NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Pergi

***

"Alana, aku izin ke toilet sebentar ya," pamit Mirza pelan.

"Jangan lama-lama," balas Alana singkat tanpa menoleh, langsung berjalan menuju mobil mewahnya.

Sambil menunggu Mirza kembali, Alana menyandarkan tubuhnya di kap mobil. Baru saja dia hendak membuka ponselnya, pandangannya tertangkap oleh sosok wanita berkerah rapi yang melangkah terburu-buru keluar dari area kantin rumah sakit membawakan sebungkus makanan.

Alana menajamkan penglihatannya. Itu Nilam, OB di kantornya.

Nilam yang tak sengaja melintas ikut terkejut saat matanya menangkap keberadaan sang CEO. Wanita itu segera menghampiri Alana dengan gestur canggung dan penuh hormat.

"Selamat malam, Bu Alana," sapa Nilan sopan.

Alana menatap Nilan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan kening berkerut.

"Nilam? Ngapain kamu ada di rumah sakit malam-malam begini?"

Nilam tersenyum tipis, mengangkat kantong plastik berisi kotak makanan di tangannya.

"Ini Bu, saya habis beli makan malam. Saya menemani ibunya Mirza di ruang rawat sejak sore tadi. Kasihan Mirza ada urusan mendadak dari pagi sampai malam ini belum kelihatan kembali, jadi saya yang gantian jagain Ibunya."

Alana tertegun seketika. Ada rasa aneh yang mencubit dadanya begitu mendengar penjelasan Nilan.

"Mirza ada urusan dari pagi? Urusan nikah sama saya," batin Alana.

"Kalau Bu Alana sendiri ... ada perlu apa ke rumah sakit malam-malam begini?" tanya Nilam polos, tidak curiga sedikit pun.

"Saya ... habis jenguk teman," alibi Alana cepat, berusaha menguasai raut wajahnya agar tetap dingin.

"Ya sudah, kamu langsung masuk saja ke dalam. Kasihan ibu Mirza nanti nungguin kamu terlalu lama."

"Baik, Bu Alana. Saya permisi dulu," pamit Nilam sambil mengangguk hormat lalu bergegas kembali menuju bangunan rumah sakit.

Alana menatap punggung Nilam yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik pintu kaca. Dia segera membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang, membanting pintunya agak keras.

Alana bersedekap, menatap lurus ke depan dengan sejuta pertanyaan yang mendadak berkecamuk di kepalanya.

"Kenapa si Nilam baik banget sampai mau bela-belain jagain ibunya Mirza dari sore?" gumam Alana pelan pada dirinya sendiri, suaranya terdengar ketus.

"Apa mereka berdua ... sebenarnya pacaran?"

***

Setibanya di depan unit apartemen penthouse milik Alana, pintu akses terbuka otomatis begitu sensor memindai wajah wanita itu. Begitu melangkah masuk, Mirza seketika terpaku di tempatnya. interior apartemen itu tampak sangat modern, luas, dan dipenuhi perabotan mewah nan canggih.

"Besok saya daftarkan sidik jari sama sensor wajah kamu di pintu depan," ucap Alana sambil melepas sepatu hak tingginya.

"Supaya kamu bisa masuk tanpa harus nunggu saya pulang."

Alana lalu melangkah menuju kamar utamanya dan memberi isyarat agar Mirza mengikutinya.

Pria itu menyusul dengan canggung, memperhatikan kamar tidur super luas dengan ranjang king size di tengahnya.

"Kamu tidur di sofa," tegas Alana menunjuk sofa panjang di sudut kamar.

Mirza menatap sofa itu, lalu kembali menatap Alana.

"Harus tidur satu kamar?"

"Harus," jawab Alana tanpa kompromi.

"Meskipun di rumah cuma ada kita berdua, Mama atau Papa bisa saja datang mendadak tanpa pemberitahuan. Saya enggak mau mereka makin curiga kalau sampai memergoki kita pisah kamar."

Mirza mengangguk pasrah. Tanpa banyak protes, dia melangkah ke sofa, melepas jas mewahnya, dan merebahkan tubuhnya yang sudah amat lelah karena dinamika hari ini.

Beberapa saat kemudian, Alana keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur satin yang simpel. Langkah kakinya terhenti saat melirik ke arah sofa. Mirza rupanya sudah tertidur pulas, tertidur miring sambil memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.

Alana menghela napas pelan. Dia berjalan ke arah panel dinding untuk mengecilkan suhu AC, lalu mengambil sebuah selimut tebal dari lemari. Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Mirza, Alana membentangkan selimut itu di atas tubuh pria tersebut.

Matanya sempat tertahan sejenak memandangi wajah lelap Mirza yang kini terlihat begitu polos tanpa beban.

Alana lalu berbalik dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur empuknya. Namun, rasa kantuk sama sekali tak kunjung datang. Dia melempar tatapannya ke langit-langit kamar yang gelap.

Bayangan Kevin, sang mantan kekasih, mendadak berkelebat memenuhi pikirannya. Pria yang pernah mengisi hatinya begitu dalam, namun kini menghilang tanpa kabar entah di mana.

Alana mengepalkan jemarinya di atas dada. Meski statusnya kini sudah menjadi istri sah Mirza di mata hukum dan agama, Alana tahu hatinya belum beranjak. Dia masih mencintai Kevin, masih menyukai pria itu, dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih berharap Kevin akan kembali dan menemuinya suatu hari nanti.

***

Mirza yang terbangun dari tidurnya menyadari gelisah yang melingkupi Alana. Di tengah keheningan malam, napas Alana terdengar memburu, tubuhnya terombang-ambing dalam mimpi buruk yang mencengkeram.

"Alana ...." panggil Mirza pelan dari sofa.

Tidak ada balasan. Alana tetap bergeming, dahinya berkerut rapat dengan desah napas yang makin tidak teratur.

Khawatir terjadi sesuatu, Mirza akhirnya bangkit dan melangkah pelan mendekati ranjang megah itu. Pria itu menyentuh lembut pergelangan tangan Alana, menepuknya perlahan.

"Alana, bangun. Kamu mimpi buruk."

Mata Alana seketika terbuka lebar. Dengan napas terengah-engah dan tatapan yang masih linglung, dia refleks menggenggam tangan Mirza dengan sangat kuat.

"Jangan pergi ...." bisik Alana lirih, suaranya sedikit bergetar, jauh dari kesan wanita tangguh yang biasa dipamerkannya.

"Tolong di sini saja ... sampai saya tidur. Saya takut mimpi buruk lagi."

Mirza terpaku sejenak melihat sisi rentan sang CEO. Namun, bermaksud mencairkan suasana yang terlampau tegang dan menakutkan bagi Alana, bibir Mirza perlahan mengukir senyum jahil.

"Yakin mau saya di sini terus, Bu?" goda Mirza setengah berbisik, membalas genggaman tangan Alana.

"Kita cuma berdua di dalam kamar, murni tanpa orang lain. Udara kamar Ibu juga dingin banget begini ... Kalau saya mendadak butuh kehangatan terus khilaf, bagaimana?"

"Kalau kamu berani macam-macam," sahut Alana dengan suara dingin yang sanggup membekukan ruangan.

"saya bakal cekik kamu sampai mati, lalu mayat kamu saya potong-potong dan saya masukkan ke kloset. Paham?"

Mirza terkekeh pelan melihat respons galak yang sangat khas dari wanita di hadapannya itu.

"Paham, Bu CEO. Niat jahat langsung batal seketika."

Mirza akhirnya menarik sebuah kursi puff di dekat tempat tidur dan duduk di sana. Dia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Alana, membiarkan jemari wanita itu memegang jemarinya erat-erat.

"Tidur lagi," bisik Mirza pelan, suaranya berubah hangat dan menenangkan.

"Saya bakal di sini terus sampai Ibu bener-bener nyenyak. Enggak bakal ke mana-mana."

Alana memalingkan wajahnya ke sisi lain untuk menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya. Namun, dia tidak melepas genggaman tangan Mirza. Kehadiran pria itu dan rasa hangat dari jemarinya perlahan-lahan mengusir bayangan kelam mimpi buruk tentang Kevin yang baru saja menghantuinya.

Perlahan tapi pasti, deru napas Alana mulai teratur. Kelelahan emosional sepanjang hari ini akhirnya mengalahkan daya tahannya, membawa Alana kembali terlelap ke alam mimpi.

Mirza memperhatikan wajah Alana yang kini tertidur lelap tanpa raut ketegangan. Tanpa sadar, jemari tangannya yang bebas terulur, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi kening Alana dengan sangat lembut.

"Sebenarnya beban apa yang lagi kamu pikul, Alana?" gumam Mirza lirik pada dirinya sendiri.

Dia tahu wanita di hadapannya ini memasang benteng yang begitu tinggi dan dingin untuk melindungi dirinya dari dunia luar. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Mirza melihat celah di balik benteng itu.

Karena sudah tidak sanggup lagi duduk tegak, Mirza perlahan-lahan melepaskan genggaman tangannya dari Alana dengan amat hati-hati agar wanita itu tidak terbangun. Dia kemudian merebahkan kepala di tepi kasur sambil tetap berada di dekat Alana, hingga akhirnya menyusul terlelap.

***

Keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar dan menerpa wajah Alana. Wanita itu mengusap matanya pelan lalu perlahan membukanya.

Begitu kesadarannya terkumpul, matanya langsung tertuju ke sisi ranjang. Mirza tertidur di lantai dengan kepala bersandar di tepi kasur, tepat di sebelah tempatnya berbaring tadi malam. Tangannya masih terulur dekat dengan posisi tangan Alana.

Alana terpaku sejenak. Ada rasa hangat asing yang tiba-tiba menjalar di relung dadanya. Pria yang kemarin hanya seorang cleaning service di kantornya yang menikahinya demi biaya pengobatan sang ibu, malam tadi benar-benar menjaga dan menemaninya sesuai janji.

Mirza mengerang pelan, berniat mengusap matanya yang masih berat. Namun dalam kondisi setengah sadar, jemarinya secara tak sengaja justru menyapu pipi mulus Alana yang berada tepat di dekatnya.

"Mirza! Kamu mau cari kesempatan, ya?!" semprot Alana dengan nada melengking, berusaha menutupi rasa gugupnya.

Mirza mengucek matanya yang samar-samar, lalu menatap Alana dengan raut polos nan jahil yang baru saja terkumpul.

"Cari kesempatan gimana? Bukannya tadi malam Ibu yang cari kesempatan? Mimpi buruk sampai memegang tangan saya kencang banget dan enggak mau jauh-jauhan dari suaminya ini?"

"Kamu—!" Alana langsung duduk tegak, memutar tubuhnya dan menunjuk tepat di depan wajah Mirza dengan napas memburu. Amarahnya sudah di ujung tanduk, siap menyemburkan bentakan berikutnya.

Namun, sebelum Alana sempat melontarkan kata-kata pedasnya, Mirza dengan santai meraih jari tunjuk Alana, lalu menurunkannya pelan-pelan tanpa rasa takut sedikit pun.

"Sudah, Bu CEO. Nanti dulu marah-marah," potong Mirza tenang sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.

"Sana mandi. Kamu sudah kesiangan bangun, lho."

Alana menyentakkan tangannya dari genggaman Mirza, berusaha memasang raut dingin meski wajahnya sudah merona merah.

"Ini semua gara-gara kamu!" cetus Alana ketus sambil bergegas turun dari tempat tidur.

"Tangan kamu itu terlalu nyaman, makanya saya sampai lupa bangun!"

Tanpa menunggu balasan dari Mirza yang kini tertawa kecil di tepi ranjang, Alana langsung melangkah lebar-lebar menuju kamar mandi dan membanting pintunya keras-keras.

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!