NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 "Cium"

Hujan tidak benar-benar berhenti.

Ia hanya berubah —dari deras menjadi jatuh pelan, seperti sisa perasaan yang belum tahu harus pergi ke mana.

Cherrin berjalan lebih dulu menuju parkiran, langkahnya tidak cepat, tapi jelas tidak menunggu. Zivaniel menyusul setengah langkah di belakangnya, payung hitam menaungi mereka berdua. Jarak di antara bahu mereka sempit, tapi tidak bersentuhan. Setidaknya, belum.

Air hujan memantul di aspal, memantulkan cahaya lampu sekolah yang mulai menyala satu per satu. Bau tanah basah naik ke udara, bercampur dengan aroma dedaunan dan sesuatu yang terasa… tenang.

Aneh.

Cherrin baru menyadari betapa tegang tubuhnya sejak pagi. Sekarang, di bawah payung itu, ketegangan itu sedikit melunak—tidak hilang, hanya turun satu tingkat.

Pipinya bahkan terus merona sedari tadi.

Zivaniel membuka pintu mobil lebih dulu.

Gerakannya otomatis. Terlatih. Tidak berlebihan.

“Masuk,” katanya singkat.

Cherrin meliriknya sekilas sebelum masuk ke kursi penumpang. “Makasih.”

Pintu tertutup dengan bunyi pelan. Zivaniel mengitari mobil dan masuk ke sisi pengemudi. Mesin menyala, wiper mulai bergerak teratur, menyapu sisa hujan dari kaca depan.

Tidak ada musik.

Hanya suara hujan tipis dan desis ban di aspal.

Cherrin menyandarkan punggungnya, menatap keluar jendela. Tetesan air membentuk garis-garis acak, lalu hilang tersapu. Ia menghela napas pelan.

“Jadi,” katanya akhirnya, memecah keheningan, “kedai ice cream yang mana?”

Zivaniel meliriknya sekilas. “Yang dekat taman kecil. Kamu pasti pernah lewat.”

“Oh.” Cherrin mengangguk. “Yang bangunannya putih, lampunya kuning?”

“Iya.”

“Yang antreannya suka panjang?”

“Iya.”

Cherrin mendengus kecil. “Berarti kamu beneran mau traktir.”

Sudut bibir Zivaniel terangkat tipis. “Aku udha janji sama kamu. Asalkan kamu mau maafin aku.” Kata Zivaniel membuat Cherrin mendengus walaupun aslinya ia ingin menjerit heboh.

"Niel!!! Gue timpuk juga pala elo" batin Cherrin frustasi di hadapkan oleh iblis berwajah tampan Zivaniel ini.

"Kenapa?" Zivaniel meliriknya singkat.

Cherrin menggelengkan kepalanya, "nggak apa-apa."

"Oiya?"

Cherrin mendelik. "Iya dong! Kenapa emangnya aku?!"

Zivaniel berdekhem. "Muka kamu merah."

Blush

Cherrin langsung memalingkan wajahnya, ia menoleh ke arah luar kaca mobil. Sialan, Zivaniel melihatnya.

"Nggak.. Nggak..."

Zivaniel menahan senyum. Ia mengangguk singkat. "Iya."

Mobil melaju pelan. Kota sore itu terasa berbeda—lebih lengang, lebih lembut. Lampu-lampu toko mulai menyala, memantulkan warna hangat ke jalanan basah. Beberapa pejalan kaki berlari kecil sambil menutupi kepala mereka dengan tas atau jaket.

Cherrin menatap semua itu dengan pikiran yang tidak sepenuhnya fokus.

Ia mencuri pandang ke arah Zivaniel.

Tangannya mantap di setir. Rahangnya tegas, matanya fokus ke jalan. Tidak ada tanda gelisah, tapi Cherrin tahu—ia sudah cukup lama mengenalnya—bahwa ketenangan itu bukan berarti tidak ada badai di dalamnya.

“Niel..” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Kamu… sering nggak sih mikir terlalu jauh?”

Zivaniel terdiam sejenak. “Sering.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku berhenti mikir, aku takut salah langkah.”

Cherrin memutar tubuhnya sedikit menghadapnya. “Tapi kamu tetap bisa salah, kan?”

“Iya.”

“Dan itu nggak bikin dunia runtuh.”

Zivaniel meliriknya. “Buat aku, kadang terasa begitu.”

Cherrin tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap ke luar jendela. “Aku nggak minta kamu berubah jadi orang lain,” katanya akhirnya. “Aku cuma… pengin kamu jujur. Bahkan kalau itu nggak baik.”

Zivaniel menelan ludah. “Aku lagi selalu jujur sama kamu”

Mobil berhenti di depan kedai ice cream yang mereka bicarakan.

Bangunannya kecil, bercat putih, dengan jendela besar dan lampu kuning hangat di dalamnya. Tulisan “La Neige” terpampang sederhana di atas pintu. Beberapa orang terlihat duduk di dalam, tertawa kecil, berbagi sendok, atau sekadar menikmati dinginnya es krim di sore basah itu.

Zivaniel memarkir mobil dan mematikan mesin.

“Kita turun,” katanya.

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Hujan tinggal sisa-sisa, payung sudah tidak diperlukan. Udara dingin langsung menyergap saat pintu dibuka, bercampur dengan aroma manis susu dan gula.

Cherrin berhenti sejenak di ambang pintu.

Entah kenapa, tempat itu terasa… intim.

Lampunya redup. Musik instrumental mengalun pelan. Meja-meja kayu kecil tersusun rapi, sebagian besar sudah terisi. Beberapa cewek-cewek juga menatap Zivaniel terpesona, dan hal itu membuat Cherrin kesal setengah mati.

Bahkan ada yang melambaikan tangan genit ke arah Zivaniel, dan minta nomor hp pemuda, walaupun berakhir di abaikan oleh Zivaniel, tapi tetap saja Cherrin kesal setengah mati.

"Apa-apaan ini? Dasar." Batin Cherrin kesal. Ia baru sadar sosok di sampingnya itu terlalu sempurna sampai semua perempuan menginginkannya.

Zivaniel menoleh. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Cherrin menggeleng kecil. “Masuk aja.”

Mereka mengantre. Tidak terlalu panjang, tapi cukup membuat mereka berdiri berdampingan selama beberapa menit. Cherrin membaca papan menu dengan serius, seolah ini keputusan hidup-mati.

“Strawberry, kan?” tanya Zivaniel.

“Iya.” Cherrin mengangguk. “Satu scoop aja.”

“Kecil?”

“Jangan meremehkan,” balas Cherrin cepat. “Aku mau yang cup besar.” kata Cherrin penuh dnegan semangat. Bahkan gadis itu sudah melupakan kegiatan ngambeknya karena sifat Zivaniel kemarin. Salah sendiri di sogok ice cream. Cherrin luluh lah...

Zivaniel hampir tersenyum kali ini. Namun ia berdekhem menormalkan ekspresi wajahnya. “Oke. Cup besar. Rasa Strawberry untuk tuan putri Cherrin.”

Cherrin tersipu mendengar perkataan pemuda tampan itu.

"Niel, jangan buat gue diabetes kenapa!!! Ya Tuhan, Zivaniel!!" rengeknya dalam hati. Andai saja ia ada di dalam kamar, mungkin Cherrin sudah salto dulu.

Zivaniel memesan dua cup—satu strawberry besar untuk Cherrin, satu vanilla kecil untuk dirinya sendiri.

Mereka duduk di meja dekat jendela. Hujan di luar terlihat seperti tirai tipis, memantulkan cahaya lampu jalan.

Cherrin menyendok es krimnya, mencicipi sedikit. Matanya melembut dan berbinar.

“Enak,” katanya jujur.

Zivaniel memperhatikannya tanpa komentar. Cara Cherrin makan selalu seperti itu—tidak buru-buru, seolah ia ingin benar-benar merasakan setiap sendok.

“Aku jarang ke sini,” kata Zivaniel tiba-tiba.

Cherrin mendongak. “Kenapa?”

“Tempat kayak gini bikin aku lengah.”

Cherrin tertawa kecil. “Dan itu buruk?”

“Bukan.” Zivaniel menggeleng. “Cuma… nggak biasa aja.”

Mereka makan dalam diam beberapa menit. Diam yang tidak canggung. Diam yang memberi ruang.

Cherrin menyadari sesuatu.

Ia tidak lagi merasa ingin marah.

Masih ada luka kecil, iya. Tapi tidak menganga seperti tadi siang.

“Niel” katanya pelan, “kalau suatu hari aku capek… kamu bakal ninggalin aku juga?”

Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahannya.

Zivaniel membeku. Sendoknya berhenti di udara.

Ia menatap Cherrin lama—bukan tatapan kosong, tapi penuh pertimbangan. Lalu ia meletakkan sendoknya perlahan.

“Aku nggak tahu masa depan,” katanya jujur. “Aku nggak berani janji besar.”

Cherrin menahan napas.

“Tapi satu hal,” lanjutnya, suaranya rendah, “aku nggak akan pergi tanpa bilang. Aku nggak akan menghilang begitu aja.”

Itu bukan jawaban sempurna.

Tapi itu cukup.

Cherrin mengangguk kecil. “Oke.”

Mereka menghabiskan es krim perlahan. Ketika cup Cherrin hampir kosong, ia menyendok sisa-sisa kecil di pinggir.

Zivaniel memperhatikannya, lalu berkata, “Kamu masih kesal sama aku?”

Cherrin berpikir sejenak. “Sedikit.”

“Masih mau pukul aku?”

“Mungkin.” Cherrin meliriknya. “Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung kamu nyebelin apa enggak.”

Zivaniel mengangguk, seolah menerima vonis itu dengan tenang.

Mereka berdiri dan berjalan keluar kedai. Udara malam terasa lebih dingin, tapi hujan sudah benar-benar berhenti. Jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota seperti kaca.

Zivaniel dan Cherrin sampai depan mobil. Ia membuka pintu depan, tapi Cherrin tidak langsung masuk.

Ia berdiri di sana, menatap langit yang mulai gelap.

“Niel,” katanya pelan.

“Iya?”

“Makasih.”

Zivaniel menatapnya. “Untuk apa?”

“Untuk datang. Untuk minta maaf. Untuk es krimnya enak banget.”

Zivaniel terdiam. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat—perasaan asing yang jarang ia izinkan muncul.

Tanpa benar-benar memikirkannya, ia melangkah setengah langkah mendekat.

Cherrin mendongak, bingung.

Dan sebelum ia sempat berkata apa-apa—

Zivaniel menunduk dan...

Cup

Zivaniel mengecup pipinya.

Singkat.

Lembut.

Nyaris seperti sentuhan angin.

Cherrin membeku.

Matanya membesar. Wajahnya memanas seketika. Otaknya butuh beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi.

“Apa... Ini—” ia terdiam, lalu menatap Zivaniel dengan campuran kaget dan tidak percaya. “Kamu ngapain?!”

Zivaniel juga tampak terkejut—bukan kaget pada tindakannya, tapi pada dirinya sendiri. “Aku—” Ia berhenti. Menarik napas. “Maaf. Kalau itu berlebihan—”

“Berlebihan?” Cherrin menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kamu tau nggak muka aku kayak apa sekarang?”

Zivaniel menggeleng pelan. Ia takut sekali kalau gadis itu marah. "Cher, maafin aku... Aku...."

“Panas!” Cherrin menepuk pipinya sendiri. “Kamu bikin aku kaget!”

Namun… ia tidak mundur. Tidak marah. Tidak menjauh.

Zivaniel menelan ludah. “Aku nggak akan ulangi kalau kamu nggak mau.”

Cherrin terdiam beberapa detik. Lalu berkata pelan, hampir menggerutu, “Kamu tuh bahaya tau nggak.”

Zivaniel mengangkat alis. “Kenapa?”

“Karena kamu kelihatannya dingin, tapi tiba-tiba… kayak gitu.”

Zivaniel hampir tersenyum lagi—senyum kecil yang jarang, tapi tulus.

“Masuk,” katanya akhirnya. “kita pulang ”

Namun bukannya masuk, Cherrin malah tersenyum ke arah Zivaniel. Dan entah keberanian darimana, tiba-tiba gadis itu mendekat ke arah Zivaniel.

Cup

"Muaah."

"Makasih Zivaniel"

Zivaniel mendelik.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!