WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU BRAWIJAYA.
Siang ini Alluna baru saja tiba di kediamannya setelah menjalani perannya sebagai siswa sekolah dan setelah meladeni perdebatan panjang antara Aldo dan Langit karna janji yang Alluna buat pada Aldo
"Sayang kamu sudah pulang, gimana hari ini?" Tanya mama melani
"Seperti biasa mah membosankan, untungnya Alfin hari ini sudah masuk sekolah" jawab Alluna sedikit antusias
"Baguslah,sekarang ganti pakaian kamu dan turun untuk makan siang" perintah mama melani
"Baik mah Luna ke atas dulu" ucap Alluna segera menuju kamarnya
Alluna membaringkan tubuhnya di kasur king size miliknya
"Bun alluna janji akan terus jagain adek bahkan jika nyawa luna taruhannya" ucap Alluna memandang langit‑langit kamarnya
Drrttt drrttt
"Ada apa?" Tanya Alluna menjawab telfon dari salah satu anak buahnya
"Maaf nona saya mengganggu waktu anda,saat ini belum ada pergerakan yang mencurigakan dari tuan Brawijaya " ucap anak buah itu
"Terus awasi dia dan selalu kabari apapun pergerakannya paham?" Ucap Alluna tegas
"Baik nona muda"
Tut
Sambungan telfon yang dimatikan sepihak oleh Alluna
"Gue pastikan lo semua akan terima balasan yang lebih sakit dari apa yang kalian semua lakukan ke keluarga gue" ucap Alluna dengan rahang yang mengeras
Tokk tokk
"Masuk" jawab Alluna yang tersadar karna ketukan dari pintu kamarnya
"Maaf non nyonya menyuruh saya memanggil anda untuk makan siang" ucap bibi
"Baiklah" jawab Alluna dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai
"Rey belum balik mah?" Tanya Alluna setelah berada di meja makan dengan sang mama
"Sudah sayang adik kamu sedang mengganti pakaian"
"Hai kak,mah" sapa Rey setelah ikut bergabung di meja makan
"Makanlah setelah itu ikut kakak latihan" ucap Alluna
"Kakak mau latihan apa? Tembak, panah,atau bermain pisau" ucap Rey antusias pasalnya dia menyukai saat kakaknya melakukan adegan yang berbahaya karna itu keren menurutnya
"Boxing" jawab singkat Alluna
"WHAT?" teriak Rey heboh
"Pelankan suaramu" ucap alluna sinis
"Gak rey ga mau kalau itu,bisa habis wajah tampan Rey kakak buat" jawab Rey tak suka
"Anak laki lemah banget" bukan Alluna yang menjawab melainkan mama melani
"Mama mau punya anak wajah jelek ngga kan mah" sewot Rey
"Kamu cuma nemenin kakak bukan jadi lawan kakak" jawab Alluna
"Kakak serius?" Tanya Rey
"Hmmm bawa laptop kamu kakak punya tugas untukmu" jawab Alluna lagi
"Bilang dari tadi dong kak kan Rey gak perlu panik heheheh" jawab Rey cengengesan
Setelah makan siang Alluna memutuskan untuk ke ruang latihan yang sengaja dia buat dalam Mension itu
Rey hanya melihat kakaknya yang sudah mulai berkeringat karna latihan tinju itu
"Kakak mau jadiin aku penonton doang gitu" kesal Rey
"Cari info lengkap tentang keluarga Brawijaya" titah Alluna
"Bukannya kakak sudah mengetahui semuanya?" Tanya Rey
"Tidak,kakak belum mengetahui semua tentang bajingan itu" jawab Alluna
"Baiklah kasih Rey waktu" ucap Rey mulai membuka laptopnya
Alluna terus melanjutkan latihannya bahkan samsak yang dia jadikan objek menjadi pelampiasan kemarahannya dan mungkin akan hancur sebentar lagi
"Kak aku mendapatkannya" ucap Rey semangat membuat Alluna menghentikan acara tinjunya
"Jelaskan" perintah Alluna
"Brawijaya tinggal di perumahan elite di kota ini,dia mempunyai istri yang berprofesi sebagai model yang terkenal angkuh dan sombong dia bernama Saskia Liandra dan anak tunggal mereka seorang perempuan seumur kakak bahkan dia bersekolah di sekolah kita dan hal yang paling mengejutkan dia bernama SISKA PUTRI BRAWIJAYA teman sekelas kakak" jelas Rey dengan sedikit terkejut
"Menarik" ucap Alluna dengan seringainya
Alluna terlihat menelfon seseorang
"Bagaimana?" Tanya Alluna
"Tidak ada pergerakan dari tuan Brawijaya nona muda,hari ini dia hanya berada di perusahaan miliknya" jawab anak buah yang Alluna tugaskan memata‑matai Brawijaya
"Baiklah,atur pertemuan ku dengannya sore ini di perusahaan miliknya" perintah Alluna jangan lupa smirknya
Di tempat lain….
Tepatnya di WIJAYA COMPANY Milik BRAWIJAYA
Tok tok tok
"Masuk" jawab pria parubaya yang sedang duduk di kursi kebanggaannya
"Maaf tuan,ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda tanpa membuat janji" ucap sang asisten
"Kau tau aku orang sibuk kenapa kau biarkan orang asing dengan mudah bertemu denganku Aryo" bentak Brawijaya
"Maafkan saya tuan,dia mengatakan akan memberikan informasi yang penting untuk anda menyangkut perusahaan anda dan kejadian di 10 tahun lalu" ucap Aryo asisten yang memang mengetahui setiap kejahatan yang Brawijaya buat
"Suruh dia masuk" ucap Brawijaya dengan tubuh menegang
"Silahkan masuk tuan" perintah Aryo pada anak buah Alluna
"Siapa yang mengirim mu?" Tanya Brawijaya pada orang asing yang saat ini berdiri di hadapannya
"Itu tidak penting, anda akan tau nanti jika anda menyetujuinya ,saya hanya akan mengatakan jika bos saya ingin bertemu anda sore ini di perusahaan anda" ucap anak buah Alluna
"Apa untungnya untukku membuang waktu untuk kalian?" Tanya Brawijaya sombong
Anak buah Alluna melangkahkan kakinya lebih dekat pada meja Brawijaya dan berkata…
"Maka anda akan mengetahui seseorang yang selama ini kalian cari tuan Brawijaya" ucap anak buah Alluna yang mampu membuat Brawijaya bungkam bahkan dia berusaha mengontrol raut wajahnya agar tidak terlihat takut
"Bagaimana tuan?" Tanya anak buah Alluna
"Baiklah saya tunggu" ucap Brawijaya dan anak buah Alluna pergi tanpa pamit
"Sial siapa sebenarnya yang akan menemui ku" kesal Brawijaya segera memanggil Aryo
"Tuan memanggil saya" ucap Aryo
"Siapkan semua bodyguard di depan ruanganku akan ada yang menemuiku sore ini kalian harus bisa menjaga keselamatan ku paham?" Ucap Brawijaya
"Baik tuan" jawab Aryo
Tepat pukul 4 sore Alluna mendatangi salah satu perusahaan terbesar Wijaya Company, Alluna memakai dress hitam yang membentuk bodynya dengan rambut yang sengaja diuraikan tidak lupa dengan masker dan kacamata hitam yang ia gunakan untuk menjaga identitasnya
"Ada yang bisa kami bantu" ucap Aryo yang memang sengaja menunggu kedatangan seseorang yang ingin bertemu bosnya itu
"Saya orang yang sudah membuat janji sore ini dengan bos anda tuan Aryo Harison, right?" Ucap Alluna tersenyum miring
"Bagaimana wanita ini mengetahui nama lengkap ku dia juga bahkan berani datang seorang diri" batin Aryo
"Baik saya akan mengantarkan anda ke ruang tuan Brawijaya " ucap Aryo berusaha menutupi kegugupannya
Alluna sampai di depan ruangan mewah milik Brawijaya dia memandang remeh dengan semua bodyguard yang Brawijaya siapkan untuk menjaga tua bangka itu
Tok tok tok
"Ada apa?" Tanya Brawijaya
"Seseorang yang ingin bertemu anda sudah tiba tuan" ucap Aryo menunduk hormat
"Biarkan dia masuk"
"Baik tuan"
"Anda bisa masuk nona" ucap Aryo pada Alluna
Alluna masuk keruangan itu dan langsung duduk tanpa disuruh oleh pemilik perusahaan itu
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Brawijaya to the point
"Wow sabar paman, apa anda melupakanku?" Jawab Alluna tersenyum miring dibalik maskernya
Sedangkan Brawijaya masih mencerna perkataan anak di depannya ini dia sama sekali tidak mengenal anak ini
"Hahahaha kau sangat lucu paman" tawa Alluna tiba‑tiba memecah keheningan diruangan itu
"Baiklah biar aku mengingatkan mu, kau ingat paman tragedi 10 tahun yang lalu di Mension mewah milik tuan Albertson Thompson?" Tanya Alluna dengan suara yang terdengar dingin
"Aku tidak ingat itu sudah sangat lama" ucap Brawijaya berusaha tenang
"Ah aku merasa sedih paman tidak mengingat kejadian itu padahal paman masih terus mencariku" jawab Alluna dengan nada dibuat sedih
"KAMU…?" Kaget Brawijaya
"Yap benar, saya anak sulung tuan Albertson Thompson, mencari ku paman hm?"
Brawijaya baru saja akan mengeluarkan pistol yang dia pegang di bawah meja sejak tadi namun terhenti dengan perkataan Alluna
"Tenanglah paman saya kesini bukan untuk melihat adanya pertumpahan darah, sekedar info jika paman membunuhku saat ini maka perusahaan paman akan meledak lihatlah keluar" ucap Alluna membuat Brawijaya melihat keadaan diluar
perusahaannya melalui jendela besar ruangannya dan ternyata perusahaan miliknya sudah terkepung dengan banyak anak buah Alluna
"Saya hanya ingin anda mengetahui jika anak sulung Albertson Thompson telah kembali dan akan membalas setiap perbuatan kalian di masa lalu" ucap Alluna dingin
"Sepertinya anakmu yang bernama Siska putri Brawijaya bersekolah di tempat yang sama denganku, itu menarik bukan" xixixixi kekehan kecil Alluna
"Jangan macam‑macam dengan Putriku sialan" bentak Brawijaya
"Hahahahaha impas bukan jika anda membuat ku kehilangan orang tua dan adikku, saya hanya akan membuat anda kehilangan putri dan istri anda itu" tawa dingin keluar dari mulut Alluna
"Sepertinya cukup bermainnya tuan Brawijaya sampai bertemu nanti dan ku pastikan anda selalu menerima kejutan‑kejutan dariku hemm seperti 3 kepala yang kuberikan sebelumnya" ucap Alluna dan segera pergi meninggalkan Brawijaya yang mematung