Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 Bulan Kemudian-Lahiran& Peresmian
7 bulan kemudian. 23 Mei 2027. Pukul 05.12 pagi.
Tangis bayi. Bukan tangis Alesha bayi 5 tahun lalu. Tapi tangis bayi baru. Tangis adik.
Alesha yang sekarang sudah 6 tahun 1 bulan, yang sudah kelas 1 SD, yang sudah tidak pakai rompi oranye kebesaran lagi karena rompi itu sudah kekecilan, terbangun dari tidurnya di kamar Rumah Bunga Matahari yang sudah jadi 100 persen. Ya, rumah 500 meter di Puncak itu sudah jadi. 100 persen. Dinding kuning, atap merah, jendela kayu besar, perosotan kuning di samping rumah, ayunan kayu di bawah pohon bunga matahari yang sekarang sudah mekar 20 batang, bukan 1 lagi.
Alesha berlari dengan piyama bunga matahari yang sama dengan Mama, menuju kamar Mama dan Papa Revan.
Di kamar itu, ada Mama Arini, dengan perut yang sudah kempes, dengan wajah pucat tapi bahagia, dengan keringat masih di dahi, dengan bayi mungil merah di pelukan, dengan gelang kuning 5 ribu yang dulu ada 3, sekarang ada 1 yang dipakai di tangan bayi mungil itu, gelang ketiga yang dulu Alesha simpan di saku rompi oranye.
"Ma, adik sudah lahir?" tanya Alesha dengan suara pelan, takut membangunkan bayi.
Aku mengangguk, air mata mengalir. 9 minggu 6 hari yang lalu, yang terasa seperti 9 tahun lalu, saat sertifikat palsu Bu Lastri mau menggusur pondasi 20 persen, saat Bara pingsan di atas batu bata pertama, saat Alesha memberikan gelang cadangan ke Bara, siapa sangka 7 bulan kemudian, adik benar-benar lahir, di Rumah Bunga Matahari yang sudah jadi 100 persen, di kamar dengan jendela menghadap langsung ke bunga matahari yang mekar.
"Namanya siapa, Ma?" tanya Alesha lagi, mendekati bayi mungil itu.
"Namanya Bunga," kataku pelan. "Bunga Arini Argan. Karena dia lahir di Rumah Bunga Matahari, di tanah 500 meter atas nama Kakak Alesha, di bawah bunga matahari yang Kakak tanam."
Bunga Arini Argan. Lahir 23 Mei 2027, 05.12 pagi, berat 3,1 kg, panjang 49 cm, di Rumah Bunga Matahari, Puncak. Anak kedua Arini, anak pertama Arini dan Revan.
Di luar kamar, Revan sudah menunggu dengan baju koko putih, habis sholat subuh, dengan mata sembab karena tidak tidur semalaman menunggu istrinya lahiran di rumah, bukan di rumah sakit, karena aku mau lahiran di Rumah Bunga Matahari, di tanah yang dulu mau digusur sertifikat palsu.
Jam 8 pagi, peresmian Rumah Bunga Matahari.
Seharusnya peresmian ini dilakukan 7 bulan lalu, saat progres 20 persen, tapi Revan menundanya, menunggu adik lahir, menunggu rumah 100 persen jadi, menunggu Alesha naik kelas 1 SD, menunggu semua konflik selesai.
Tamu yang datang tidak banyak. Hanya Pak Slamet dan 3 tukang yang membangun rumah dari 0 persen sampai 100 persen, Mbak Sari yang membantu masak selama hamil, Bu Guru TK Alesha yang datang dengan 10 anak TK dengan rompi oranye kecil-kecil seperti Alesha dulu, dan satu tamu yang tidak diundang tapi datang dengan kursi roda.
Bara Mahendra.
Bara datang dengan kursi roda, didorong oleh perawat RSUD Ciawi, dengan baju koko putih yang kebesaran, dengan wajah yang masih pucat tapi sudah tidak seperti mayat 7 bulan lalu, dengan ginjal yang sudah dapat donor, bukan dari Arini, bukan dari Alesha, tapi dari program donor ginjal pemerintah yang dibantu Revan biayai, dengan gelang kuning 5 ribu cadangan dari Alesha yang masih dipakai di tangannya yang kurus, gelang yang 7 bulan lalu diberikan Alesha di atas pondasi.
Bara tidak masuk ke dalam rumah. Dia hanya duduk di luar pagar bambu kecil, di bawah pohon bunga matahari yang mekar 20 batang, menatap Rumah Bunga Matahari yang dindingnya kuning, atapnya merah, perosotan kuning di sampingnya, ayunan kayu di bawahnya, rumah yang dulu dia mau gusur dengan sertifikat palsu ibunya.
Alesha yang melihat Bara dari jendela kamar adik Bunga, dengan piyama bunga matahari, berlari keluar rumah, melewati perosotan kuning, melewati ayunan kayu, menuju pagar bambu kecil.
Semua orang terdiam. Aku yang menggendong Bunga, Revan yang memotong pita peresmian, Pak Slamet yang memegang gunting, Bu Guru TK, semua terdiam melihat Mandor Kecil Dari Puncak yang sekarang sudah 6 tahun 1 bulan, yang sudah tidak pakai rompi oranye kebesaran dan helm kuning lagi, tapi masih menyimpan jiwa Mandor, berjalan ke arah ayah kandungnya yang di kursi roda.
Alesha tidak memeluk Bara. Tidak mencium Bara. Dia hanya berdiri di depan Bara, menatap Bara yang pucat dengan gelang 5 ribu di tangannya.
"Papa Bara, rumahnya sudah jadi 100 persen," kata Alesha dengan suara jelas, suara anak 6 tahun 1 bulan yang sudah kelas 1 SD. "Mandor lapor, progres 100 persen, perosotan kuning jadi, ayunan jadi, bunga matahari mekar 20 batang. Tapi Papa Bara gak boleh masuk, karena dulu Papa Bara mau gusur."
Bara menangis. Bara Mahendra yang 6 tahun lalu meninggalkan Arini dengan surat 3 baris karena mandul, yang 1 tahun lalu meminta donor ginjal, yang 7 bulan lalu membuat sertifikat palsu dengan ibunya mau merebut tanah 500 meter, menangis di kursi roda di depan Rumah Bunga Matahari, dengan gelang 5 ribu dari anaknya di tangan, dengan gambar crayon ambulance dengan hati besar yang dulu diberikan Alesha masih di saku baju kokonya.
"Maaf, Alesha, maaf," bisik Bara, suaranya parau.
Alesha tidak menjawab maaf itu. Dia hanya mengambil sesuatu dari saku piyama bunga matahari nya. Satu biji bunga matahari. Biji yang dia ambil dari bunga matahari liar yang dulu roboh diinjak Bu Lastri 7 bulan lalu, biji yang dia simpan selama 7 bulan di dalam kotak pensil Hello Kitty nya.
"Ini buat Papa Bara," kata Alesha sambil memberikan biji bunga matahari itu ke tangan Bara yang kurus, tangan yang memakai gelang 5 ribu. "Tanam di rumah Papa Bara, biar mekar juga, biar Papa Bara ingat, jangan bikin sertifikat palsu lagi."
Bara menerima biji bunga matahari itu dengan tangan gemetar, dengan air mata yang mengalir ke gelang 5 ribu.
Di belakang Alesha, aku datang dengan Bunga di gendongan, Revan datang dengan gunting peresmian, Pak Slamet datang dengan helm kuning baru, helm kuning kecil untuk Bunga.
Peresmian Rumah Bunga Matahari dilakukan. Bukan dengan potong pita oleh Revan, tapi dengan potong pita oleh Alesha dan Bunga. Alesha yang memegang gunting besar, Bunga yang dipegang Mama, memotong pita kuning besar di depan rumah, dengan tulisan: RUMAH BUNGA MATAHARI - MILIK KELUARGA ARINI, REVAN, KAKAK ALESHA & ADIK BUNGA - 100% JADI - 23 MEI 2027.
Semua bertepuk tangan. Anak TK dengan rompi oranye kecil-kecil bertepuk tangan. Pak Slamet bertepuk tangan. Mbak Sari bertepuk tangan. Bahkan Bara di kursi roda di luar pagar bambu pun bertepuk tangan dengan satu tangan, karena tangan satunya memegang biji bunga matahari dari Alesha dan gelang 5 ribu.
Malamnya, laporan mandor terakhir di Rumah Bunga Matahari.
Tidak di ruang tamu. Tapi di kamar Bunga, di bawah lampu kuning hangat.
Alesha membuka buku Hello Kitty laporan mandornya, buku yang sudah penuh dari halaman pertama sampai halaman terakhir, buku yang sudah menemani dari progres 0 persen sampai 100 persen, dari sertifikat palsu sampai sertifikat asli, dari Bara pingsan sampai Bara di kursi roda.
Alesha menulis laporan terakhir dengan crayon kuning, dengan tulisan anak kelas 1 SD yang masih berantakan:
LAPORAN MANDOR TERAKHIR - 23 MEI 2027:
1. PROGRES 100% - RUMAH BUNGA MATAHARI JADI!
2. ADIK BUNGA LAHIR 05.12 PAGI - 3,1 KG - GELANG 5 RIBU DIPAKAI ADIK
3. PAPA BARA DATANG PAKAI KURSI RODA - SUDAH KASIH BIJI BUNGA MATAHARI
4. MANDOR KECIL DARI PUNCAK PENSIUN - SEKARANG JADI KAKAK ALESHA
Revan tidak mencatat di laptop lagi malam itu. Laptopnya sudah ditutup. Revan hanya memeluk Alesha dan Bunga dan aku, di kamar dengan jendela menghadap 20 batang bunga matahari yang mekar di bawah bulan Puncak.
Di kulkas, tulisan terakhir ditambahkan malam itu dengan spidol kuning, oleh Alesha sendiri, dengan tulisan berantakan:
"BUNGA LAHIR - RUMAH 100% JADI - MANDOR PENSIUN JADI KAKAK - 23 MEI 2027"
Dan di bawahnya, aku menambahkan dengan spidol merah muda:
"9 MINGGU 6 HARI SAMPAI 7 BULAN KEMUDIAN - SEMUA TERBAYAR LUNAS"