Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 16
BAB 16
Kabut tipis masih menggantung rendah dan enggan beranjak di atas kawasan industri tua utara kota ketika mobil Maya menghentikan putaran rodanya di depan sebuah gudang beratap seng gelombang. Dinding-dinding batu di sekelilingnya tampak kusam dan terkelupas digerogoti usia, dipenuhi petak-petak kaca buram yang beberapa di antaranya telah retak dimakan zaman. Tepat di atas pintu besi geser yang berkarat, terpasang papan kayu polos tanpa cat—hanya terukir satu kata yang teramat samar: Pencagai.
Maya melangkah keluar dari mobil, membiarkan hawa dingin pagi menusuk kulitnya. Di sampingnya, Nia berjalan sigap membawa tas kulit tebal berisikan sampel kain sutra organza hitam, gulungan benang emas berkilau, serta berkas kolaborasi hukum yang telah disiapkan secara maraton oleh Dito. Namun, langkah Maya terhenti mendadak beberapa meter sebelum menyentuh ambang pintu utama.
Dua unit sedan mewah berwarna hitam legam dengan pelat nomor khusus terparkir sembarangan di pelataran tanah kering bengkel tua itu. Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi berdiri sigap berjaga di dekat celah pintu besi geser yang terbuka sedikit.
"Ayolah, Rendra... jangan bersikap lugu seperti seniman idealis yang tidak butuh makan," suara halus namun sarat intrik milik Victor terdengar santai di antara deru blower tungku pembakaran. "Tiga miliar rupiah tunai sebagai dana riset kerajinan logam, ditambah royalti lima persen dari seluruh lini pakaian siap pakai Clarissa Arum untuk tiga tahun ke depan. Kau tinggal menandatangani kontrak eksklusif ini dan memberikan dukungan penuh untuk lini produknya."
Maya bergeming di balik bayangan tumpukan kontainer bekas di samping gudang, menahan napasnya rapat-rapat. Matanya mengintip tajam lewat celah pintu besi yang renggang, sementara tangannya memberi isyarat perlahan agar Nia tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Di dalam Bengkel yang remang dan berasap tipis, Victor berdiri jumawa dengan setelan jas abu-abu mahal. Ia memegang sebuah map dokumen tebal bersampul kulit hitam. Di sampingnya, Clarissa Arum tampil mencolok dalam balutan gaun desainer berwarna merah menyala dengan kacamata hitam yang disangkutkan anggun di atas kepalanya. Raut wajah Clarissa memancarkan keangkuhan mendalam yang tak berusaha disembunyikan.
Rendra berdiri tegak di depan tungku pembakaran yang membara merah. Ia mengenakan celemek kulit tebal yang pudar terkena jelaga, kemeja hitamnya digulung kasar hingga ke atas siku, dan jemarinya yang berurat masih memegang tongkat pemutar arang. Pria itu bahkan tidak sudi berbalik untuk menatap kedua tamunya.
"Kau membuang waktumu datang ke tempat kotor ini, Victor," jawab Rendra datar. Suaranya berat, dingin, dan bergaris keras, menembus desisan uap air tungku yang mengepul.
"Rendra, dengarkan aku," sela Clarissa seraya melangkah maju satu pijakan dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin, meski kilat matanya menatap jijik pada debu dan lantai semen yang bernoda oli. "Karyaku butuh sentuhan ukiran logam dengan presisi seperti milikmu untuk lini komersial terbaruku. Bersama nama besar Grup Victor dan jaringan distribusiku, kita bisa menguasai pasar nasional. Kenapa kau harus membuang keahlianmu untuk orang-orang biasa yang sebentar lagi gulung tikar?"
"Orang-orang biasa?" Rendra tertawa pelan—sebuah tawa singkat yang sarat akan sindiran tajam dan dingin. Ia meletakkan tongkat besi ke lantai batu dengan dentang nyaring yang mengejutkan ruangan. KLANG! Rendra lalu berbalik perlahan menatap Victor dan Clarissa.
"Kau bicara soal kesempurnaan karya, Clarissa?" tembak Rendra dengan pandangan mata yang mengintimidasi. "Rancanganmu hanyalah tumpukan kain mahal yang ditopang oleh ego dan kepalsuan. Kau menyewa belasan pengerajin tanpa nama untuk menutupi kelemahan garis potongmu, lalu mengklaimnya sebagai kejeniusan tunggal. Kau tidak butuh keahlian logamku; kau hanya butuh namaku untuk menutupi kekosongan jiwa dalam bajumu!"
Wajah Clarissa seketika merah padam akibat tamparan kebenaran itu. "Kau... berani-beraninya kau—"
"Dan kau, Victor," potong Rendra tanpa memberi ampun seraya menatap pria bersetelan jas itu dengan tajam. "Simpan uang tiga miliarmu. Logam yang ditempa di Bengkel ini tidak dijual untuk membungkus bangkai industri yang kau bangun dari hasil meretas dan merusak studio orang lain!"
"Jaga mulutmu, Rendra!" bentak Victor. Raut wajah elegannya runtuh seketika, digantikan oleh garis tegang dan mata yang berkilat berbahaya. "Kau cuma seorang pengerajin logam di kawasan kumuh ini! Tanpa panggung dan sokongan dana dari orang-orang seperti kami, karya kerasmu ini tidak lebih dari sekadar besi tua tak berharga!"
"Maka biarkan dia tetap menjadi besi tua," sela sebuah suara wanita yang nyaring dan mantap dari arah pintu masuk. Diikuti anak buah Victor yang tadi berjaga di luar, mereka tidak berhasil menahan Maya dan Nia untuk melangkah masuk.
Pintu besi geser terdorong lebar dengan derit keras yang membelah keheningan. Maya melangkah masuk tanpa ragu, membawa tas kulitnya dengan posisi tegak, menatap lurus ke arah Victor dan Clarissa.
Seketika seluruh pandangan di dalam ruangan tertuju padanya. Clarissa membelalakkan mata tidak percaya, sementara Victor menyipitkan mata dengan senyum dingin yang dipaksa terpasang kembali di bibirnya.
"Maya?" desis Clarissa sinis. "Sedang apa pecundang sepertimu ada di sini? Apa kau sedang mengemis sisa-sisa kain di kawasan industri tua?"
"Aku di sini untuk menyelesaikan apa yang tidak bisa dibeli dengan uang haram milikmu, Clarissa," jawab Maya tenang namun beracun, melangkah berdiri tepat di samping meja kerja Rendra. Ia menatap Victor tanpa sedikit pun gentar. "Strategi sabotase server dan pembatalan investor yang kau rancang kemarin sangat rapi, Victor. Tapi kau lupa satu hal: rumah modeku dibangun atas kejujuran karya, bukan atas kelicikan kertas dokumen."
Victor tertawa pelan, merapikan lengan jasnya dengan sikap meremehkan. "Kejujuran karya tidak bisa dipakai untuk membayar utang dan gaji penenunmu minggu depan, Maya. Dalam tiga hari, studiomu akan dinyatakan bangkrut secara legal. Kau sudah kalah sebelum gaunmu sempat masuk ke panggung."
“Kami belum kalah," tegas Maya seraya melirik Rendra yang kini menatapnya intens. Maya lalu kembali menatap Victor. "Dan Rendra tidak akan pernah sudi menjadi bagian dari tim penipu seperti kalian."
Clarissa menghentakkan kakinya ke lantai semen dengan gusar. "Victor! Kenapa kita harus melayani perdebatan dengan perempuan tidak tahu diri ini? Ayo pergi! Biarkan mereka berdua membusuk di Bengkel kotor ini bersama kemiskinan mereka!"
Victor menatap Maya dan Rendra bergantian, matanya memancarkan ancaman yang pekat. Ia mengapit kembali map dokumen tiga miliarnya di bawah ketiak.
"Pilihan yang sangat bodoh, Rendra," desis Victor dingin. "Kau memilih tenggelam bersama kapal yang hampir karam. Jangan menyesal saat aku meratakan studio Maya dan memastikan namamu tidak akan pernah bisa menyentuh panggung fashion mana pun di negeri ini."
"Pintu keluar ada di belakangmu, Victor," balas Rendra datar tanpa mengalihkan pandangannya. "Asap tungkuku terlalu bersih untuk dihirup oleh orang-orang seperti kalian."
Dengan perasaan dongkol yang meluap dan wajah memerah menahan malu, Victor memberi isyarat keras pada dua anak buahnya. Clarissa mengibaskan gaun merahnya dengan penuh kekesalan saat melangkah lebar-lebar meninggalkan gudang, diikuti oleh Victor dan para pengawalnya. Mereka membanting pintu besi geser hingga bergetar hebat. BAM!
Gema pintu yang terhempas perlahan menguap di udara, menyisakan desisan tungku pembakaran dan bau belerang yang memeluk ruangan. Maya menghela napas panjang, berusaha menenangkan tubuhnya yang bergetar hebat akibat luapan adrenalin. Ia memutar tubuhnya, mendapati Rendra sedang mengamati wajahnya dengan pandangan tajam, dingin, dan sulit diterka.
Keheningan mendadak menyergap sanggar tempa. Rendra berjalan mendekati tempat penempaannya seraya memungut kembali tongkat besi.
"Kau membawa berkas perjanjian dan sampel sutra itu?" tanya Rendra tanpa berputar, suaranya melunak namun penuh penekanan.