Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34. Seperti Gembel Emperan Toko
“Kasihan sekali sang tuan tanah kaya raya ini?”
Ucapan itu terdengar jelas di telinga Elden.
Pria tersebut refleks terkejut hingga makanan-makanan yang berada di pangkuannya hampir tumpah. Ia buru-buru menangkap salah satu kotak yang nyaris tergelincir, kemudian mendongak dengan mata membulat.
“Ellea!”
Adik perempuannya berdiri beberapa langkah darinya, kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya menggambarkan sesuatu yang sulit dibedakan antara rasa prihatin dan ingin tertawa.
“Apa?” Ellea mengangkat alis. “Aku salah bicara lagi?”
Elden buru-buru mengusap pipinya. Ia berharap adiknya tidak melihat air mata yang masih tersisa di sudut matanya.
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Cukup lama untuk menyaksikan seorang tuan tanah kaya raya duduk di emperan rumah sakit sambil makan sendirian bagai orang yang kena usir dari kontrakan.”
“Ellea!”
“Baiklah, baiklah.” Ellea mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Bukan diusir dari kontrakan. Mungkin dilarang masuk ke hati seseorang.”
Elden menatap adiknya tajam.
Sayangnya, tatapan itu sama sekali tidak membuat Ellea gentar.
Perempuan itu malah berjongkok di hadapannya, kemudian melirik kotak makanan di pangkuan Elden.
“Bubur, roti, camilan. Wah, banyak sekali. Kamu sedang memberi makan satu kampung atau sedang berusaha mengobati patah hati dengan makanan?”
“Bisa diam?”
“Kenapa? Takut aku membongkar rahasiamu kepada Ibu kita?”
Elden langsung mengerutkan kening. “Jangan bawa-bawa Ibu!”
“Lho, kenapa? Apa Kakak lupa, Ibu yang paling khawatir sama kondisi putra kesayangannya? Ibu tak tahu aja sekarang putra sulungnya punya hobi baru? Menguntit mantan istri, menangis di emperan, lalu makan sambil mengkhayalkan sesuatu?”
Wajah Elden seketika menegang.
“Ellea, aku ini sedang serius.”
“Aku juga serius.” Senyum Ellea perlahan memudar. Ia memperhatikan mata kakaknya yang sedikit merah, lalu menatap makanan yang belum banyak disentuhnya. “Kamu benar-benar menangis, ya?”
Elden tidak memiliki jawaban tepat untuk pertanyaan itu. Rasa gengsi membuatnya enggan untuk mengakui. Tangannya hanya sibuk merapikan kotak makanan yang hampir tumpah tadi.
Ellea akhirnya duduk di sampingnya. Lalu menarik salah satu cemilan yang menarik baginya.
“Kak,” panggilnya sambil membuka bungkusan makanan kecil itu.
“Kamu tahu, kan, Kak Dea tidak akan langsung bisa memaafkanmu hanya karena kamu menyesal?”
Elden menghela napas berat. “Ya, tentu saja aku tahu.”
“Dia bahkan mungkin tidak akan pernah memaafkanmu.”
Elden melirik ke arah Dea yang tampak sibuk dengan laptopnya. “Sepertinya begitu.”
Jawaban itu terdengar begitu lirih hingga Ellea tidak tega melontarkan lelucon berikutnya.
Elden menunduk, memandangi sendok di tangannya.
“Entahlah. Aku juga tak tahu bagaimana cara menghapus dosa itu.”
Ellea mengikuti arah pandangan kakaknya. Dari tempat mereka duduk, Dea masih terlihat di dari kejauhan, sesekali mencatat sesuatu yang ia lihat di laptop.
“Lalu kenapa malah duduk di sini seperti orang diusir dari rumah?”
Elden menoleh kesal.
"Hahaha ..."
Ellea tak bisa menahan tawanya. “Maaf. Habis kamu lucu sekali.”
Namun, setelah tawanya reda, ia kembali menatap kakaknya dengan serius.
“Setidaknya, kali ini kamu tidak membuatnya ketakutan seperti sebelumnya.”
Elden sedikit menghela napas. Ia tidak menyangka akan mendapat pujian sekecil itu dari adiknya sendiri.
“Tapi jangan salah paham,” lanjut Ellea cepat. “Memberinya sarapan bukan berarti kamu sudah membuat semuanya menjadi baik. Kamu baru melakukan hal yang seharusnya. Tapi pekerjaanmu bukan hanya sampai di sana saja.”
“Lalu aku harus bagaimana? Aku bukan seseorang yang paham dengan ilmu kejiwaan.”
Ellea berdiri, lalu menepuk bahu kakaknya.
“Sekarang, habiskan dulu makananmu. Kalau kamu terus menangis sambil menatap Dea, orang-orang bisa mengira aku sedang mengantar pasien gangguan jiwa.”
“ELLEA!”
Tawa Ellea akhirnya pecah. Sebelum ia, beranjak, ia sempat menoleh sekali lagi kepada kakaknya.
“Kak, kalau memang ingin menebus kesalahanmu, Ada banyak hal yang harus kamu pelajari dulu sebelum bisa mendapat maaf Kak Dea.”
Setelah mengucapkan itu, Ellea berjalan meninggalkannya.
Elden tidak lagi memanggil adiknya.
Ia kembali menatap Dea dari kejauhan, lalu menunduk melihat kotak makanan di pangkuannya.
"Baiklah. Aku harus tahu bagaimana caranya," gumamnya mulai bangkit.
Lalu makanan-makanan yang tidak habis itu ia lempar ke dalam tong sampah, dengan segera masuk ke dalam mobil dan ia harus menyelesaikan rencana yang masih tertunda.
.
.
Setelah melihat rekaman yang diberikan Elden, Dea mengetuk pintu ruang kerja dokter senior sekaligus dosen pembimbing praktiknya itu.
Tok tok tok
"Masuk!" perintah seseorang di dalam ruangan.
Dea tak membuang waktu. "Prof, saya telah mendapat bukti yang autentik dari kasus yang kita selidiki." Ia langsung membicarakan hal itu di saat pintu baru dibuka.
Brak
Pintu kembali tertutup.
Tanpa mereka tahu, di ujung lorong Stella mendengar apa yang baru saja diucapkan Dea.
"Kasus? Kasus apa?"
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella