Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. DENDAM REGAN
Lantunan ayat suci menggema rendah di ruang tamu kediaman Pak Trisna yang sesak oleh warga. Aroma dupa dan sisa air mawar menyeruak ke udara, menciptakan suasana khidmat yang menyayat hati. Rahsya duduk bersila dengan punggung tegak, kepalanya sedikit menunduk mengikuti ritme tahlilan yang dipimpin oleh sesepuh desa.
Namun, di tengah kekhusyukan doa itu, Rahsya bisa merasakan sepasang mata yang menghunjam tajam ke arahnya bak belati. Di sudut ruangan, Regan duduk dengan wajah yang masih tampak lebam.
Pria itu sama sekali tidak fokus pada doa; matanya merah, penuh kilat amarah dan permusuhan yang tidak ditutup-tutupi. Sesekali Regan menggeser posisi duduk silanya sambil meringis kecil, meraba tulang keringnya yang masih dibalut perban tipis di balik celana panjangnya—sebuah pengingat pedih akan kekalahannya malam itu di hutan jati.
Rahsya menyadari sepenuhnya intimidasi tersebut. Dari sudut matanya, ia melihat jemari Regan yang mengepal kuat hingga gemetar di atas sarungnya.
Namun, sebagai pria yang terlatih mengendalikan emosi di meja operasi, Rahsya tetap tenang. Garis wajahnya tetap datar seolah-olah Regan hanyalah bagian dari dekorasi ruangan yang tidak berarti. Ia terus merapal doa dengan suara rendah, mengabaikan hawa panas yang dipancarkan oleh kobaran dendam pria di hadapannya.
Bagi Rahsya, kematian Rehan jauh lebih penting daripada ego Regan yang terluka. Ia terus bertanya-tanya dalam hati, apakah luka tragis di leher Rehan benar-benar perbuatan manusia, atau ada sesuatu yang lebih gelap yang sedang mengintai desa ini?
Selesai doa penutup, saat warga mulai bergeser untuk menikmati hidangan sederhana, Regan bangkit dengan bertumpu pada dinding rumah. Ia melangkah tertatih-tatih, sengaja memotong jalan Rahsya yang hendak beranjak keluar.
"Bagus ya, Dokter," desis Regan tepat di samping telinga Rahsya.
Suaranya terdengar parau dan penuh kebencian. "Habis menghajar kami, sekarang datang seolah-olah paling berduka. Jangan pikir gue lupa apa yang lo lakukan semalam."
Rahsya menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh perlahan, menatap mata Regan dengan sorot mata sedingin es yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
"Saya datang untuk menghormati orang tua kamu, bukan untuk meladeni kamu," jawab Rahsya tanpa nada tinggi sedikit pun, namun cukup tajam untuk membuat suasana di sekitar mereka mendadak hening seketika.
Rahsya melangkah lebar membelah kegelapan malam, mengabaikan aspal dingin yang menyentuh sandal jepitnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak amarah yang sempat terpancing oleh provokasi Regan.
Baginya, meladeni preman mabuk di rumah duka hanya akan merendahkan martabatnya sebagai seorang dokter lulusan kota besar.
"Pak, kita pulang sekarang!" ajak Rahsya singkat pada Pak Mamat. Suaranya tegas, tidak menerima bantahan apa pun.
"Iya, Den, sebentar," jawab Pak Mamat tergesa-gesa.
Ia menyempatkan diri bersalaman dengan Pak Trisna dan beberapa warga sebelum menyusul langkah majikannya yang sudah berada beberapa meter di depan.
Koko putih dan sarung bermotif batik yang dikenakan Rahsya berkibar-kibar tertiup angin malam yang mendadak terasa lebih tajam menusuk kulit. Pikirannya berkecamuk tidak keruan. Fakta bahwa Rehan tewas dengan cara yang begitu brutal tepat di malam yang sama setelah konfrontasi di hutan jati, mulai mengusik nalar medisnya.
'Gue rasa ada yang tidak beres di desa ini. Apa mungkin ada psikopat yang berkeliaran? Atau...'
Rahsya menghentikan batinnya sendiri, bergidik ngeri membayangkan luka decapitation atau pemutusan kepala yang diceritakan warga desa.
Secara medis, memutus kepala manusia membutuhkan tenaga luar biasa besar atau alat khusus yang sangat tajam. Melakukannya dalam sunyi di tepi telaga adalah hal yang hampir mustahil dilakukan manusia biasa tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
"Den Rahsya! Tunggu, Den! Langkahnya jangan cepat-cepat, kaki saya sudah pegal!" teriak Pak Mamat dari arah belakang.
Napasnya tersengal-sengal mencoba mengejar langkah panjang Rahsya yang seolah sedang dikejar setan.
Rahsya tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke arah jalan setapak yang hanya diterangi oleh lampu senter ponselnya.
Pepohonan jati di kanan-kiri jalan tampak seperti siluet raksasa yang sedang mengawasi tiap gerakannya. Aroma wangi melati yang samar kembali tercium oleh hidungnya, mengingatkannya pada Amel. Namun, kali ini aroma itu terasa jauh lebih pekat dan... sedikit busuk.
Rahsya mempercepat langkahnya lagi. Rasa hampa yang tadi sore ia rasakan kini sepenuhnya berganti menjadi kewaspadaan tinggi. Ia hanya ingin segera sampai di vilanya, mengunci pintu, dan memastikan malam terakhirnya di Desa Ci Sepi ini tidak berakhir menjadi sebuah tragedi baru.
****
Di dalam kamarnya, Rahsya mengerang frustrasi sambil mengacak-ngacak rambutnya yang sudah berantakan. Rasa bersalah dan memori "sentuhan bibir" tidak sengaja di dapur tadi siang terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
Ia bergerak gelisah di atas ranjang, mencoba segala macam posisi tidur—mulai dari tengkurap, menyamping ke kanan, menyamping ke kiri, telentang, bahkan sampai posisi menungging yang konyol—namun hasilnya tetap saja nihil.
Bayangan wajah Amel seolah-olah sudah tertempel permanen di pelupuk matanya, susah dihilangkan seperti coretan spidol permanen di atas papan tulis putih.
"Lupakan dia, Rahsya! Lo enggak boleh gila gara-gara bocah TikTok itu," gumamnya ketus, mencoba meyakinkan diri sendiri dengan suara parau.
Namun, usahanya sia-sia belaka. Sosok Amel yang berisik, menyebalkan, tapi sekaligus menggemaskan itu seolah-olah sudah meracuni pikirannya layaknya pelet tingkat tinggi. Setiap kali ia memejamkan mata, sensasi kelembutan yang hanya berlangsung beberapa detik itu kembali menyetrum saraf-saraf tubuhnya.
Rahsya akhirnya menyerah. Ia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan kasar, menyambar kaus ganti, lalu melangkah lebar menuju ke kamar mandi. Ia menyalakan keran wastafel dan membiarkan air dingin mengucur deras.
Dengan kedua tangan, ia membasuh wajahnya berkali-kali, berharap suhu dingin air pegunungan itu bisa memadamkan gejolak aneh di dadanya dan mengusir pikiran-pikiran mesum yang sedari tadi menghantuinya.
Ia mendongak, menatap bayangannya sendiri di cermin yang sedikit berembun. Napasnya memburu, sementara ujung hidung dan kedua telinganya masih memerah padam.
"Ingat, Rahsya... besok lo pulang ke Jakarta. Semua keegoisan ini selesai," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri, mencoba mencari kembali kewarasan seorang dokter yang biasanya dingin dan tidak tersentuh.
Di sela-sela kekacauan pikirannya itu, ada secercah rasa lega; setidaknya bayang-bayang Kinan—gadis yang ia puja sejak SMA—akhirnya mulai pudar, digantikan oleh... ah, ia tetap tidak mau menyebut nama gadis berisik itu lagi.
Tiba-tiba, udara di dalam kamar mandi berubah secara drastis. Sebuah hembusan angin dingin yang menusuk tulang terasa menyapu tengkuk lehernya.
Rahsya tersentak hebat, refleks menoleh ke belakang dengan mata membelalak lebar. Pikirannya langsung melayang pada kasus kematian Rehan. Sebagai dokter yang logis, ia sebenarnya lebih takut pada psikopat dengan pisau bedah daripada makhluk halus.
"Hantu enggak bisa memotong leher orang secara presisi. Itu pasti kerjaan manusia," gumamnya meyakinkan diri, meskipun tangannya sedikit gemetar saat meraih handuk.
"Cuma perasaan gue saja... mungkin."
****
Sementara itu, di pos ronda yang jaraknya tidak jauh dari pagar vila, suasana justru jauh dari kata mistis. Empat orang pria—tiga di antaranya memiliki struktur wajah yang lebih cocok menjadi tokoh antagonis di film aksi—sedang berkumpul di bawah cahaya api unggun yang meliuk-liuk ditiup angin.
Pak Udin, Pak Anwar, dan Pak Dahlan adalah barisan mantan preman pasar yang sudah bertobat menjadi petani, ditemani oleh Jaka, pemuda satu-satunya yang wajahnya masih aman dipandang mata.
"Aduh, bulu kuduk saya kok tiba-tiba berdiri semua begini, ya?" ucap Pak Udin sambil menggosok tengkuk lehernya yang mendadak terasa beku.
Pak Dahlan yang sedang sibuk menusuk-nusuk kayu api unggun menoleh sekilas. "Ya jelas dingin, Pak Udin. Tengkuk Bapak kan lagi di-AC-in sama Pak Anwar di belakang."
Pak Udin tersentak kaget. Benar saja, saat ia menoleh ke belakang, Pak Anwar tengah asyik memegang sebuah kipas angin elektrik kecil berwarna merah muda milik anaknya, menodongkan baling-balingnya tepat ke arah tengkuk Pak Udin.
"Bapak ngapain bawa-bawa kipas mainan ke sini?" semprot Pak Udin, hampir saja melempar sarungnya karena kesal. "Orang sudah kedinginan begini! Kenapa enggak sekalian saja bawa kulkas dua pintu ke sini, Pak!"