"Apa...! Jadi pacarmu...? Dasar GILA...!"
David Lorenzo CEO perusahaan Switch Company. Dia mempunyai banyak kepribadian yang berbeda akibat trauma masa lalu.
Dia bertemu dengan Michelle, yang berkerja di perusahaannya, pertemuan mereka tidak di sengaja dan banyak kesalahpahaman.
Lambat Laun mereka semakin dekat, dan perlahan saling menyembuhkan luka.
Banyak tingkah lucu dan kocak di antara mereka.
penasaran jangan lupa baca, like dan komen.
Update gak nentu..?
Follow Ig: @Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryy Heryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Malam itu, ketika mereka sudah terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak akibat kelelahan luar biasa, tangan Michelle secara tidak sengaja merayap perlahan ke arah dada David yang masih tertutup oleh baju kerja nya.
Tanpa sadar, jari-jarinya mulai membuka satu per satu kancing baju David dengan gerakan yang lambat namun pasti.
Setelah beberapa kancing terbuka, tangannya masuk ke dalam dan secara tidak sengaja mengelus-elus dada David yang kekar.
David yang baru saja mulai terbangun dari tidurnya merasakan sentuhan yang tidak biasa di bagian dadanya.
Dia membuka mata dengan cepat dan melihat bahwa kancing bajunya sudah terbuka sebagian dan tangan Michelle sedang berada di dalam bajunya dengan posisi yang sangat tidak sopan.
"HAAAA!!!" teriak David.
Dia segera menarik tubuhnya menjauh dari Michelle dengan cepat dan menutup bajunya dengan tergesa-gesa.
"HAAAA!!" teriak Michelle.
Saat dia melihat sekeliling, banyak karyawan yang sudah berkumpul di depan lift dan sedang menatap mereka dengan wajah ingin tahu yang sangat besar.
Tanpa bisa berkata-kata apa pun lagi dan merasa sangat malu hingga ingin langsung menghilang dari permukaan bumi.
Michelle segera bangkit dengan tergesa-gesa dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sebelum berlari dengan sangat cepat menuju arah kamar mandi karyawan yang terletak tidak jauh dari sana.
Dia berlari melewati banyak karyawan yang masih berdiri tercengang dengan wajahnya yang masih memerah karena rasa malu yang luar biasa.
"Apa yang kalian lihat?! Sudah! Pergi semua dari sini sekarang juga!!" teriak David dengan suara yang sangat keras.
Teriaknya penuh kemarahan kepada para karyawan yang masih berkumpul di depan lift tersebut.
Dia dengan cepat memperbaiki penampilan dirinya yang kusut dan segera berjalan meninggalkan mereka dengan langkah yang cepat.
Setelah sampai di ruangan kerjanya, David langsung mengambil telepon dan menghubungi Yuda yang belum datang ke kantor pada pagi hari tersebut. Suaranya masih terdengar sedikit gemetar karena kejadian yang baru saja dia alami.
"Yuda! Kamu segera datang ke rumah saya sekarang juga dan bawa kan beberapa set pakaian bersih untuk saya!!" ucap David.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Yuda, David duduk dengan sangat pelan di kursi kerjanya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Dia merasa sangat bingung dan juga sedikit tidak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya semalaman.
"Apa yang terjadi sebenarnya semalam? Kenapa aku bisa tidur di dalam lift bersama dia?" ucap David dengan kebingungan.
Dia mencoba mengingat kembali semua kejadian yang terjadi semalam namun tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Sementara itu, Michelle sudah sampai di kamar mandi karyawan dan langsung mencuci mukanya dengan air dingin yang mengalir dari keran wastafel.
Dia mencuci mukanya dengan cukup lama seolah-olah mencoba menghilangkan rasa malu yang masih sangat kuat dalam dirinya.
Setelah itu, dia menelan ludah dengan sangat tergesa-gesa dan melihat wajahnya yang masih memerah total di cermin kamar mandi.
"Awhhhh... Lama-lama aku bisa jadi gila? HAAAA... Si gila sialan itu membuat hidup ku semakin tidak tenang saja!" ucap Michelle dengan suara yang kesal. mengetuk pipinya berkali-kali dengan rasa tidak percaya.
Tanpa mengganti pakaiannya yang masih kusut dan sedikit berkerut akibat tidur di dalam lift, Michelle hanya membersihkan wajahnya dan menyisir rambutnya dengan cepat sebelum keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruangan kerjanya dengan kepala yang sedikit menunduk.
Dia merasa sangat tidak nyaman dan selalu merasa bahwa semua orang di sekitarnya sedang membicarakan dirinya dan kejadian yang terjadi di lift tadi pagi.
Dia mulai membayangkan berbagai macam omongan yang mungkin akan keluar dari mulut para karyawan di perusahaan tentang dirinya.
Di sisi lain, Yuda yang sedang berada di apartemennya terbangun dengan kesal karena terdengar suara berisik yang cukup keras datang dari apartemen sebelahnya yang selama ini selalu kosong dan tidak ada seorang pun yang menghuninya.
Suara deru mesin dan juga suara orang-orang yang sedang berbicara cukup keras membuatnya tidak bisa tidur nyenyak lagi pada pagi hari yang masih sangat awal.
"Ah kampret! Pagi-pagi begini kenapa berisik sekali? Apa ada orang yang sedang melakukan renovasi atau apa?" ucap Yuda dengan suara yang kesal.
Dia menutup kedua telinganya dengan bantal dalam upaya untuk bisa kembali tidur lagi. Namun suara berisik tersebut semakin keras dan membuatnya tidak bisa lagi menahannya.
Akhirnya dia terpaksa bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi dan menyegarkan diri sebelum memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di apartemen sebelahnya.
Setelah selesai mandi dan merasa lebih segar, Yuda membuka pintu apartemennya dengan hati-hati dan melihat ke arah apartemen sebelahnya yang pintunya terbuka lebar.
Dia melihat beberapa orang pekerja sedang membawa berbagai macam perabotan besar seperti sofa, meja, dan tempat tidur masuk ke dalam apartemen tersebut.
Ternyata apartemen yang lama kosong tersebut kini telah ditempati oleh seseorang yang baru saja menyewanya.
Saat itu, Tasya yang baru saja datang ke apartemen barunya sedang memberikan instruksi kepada para pekerja tentang dimana harus meletakkan setiap perabotan yang mereka bawa.
Dia berdiri dengan penuh semangat di depan pintu apartemennya sambil memegang daftar barang yang harus diletakkan di setiap ruangan dengan benar.
"Tempat tidur itu taruh saja di kamar tidur yang ada di bagian dalam ya! Dan sofa besar itu bisa ditaruh di ruang tamu yang terletak di sebelah kanan pintu masuk!" ucap Tasya dengan suara yang jelas dan penuh perintah kepada para pekerja.
Dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang melihatnya dari luar pintu apartemen sebelahnya.
"Baiklah sudah cukup untuk sekarang ini ya! Kalian bisa pulang dulu dan besok bisa kembali lagi untuk menyelesaikan pemasangan barang-barang yang lain!" ucap Tasya.
Dengan suara yang ramah kepada para pekerja setelah mereka selesai meletakkan sebagian besar perabotan yang dibawa.
Setelah para pekerja pergi, Tasya mulai melihat sekeliling apartemen barunya dengan penuh kegembiraan sebelum memutuskan untuk kembali ke kontrakan Michelle untuk mengambil barang-barang pribadinya yang akan dia bawa ke sini nanti sore hari.
Sementara itu, Yuda kembali masuk ke dalam apartemennya dengan hati-hati dan segera pergi ke kamar untuk berganti pakaian dengan baju kerja yang rapi.
Dia ingat bahwa dia harus segera pergi ke rumah David untuk mengambil pakaian kerja yang bersih bagi bosnya yang sedang mengalami masalah dengan pakaiannya setelah kejadian semalaman di dalam lift.
Dengan cepat dia mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan apartemennya.
Bersambung....
aku klo jadi David guling guling laa🙈
pasti kakeknya mikir nya lagi wik wik😭
minimal di cakar cakar gitu wkwkwk