NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan

Levia terdiam. Ratih pun ikut membeku.

Pertanyaan itu terasa aneh. Membuat suasana meja makan berubah dalam sekejap.

Selama hampir setahun menikah, Vandra tidak pernah sekalipun memintanya menunggu. Bahkan sejak awal, pria itu sudah menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menginginkan pernikahan mereka.

Lalu sekarang...

Kenapa tiba-tiba bertanya soal dirinya menikah dengan pria lain?

Dalam hati Vivian mendengus. “Ngapain manusia kutub ini nanya begitu? Jangan-jangan... Ah, gak mungkin.”

Levia segera menyingkirkan pikiran itu. Ia menatap Vandra dengan tenang. “Kenapa nanya begitu?”

Vandra sedikit mengernyit. “Cuma penasaran.”

“Kalau begitu...” Levia mengambil gelas air putih di depannya. “Aku juga gak tahu jawabannya.”

“Gak tahu?”

Levia menggeleng. “Aku gak punya rencana menikah lagi dalam waktu dekat. Aku masih mau fokus sama diri sendiri, Ayah, dan pekerjaanku.”

Vandra mengangguk pelan. Namun sebelum sempat merasa lega, Levia melanjutkan.

“Tapi kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Jemari Vandra yang berada di atas meja perlahan menegang.

Levia tidak menyadarinya. “Namanya juga hidup. Kita gak pernah tahu siapa yang bakal datang.”

Ia tersenyum tipis.

“Yang jelas, kalau nanti aku nikah lagi, aku pengen sama orang yang benar-benar cinta sama aku, ngehargai aku, dan gak bikin aku ngerasa harus ngejer-ngejer perhatian tiap hari.”

Vandra terdiam. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sengaja dilemparkan tepat ke arahnya. Padahal Levia mengucapkannya dengan nada begitu tenang.

“Aku juga pengen punya pasangan yang kalau aku sakit, dia peduli. Kalau aku sedih, dia mau dengerin. Bukan seseorang yang bikin aku terus bertanya-tanya apakah keberadaanku ganggu hidupnya.”

Ratih menatap putranya sekilas. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Levia.

Sementara Vandra hanya menatap meja makan. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya.

Bukankah selama ini ia memang seperti itu? Tidak pernah memberikan perhatian. Tidak pernah memberi harapan. Bahkan ketika Levia berusaha mendekatinya, ia selalu menjauh.

Namun anehnya...

Mendengar wanita itu mengatakan ingin mendapatkan semua itu dari pria lain membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Levia menatap Vandra. “Tapi untuk sekarang, aku gak mikirin pernikahan lagi.”

“Kenapa?” tanya Vandra tanpa sadar.

Levia mengangkat alis. “Karena aku baru belajar mencintai hidupku sendiri.”

Vandra terdiam.

Ratih yang melihat suasana semakin canggung segera berdeham.

“Sudah, sudah. Jangan membahas hal seperti itu pagi-pagi.” Ia tersenyum, lalu mengambil sendok. “Lebih baik kita sarapan. Ibu penasaran sama masakan Via.”

Levia ikut tersenyum. “Iya, Bu. Coba saja.”

Ratih mengambil sedikit sayur dan lauk yang tersaji di depannya. Ia memasukkan suapan pertama ke mulut. Beberapa detik kemudian, matanya membulat.

“Hmm?”

Levia langsung menatapnya. “Gimana, Bu?”

Ratih mengunyah perlahan, lalu tersenyum lebar. “Enak.”

“Beneran?”

“Beneran. Rasanya pas.”

Levia terlihat lega. “Syukurlah.”

Ratih mengambil satu suapan lagi. “Ini kamu yang masak?”

Levia mengangguk. “Iya.”

“Kalau begini, Ayahmu pasti senang.”

Levia tertawa kecil. “Semoga.”

Vandra yang sejak tadi diam akhirnya ikut mengambil makanan. Ia sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rasa masakan itu. Pikirannya masih tertinggal pada jawaban Levia.

Namun begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, ia terdiam. Rasanya benar-benar enak. Bukan sekadar enak untuk makanan sehat. Memang enak.

Vandra menatap hidangan di depannya beberapa saat. “Dia bener-bener bisa masak?”

Ia kembali melirik Levia.

Wanita itu sedang berbicara dengan Ratih sambil tersenyum. Tidak ada sedikit pun usaha untuk menarik perhatiannya.

Tidak ada tatapan penuh harap. Tidak ada sikap manja. Seolah pertanyaan Vandra tadi tidak berarti apa-apa baginya. Justru itu yang membuat Vandra semakin terganggu.

Ia kembali menyuap makanan. Enak. Namun entah kenapa, pagi itu rasa makanan bukanlah hal yang paling memenuhi pikirannya. Yang terus terngiang justru satu kalimat Levia.

"Kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Vandra menelan makanannya perlahan. Entah mengapa, ia membayangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan.

Levia... bersama pria lain.

Dan anehnya, bayangan itu sama sekali tidak terasa menyenangkan.

Ia menatap Levia yang sedang tersenyum kepada Ratih. Wanita itu benar-benar sudah tidak mengejarnya. Tidak menunggunya.

Bahkan tidak lagi takut kehilangan dirinya.

Dan jujur, Vandra justru takut pada satu kemungkinan.

"Gimana kalau suatu hari Levia bener-bener gak menginginkan aku lagi?"

 

Usai sarapan, Levia berdiri dari kursinya. “Bu, aku pulang dulu, ya.”

Ratih ikut bangkit. “Ibu antar sampai depan.”

Levia mengangguk.

Vandra yang masih duduk di kursinya ikut menoleh. Entah mengapa, ketika melihat Levia mengambil tas, sebuah kalimat tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Via, selama aku pergi... tolong jaga Ibu."

Namun bibirnya tidak langsung mengucapkannya. Ia teringat surat perceraian yang sudah diberikan kepada Levia.

Mereka memang belum resmi bercerai. Tetapi ia sendiri yang sudah mengatakan ingin mengakhiri pernikahan itu.

Memangnya dengan hak apa ia meminta Levia menjaga ibunya?

Vandra akhirnya hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”

Levia menoleh. “Iya.”

Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada, kamu juga hati-hati. Tidak ada perhatian berlebihan seperti dulu.

Levia hanya tersenyum tipis lalu berjalan bersama Ratih menuju pintu utama.

Baru beberapa langkah mereka berjalan...

Ting. Tong.

Bel pintu berbunyi.

Ratih mengernyit. “Siapa pagi-pagi begini?”

Levia ikut menoleh.

Vandra yang masih berada di ruang makan juga mengangkat kepala.

“Sekalian saja kita lihat siapa yang datang,” kata Ratih pada Levia.

Mereka sampai di depan pintu. Ratih meraih gagangnya.

Klik.

Pintu terbuka. Namun begitu melihat siapa yang berdiri di baliknya... keduanya terdiam.

 

...✨“Terkadang kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika membayangkan hidup kita tanpa dirinya.”✨...

.

To be continued

1
asih
ninis musuh dlm selimut itu berwajah baik di depan tapi di belakang kayak Iblis mau makan orang
Puji Hastuti
akhirnya Bu Sri bilang ke pak Gultom,lega rasanya.
abimasta
Ninis harus di pecat
Uthie
Nahh.. bagus bik Sari.. dikasih Tauin aja kecurigaan kamu sama si Ninis 😡👍
Anitha
Pak Gultom dan Levia harus lebih waspada ada parasit di rumahmu yang akan menghancurkan Nama Levia....jangan sampai lengah.

ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
Kadek Sri
lanjut
Yuni Alyssa
katanya gultom mau mengawasi ninis... jangan sampe kecolongan ya... pasang aja CCTV rahasia sambil pantau...
kymlove...
ayooo bik kasih tau kelakuan mencurigakan ninis biar mereka semakin waspada
Siti Hawa
lanjut thoor, klu bisa up yg banyak ya, ku sudah kasih Bintang 5
Siti Hawa
sang at bagus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kadek Sri
lanjut
Uthie
si Ninis makin kurang ajar 😡😡😡
Anitha
Ada udang di balik ba'wan kali yaaa Andri...

baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.

syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄
mery harwati
Andri Mahesa pengagum Levia secara diam² kah sebelum Levia nikah dengan Vandra? 🤔
kymlove...
ada apa dengan andri pak?? jahatkah??? atau apa??
Anitha
Wow kereeennnm Levia tambah Sukses tambah banyak ujiannya an si Ninis tambah iri saja
EVA OKTASARI
jangan-jangan andri ini mau deketin levia krn suka sama levia.
lin sya
siapa andri, apa dia berbahaya?
Uthie
lanjuuttttt
Elina thea
levia kamu harus hati-hati karna semakin kamu sukses,si Ninis malah tambah iri...jadi harus tetap waspada...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!