NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 032 - Penangkapan Massal Murid Luar

Dua hari berlalu di bawah bayang-bayang teror yang mencekam di seluruh kompleks Sekte Lembah Giok Hitam. Sepanjang empat puluh delapan jam yang penuh penderitaan fisik itu, Gu Yuan tetap meringkuk di dalam bak kayu air limbah cucian obat di belakang dapur umum, bertahan hidup dalam kondisi ekstrem yang akan membunuh kultivator biasa.

Di siang hari saat matahari terik membakar atap jerami dapur, air limbah comberan itu mengeluarkan uap belerang asam yang menyengat mata dan membakar saluran pernapasannya. Di malam hari saat angin kutub menyapu tebing-tebing batu kapur, air comberan itu berubah menjadi membeku dingin jurang yang membekukan kulit dan dagingnya hingga membiru kaku.

Gu Yuan hanya berani keluar dari dalam bak pada jam-jam paling sunyi sebelum fajar, menyelinap tanpa suara ke lantai dapur untuk memungut sisa-sisa kulit ubi rebus dan remah jagung kering yang tercecer di bawah meja kerja koki, lalu kembali membenamkan tubuhnya ke dalam air sebelum matahari menyingsing. Makanan keras berbau apek dan sedikit air bersih dari kantong bambunya adalah satu-satunya bahan bakar fana yang menjaga nyala tenaganya tetap hidup di tengah kedinginan maut.

Namun pengorbanan mengerikan itu terbayar lunas tanpa cela.

Efek Pil Penempa Raga pertama telah terserap tuntas ke dalam sumsum tulangnya, dibantu oleh rangsangan mineral belerang dan asam daun pahit dari luar. Lapisan kotoran fana berwarna kehitaman telah larut sepenuhnya ke dalam air comberan, menyisakan kulit tubuh yang tampak liat seperti lembaran tembaga dan tulang-tulang yang berdentang kokoh seperti batangan besi tempaan. Tulang-tulang iganya yang sempat retak telah menyatu kembali dalam kerapatan yang jauh lebih padat tanpa menyisakan rasa nyeri, dan kekuatan fisiknya kini berada pada kondisi paling prima sejak ia memulai jalan kultivasi fana.

Melalui celah sempit di antara dua papan kayu dinding dapur yang menghadap langsung ke pelataran barak luar, Gu Yuan terus mengamati pergerakan sekte dengan tatapan mata yang dingin, tenang, dan awas.

Pada sore hari kedua, sebuah perubahan drastis dan mengejutkan terjadi di seluruh penjuru kompleks barak.

Suara dentang lonceng tembaga di menara induk mendadak berdentang keras sebanyak tujuh kali—panggilan darurat tertinggi bagi seluruh murid luar sekte. Namun kali ini, tidak ada lagi pengumuman pembagian jatah ransum makanan atau upacara berkah sekte yang diumbar di atas panggung oleh para pengawas.

Dari arah balai obat di tebing atas, puluhan prajurit penegak hukum berseragam jubah hitam berlapis pelindung dada besi tembaga berderap cepat menuruni jalan setapak batu cadas. Mereka dipimpin oleh dua orang murid inti balai dalam yang menunggangi serigala spiritual bertaring panjang dan bermata merah buas. Di tangan para prajurit itu, tergenggam rantai-rantai besi hitam tebal dan borgol tembaga berkarat yang mengeluarkan bunyi gemerincing menyeramkan.

Tanpa peringatan dan tanpa sepatah kata penjelasan pun, pasukan pengawal bersenjata lengkap itu mendobrak pintu-pintu bilik barak bambu secara serentak di sepanjang deretan barak timur dan barat.

Brak! Brak! Brak!

Bilah-bilah pintu anyaman bambu terbelah hancur berkeping-keping ditendang oleh sepatu bot kulit para pengawal. Jeritan histeris pemuda, rintihan ketakutan, dan tangisan panik seketika memecah keheningan sore di lembah.

Puluhan murid luar—para pemuda dan pemudi berusia belasan tahun yang selama ini hanya bekerja sebagai kuli tambang batu arang dan pemotong rumput obat di jurang beracun—diseret keluar dari bilik-bilik mereka secara paksa seperti binatang ternak. Siapa pun yang mencoba bertanya, ragu-ragu melangkah, atau meronta langsung dihantam gagang tombak besi ke rahang atau ulu hatinya hingga muntah darah ke tanah liat.

Para pengawal melilitkan rantai besi hitam ke leher dan pergelangan tangan para murid rendahan itu, mengikat mereka menjadi satu barisan panjang seperti iring-iringan kurban yang digiring menuju rumah jagal. Di antara barisan murid yang diseret kasar dengan tubuh bersimbah lumpur itu, terlihat sosok Xiao Wu dan sembilan tahanan bawah tanah yang sebelumnya sempat dibebaskan Gu Yuan; rupanya mereka tertangkap kembali di dekat pintu air parit limbah selatan yang dijaga ketat oleh regu anjing pemburu bertanduk merah.

Xiao Wu berjalan dengan kepala terkulai lemas, wajahnya penuh memar ungu kebiruan dan bibirnya robek berdarah, matanya menatap tanah liat yang becek dengan keputusasaan yang penuh dan hampa.

Gu Yuan yang mengintip dari celah dinding kayu menajamkan pendengarannya. Dari percakapan dua prajurit penegak hukum yang berjaga di dekat cerobong asap dapur luar, terungkap alasan di balik penangkapan massal yang brutal ini.

“Tetua Mo sudah tidak bisa menunggu sampai akhir bulan,” bisik salah satu pengawal dengan suara bergetar ngeri sambil melirik ke arah puncak tebing air terjun yang mulai diselimuti kabut hitam. “Kabar kaburnya tahanan dan kematian Luo Biao di dalam gua altar membuat Tetua Mo murka besar hingga memicu gejolak racun Korosi Tulang di Dantian-nya. Separuh tubuhnya sudah mulai membiru membusuk sejak kemarin sore, dan racun itu mulai merambat ke meridian jantungnya.”

“Jadi ritual pembersihan darah dimajukan malam ini?” tanya pengawal kedua dengan nada cemas sambil mengelus sarung pedangnya.

“Malam ini juga, tepat saat bulan sabit mencapai titik tertingginya,” jawab pengawal pertama sambil mengencangkan sabuk zirah besinya. “Tetua Mo memutuskan untuk tidak hanya menggunakan sebelas bejana darah, melainkan menguras habis darah tiga puluh murid luar sekaligus di atas altar air terjun untuk mencuci habis racun di tubuhnya dalam satu putaran formasi besar.”

Tiga puluh murid luar sekaligus.

Gu Yuan menggenggam erat dinding kayu bak air limbah hingga kuku jemarinya menancap ke serat kayu yang basah dan berlumut tebal.

Mo Cheng telah benar-benar terdesak oleh pembusukan tubuhnya sendiri dan kehilangan seluruh sisa akal sehatnya. Memaksakan penyerapan darah tiga puluh orang sekaligus pada susunan formasi yang telah disabotase di tiang ketujuh dan tiang kedua belas adalah tindakan gila yang seratus kali lipat lebih mematikan bagi sang tetua sendiri.

Pusaran arus balik energi yang akan meledak dari tiang kedua belas nanti malam tidak hanya akan meremukkan Dantian Mo Cheng hingga hancur berkeping-keping, melainkan akan meledakkan seluruh rongga gua altar air terjun menjadi kuburan massal.

Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya di balik punggung Pegunungan Lembah Hitam, meninggalkan langit malam yang gulita pekat tanpa sebutir pun bintang. Malam penentuan hidup dan mati telah tiba tepat di depan pelupuk mata Gu Yuan.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!