NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:263.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan

Levia terdiam. Ratih pun ikut membeku.

Pertanyaan itu terasa aneh. Membuat suasana meja makan berubah dalam sekejap.

Selama hampir setahun menikah, Vandra tidak pernah sekalipun memintanya menunggu. Bahkan sejak awal, pria itu sudah menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menginginkan pernikahan mereka.

Lalu sekarang...

Kenapa tiba-tiba bertanya soal dirinya menikah dengan pria lain?

Dalam hati Vivian mendengus. “Ngapain manusia kutub ini nanya begitu? Jangan-jangan... Ah, gak mungkin.”

Levia segera menyingkirkan pikiran itu. Ia menatap Vandra dengan tenang. “Kenapa nanya begitu?”

Vandra sedikit mengernyit. “Cuma penasaran.”

“Kalau begitu...” Levia mengambil gelas air putih di depannya. “Aku juga gak tahu jawabannya.”

“Gak tahu?”

Levia menggeleng. “Aku gak punya rencana menikah lagi dalam waktu dekat. Aku masih mau fokus sama diri sendiri, Ayah, dan pekerjaanku.”

Vandra mengangguk pelan. Namun sebelum sempat merasa lega, Levia melanjutkan.

“Tapi kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Jemari Vandra yang berada di atas meja perlahan menegang.

Levia tidak menyadarinya. “Namanya juga hidup. Kita gak pernah tahu siapa yang bakal datang.”

Ia tersenyum tipis.

“Yang jelas, kalau nanti aku nikah lagi, aku pengen sama orang yang benar-benar cinta sama aku, ngehargai aku, dan gak bikin aku ngerasa harus ngejer-ngejer perhatian tiap hari.”

Vandra terdiam. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sengaja dilemparkan tepat ke arahnya. Padahal Levia mengucapkannya dengan nada begitu tenang.

“Aku juga pengen punya pasangan yang kalau aku sakit, dia peduli. Kalau aku sedih, dia mau dengerin. Bukan seseorang yang bikin aku terus bertanya-tanya apakah keberadaanku ganggu hidupnya.”

Ratih menatap putranya sekilas. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Levia.

Sementara Vandra hanya menatap meja makan. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya.

Bukankah selama ini ia memang seperti itu? Tidak pernah memberikan perhatian. Tidak pernah memberi harapan. Bahkan ketika Levia berusaha mendekatinya, ia selalu menjauh.

Namun anehnya...

Mendengar wanita itu mengatakan ingin mendapatkan semua itu dari pria lain membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Levia menatap Vandra. “Tapi untuk sekarang, aku gak mikirin pernikahan lagi.”

“Kenapa?” tanya Vandra tanpa sadar.

Levia mengangkat alis. “Karena aku baru belajar mencintai hidupku sendiri.”

Vandra terdiam.

Ratih yang melihat suasana semakin canggung segera berdeham.

“Sudah, sudah. Jangan membahas hal seperti itu pagi-pagi.” Ia tersenyum, lalu mengambil sendok. “Lebih baik kita sarapan. Ibu penasaran sama masakan Via.”

Levia ikut tersenyum. “Iya, Bu. Coba saja.”

Ratih mengambil sedikit sayur dan lauk yang tersaji di depannya. Ia memasukkan suapan pertama ke mulut. Beberapa detik kemudian, matanya membulat.

“Hmm?”

Levia langsung menatapnya. “Gimana, Bu?”

Ratih mengunyah perlahan, lalu tersenyum lebar. “Enak.”

“Beneran?”

“Beneran. Rasanya pas.”

Levia terlihat lega. “Syukurlah.”

Ratih mengambil satu suapan lagi. “Ini kamu yang masak?”

Levia mengangguk. “Iya.”

“Kalau begini, Ayahmu pasti senang.”

Levia tertawa kecil. “Semoga.”

Vandra yang sejak tadi diam akhirnya ikut mengambil makanan. Ia sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rasa masakan itu. Pikirannya masih tertinggal pada jawaban Levia.

Namun begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, ia terdiam. Rasanya benar-benar enak. Bukan sekadar enak untuk makanan sehat. Memang enak.

Vandra menatap hidangan di depannya beberapa saat. “Dia bener-bener bisa masak?”

Ia kembali melirik Levia.

Wanita itu sedang berbicara dengan Ratih sambil tersenyum. Tidak ada sedikit pun usaha untuk menarik perhatiannya.

Tidak ada tatapan penuh harap. Tidak ada sikap manja. Seolah pertanyaan Vandra tadi tidak berarti apa-apa baginya. Justru itu yang membuat Vandra semakin terganggu.

Ia kembali menyuap makanan. Enak. Namun entah kenapa, pagi itu rasa makanan bukanlah hal yang paling memenuhi pikirannya. Yang terus terngiang justru satu kalimat Levia.

"Kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Vandra menelan makanannya perlahan. Entah mengapa, ia membayangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan.

Levia... bersama pria lain.

Dan anehnya, bayangan itu sama sekali tidak terasa menyenangkan.

Ia menatap Levia yang sedang tersenyum kepada Ratih. Wanita itu benar-benar sudah tidak mengejarnya. Tidak menunggunya.

Bahkan tidak lagi takut kehilangan dirinya.

Dan jujur, Vandra justru takut pada satu kemungkinan.

"Gimana kalau suatu hari Levia bener-bener gak menginginkan aku lagi?"

 

Usai sarapan, Levia berdiri dari kursinya. “Bu, aku pulang dulu, ya.”

Ratih ikut bangkit. “Ibu antar sampai depan.”

Levia mengangguk.

Vandra yang masih duduk di kursinya ikut menoleh. Entah mengapa, ketika melihat Levia mengambil tas, sebuah kalimat tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Via, selama aku pergi... tolong jaga Ibu."

Namun bibirnya tidak langsung mengucapkannya. Ia teringat surat perceraian yang sudah diberikan kepada Levia.

Mereka memang belum resmi bercerai. Tetapi ia sendiri yang sudah mengatakan ingin mengakhiri pernikahan itu.

Memangnya dengan hak apa ia meminta Levia menjaga ibunya?

Vandra akhirnya hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”

Levia menoleh. “Iya.”

Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada, kamu juga hati-hati. Tidak ada perhatian berlebihan seperti dulu.

Levia hanya tersenyum tipis lalu berjalan bersama Ratih menuju pintu utama.

Baru beberapa langkah mereka berjalan...

Ting. Tong.

Bel pintu berbunyi.

Ratih mengernyit. “Siapa pagi-pagi begini?”

Levia ikut menoleh.

Vandra yang masih berada di ruang makan juga mengangkat kepala.

“Sekalian saja kita lihat siapa yang datang,” kata Ratih pada Levia.

Mereka sampai di depan pintu. Ratih meraih gagangnya.

Klik.

Pintu terbuka. Namun begitu melihat siapa yang berdiri di baliknya... keduanya terdiam.

 

...✨“Terkadang kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika membayangkan hidup kita tanpa dirinya.”✨...

.

To be continued

1
Wardi's
terimakasih untuk karyanya... sukses terus ka nana
yetiku86
entahlah???
yetiku86
pertanyaan macam apa itu???? 😅
yetiku86
ternyata kamu ngga trauma. syukurlah
yetiku86
mengerikan sekali kalau dirmh sendiri ada orang seperti Ninis 🥶
yetiku86
Emang tahu???
Kikin
bagus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak 🤗🙏
total 1 replies
Uthie
Sukses selalu 🤗🤗🤗
Uthie
nasihat yg bagus 👍👍👍
imoe nawar
👍👍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Anitha
sama² ksk Nana....akhirnya kisah Levia dan Vandra berakhir bahagia
Puji Hastuti
makasih KK ceritanya,bikin para pembaca terhibur 🙏🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak 😊🙏
total 1 replies
aryuu
itulah tor novel yg bagus buat pembaca ketawa, sebel , ngakak atau kecewa sama karakternya... ga hanya didunia halu terlebih parah ada banyak kejadian di dunia nyata yg bikin jelimet... terima kasih banyak ya tor sudah buat karya yg bagus banget menurut aku... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️ semangat dan jaga kesehatan ya tor 🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak. Makasih 😊🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
berkelas 👍👍👍👍👍

fellnya dapet, emosinya dapet, alurnya rapi, kisah yg selalu ditunggu sampai penasaran sama endingnya 👍👍♥️♥️♥️♥️♥️
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
karya akak oThor ni, best 👍👍👍
terimakasih sudah menemani hari-hari ku , novel yg selalu kutunggu tiap harinya...♥️

sukses selalu buat akak oThor 🥰🥰
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Makasih Kak 🤗🙏
total 1 replies
mery harwati
Makasih author novel online nya sudah menghibur readers 🙏
Sehat selalu ya Thor 💪❤️
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak. Aamiin 🤗🙏
total 1 replies
aryuu
semoga otor bikin cerita yg temanya transmigrasi lagi 🤭😍
Ass Yfa
akhirnya happy ending.... semangat kak Na..ters berkarya..💪💪
Kadek Sri
terima kasih kembali kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!