Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif
BAB 31 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
🍓🍓🍓
Udara sejuk yang setiap hari Elisa hirup, ditambah dengan suasana hati yang bebas tanpa tertekan, membuat janin berkembang dengan baik, sehat dan semuanya normal. Beruntung ditolong oleh orang baik yang ahli di bidang kesehatan. Keadaan ibu dan janin Elisa pun diperhatikan oleh dokter penolong itu.
Seperti hari ini, ini adalah bulan kesekian Dokter Alfin mengajak ke kota untuk melakukan USG rutin. Jika menurut kalender haid Elisa, janin di dalam perutnya memasuki awal bulan ke lima.
Dokter Alfin selalu pedulikan asupan gizi Elisa selama hamil. Sampai BB Elisa yang semula kurus kering saat ia temukan pertama kali, kini sudah bertambah. Kenaikan berat badan Elisa hampir 5 kilo. Lumayan, setidaknya kulit tangannya tidak seperti hanya kulit dan tulang.
Di dalam mobil, Elisa duduk di sebelah doker Alfin. Perjalanan yang lumayan jauh, tapi karena pemandangan yang asri, hijau perkebunan teh, sayuran, bahkan stroberi, membuat Elisa tidak bosan.
Sesekali mata dokter Alfin melirik, bukan mata nakal. Dokter itu memang orangnya sangat baik dan peduli. Serta sikapnya lembut dan pengertian. Bagai bumi dan langit, Dokter Alfin dan Tuan Garra. Mereka dilahirkan dengan karakter yang sangat berlawanan.
"Elisa ..." tiba-tiba dokter itu memanggil.
"Ya, Pak Dokter." Elisa menoleh.
"Di depan ada kebun stroberi, punya temanku. Seperti musim panen. Kamu mau mampir sebentar? Mau ambil atau makan sepuasnya?" tanya Dokter Alfin.
"Tidak usah, Pak Dokter."
Padahal Elisa sejak tadi melihat kanan kiri pedangan Stoberi yang menggelar semua dagangan di tepi jalan. Pengen, mungkin ngidam. Namun, dia sadar diri. Tidak mau merepotkan orang lain. Ditolong sampai sejauh ini saja Elisa sudah sangat bersyukur sekali.
"Aku lihat kamu tadi lihat para pedagang terus. Mampir saja ya, itu kebun punya temanku."
Elisa terdiam, belum setuju maupun menolak. Tiba-tiba saja mobil yang mereka tumpangi mulai menepi saja.
"Nah, berhenti dulu. Tuh kebunnya, dekat kan? Ayo turun. Kamu boleh ambil sepuasnya nanti."
Elisa sangat senang, baru pertama kali diajak ke kebun stroberi. Matanya berbinar, tapi sikapnya tetap tenang dan hati-hati sekali.
Dokter Alfin kemudian mengobrol dengan penjaga kebun stroberi itu. Temannya sedang di kota. Hanya ada karyawan di sana.
"Elisa, pakai kranjang ini!" Dokter Alfin mendekati Elisa. Menyerahkan kranjang kosong pada Elisa.
"Terima kasih," ucap Elisa pelan.
Dokter Alfin sengaja menjauh, biar Elisa menikmati momen petik buah yang jarang-jarang tersebut.
Benar saja, Elisa sangat senang. Sambil memetik di taruh keranjang, beberapa dia petik dan langsung diusap di roknya.
Hap!
Satu, dua sampai beberapa kali dia melahap habis stroberi segar langsung dari kebunnya.
"Adek kecil ... enak tidak? Ibu seneng banget ... kita petik buah stroberi ini!"
Elisa bergumam sambil mengusap perutnya yang mulai buncit.
Jika Elisa mulai bahagia dan bisa tersenyum senang, lain cerita dengan Tuan Garra.
Di kantor, sejak pagi sampai siang, kerjaannya cuma marah-marah. Ada saja yang salah di matanya.
Dari Ob yang katanya ngepel gak bener. Lantai kantor licin. Dari Ob yang katanya buat kopi terlalu manis. Dan Alex, sang sekertaris. Banyak berkas yang salah! Semuanya yang ada di sekitarnya kena omel.
Entah, jika dicek mungkin darah tinggi nya sedang kumat. Marah-marah terus.
Saat menjelang sore, ketika masih sibuk di meja kerjanya, sebuah telpon membuatnya langsung waspada.
"Apa ada informasi terbaru?" tanya Garra, sedikit tegang. Karena nomor itu dari orang suruhannya. Yang selama ini mencari informasi tentang keberadaan Elisa.
"Tuan, menurut data yang masuk pada kami. Ada sebuah rekaman yang memperlihat keberadaan Nona Elisa."
"Kau yakin? Kali ini tidak salah? Konfirmasi dulu!!! Aku tidak mau seperti yang sudah-sudah!!" ujar Garra tegas.
"Saya akan kirim potongan rekaman cctv nya. Tuan bisa periksa. Dan ini di area lobby rumah sakit ibu dan anak RS. Medika."
Anggara menjauhkan telpon dari telinganya, kemudikan membuka pesan video. Matanya melotot melihat sosok yang memang seperti Elisa. Walaupun gambarnya agak buram, karena tertutup sosok pria tinggi yang jalan di sebelah wanita tersebut.
"Elisa ... berani sekali kau dekat-dekat pria lain!!! Tidak ada yang boleh menyentuh milikku!!!!"
Tangannya mengepal.
gagal kena serangan fajar ini hampir kena serangan setelah Isya 😂Ay ga coment ahhh takut dosa ,,,Tuan lagi di bekukan agar semua kenceng biar ga berisik!!!!!!! besok bangun Bobo panggilan nya ganti ya Elisa jangan Tuan tapi Den Kang Mas Garra,,, Pembaca jangan pada Traveloka ya,,🤣🤣
PK dokter di macetin dulu aje KK dept 🤭🤣🤣🤣
hemmmm yumii🤭🤭🤭🤭
magell pingin di semai supaya tetap. waras pemiliknya ,,,siap Tuan Putri. Elisa
pakai donk. gombalan muara piye si endang kondo. sambil senyum manis tanpa biang 😂 nah kalau lagi puyeng belum tersalurkan. jadi sikap manis behhh ga enek si g ngiro. ,,,,Juragan MBG. lagi
menginginkan Apem milik Elisa jadi. ga garamg. wiss passs selak kewengen,,,
besok ga bisa bangun Lo lemes abis kena serangan tengah malam hahaha ngakak shubuh,,,🤣🤣