluka begini, " jawab Nadia karena Kasih masih menangis.
"Oh begitu, siapa? kasih yang nakal sama kamu coba bilang sama ibu biar nanti ibu nasehati orangnya? " tanya bu guru.
"Huhuhu... hiks a-aku gak K-nal sama dia, " jawab Kasih terbata.
"Udah kamu diem dulu dek! ceritain ke kakak gimana ini bisa terjadi biar nanti gampang kan untuk minta pertangung jawaban dia, " kata Nadia.
Bu guru selesai mengobati luka Kasih dan membalut nya pakai plaster, Kasih pun sudah mulai berhenti menangis dan bisa menceritakan kejadiannya tadi, dari awal dia keluar kelas sampai insiden itu terjadi.
"Coba beritahu ibu yang mana anaknya, yuk mungkin dia masih disini! " ajak ibu guru minta di beritahu.
"Iya dek! kamu bisa kan tunjukin orangnya yang mana! " pinta Nadia juga.
Nadia terlihat sedikit marah dan kecewa karena ia gagal melindungi Kasih dari orang jahil dan membuat Kasih terluka entah apa yang akan Nadia katakan pada ibu saat di rumah nanti.
Setelah mengobati luka Kasih dan ia mau bercerita siapa yang berbuat demikian, Kasih, Nadia dan bu guru keluar ruangan untuk mencari si anak tersebut, Kasih mengajak ibu guru dan kakaknya ke kelas dua, karena tadi anak itu masuk ke kelas tersebut.
"Yang mana anaknya? " tanya bu guru saat di depan kelas dua.
"Tadi dia masuk kesini bu," jawab Kasih.
Tapi saat bu guru masuk untuk memeriksa kedalam mencari anak tersebut ternyata orangnya tidak ada semua kelas sudah kosong, mungkin anak tersebut sudah pulang setelah berbuat nakal.
"Tapi gak ada, siapa-siapa di dalam kosong, mungkin sudah pulang dianya, yaudah gini aja Kasih pulang dulu ke rumah besok Kasih, beritahu ibu yang mana anaknya ya! " Bu guru menyarankan.
"Yaudah yuk dek! kita pulang makasih ya bu, udah mau obatin luka adik saya! " uncap Nadia berterimakasih.
"Iya sama-sama yaudah kalian berdua hati-hati di jalan ya, langsung pulang gak boleh main, inget kalo ada orang yang tidak di kenal mengajak jangan mau ya! kalian harus menolaknha! " pesan bu guru sebelum pulang.
Nadia mengerti dan mengiyakan Nasihat gurunya dan segera menuntun adiknya ke arah parkiran sepeda miliknya, sebelumnya itu mereka salim dulu ke ibu guru dan baru pergi meninggalkan sekolah.
Sepanjang perjalanan Kasih masih sedikit merintih kesakitan membuat Nadia tidak tega, mendengarnya dan akhir nya Nadia menepi di sebuah tempat yang sudah agak jauh dari sekolah, Nadia menghentikan sepedanya bukan hanya karena Kasih yang terus menangis tapi melainkan karena ban sepedanya kempes.
"Aduhh pake, kempes lagi bannya! dimana ya ada pompa ban! " Nadia begumam sendiri.
"Kenapa kak? " tanya Kasih.
"Bannya kempes dek, yuk kita jalan sebentar nyari tempat untuk tambal atau pompa ban yuk! biar kita bisa segera pulang! " ajak Nadia.
"Tapi kak! kaki aku sakit banget! " kata Kasih merintih lagi.
Nadia menjadi tidak tega melihatnya, tapi tidak mungkin juga, kan meninggalkan Kasih sendirian di tempat yang baru bahkan Nadia juga belum begitu hafal tempat ini, tapi kalo tidak mencari tambal ban Nadia mana bisa pulang?
"Hmm, gimana ya? kalo kamu tunggu sini dulu gimana? berani gak sendirian biar kaka yang cari tempat tambal bannya sendiri supaya kita bisa segera pulang kalo bannya sudah bener? " tanya Nadia ragu.
Kasih diem tak langsung menjawab matanya berkeliling mengamati sekitar tempat yang baru baginya begitu asing dan tak bersahabat, ya bagaimana tidak asing Kasih tidak pernah pulang atau pergi seorang diri.
"Yaudah deh kak! aku tunggu sini ga apa-apa tapi kakak jangan lama-lama ya aku takut senditian,! " pinta Kasih akhirnya.
"Iya pasti begitu kakak udah selesai tambal bannya kakak langsung kesini jemput kamu dan kita pulang ya sams-sama , tapi beneran ga Apa-apa kamu sendirian disini? " tanya Nadia sekali lagi memastikan.
"Iya kak! lagian kakiku juga lagi sakit gak mungkin bisa jalan jauh takut malah ngerepotin kakak!" jawab Kasih yakin.
"Yaudah kalo gitu kakak pergi dulu ya, cari tempatnya oh iya inget pesen kakak ya kamu jangan pergi kemana-mana tetep diem disini dan tunggu kakak sampai kembali, satu lagi jangan mau jika ada orang tak di kenal ngajak kamu pergi inget ya!! " Pesan Nadia tegas.
"Iya, kak! baik aku akan tunggu sini dan tidak akan mau jika ada yang mengajak pergi, " Kasih mengulangi perkataan Nadia.
Setelah yakin bahwa adiknya mengerti pesan dan nasihatnga Nadia pun mulai menuntun sepedanya mencari tempat tambal ban, Nadia memang sudah sedikit tahu tentang tempat ini karena ia pernah pulang sekolah jalan kaki bersama Lusi, saat itu ibunya tidak bisa dateng buat jemput.
Kasih yang di tinggal sendirian hanya duduk di pinggir jalan sambil terus mengawasi matanya melihat-lihat sekeliling sangat ramai orang berlalu lalang tapi tak satupun yang ia kenal, membuat dirinya sedikit ketakutan.
"Kakak kok! lama banget ya, gak dateng-dateng aku takut! " Kasih bermonolog sendiri mulai ciut hatinya.
Padahal Nadia juga baru lima menit pergi dan belum juga, menemukan tempat yang di cari, entah sampai kapan dan sampai mana Nadia akan terus mencari dan berapa lama juga akan meninggalkan Kasih di tempat yang asing bagi Kasih hanya seorang diri.
simpen==> simpan
bagus