NovelToon NovelToon
Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murid Pertama

Setelah hari hujan abu hitam, Kedai Teh menjadi tempat yang berbeda di Kota Batu Hitam.

Jika sebelumnya orang menghindarinya karena takut, sekarang orang menghindarinya karena hormat. Tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan Bos Teh hari itu. Mereka hanya tahu dua orang berdarah-darah dari klan besar datang berlutut, lalu pergi. Dan setelah Bos Teh mengangkat tangannya ke arah pegunungan, hujan abu iblis yang sudah membuat seluruh kota panik selama tiga hari, berhenti total.

Hu San, ketua Geng Harimau Hitam, bahkan menyuruh anak buahnya untuk membersihkan jalan di depan Kedai Teh setiap pagi, tanpa diminta. Dia meletakkan dua batu spiritual di depan pintu sebagai "uang kebersihan" dan lari sebelum Xiao Chen sempat melihatnya.

Xiao Chen tidak peduli. Baginya, hari-hari kembali tenang. Atau setidaknya, dia mencoba membuatnya tenang.

Masalahnya adalah Ling'er.

Sejak kejadian Surat Darah, gadis kecil itu tidak lagi hanya datang untuk menyapu. Dia menatap Xiao Chen dengan mata yang berbeda. Bukan lagi mata anak lapar yang melihat orang yang memberinya roti. Tapi mata seorang murid yang melihat gunung yang tidak bisa didaki.

Malam itu, setelah kedai tutup, Ling'er tidak pulang. Dia berdiri di tengah kedai dengan karung kosongnya, lututnya gemetar.

"Bos Teh..." suaranya kecil.

Xiao Chen yang sedang mencuci cangkir menoleh. "Hmm?"

"Ajarin aku."

Xiao Chen berhenti mencuci. "Ajarin apa? Cara menyeduh teh? Kau sudah bisa. Teh jahemu kemarin sudah lumayan, hanya saja jahe-nya kebanyakan."

"Bukan teh," Ling'er menggeleng keras, rambut kuncirnya yang berantakan bergoyang. "Ajarin aku... jadi kuat. Seperti Bos Teh. Aku... aku ingin kuat supaya tidak ada yang bisa menginjak-injakku lagi. Supaya aku bisa melindungi adikku."

Xiao Chen menatap gadis itu lama. Dia melihat tangan Ling'er yang penuh luka gores, kaki telanjangnya yang kapalan karena tidak punya sandal, dan di matanya ada api yang sangat dia kenal. Api yang sama yang dia miliki 1000 tahun yang lalu, sebelum api itu dipadamkan oleh Klan Xiao.

"Kau tahu menjadi kuat itu tidak enak, Ling'er," kata Xiao Chen pelan. Dia duduk di kursi bambu kecilnya. "Aku kuat. Selama 1000 tahun aku kuat. Dan apa yang aku dapat? Aku menjaga jurang sendirian, makan nasi basi, dan diinjak-injak. Kuat itu kesepian."

Ling'er menggigit bibirnya. Air matanya mulai keluar. "Tapi... tapi lemah lebih kesepian, Bos Teh. Lemah itu... kemarin, pemilik toko pil bilang pil yang Bos Teh kasih palsu, dia merampasnya dan menendangku. Adikku sakit demam, aku tidak bisa beli obat. Kalau aku lemah terus, adikku akan mati. Aku tidak mau adikku mati."

Kalimat terakhir itu menghantam sesuatu di dalam dada Xiao Chen yang sudah beku selama 1000 tahun.

Adik.

Dia ingat, 1000 tahun yang lalu, sebelum dia dinyatakan sampah, dia punya seorang adik perempuan. Xiao Yu. Gadis kecil yang selalu mengikutinya dan memanggilnya "Kakak Chen, gendong!". Xiao Yu mati karena demam di usia 8 tahun, karena Klan tidak mau memberikan Pil Penurun Panas tingkat 2 yang murah untuk "anak sampah". Saat itu Xiao Chen tidak bisa berbuat apa-apa karena dia lemah.

Dia melihat Ling'er, dan dia melihat Xiao Yu.

Xiao Chen menghela napas. Dia meletakkan cangkir yang sedang dicucinya.

"Kau benar. Lemah lebih kesepian."

Dia berdiri, berjalan ke belakang kedai, dan mengambil sesuatu dari dalam peti kayu tua yang dia bawa dari Jurang Iblis. Peti itu tidak pernah dia buka selama di kota. Di dalamnya bukan harta, bukan pedang. Di dalamnya ada sebuah batu hitam yang tidak memantulkan cahaya. Batu yang dia pungut dari dasar Jurang Iblis di kedalaman 1000 meter, tempat di mana bahkan Raja Iblis tidak berani tinggal. Batu itu adalah inti dari Jurang Iblis itu sendiri.

Dia meletakkan batu hitam itu di atas meja teh di depan Ling'er.

"Letakkan tanganmu di atasnya," kata Xiao Chen.

Ling'er ragu-ragu, tapi dia meletakkan tangan kecilnya yang kotor di atas batu hitam itu.

Tidak terjadi apa-apa selama satu detik. Lalu...

_WUUUUNG!_

Batu hitam itu bergetar. Dari dalamnya keluar cahaya hitam keunguan yang menyelimuti tangan Ling'er. Ling'er menjerit kesakitan, bukan karena panas, tapi karena dingin yang menusuk tulang.

Xiao Chen tidak melepaskannya. Dia meletakkan tangannya sendiri di atas tangan Ling'er.

"Tahan. Jangan takut. Rasakan dinginnya. Dingin itu adalah ketakutanmu sendiri. Jika kau lari darinya, kau akan selamanya lemah. Jika kau memeluknya, dia akan menjadi milikmu."

Ling'er menggertakkan giginya, air matanya bercucuran, tapi dia tidak menarik tangannya. Dia ingat wajah adiknya yang demam.

Setelah lima menit yang terasa seperti lima jam, cahaya hitam itu masuk ke dalam tubuh Ling'er melalui telapak tangannya. Mata Ling'er yang tadinya coklat tua, kini berkilat ungu samar sesaat sebelum kembali normal.

Batu hitam itu retak menjadi debu.

Xiao Chen menarik tangannya. Wajahnya sedikit kaget, lalu tersenyum tipis.

"Menarik."

"Apa... apa yang terjadi, Bos Teh?" Ling'er terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat.

"Kau," kata Xiao Chen, "Bukan sampah seperti aku dulu. Kau adalah Tubuh Yin Iblis Murni. Tubuh yang dalam 10.000 tahun hanya muncul sekali. Tubuh yang paling dibenci oleh kultivator cahaya, tapi paling dicintai oleh energi jurang. Tidak heran kau bisa bertahan hidup di kota ini tanpa mati kelaparan. Energi yin di sekitarmu melindungimu tanpa kau sadari."

Ling'er tidak mengerti. "Apakah itu... bagus?"

"Itu sangat bagus, jika kau bertemu denganku. Itu sangat buruk, jika kau bertemu orang lain. Karena jika klan-klan besar tahu kau punya tubuh ini, mereka akan memburu dan menjadikanmu tungku kultivasi atau tumbal," kata Xiao Chen jujur. "Mulai hari ini, kau tidak boleh bilang ke siapa pun apa yang terjadi hari ini."

Dia mengambil sikat dan menulis sesuatu di udara dengan jarinya. Energi hitam membentuk tulisan-tulisan kuno yang melayang. Itu adalah teknik kultivasi yang dia ciptakan sendiri selama 1000 tahun di jurang, saat dia bosan dan mencoba mengubah energi iblis menjadi sesuatu yang bisa dipakai manusia.

Ini adalah *Kitab Teh Iblis - Bab Pemula*. Dia sengaja menamainya begitu agar tidak terlihat menakutkan.

"Ini adalah cara bernapas. Bukan cara kultivasi pedang atau tinju. Hanya cara bernapas dan cara menyeduh teh. Setiap kali kau menyeduh teh, kau bernapas seperti ini. Setiap kali kau menyapu, kau bernapas seperti ini. Mengerti?"

Ling'er mengangguk dengan mata berbinar, menghafal setiap tulisan yang melayang itu.

Sejak hari itu, Kedai Teh punya dua orang.

Di pagi hari, Xiao Chen menyeduh teh. Ling'er menyapu dan belajar bernapas. Di siang hari, Xiao Chen tidur siang di kursi bambunya. Ling'er berlatih mengendalikan hawa dingin di ujung jarinya untuk mendinginkan teh agar tidak terlalu panas.

Dalam tujuh hari, perubahan terjadi.

Demam adik Ling'er yang berusia 5 tahun, yang sudah dua minggu tidak sembuh meski diberi obat toko, sembuh hanya dengan Ling'er menempelkan tangannya yang dingin ke dahi adiknya. Hawa panas demam itu terserap.

Dalam empat belas hari, Ling'er yang dulu tidak bisa mengangkat karung beras 10 kilo, kini bisa mengangkat meja teh dengan satu tangan tanpa terengah.

Xiao Chen melihat semua itu tanpa banyak bicara. Dia hanya sesekali memperbaiki posisi napas Ling'er.

"Jangan buru-buru ingin memukul orang. Kuat yang pertama adalah kuat untuk tidak membiarkan tehmu tumpah saat ada yang menabrakmu," kata Xiao Chen suatu hari saat Ling'er mencoba memecahkan batu bata dengan tinjunya dan gagal.

Ling'er mengangguk patuh.

Di malam ke-15 setelah Ling'er menjadi murid, saat Ling'er sudah pulang ke gubuknya, Xiao Chen duduk sendirian di kedainya. Dia menatap ke arah pegunungan. Retakan yang dia tutup dengan hembusan angin 15 hari yang lalu, kini mulai bergetar lagi. Dia bisa merasakannya. Segel itu tidak akan bertahan lebih dari satu bulan lagi. Kali ini, yang keluar bukan lagi puluhan iblis kecil.

Yang akan keluar adalah sesuatu yang bahkan dia sendiri belum pernah lawan selama 1000 tahun. Sesuatu yang tidur di bawah Raja Iblis Mata Seribu.

Dia melirik ke arah gubuk Ling'er yang lampu minyaknya masih menyala. Gadis kecil itu sedang berlatih napas sambil menjaga adiknya yang tidur.

Xiao Chen tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam 1000 tahun, dia punya alasan untuk tidak membiarkan dunia hancur. Bukan karena klan, bukan karena tugas.

Tapi karena dia tidak ingin kedai tehnya yang baru saja punya pegawai pertama, harus tutup karena kiamat iblis.

"Sepertinya, hidup untuk diri sendiri itu... merepotkan juga," gumamnya sambil menyeruput tehnya yang sudah dingin. "Tapi tehnya tetap enak."

Di luar, angin malam membawa lolongan panjang dari arah jurang. Lolongan yang bahkan membuat anjing-anjing di Kota Batu Hitam berhenti menggonggong dan bersembunyi.

Bencana kedua akan segera datang. Dan kali ini, Xiao Chen tidak akan menghadapinya sendirian di kegelapan.

1
Abil Amar
alur ceritanya kmn ko g jlas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!