“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kebodohan Tetua Ketiga
Qin Xuan bersembunyi di atas atap ruang kerja Qin Cangshan sambil menggenggam Pedang Iblis Hitam.
Darah masih terasa di tenggorokannya. Serangan Tetua Ketiga tadi telah melukai bagian dalam tubuhnya, tetapi ia memaksa diri untuk tetap tenang.
Ia tahu Qin Cangshan akan segera kembali.
Sejak awal, Qin Xuan memang tidak berniat mencari Pil Pemulih Roh di ruang rahasia tersebut. Ia mengenal sifat Tetua Ketiga yang sangat berhati-hati terhadap barang berharga.
Pil Pemulih Roh merupakan salah satu obat paling berharga milik Keluarga Qin. Mustahil Qin Cangshan meninggalkannya begitu saja di tempat penyimpanan.
Jika pil itu berada di tangan Tetua Ketiga, kemungkinan besar lelaki tua tersebut selalu membawanya.
Karena itulah Qin Xuan sengaja menghancurkan pintu ruang rahasia.
Ia ingin membuat Qin Cangshan mengira seseorang sedang mencuri hartanya, lalu memancingnya masuk tanpa sempat memeriksa keadaan sekitar.
Qin Xuan juga telah melepaskan sedikit energi ke dalam ruangan agar keberadaannya lebih sulit diketahui.
Sekarang ia hanya perlu menunggu.
Tidak lama kemudian, suara langkah cepat terdengar dari halaman.
Qin Cangshan tiba dengan wajah muram. Ketika melihat kedua penjaga tergeletak pingsan, ia langsung mempercepat langkah menuju ruang kerja.
Begitu memasuki ruangan, ia menemukan dinding yang telah dihancurkan dan pintu ruang rahasianya terbuka.
“Bocah kurang ajar!”
Qin Cangshan segera masuk untuk memeriksa harta yang disimpannya.
Namun, ia justru tertegun.
Semua barang masih berada di tempat semula. Tidak ada peti yang terbuka ataupun harta yang hilang.
Apa sebenarnya yang dilakukan Qin Xuan?
Saat itulah Qin Cangshan merasakan bahaya dari arah belakang.
Ia segera menoleh.
Di atas atap yang sebagian telah terbuka, Qin Xuan berdiri dengan kedua tangan menggenggam Pedang Iblis Hitam. Api hitam menyelimuti bilahnya, sementara energi dari sekeliling terus berkumpul.
Qin Cangshan langsung memahami bahwa dirinya telah dijebak.
“Orang tua, aku memang sedang menunggumu!”
Qin Xuan mengayunkan pedangnya sebelum Qin Cangshan sempat bergerak menjauh.
“Jurus Pertama, Teknik Pedang Gelombang Api!”
Gelombang api hitam sepanjang hampir sepuluh meter melesat menuju pintu masuk ruang rahasia.
Qin Cangshan terkejut melihat kekuatan serangan tersebut. Ia dapat merasakan bahwa teknik pedang itu setidaknya berada pada tingkat Bumi, jauh melampaui kemampuan yang seharusnya dimiliki Qin Xuan saat ini.
Jarak mereka terlalu dekat untuk menghindar.
Qin Cangshan segera mengerahkan energi dan membentuk lapisan pelindung di seluruh tubuhnya.
Namun, pertahanan yang dibuat terburu-buru itu tidak mampu menahan serangan Qin Xuan.
Gelombang api hitam menghantamnya dengan keras.
Lapisan energi di tubuh Qin Cangshan pecah. Tubuh lelaki tua itu terlempar keluar dari ruang rahasia dan menghantam lantai ruang kerja.
Sebuah luka panjang terbuka dari bahu kirinya hingga bagian kanan bawah perut. Darah mengalir deras, membasahi pakaiannya.
Qin Xuan mendarat tidak jauh darinya.
Melihat Qin Cangshan masih hidup, ia menyadari betapa besar perbedaan kekuatan antara Alam Penguatan Tubuh dan Alam Bintang Langit.
Serangan yang mampu mengancam nyawa seorang ahli biasa ternyata belum cukup untuk membunuh Tetua Ketiga, bahkan ketika dilakukan secara tiba-tiba.
Namun, Qin Xuan tidak membiarkan kesempatan itu terbuang.
Ia segera menerjang dengan Pedang Iblis Hitam terangkat.
Qin Cangshan berusaha bangkit, tetapi luka di tubuhnya membuat gerakannya jauh lebih lambat.
Melihat pedang mengarah ke kepalanya, ia mencoba menghindar.
Pada saat terakhir, Qin Xuan mengubah arah serangan.
Bilah pedang menghantam perut Qin Cangshan dan menembus Dantiannya.
“Aaakh!”
Jeritan lelaki tua itu memenuhi ruang kerja.
Energi yang selama puluhan tahun dikumpulkannya langsung menghilang. Qin Cangshan menatap luka di perutnya dengan wajah pucat.
“Dantianku...”
Ia berusaha mengerahkan kekuatan, tetapi tidak ada energi yang dapat dikendalikannya.
Qin Xuan telah menghancurkan seluruh hasil kultivasinya.
“Qin Xuan! Aku akan membunuhmu!”
Qin Cangshan mencoba bangkit, tetapi Qin Xuan segera mencengkeram lehernya dan menekannya kembali ke lantai.
“Dengan keadaanmu sekarang, kau tidak bisa lagi melakukan apapun.”
Qin Xuan kemudian menggunakan kemampuan untuk merampas Sisa Umur yang diperolehnya melalui Pagoda Pemakaman Langit.
Tubuh Qin Cangshan langsung menegang.
Ia merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kehilangan kekuatan kultivasi. Tenaga kehidupannya perlahan meninggalkan tubuh, sementara kulit dan rambutnya mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan.
“Apa yang kau lakukan padaku?”
Qin Xuan tidak menjawab.
Dengan tangan lainnya, ia memeriksa pakaian Qin Cangshan dan menemukan sebuah botol pil dari batu giok.
Ia segera membukanya.
Namun, setelah melihat isinya, harapannya kembali pupus.
Pil Pemulih Roh tidak ada di dalam botol tersebut.
Qin Xuan mengatupkan rahang.
Berarti pil itu kemungkinan besar berada pada Tetua Agung.
Tetua Agung Qin Cangming merupakan ahli terkuat Keluarga Qin. Mengambil pil darinya akan jauh lebih sulit daripada menghadapi Qin Cangshan.
Namun, Qin Xuan tidak bisa menyerah.
Ling'er masih menunggu pertolongannya.
Di bawah cengkeramannya, Qin Cangshan mulai meronta semakin lemah.
“Qin Xuan... hentikan! Bagaimanapun, aku masih tetuamu!”
Qin Xuan menatapnya tanpa melepaskan tangan.
“Ketika Qin Huai membawa Ling'er untuk diserahkan kepada Keluarga Sun, tidak seorang pun dari kalian menganggapnya sebagai anggota keluarga.”
Qin Cangshan tidak lagi mampu membalas.
Tubuhnya terus mengering seiring berkurangnya Sisa Umur yang dirampas.
“Aku mohon...” Suaranya berubah serak. “Lepaskan aku. Apa pun yang kau inginkan akan kuberikan.”
Qin Xuan tetap tidak bergerak.
Beberapa saat kemudian, Qin Cangshan berhenti meronta.
Seluruh Sisa Umurnya telah dirampas. Tubuhnya mengering hingga hanya tersisa kulit yang membungkus tulang.
Tetua Ketiga Keluarga Qin akhirnya tewas.
Qin Xuan melepaskan cengkeramannya dan berdiri.
Ia merasa tidak perlu berlama-lama memandangi jasad tersebut. Yang dipikirkannya hanyalah cara mendapatkan Pil Pemulih Roh sebelum keadaan Ling'er memburuk.
Namun, sebelum sempat meninggalkan ruangan, ia mendengar langkah kaki dari luar.
Beberapa orang telah tiba di halaman.
Qin Xuan mengangkat kepala.
Qin Xingqiong muncul bersama sejumlah ahli Keluarga Qin.
Mereka berhenti ketika melihat keadaan ruang kerja yang hancur.
Di lantai, Qin Cangshan tergeletak tidak bernyawa dengan tubuh mengering.
Wajah Qin Xingqiong langsung berubah.
“Tetua Ketiga...”
Ia tidak menyangka Qin Cangshan, seorang ahli Alam Bintang Langit, dapat dibunuh oleh Qin Xuan.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanyanya sambil menatap Qin Xuan.
Qin Xuan tidak menjawab pertanyaan itu.
“Di mana Pil Pemulih Roh?”
Tatapannya menyapu orang-orang yang berdiri di belakang Qin Xingqiong.
Tidak seorang pun menjawab.
Beberapa anggota keluarga bahkan menghindari tatapannya. Mereka baru saja menyaksikan jasad Qin Cangshan, dan tidak ada yang berani menganggap Qin Xuan sebagai orang lemah lagi.
Qin Xingqiong melihat keraguan mereka.
“Jangan takut!” serunya. “Qin Xuan pasti menggunakan cara licik untuk membunuh Tetua Ketiga. Kekuatannya masih jauh di bawah kita. Dia juga pasti sudah menghabiskan banyak tenaga!”
Qin Xingqiong mengangkat pedangnya.
“Serang bersama-sama! Jangan biarkan dia kabur!”
Beberapa ahli keluarga mulai bergerak.
Qin Xuan segera melompat ke atas atap sebelum mereka berhasil mengepung.
Ia tahu Qin Xingqiong tidak sepenuhnya salah. Setelah bertarung berkali-kali dan menerima serangan Qin Cangshan, keadaan tubuhnya memang tidak sebaik sebelumnya.
Menghadapi seluruh ahli Keluarga Qin sekaligus bukan pilihan yang bijaksana.
Dari atas atap, ia memandang orang-orang yang berkumpul di halaman.
“Kalau kalian menyerang bersama, mungkin aku tidak bisa mengalahkan semuanya. Tapi kalau aku ingin pergi, kalian juga tidak akan mudah menghentikanku.”
Qin Xingqiong mengepalkan tangan.
Ia sudah beberapa kali menyaksikan Qin Xuan lolos dengan memanfaatkan keadaan. Karena itu, ia tidak berani menganggap ancaman tersebut sebagai kesombongan belaka.
Namun, sebelum siapa pun bergerak, sebuah suara tua terdengar dari kejauhan.
“Bagaimana kalau aku yang menghentikanmu?”
Qin Xuan langsung menoleh.
Di atas atap bangunan lain, seorang lelaki tua berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
Rambutnya telah memutih, tetapi tubuhnya masih tegap. Energi yang terpancar darinya jauh lebih kuat daripada milik Qin Cangshan.
Kehadirannya membuat suasana halaman berubah seketika.
Semua anggota Keluarga Qin segera membungkuk.
“Salam, Tetua Agung!”
Qin Xuan menyipitkan mata.
Lelaki tua itu adalah Qin Cangming, Tetua Agung Keluarga Qin sekaligus orang terkuat di keluarga tersebut.
Selama beberapa bulan terakhir, Qin Cangming menjalani pengasingan untuk berkultivasi. Ia baru keluar setelah mendengar kekacauan yang terjadi di kediaman keluarga.
Qin Cangming memandang jasad Qin Cangshan di dalam ruang kerja, kemudian mengalihkan tatapannya kepada Qin Xuan.
“Qin Xuan, kau benar-benar sudah keterlaluan.”
Suaranya terdengar tenang, tetapi mengandung tekanan yang membuat beberapa anggota keluarga menundukkan kepala.
“Aku baru meninggalkan urusan keluarga selama beberapa bulan. Sekarang kau membunuh anggota keluarga sendiri dan membuat hubungan kita dengan Keluarga Sun hancur.”
Qin Xuan menatapnya tanpa gentar.
“Kau tahu apa yang mereka lakukan kepada ibu dan adikku?”
Qin Cangming mengerutkan kening.
Ia memang baru mengetahui kejadian hari itu dari laporan orang-orang yang datang menemuinya. Ia mendengar bahwa Qin Xuan telah membunuh Qin Heng, Qin Huai, Sun Guangde beserta putranya, dan kini Qin Cangshan.
Namun, ia belum mengetahui seluruh penyebab pertikaian tersebut.
“Aku belum mengetahui semua yang terjadi,” jawab Qin Cangming. “Tapi apa pun alasannya, kau tidak boleh membunuh anggota keluargamu sendiri sesuka hati.”
Qin Xuan teringat keadaan ibunya ketika memohon obat kepada Qin Heng. Ia juga teringat Ling'er yang terikat di kamar Keluarga Sun.
Semua itu terjadi karena orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya sendiri.
“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda Sekte Bintang Langit, kalian menerima semua yang kuberikan,” kata Qin Xuan. “Sekarang, setelah aku kehilangan kedudukan, kalian bahkan tega menyerahkan Ling'er kepada Keluarga Sun.”
Qin Cangming terdiam sejenak.
Namun, ekspresinya tidak banyak berubah.
“Kalaupun mereka bersalah, kau seharusnya menyerahkan masalah ini kepada keluarga untuk diselesaikan.”
Qin Xuan tertawa pendek.
“Kepada siapa? Orang-orang yang menjual adikku itu?”
Beberapa anggota keluarga saling berpandangan, tetapi tidak ada yang berani menyela.
Qin Cangming menghela napas.
“Qin Xuan, dahulu kau memang berjasa besar. Berkat bantuanmu, Keluarga Qin mampu menjadi salah satu dari empat keluarga besar di Kota Qingquan.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Karena mengingat jasamu itulah aku masih memberimu kesempatan.”
Qin Xuan tidak menjawab. Ia ingin mengetahui apa yang akan dikatakan lelaki tua tersebut.
Qin Cangming memandangnya dengan wajah dingin.
“Kau sudah membunuh terlalu banyak orang. Bahkan seorang kepala keluarga harus menerima hukuman mati jika melakukan perbuatan seperti ini.”
Suasana halaman menjadi sunyi.
Kemudian Tetua Agung mengucapkan keputusan yang membuat Qin Xuan semakin memahami sikap keluarganya.
“Qin Xuan, bunuh dirimu sendiri. Dengan begitu, aku tidak perlu turun tangan.”
Qin Xuan menggenggam Pedang Iblis Hitam semakin erat.
Di hadapannya berdiri orang yang mungkin menyimpan satu-satunya Pil Pemulih Roh yang dapat menyelamatkan Ling'er.
Namun, alih-alih mendengarkan penjelasannya, Qin Cangming justru memerintahkannya untuk mengakhiri hidup.
Qin Xuan menatap lelaki tua itu dengan dingin.
......................
Bersambung...