Aleena Keisha(24), desainer interior KALA JIVA Singapura. Kemenangan lomba desain hotel Bandung membawanya promosi ke Jakarta, kota yang menyimpan luka masa lalunya.
Hari pertama kerja, ia menabrak pintu kaca lobi. CEO KALA JIVA, Keanu Zayn Malik(30) terpaku. Gadis itu adalah Aleena, murid olimpiade matematika yang 7 tahun lalu pernah ia bimbing dan hilang kontak.
Gosip guru-murid dulu telah menghancurkan beasiswa Aleena. Zayn memberontak orang tuanya dan membangun KALA JIVA dari nol. Kini takdir mempertemukan mereka sebagai Bos dan Bawahan. Aleena tak mengenalinya sama sekali, malah mengira Zayn sudah beristri dan punya anak. Mampukah Zayn meluruskan semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RTPB - 28
Tim udah selesai makan, pada ribut foto-foto city light di spot utama balkon. Lampu-lampu Bandung kelap-kelip di bawah seperti lautan bintang yang tumpah di lembah. Angin malam Dago Atas menusuk tulang, tapi live music akustik yang lagi main di panggung kecil membuat suasana jadi hangat dan romantis.
Aleena gak ikut foto. Dia duduk sendirian di kursi rotan pojok balkon yang agak gelap, jauh dari keramaian teman-temannya. Kedua tangannya memeluk diri sendiri, lututnya dirapatkan. Jaket tipis berwarna krem yang dia pakai hari ini tidak cukup menahan angin malam Dago Pakar yang terkenal dinginnya. Hidungnya sudah memerah.
Dia masih kepikiran kejadian jambret siang tadi di Tangkuban Perahu. Bukan soal jambretnya. Tapi soal teriakan itu.
KEISHA..
Zayn yang dari tadi duduk di dalam ruangan VIP bersama Raka dan Diki, sesekali melirik ke arah balkon lewat dinding kaca yang besar. Matanya langsung menangkap sosok kecil yang duduk meringkuk sendirian di pojok.
"Aleena"
Tanpa banyak pikir, Zayn pamit ke toilet. Tapi langkah kakinya malah memutar, keluar lewat pintu samping, menuju balkon belakang tempat Aleena duduk.
Di tangannya ada syal hitam tebal bermotif kotak-kotak abu-abu. Syal yang tadi siang sempat dia beli diam-diam saat tim sedang sibuk belanja oleh-oleh di Tangkuban Perahu. Awalnya dia bingung buat apa beli syal di siang bolong yang panas, tapi entah kenapa tangannya bergerak sendiri membayarnya. Mungkin firasatnya bilang malam ini Aleena akan kedinginan.
Tanpa ngomong sepatah kata pun, Zayn mendekat dari belakang dan dengan gerakan lembut namun cepat, dia meletakkan syal itu di bahu Aleena, melingkarkannya di leher gadis itu.
Aleena kaget setengah mati, hampir melompat dari kursinya.
"Pak Zayn?"
"Dingin, pakai!" ucap Zayn singkat, suaranya pelan. Dia lalu duduk di kursi rotan sebelah Aleena, menjaga jarak satu kursi kosong di antara mereka, menatap lurus ke depan ke arah city light Bandung.
"Terima kasih Pak" jawab Aleena pelan, tangannya spontan meremas ujung syal itu. Syal itu masih hangat. Sangat hangat. Dan wanginya...
Wangi kopi dan kayu manis yang samar.
Hening sebentar, cuma ada suara angin malam yang berdesir melewati pohon pinus dan suara gitar akustik dari live music yang kebetulan...
Putri Andini - Tak Mampu Lupa, versi akustik yang lebih pelan dan menyayat hati, lagi diputar oleh penyanyi cafe.
Aleena langsung menatap panggung kecil itu dengan mata membulat. Lagu yang sama yang dia nyanyiin di bus siang tadi dengan penuh penghayatan.
Zayn juga ikut menatap panggung itu, lalu membuka obrolan dengan suara rendah, hampir tenggelam oleh angin.
"Lagu yang sama"
"Iya Pak... kebetulan sekali" jawab Aleena, suaranya bergetar.
"Kamu nyanyiin lagu itu dengan penghayatan sekali tadi siang di bus. Semua diam mendengarkan kamu, kenapa?"
Aleena menunduk dalam-dalam, jari-jarinya terus memainkan ujung syal pemberian Zayn yang masih hangat dan wangi parfum Zayn. Wangi yang anehnya membuat dadanya sesak.
"Lagu itu... saya selalu nyanyiin kalau saya kangen sama seseorang. Seseorang yang terlarang untuk saya kenang. Seseorang yang seharusnya saya hapus semua hal tentangnya" Aleena tersenyum pahit, senyum yang lebih mirip menahan tangis. Hatinya terasa perih seperti disayat.
Zayn terdiam. Tangannya yang ada di dalam saku celana jeans hitamnya mengepal sangat erat sampai kukunya menancap di telapak tangannya. Dia tau lagu itu untuk siapa.
Aleena melanjutkan, suaranya pelan hampir hilang tertiup angin malam Dago yang kencang.
"Dia... satu-satunya orang yang manggil saya Keisha... dan satu-satunya orang yang selalu bilang saya ceroboh dengan nada khawatir seperti Bapak"
Aleena memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Zayn lekat-lekat. Di bawah cahaya temaram obor-obor kecil yang menghiasi balkon The Valley, mata Aleena yang berkaca-kaca terlihat jelas. Mata yang sama yang dulu nangis di perpustakaan SMA karena nilai matematikanya dapat 50 dan takut tidak bisa masuk universitas.
"Pak, kenapa Bapak selalu bilang saya ceroboh? Dan... tadi siang di Tangkuban, Bapak manggil saya apa? Saya dengar jelas Bapak bilang Keisha... bukan ke sana"
Zayn menatap balik mata Aleena. Jantungnya berdegup sangat kencang, hampir meledak. Dia ingin sekali bilang:
Karena aku Keanu. Karena kamu memang Keisha ku dari dulu. Karena aku masih ingat kamu ceroboh, kamu pemberani, dan aku selalu khawatir setiap kamu hampir jatuh.
Tapi yang keluar dari mulut Zayn malah kalimat pertahanan diri yang sudah dia siapkan sejak siang.
"Saya bilang ke sana. Kamu salah dengar. Lagi-lagi salah dengar"
Zayn berdiri dengan kasar, mau pergi karena tidak kuat lagi menatap mata itu. Mata yang membuatnya ingin memeluk dan mengaku semuanya malam ini juga.
Aleena spontan dengan gerakan cepat menarik ujung lengan kemeja flanel hitam Zayn, menahannya agar tidak pergi.
"Kalau saya salah dengar, kenapa bukan hanya saya saja yang salah mendengarnya Pak. Semua mendengar Bapak jelas memanggil saya dengan menyebut Keisha. Raka dengar, Vira dengar, Diki dengar"
Tangan Aleena yang kecil dan dingin itu menggenggam lengan Zayn yang hangat.
Zayn menatap genggaman tangan itu, lalu menatap Aleena. Akhirnya Zayn menyerah, dia menarik nafas panjang yang berat, dan duduk kembali.
"Sebenarnya saya gak suka nama panggilan kamu Aleena atau Ale. Seperti panggilan untuk laki-laki. Kamu kan wanita, pakai jilbab lagi masak dipanggil Ale" jawab Zayn dengan alasan yang dibuat-buat, tapi dengan nada yang terdengar tulus.
Aleena terperanjat terkejut mendengar jawaban Zayn. Dia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Dia menatap dalam ke manik mata Zayn yang hitam pekat, mencoba mencari kebohongan di sana.
"Sebenarnya Bapak ini siapa sih?" tanya Aleena akhirnya, pertanyaan yang sudah dia tahan sejak hari pertama bertemu Zayn di lobi KALA JIVA.
"Sejak pertama kali bertemu dengan Bapak saya seperti sangat familiar dengan Bapak. Saya seperti pernah mengenal Bapak tapi saya tidak ingat dimana. Asing tapi seperti tidak asing, dekat tapi begitu jauh. Maaf Pak... Semakin mengenal Bapak, saya jadi semakin sering mengingat seseorang yang terlarang bagi saya. Contohnya seperti wangi parfum di syal ini. Mirip sekali dengan wangi parfumnya. Walau sudah bertahun-tahun tapi saya masih mengingatnya"
Aleena tertawa kosong untuk menutupi lukanya, untuk mencegah air matanya jatuh di pipinya. Tawanya terdengar perih.
"Lucu ya Pak? Padahal wangi parfum ini bisa saja memang sama dan wajar kan kalau Bapak menyukai wangi ini juga tapi itulah bodohnya saya. Saya selalu mengaitkan semua hal tentang Bapak dengan dia"
Zayn mematung. Syal nya memang tadi sebelum berangkat keluar dari Tangkuban Perahu dia semprot dengan parfum kopi kesukaannya, parfum yang sama dari 6 tahun lalu. Parfum yang dulu Aleena pernah bilang wanginya menenangkan. Hati Zayn perih melihat Aleena seperti ini, menyalahkan dirinya sendiri karena bodoh.
Apa kamu tidak bisa melupakan saya Kei? Saya juga tidak pernah bisa melupakan kamu? Apakah memang sebegitu terlarangnya kita untuk saling mengenang? Batin Zayn menjerit.
"Maaf Pak saya jadi curhat banyak sama Bapak, harusnya hal ini tidak boleh saya lakukan, Bapak kan atasan saya" ucap Aleena sambil cepat-cepat menghapus sudut matanya yang mulai basah dan menatap jauh ke depan, kelap kelip lampu menyinari kota Bandung malam hari yang indah tapi terasa sepi.
Zayn menatap Aleena lama, lalu berkata dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
"Kalau cerita ini begitu berat untuk kamu jangan dilanjutkan. Sekarang masuk ke dalam, anginnya kencang, nanti kamu sakit. Besok harus kembali ke Jakarta, perjalanan jauh"
Zayn pergi duluan masuk ke dalam, langkahnya berat, meninggalkan Aleena sendirian dengan syal hitam di bahunya, dengan lagu Tak Mampu Lupa yang masih mengalun pelan dari panggung, dan dengan kebingungan yang sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya.
Zayn hampir saja ingin membongkar rahasia diantara mereka malam ini. Ingin sekali dia berbalik, merangkul dan memeluk Aleena erat-erat agar beban gadis itu berkurang. Tapi seperti yang Aleena katakan. Aleena terlarang untuk dia miliki.
Kejadian enam tahun lalu masih jelas dalam ingatannya. Malam dimana Papanya memanggilnya ke ruang kerja dan memberi dua pilihan: pergi ke Amerika untuk kuliah S2 dan mengubur nama Keanu selamanya, atau tetap di Indonesia tapi Papanya akan mencabut beasiswa Aleena dan memastikan gadis itu tidak akan pernah bisa kuliah. Zayn memberontak pada Papanya hari itu, dia memilih keluar dari bisnis keluarga dan membangun perusahaannya sendiri dari nol karena Papanya telah mengekangnya. Menekan seseorang yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan masalah keluarga mereka.
Aleena lah yang menjadi korban keluarganya diusianya yang sangat muda, masih remaja. Harus menanggung SPP tiga bulan terakhir di SMA Harapan Bangsa sendirian padahal Zayn tahu Aleena tidak sanggup untuk membayarnya karena Ibunya sedang sakit.
Aleena menatap kepergian Zayn sambil terus memegang erat syal yang dia berikan beserta wangi parfum yang pernah Aleena kenali dulu dari seseorang, dadanya sesak.
Kenapa? Kenapa semua clue mengarah ke Pak Keanu, tapi Pak Zayn selalu menyangkal dengan alasan yang masuk akal?
Air mata Aleena akhirnya jatuh perlahan, satu tetes, dua tetes, jatuh di atas syal hitam itu. Hari ini akhirnya nama Keanu kembali mempengaruhi hari-harinya. Bahkan sejak pagi Aleena terus mengingat Keanu, guru matematikanya.
Aleena menarik nafas panjang, sepertinya ada yang tidak beres dengan dirinya. Sepertinya Aleena harus menjaga jarak dengan Zayn mulai besok di Jakarta. Karena semakin dia dekat dan mengenal Zayn, Aleena akan kembali teringat Keanu dan luka lamanya akan kembali berdarah.
Yah, Aleena harus mengambil keputusan secepat ini. Dia tidak mau merusak pekerjaan dan karier nya di KALA JIVA. Bagaimanapun Aleena masih sangat membutuhkan pekerjaan ini, selain gajinya besar, Aleena suka kerjanya dan Aleena juga sudah nyaman dengan lingkungan kerjanya. Dia tidak boleh mempertaruhkan kariernya hanya karena perasaan bingungnya pada atasannya.
Aleena bangkit dari duduknya, mengusap air matanya dengan kasar. Syal hitam itu tetap melingkar di lehernya. Hangat. Wangi kopi. Aleena tidak melepaskannya. Dia akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman setimnya yang sedang tertawa-tawa foto bersama, daripada menyendiri dan mengingat luka yang belum sembuh.
.
.
BERSAMBUNG
🥺🥺🥺🥺 sesulit itu untuk mereka meraih bahagia 💪💪💪💪
kenapa masih mencuri lihat ke Keisha aleena
sdah pangling Aleena ma Zayn Keanu.
ikutan sedih dengan kisah kalian,semoga cepat bersama Pak KEANU dan KEISHA 💪
akhirnya pak Keanu memanggil KEISHA Nama panggilan sayang terucap juga💃💃💃💃
kasihan ma Aleena hatinya tertahan 6 THN yg lalu ma Zayn keanu
tapi penasaran ma hidup Zayn 6 THN yg lalu kenapa Sampek bisa dan menikah .mana manggil sayang lagi pas di bandara.tapi sekarang hatinya katanya masih memikirkan Aleena.
tambah kepo ma penasaran baca lanjutannya
bukannya kamu sdah nikah yaaa
💃💃💃 liburan diBandung Allena 💪