Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 04
Part 04
Melihat ada yang tidak beres, Cio menatap heran ke arah wanita yang belum diketahui namanya itu, karena sebelumnya wanita itu memberontak tak suka saat direngkuh lengannya, namun sekarang wanita itu justru terdiam tanpa ada perlawanan. Dengan ragu-ragu, Cio membungkukkan tubuhnya supaya bisa menatap ke arah wajah Amanda. Namun anehnya, Cio justru melihat Amanda menangis dengan sesekali menghapus air mata di pipi putihnya.
"Kamu kenapa? Terharu ya dengan kalimat-kalimatku?" tebak Cio yang seketika dilirik tak suka oleh Amanda.
"Mimpi," sungutnya kesal dengan menarik lengan Cio dari pundaknya lalu berjalan menjauh dari lelaki itu.
"He, tunggu! Tolong bantu aku ya?" ujarnya sembari mengikuti langkah cepat Amanda.
"Apa? Bantu kamu? Bagaimana mungkin kamu bisa minta bantuan dari orang yang sudah kamu palak makanannya?" Amanda menghentikan langkahnya, merasa tidak percaya dengan tingkah laku Cio yang kian menyebalkan.
"Aku meminta makananmu, supaya kamu juga belajar." Cio menjawab ngawur, yang justru ditatap tak percaya oleh Amanda yang mulai jengah dengan jawaban-jawaban menyebalkannya.
"Belajar untuk apa? Meracunimu?" Amanda menjawab kesal, namun Cio justru tertawa kecil mendengar jawabannya.
"Kamu lucu, tentu saja belajar menjadi istriku." Cio menjawab dengan nada tak habis pikir meski bibirnya tersenyum begitu manis.
"Ha-ha. Lucu," jawab Amanda datar meski bibirnya tertawa tanpa minat.
"Siapa yang lucu? Aku? Kamu bercanda ya? Tentu saja anak-anak kita yang akan lebih lucu dan menggemaskan." Cio menjawab kian ngawur yang lagi-lagi membuat Amanda muak dengan ucapannya.
"Kenapa aku harus mendengarkannya? Dia kan gila." Amanda bergumam tak percaya dengan dirinya sendiri, yang mau-maunya mendengar ucapan Cio yang selalu ngawur dan tak masuk akal. Dengan perasaan tanpa minat, Amanda melangkah pergi, meninggalkan Cio yang sempat berbunga-bunga sendiri dengan pemikiran ngawur di otaknya.
"Hai, kenapa kamu terus meninggalkanku?" tanyanya setelah sadar sembari berlari menyusul langkah Amanda yang kian cepat.
"Karena kamu gila." Amanda menyahut sebal.
"Iya, aku memang tergila-gila padamu." Cio menjawab kian ngawur, membuat Amanda merasa kesal juga dengan tingkah lakunya yang aneh. Meski pada akhirnya yang Amanda lakukan hanya diam, tidak mau repot-repot meladeni Cio terlebih lagi membalas ucapannya.
"He, kenapa kamu diam lagi? Aku kan sedang berbicara denganmu." Cio terus berbicara dan itu cukup membuat Amanda lelah, sampai saat Amanda melihat Farel tengah berjalan bersama dengan teman-temannya kali ini, bahkan mereka berpapasan di jalan yang sama. Mungkin setelah mengantarkan Vanessa, mereka berpisah dan Farel pergi ke teman-temannya.
Farel, sahabat baiknya itu selalu terlihat menawan di antara temannya yang lain. Namun bila mengingat hubungan Farel dengan Vanessa yang begitu mesrah dan serasi, rasanya Amanda dibuat ragu untuk memberikan bekal makanan yang direngkuhnya saat ini.
"Hai, Farel ...." Amanda menyapa lemah, namun lelaki itu justru mengalihkan tatapannya seolah muak melihatnya. Apa yang salah? Dulu hubungan mereka cukup dekat, tapi kenapa sekarang Farel bersikap seolah tidak ingin mengenalnya lagi, membuat Amanda merasa tak nyaman, seolah ada rasa sesak yang kian menyakitinya.
"Cio." Salah satu teman Farel menghentikan langkahnya, lalu menyapa lelaki yang berdiri tepat di belakangnya yaitu Cio.
"Alex. Wuih, kamu juga kuliah di sini?" Lelaki itu menyapa balik dengan nada anehnya, setidaknya itu untuk Amanda dengar.
"Iya. Dan apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku? Tentu saja kuliah." Cio menjawab bangga nan angkuh, meski bibirnya terlihat ingin menggoda dengan alis tebalnya yang sengaja dinaik turunkan.
"Apa? Kuliah di sini? Tunggu sebentar!" Alex menghentikan jawaban Cio, lalu tatapannya teralih ke arah teman-temannya termasuk Farel yang sedang menunggunya tidak terlalu jauh dari tempatnya.
"Kalian dulan saja ya. Aku masih ada urusan," ujarnya yang hanya diangguki semua teman-temannya.
"Kalian saling mengenal?" Amanda tiba-tiba bertanya, setelah melihat Alex dan Cio saling menyapa seolah sudah kenal sejak lama.
"Eh, i-iya. Memangnya ada apa ya?" Alex bertanya kaku, karena sebelum ini ia tidak terlalui bisa akrab dengan Amanda meskipun mereka saling mengenal.
"Tolong jaga temanmu yang aneh ini! Sedari tadi dia terus mengikutiku seperti Babi," ujar Amanda terdengar tidak suka yang seketika ditanggapi tatapan tak percaya oleh Cio yang mendengarnya.
"Babi katamu? Mana ada babi setampan diriku?" Cio mengelak tidak terima namun justru membuat Amanda jengah melihatnya.
"Terserah," tekannya dengan tatapan tajamnya.
"Kamu jangan khawatir, Cio adalah teman lamaku. Aku akan menjaganya," ujar Alex ke arah Amanda yang sedari tadi memperhatikan tatapan tajamnya ke arah Cio.
"Untuk apa aku mengkhawatirkan babi seperti dirinya? Tapi terima kasih ya, kalau begitu aku pergi dulu." Amanda menjawab ramah sembari tersenyum manis ke arah Alex, lalu menatap geram ke arah Cio yang sedikit memundurkan kepalanya.
"Kenapa kamu bisa mengenal Amanda?" Alex bertanya serius ke arah Cio yang tengah memperhatikan langkah Amanda yang mulai menghilang ditelan jarak.
"Apa? Jadi nama dia Amanda?" respon Cio seolah baru mengetahui hal itu, yang justru ditatap heran oleh temannya itu.
"Iya. Memangnya kamu bertemu dengan Amanda di mana?"
"Di bis," jawabnya sembari tersenyum yang diangguki mengerti oleh Alex.
"Lalu, kamu ke sini untuk apa? Kamu bilang untuk kuliah? Bukannya kamu seharusnya kuliah di London ya?" Alex bertanya tak mengerti, karena setahunya, Cio berkuliah di luar negeri setelah kelulusan mereka di SMA yang sama. Namun tiba-tiba raut wajah Cio seketika berubah sendu, seolah pertanyaan sederhana itu mampu membuatnya terpuruk.
"Aku ... hanya tidak mau kuliah di sana, makanya aku mencari kampus di sini." Cio menjawab ragu dan sendu, dan itu mampu Alex baca dari raut wajahnya yang terlihat begitu lusuh.
"Bagaimana mungkin kamu kuliah di sini? Kampus ini bukan level Papamu, bahkan kamu penerus keluarga ...."
"Stop! Tolong jangan berbicara mengenai keluargaku lagi, aku sudah cukup muak dengan mereka." Cio menyela ucapan Alex begitu serius meski di detik berikutnya, bibirnya tersenyum ramah seperti Cio yang Alex kenal.
"Bagaimana kalau kamu mengantarkan aku ke ruang dosen?" ujarnya hangat sembari menunjukkan map berisikan identitasnya ke arah Alex yang terdiam.
"Baiklah. Tapi kamu harus berjanji, kalau kamu akan membagi rasa sakitmu, bila kamu merasa sudah tidak sanggup lagi bertahan. Aku cuma tidak mau, kejadian itu terulang." Alex menjawab penuh arti yang hanya diangguki mengerti oleh Cio yang sempat terdiam beberapa detik.