NovelToon NovelToon
Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.

Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.

Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.

Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sifat Asli Kelihatan

“Huhuhu! Kakak!”

Suara tangisan Shania terdengar dari lorong mansion sebelum gadis itu menerobos masuk ke ruang kerja Arthur.

Wajahnya tampak berantakan dengan tubuh penuh memar, matanya memerah, dan salah satu tangannya terus memegangi pipi seolah-olah baru saja mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan.

Arthur yang sedang duduk bersama Sean langsung mengangkat kepala. Keduanya terkejut melihat kondisi Shania yang datang sambil menangis tersedu-sedu.

“Shania? Apa yang terjadi padamu?” tanya Arthur sambil segera berdiri dari kursinya.

Sean ikut mendekat dengan wajah khawatir. “Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?”

Shania menggeleng beberapa kali, seolah-olah berusaha menahan kesedihannya. Ktika kedua kakaknya terus mendesak, ia akhirnya menundukkan kepala dan mulai menceritakan kejadian yang sudah ia susun sebelumnya.

“Ini Kak Kirana, Kak,” ucapnya dengan suara bergetar. “Dia yang memukulku.”

Arthur langsung mengerutkan kening. “Kirana? Kenapa dia memukulmu?”

“Aku hanya mengingatkannya baik-baik, Kak,” jawab Shania sambil mengusap air matanya. “Tadi dia pulang membawa mobil baru dan banyak sekali barang mewah, padahal Papa dan Mama tidak pernah memberinya uang sebanyak itu.”

Ia kemudian menggigit bibir, berpura-pura ragu untuk melanjutkan ceritanya. “Aku hanya takut dia mendapatkan semua itu dengan cara yang tidak baik, apalagi sebentar lagi dia akan menikah dengan keluarga Wu.”

Sean semakin mengernyit. “Lalu?”

“Aku cuma bilang jangan sampai dia menjadi simpanan seseorang,” lanjut Shania. “Tapi Kak Kirana langsung marah dan menamparku, bahkan memukuliku berkali-kali.”

Air matanya kembali mengalir deras. “Aku benar-benar tidak mengerti, Kak. Padahal aku hanya peduli padanya.”

Arthur dan Sean langsung mempercayai perkataan Shania tanpa mempertanyakan kebenarannya.

Selama ini, mereka memang terbiasa menganggap Shania sebagai gadis polos dan jujur yang tidak mungkin sengaja menyakiti orang lain.

“Kurang ajar!” Sean mengepalkan tangannya dengan wajah penuh amarah. “Dia benar-benar sudah keterlaluan.”

Arthur juga tampak tidak senang. “Sejak datang ke rumah ini, selalu saja ada masalah yang dibuatnya.”

“Benar, Kak!” sahut Sean semakin panas. “Shania terus-menerus dibuat menangis olehnya, dan sekarang dia bahkan berani memukul adik kita sendiri.”

Shania segera menggeleng, seolah-olah ingin menghentikan kemarahan kedua kakaknya. “Jangan, Kak. Aku tidak apa-apa, sungguh.”

Ia menundukkan kepala dengan ekspresi sedih. “Aku tidak ingin Kak Arthur dan Kak Sean bertengkar dengan Kak Kirana hanya karena aku.”

Di balik wajah pilunya, sudut bibir Shania diam-diam terangkat. Ia merasa rencananya berjalan sempurna, terlebih lagi kedua kakaknya sudah menunjukkan keberpihakan tanpa perlu ia minta lebih jauh.

Arthur terdiam dengan wajah dingin. Ia kemudian mengambil ponselnya, seolah sedang memikirkan cara menghadapi Kirana.

“Kita tidak bisa terus membiarkannya bertindak semaunya,” ujar Arthur.

Sean mengangguk setuju. “Aku akan menemuinya sekarang juga dan memberinya pelajaran.”

Sebelum Sean sempat melangkah, pintu ruang kerja Arthur tiba-tiba terbuka.

Ketiganya langsung menoleh.

Kirana berdiri di ambang pintu dengan piyama hitam yang dikenakannya. Rambutnya tergerai sedikit berantakan, satu bahunya bersandar santai pada kusen pintu, sementara wajahnya tampak datar seolah-olah ia baru saja mendengar percakapan yang sangat membosankan.

Sean langsung berdiri tegak. “Kirana!”

Kirana mengangkat alis tipis.

“Kau benar-benar wanita liar!” bentak Sean. “Apa kau sudah kehilangan akal sehat sampai tega memukul Shania hanya demi menutupi perbuatanmu sendiri?”

Shania buru-buru menundukkan wajah, menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul di bibirnya.

Habis kau Kirana!

Sean melanjutkan dengan nada menghina, “Jangan-jangan kau memang wanita murahan yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan barang-barang mewah!”

Arthur tidak langsung menyela. Ia hanya menatap Kirana dengan ekspresi kecewa, seolah-olah sudah memutuskan bahwa adik kandungnya itu memang bersalah.

“Kau seharusnya berterima kasih kepada Shania,” lanjut Sean. “Dia hanya mengingatkanmu agar tidak salah jalan, tetapi kau malah membalasnya dengan kekerasan!”

Kirana memutar bola matanya malas. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana dua pria dewasa di hadapannya bisa begitu mudah menelan cerita sepihak.

Tanpa membuang waktu untuk berdebat, Kirana mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat mengetik beberapa kalimat, kemudian ia mengirimkan sebuah berkas kepada Arthur dan Sean.

Ting!

Ting!

Dua ponsel itu berbunyi hampir bersamaan.

Arthur mengerutkan kening ketika melihat pesan masuk dari nomor tidak diketahui. Sean pun membuka pesannya dengan wajah masih dipenuhi kemarahan.

Ekspresi keduanya perlahan berubah ketika membaca isi pesan tersebut.

Di layar ponsel mereka terdapat foto-foto Kirana bersama Nyonya Cassia Wu sepanjang hari. Mulai dari saat mereka berbelanja di butik mewah, makan bersama di restoran, menjalani perawatan, hingga foto mobil Bugatti yang diberikan Cassia sebagai hadiah untuk calon menantunya.

Bahkan, terdapat pula pesan singkat dari pihak keluarga Wu yang menjelaskan bahwa seluruh barang tersebut merupakan pemberian pribadi Nyonya Cassia.

Arthur terdiam begitu juga dengan Sean tidak mampu langsung berkata apa-apa.

Kirana menyilangkan tangan di depan dada, lalu menatap Sean seolah bertanya apakah masih ada tuduhan lain yang ingin disampaikan.

“Jadi, mobil dan barang-barang itu memang diberikan oleh Nyonya Cassia?” tanya Arthur akhirnya.

Kirana mengangguk.

Wajah Shania mulai berubah. Ia tidak menyangka Kirana memiliki bukti yang begitu jelas, tetapi ia masih berusaha mempertahankan posisinya.

“Walaupun begitu, Kak Kirana tetap salah karena memukulku! Harusnya kakak jelaskan saja bukan memukul!” serunya.

Sean yang mulai kehilangan alasan untuk menyalahkan Kirana ikut berkata, “Benar! Kenapa kau harus menggunakan kekerasan kepada Shania?”

Kirana kembali memutar bola matanya. Ia mengetik sesuatu lagi, lalu mengirimkan sebuah video kepada kedua kakaknya.

Arthur segera menekan tombol putar. Begitu rekaman itu berjalan, suara Shania terdengar jelas dari ponsel mereka.

Dalam video tersebut, Shania terlihat sengaja menampar dirinya sendiri beberapa kali sambil mengucapkan kalimat yang membuat wajah Arthur dan Sean seketika berubah.

“Kita lihat, Kirana! Apa kau bisa membela diri di depan Kak Arthur dan Kak Sean nanti! Akan kubuat kedua kakakmu menghancurkanmu.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Shania langsung pucat pasi. Kedua tangannya mengepal, sementara matanya bergerak gelisah mencari alasan untuk menjelaskan apa yang baru saja mereka lihat.

Arthur perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya yang semula hanya menunjukkan kekecewaan kini berubah tajam ketika menatap Shania.

“Jadi, kau mencoba memfitnah Kirana?”

“Kak Arthur, bukan begitu!” Shania buru-buru menggeleng. “Aku hanya—”

“Lalu apa maksud video ini?” potong Arthur. “Kau sengaja menyakiti dirimu sendiri agar kami mengira Kirana yang melakukannya?”

Shania semakin panik. Ia mencoba mendekati Arthur, tetapi pria itu justru mundur satu langkah.

“Aku hanya takut, Kak,” katanya terbata-bata. “Aku takut Kak Kirana merebut posisiku di keluarga ini.”

Arthur tertawa hambar. Ia menatap Shania seolah baru pertama kali benar-benar mengenal gadis yang selama ini selalu ia bela.

“Posisimu?” ulangnya dengan nada tidak percaya.

Shania terdiam.

“Justru kaulah yang sudah mengambil posisi Kirana selama dua puluh tahun ini!” tegas Arthur. “Sejak kecil, kau mendapatkan kasih sayang Papa dan Mama, pendidikan yang layak, serta semua fasilitas keluarga Lin.”

Arthur menunjuk ke arah Kirana yang masih berdiri tenang di dekat pintu. “Lalu ketika Kirana kembali, kau masih berusaha menjatuhkannya? Apa selama ini yang tidak pernah diberikan kepadamu?”

Shania mulai menangis lagi. “Kak, aku tidak bermaksud—”

“Cukup!” bentak Arthur.

Suara itu membuat Shania langsung membeku.

“Aku benar-benar kecewa padamu, Shania,” ujar Arthur dengan wajah muram. “Aku selalu menganggapmu gadis polos yang tidak pernah berniat buruk kepada siapa pun.”

Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Ternyata aku hampir saja menyakiti adik kandungku sendiri hanya karena mempercayai kebohonganmu.”

Sean yang sejak tadi diam akhirnya menundukkan kepala. Ia teringat bagaimana tadi dirinya begitu mudah menghina Kirana, bahkan berniat memberinya pelajaran tanpa mengetahui kebenaran sedikit pun.

Arthur mengambil ponselnya dan berjalan menuju pintu. “Aku tidak ingin membahas ini lagi malam ini.”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung keluar dari ruang kerja dengan langkah berat. Kirana juga tidak tertarik tinggal lebih lama, sehingga ia berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh kepada siapa pun.

Shania berdiri terpaku, menyaksikan dua orang yang biasanya selalu membelanya kini justru meninggalkannya. Rencana yang awalnya ia anggap sempurna kini berbalik menjadi bumerang yang mempermalukan dirinya sendiri.

“Kak Sean ....” panggilnya dengan suara lirih.

Sean tidak menjawab.

“Kak, aku bisa jelaskan semuanya. Sebenarnya aku hanya—”

Sean langsung berjalan melewatinya tanpa memberikan kesempatan untuk melanjutkan kalimat. Pintu ruang kerja tertutup, meninggalkan Shania sendirian dengan wajah pucat dan kedua tangan yang masih gemetar.

1
Patrish
waahh...sadis juga ya Kirana
Patrish
aku sudah menebak...jarum perak beraksi
Patrish
lhaaahhhh...dasar serigala busuk
Tiara Bella
aku suka cerita nya bangus bngt.....
Tiara Bella
wow thor 6 bab sehari ini aku pdmu pkknya..../Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Maria Lina
mksihhh bnyķk"thor ud up double"🙏🙏🙏😘😘
syh 03
seperti biasa selalu bagus novel authornya
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Kak bantu Komen yang plagiat Guo Mei. Judul plagiat itu "Balas dendam sang Putri"
total 1 replies
Hary Nengsih
wah kirana 👍👍👍ternyata
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
wahhh, merindingnya nih pembalasan dari Kirana🤭, tapi tapi, kalian cocok banget, semoga nanti gak ada kata cerai di antara mereka /Determined/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Nah kan, fix ini, si Meylan bukan ibu kandungnya kan? eh atau... Meylan ini ibu kandungnya, namun sepertinya dia tidak menyukai keberadaan Kirana karena ia merasa akan menjadi penghalang bagi Shania🤔
mama_im
iblis wanita mulai beraksi 😈😈😈🤣🤣🤣
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kendra dan Kirana cocok karna mereka sama" kuat dan tegas jngn lupa cerdas 😏☺️
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kok saya curiga kl yg ngasih racun itu Meylan ibu nya Kirana sendiri 😏😏
teh tubruk
nah kan bener ternyata sudah tidak bisa di pakai lagi,sudah impoten kau julian😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
si minyak goreng emang stres dia sendiri yg cari masalah tp malah nyalahin Kirana ampun dah 🤦😏😡
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
ahh bilang saja mau mangku kirana kan wekkk gitu aja repot Kendra
🤭🤭🤭🤭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
malukan kan kalian gara" si minyak goreng 😏😏 jd jngn trus nyalahin Kirana dan bilang pembawa sial karna faktanya si minyak goreng itu yg pembawa sial 😏😏
mama_im
makin yakin kalo si meylan yg racunin.
teh tubruk
nyamperin Kirana mau membuat ulah & berakhir dengan mempermalukan diri sendiri kau nanti shania
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mereka pd gak punya otak ya kenapa tiap ada kejadian selalu Kirana yg di salahkan ampun dah 🤦😏😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!