NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:156.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan

Levia terdiam. Ratih pun ikut membeku.

Pertanyaan itu terasa aneh. Membuat suasana meja makan berubah dalam sekejap.

Selama hampir setahun menikah, Vandra tidak pernah sekalipun memintanya menunggu. Bahkan sejak awal, pria itu sudah menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menginginkan pernikahan mereka.

Lalu sekarang...

Kenapa tiba-tiba bertanya soal dirinya menikah dengan pria lain?

Dalam hati Vivian mendengus. “Ngapain manusia kutub ini nanya begitu? Jangan-jangan... Ah, gak mungkin.”

Levia segera menyingkirkan pikiran itu. Ia menatap Vandra dengan tenang. “Kenapa nanya begitu?”

Vandra sedikit mengernyit. “Cuma penasaran.”

“Kalau begitu...” Levia mengambil gelas air putih di depannya. “Aku juga gak tahu jawabannya.”

“Gak tahu?”

Levia menggeleng. “Aku gak punya rencana menikah lagi dalam waktu dekat. Aku masih mau fokus sama diri sendiri, Ayah, dan pekerjaanku.”

Vandra mengangguk pelan. Namun sebelum sempat merasa lega, Levia melanjutkan.

“Tapi kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Jemari Vandra yang berada di atas meja perlahan menegang.

Levia tidak menyadarinya. “Namanya juga hidup. Kita gak pernah tahu siapa yang bakal datang.”

Ia tersenyum tipis.

“Yang jelas, kalau nanti aku nikah lagi, aku pengen sama orang yang benar-benar cinta sama aku, ngehargai aku, dan gak bikin aku ngerasa harus ngejer-ngejer perhatian tiap hari.”

Vandra terdiam. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sengaja dilemparkan tepat ke arahnya. Padahal Levia mengucapkannya dengan nada begitu tenang.

“Aku juga pengen punya pasangan yang kalau aku sakit, dia peduli. Kalau aku sedih, dia mau dengerin. Bukan seseorang yang bikin aku terus bertanya-tanya apakah keberadaanku ganggu hidupnya.”

Ratih menatap putranya sekilas. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Levia.

Sementara Vandra hanya menatap meja makan. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya.

Bukankah selama ini ia memang seperti itu? Tidak pernah memberikan perhatian. Tidak pernah memberi harapan. Bahkan ketika Levia berusaha mendekatinya, ia selalu menjauh.

Namun anehnya...

Mendengar wanita itu mengatakan ingin mendapatkan semua itu dari pria lain membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Levia menatap Vandra. “Tapi untuk sekarang, aku gak mikirin pernikahan lagi.”

“Kenapa?” tanya Vandra tanpa sadar.

Levia mengangkat alis. “Karena aku baru belajar mencintai hidupku sendiri.”

Vandra terdiam.

Ratih yang melihat suasana semakin canggung segera berdeham.

“Sudah, sudah. Jangan membahas hal seperti itu pagi-pagi.” Ia tersenyum, lalu mengambil sendok. “Lebih baik kita sarapan. Ibu penasaran sama masakan Via.”

Levia ikut tersenyum. “Iya, Bu. Coba saja.”

Ratih mengambil sedikit sayur dan lauk yang tersaji di depannya. Ia memasukkan suapan pertama ke mulut. Beberapa detik kemudian, matanya membulat.

“Hmm?”

Levia langsung menatapnya. “Gimana, Bu?”

Ratih mengunyah perlahan, lalu tersenyum lebar. “Enak.”

“Beneran?”

“Beneran. Rasanya pas.”

Levia terlihat lega. “Syukurlah.”

Ratih mengambil satu suapan lagi. “Ini kamu yang masak?”

Levia mengangguk. “Iya.”

“Kalau begini, Ayahmu pasti senang.”

Levia tertawa kecil. “Semoga.”

Vandra yang sejak tadi diam akhirnya ikut mengambil makanan. Ia sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rasa masakan itu. Pikirannya masih tertinggal pada jawaban Levia.

Namun begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, ia terdiam. Rasanya benar-benar enak. Bukan sekadar enak untuk makanan sehat. Memang enak.

Vandra menatap hidangan di depannya beberapa saat. “Dia bener-bener bisa masak?”

Ia kembali melirik Levia.

Wanita itu sedang berbicara dengan Ratih sambil tersenyum. Tidak ada sedikit pun usaha untuk menarik perhatiannya.

Tidak ada tatapan penuh harap. Tidak ada sikap manja. Seolah pertanyaan Vandra tadi tidak berarti apa-apa baginya. Justru itu yang membuat Vandra semakin terganggu.

Ia kembali menyuap makanan. Enak. Namun entah kenapa, pagi itu rasa makanan bukanlah hal yang paling memenuhi pikirannya. Yang terus terngiang justru satu kalimat Levia.

"Kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Vandra menelan makanannya perlahan. Entah mengapa, ia membayangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan.

Levia... bersama pria lain.

Dan anehnya, bayangan itu sama sekali tidak terasa menyenangkan.

Ia menatap Levia yang sedang tersenyum kepada Ratih. Wanita itu benar-benar sudah tidak mengejarnya. Tidak menunggunya.

Bahkan tidak lagi takut kehilangan dirinya.

Dan jujur, Vandra justru takut pada satu kemungkinan.

"Gimana kalau suatu hari Levia bener-bener gak menginginkan aku lagi?"

 

Usai sarapan, Levia berdiri dari kursinya. “Bu, aku pulang dulu, ya.”

Ratih ikut bangkit. “Ibu antar sampai depan.”

Levia mengangguk.

Vandra yang masih duduk di kursinya ikut menoleh. Entah mengapa, ketika melihat Levia mengambil tas, sebuah kalimat tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Via, selama aku pergi... tolong jaga Ibu."

Namun bibirnya tidak langsung mengucapkannya. Ia teringat surat perceraian yang sudah diberikan kepada Levia.

Mereka memang belum resmi bercerai. Tetapi ia sendiri yang sudah mengatakan ingin mengakhiri pernikahan itu.

Memangnya dengan hak apa ia meminta Levia menjaga ibunya?

Vandra akhirnya hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”

Levia menoleh. “Iya.”

Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada, kamu juga hati-hati. Tidak ada perhatian berlebihan seperti dulu.

Levia hanya tersenyum tipis lalu berjalan bersama Ratih menuju pintu utama.

Baru beberapa langkah mereka berjalan...

Ting. Tong.

Bel pintu berbunyi.

Ratih mengernyit. “Siapa pagi-pagi begini?”

Levia ikut menoleh.

Vandra yang masih berada di ruang makan juga mengangkat kepala.

“Sekalian saja kita lihat siapa yang datang,” kata Ratih pada Levia.

Mereka sampai di depan pintu. Ratih meraih gagangnya.

Klik.

Pintu terbuka. Namun begitu melihat siapa yang berdiri di baliknya... keduanya terdiam.

 

...✨“Terkadang kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika membayangkan hidup kita tanpa dirinya.”✨...

.

To be continued

1
Anitha
Pramono kamu itu srorang Jendral tahukan arti tanggung jawab dan hukum ..

good Vandra tetap dengan Pendiriannya tidak akan mundur
Anitha
Dih si Jendral malah suruh anaknya jangan mengakui kesalahannya yang telah di buat,dan mau menekan Vandra..dasar anak sama Bapak sama saja..

Bagus Vandra dan Levia jangan pernah mundur hadapi bersama💪
anonim
Bram dan Levia sudah meninggalkan meja makan.

Ninis, Bu Sari, juga Herman mencicipi ayam panggang masakan Levia.

Baru percaya bagaimana rasa masakan Levia.
anonim
Bram bilang, ini salah satu masakan terenak yang pernah dia makan.

Levia tertawa mendengarnya.

Bram jadi teringat istrinya yang suka masak untuknya.

Kalau Ayahnya suka, mulai sekarang Levia yang akan masak. Bram terharu mendengarnya.
anonim
Bram penasaran dengan rasa masakan putrinya. Mulailah Bram menyendok sedikit sup beserta potongan ikan.

Suapan pertama mata Bram membulat. Enak rupanya, masih belum percaya Levia yang masak.

Untuk suapan kedua Bram mengambil lebih banyak. Setelah menelan suapan kedua, Bram menggeleng pelan sambil tersenyum.

Bram memuji rasa masakan dan cara penyajiannya yang cantik.

Mendengar pujian Bram untuk putrinya, Bu Sari sampai melongo, Ninis masih sirik berpikir negatif.

Bram menikmati makan malamnya, menambah nasi setengah porsi.
Uthie
Bagus Vandra...tegas 👍👍😡
anonim
Makan malam sudah tersaji beberapa hidangan di meja yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Makanan sehat hasil masakan Levia sudah tertata rapi, warnanya terlihat cerah, aroma masakan menggugah selera siapapun yang menciumnya.

Bram tertegun melihat hidangan di depannya dengan menu beda banget. Sampai mengira ada kedatangan tamu penting dan bertanya pada Bu Sari.

Mendengar Ninis mengatakan yang masak Levia, Bram seperti tak percaya.

Bahkan Bram masih belum percaya ketika Bu Sari mengatakan - Levia yang memasak semuanya.

Bram masih serasa mimpi melihat makanan yang terhidang apa beli dari restoran atau pesan katering.
anonim
Tuh kan Levia sudah tidak percaya sama Ninis yang sok perhatian tapi jelas menjerumuskan.

Levia mau masak sendiri makanan sehat. Bu Sari juru masak keluarga dan Ninis hari ini jadi asistennya.

Bu Sari mengambil semua bahan yang diminta Levia.

Levia mencuci sayuran sendiri. Memotong bahan-bahan masakan dengan ukuran yang sama.

Bu Sari dan Ninis pada heran melihat yang dikerjakan Levia.

Levia dengan dibantu dua asistennya, akhirnya masakan selesai.

Levia sendiri yang menata hasil masakannya. Potongan ayam, sayuran, kentang tumbuk disusun dengan sangat rapi.
Puji Hastuti
apa yang akan di lakukan oleh Pramono?
Siska Sutartini
dih enak aja, mentang anak jendral bisa bebas gitu. udahlah mengancam, mencelakai, ada bukti yg memberatkan juga. dahlah jendral harusnya kau mendidik anakmu dg benar. bukan ngandalin jabatan doang, tapi moral ga ada
Kadek Sri
lanjut
anonim
Vandra jadi kepikiran dengan perubahan yang terjadi pada Levia. Harusnya senang sesuai keinginannya, Levia sudah tidak bikin Vandra merasa tertekan.

Ninis masih mencoba mempengaruhi Levia. Levia yang sekarang sepertinya sudah tidak mau menuruti kemauan Ninis yang terlihat perhatian tapi menjerumuskan.
Anitha
Jabatan yang tinggi tidak berarti apa²,,kalo sudah seperti ini apa mau di kata bukti sudah jelas dari VIDIO yang menunjukan wajah Risa dan Ninis sedang menyusun rencana untuk mencelakai Levia...

Penjarakan saja biar jera,,Ayahnya ikut terseret
lin sya
penasaran klo pramono smkin bodoh dan smkin menghalalkan segala cara bisa bikin risa bebas gk ya, tp smga bukti yg diberikan vandra gk bsa dibeli sm uang, lgian siapa tau jabatan anak dan bpk bsa copot biar mikir klo gk pnya apa2 msih bsa sombong gk
Septi Wijaya
sebaiknya jangan cari jalan keluar dg cara kotor pak... nanti bukan cuma Risa yg ditahan... Anda pun bisa jd tersangka
Kadek Sri
lanjut
Siska Sutartini
tuh kan, masa si ninis dibiarin gitu dikasih pesangon lg. baiklah saatnya memperkarakan mereka. itu vancdra sempat merekam gak ya?
Siska Sutartini
risa oh risa itu namanya obsesi udah bukan cinta lagi. lagian lu buta apa gimana sih, org mau baikan sama bininya sendiri. lah elu siapa? orang luar. mentang2 bapaknya jendral dikira bisa seenak jidat gitu? sekalipun dipaksakan ga bakal berbuah manis
mery harwati
Minum kopi dulu aahh sambil menikmati akhir dari sang Jendral di dunia novel 😍
mery harwati
Apakah kasus hukum di novel ini akan sama dengan kasus² hukum di Negeri Naruto? 🤭
Negeri Naruto tercinta sudah terlalu sesak, mual, pening, muntah dan berakhir mentah oleh kasus² hukum yang menguap bagai uap air yang mendidih & akhirnya air itu dingin dengan sendirinya atw dingin karena dibekukan
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!