NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 4 : Rumah Tanpa Nama

Tiga minggu setelah pernikahan, Carlo membawa Andien ke kota.

Bu Rukmini melepas mereka di teras gubuk, tubuhnya sudah jauh lebih berisi dan batuknya hampir hilang. Ia memeluk putrinya lama, terlalu lama, seperti orang yang tahu pelukan itu tak akan terulang dalam bentuk yang sama.

"Jaga dirimu, Nduk. Kalau ada apa-apa, pulang. Pintu ini selalu terbuka."

"Dien cuma ke kota, Bu. Bukan ke ujung dunia."

"Bagi Ibu, kota itu ujung dunia."

Andien tertawa, tetapi matanya basah. Di dalam mobil hitam yang melaju menjauhi Karang Sewu, ia menoleh ke belakang sampai gubuk itu mengecil, lalu lenyap di balik pohon-pohon randu.

Carlo menggenggam tangannya. "Kita akan sering pulang."

"Janji, Mas?"

"Janji."

Andien tak tahu bahwa itu adalah janji pertama dari sekian banyak yang akan patah.

---

Kota menyergapnya dengan segalanya sekaligus: gedung-gedung yang menjulang seperti tebing kaca, klakson yang bersahutan, lautan manusia yang berjalan tanpa saling menatap. Andien menempelkan keningnya ke jendela mobil, takjub dan sedikit takut.

Mobil itu tak masuk ke kawasan gedung-gedung. Ia melewati gerbang besi yang membuka otomatis, menyusuri jalan beraspal di antara pohon-pohon palem yang rapi, dan berhenti di depan sebuah rumah putih bertingkat dua dengan taman luas dan air mancur kecil di tengahnya.

"Ini... rumah Mas?"

"Bukan." Carlo turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya. "Ini paviliun milik keluarga temanku. Kamu akan tinggal di sini untuk sementara."

"Sementara?"

"Sampai keadaan aman. Aku tidak bisa tinggal bersamamu, Dien. Belum. Kamu mengerti, kan? Musuhku bisa mengawasi rumahku."

Andien mengangguk pelan. Kata-kata itu masuk akal. Selalu masuk akal.

Rumah itu hanya berpenghuni seorang perempuan paruh baya bernama Bu Wati, pengurus rumah yang menyambut mereka dengan senyum sopan dan mata yang tak pernah benar-benar menatap Andien. Kamarnya luas, dengan ranjang besar berseprai putih, lemari kayu jati, dan jendela yang menghadap taman.

Terlalu bagus. Terlalu sepi.

"Mas akan sering datang?"

"Setiap kali bisa." Carlo mengecup keningnya. "Telepon di nakas itu langsung terhubung denganku. Jangan keluar tanpa kabar. Jangan bicara dengan orang asing. Dan, Dien..."

"Iya, Mas?"

"Kalau ada yang bertanya, kamu keponakan Bu Wati dari desa. Jangan sebut namaku."

Andien terdiam sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, kecil seperti kerikil di dalam sepatu, tetapi cukup untuk terasa di setiap langkah.

"Baik, Mas."

Carlo pergi sebelum makan malam.

---

Hari-hari pertama Andien lalui dengan menunggu. Ia membantu Bu Wati menyapu, menyiram tanaman, dan memasak, tetapi perempuan itu selalu menolak dengan halus. "Nyonya... eh, Mbak tidak perlu repot."

"Panggil Andien saja, Bu."

"Tidak pantas, Mbak."

Andien tak mengerti mengapa ia dipanggil "Mbak" oleh orang yang jauh lebih tua, dan mengapa Bu Wati selalu menghindar bila ia bertanya tentang pemilik rumah. Tetapi ia tak mendesak. Orang desa diajari untuk tidak banyak bertanya di rumah orang.

Carlo datang tiga kali dalam dua minggu, selalu malam hari, selalu terburu-buru. Ia membawa makanan, kain, dan sebuah ponsel kecil untuk Andien. Ia memeluknya erat, kadang terlalu erat, seperti orang yang mencari pegangan. Tetapi matanya sering menerawang, dan ponselnya terus bergetar di saku.

"Mas capek?"

"Sedikit. Urusan kantor."

"Mas kerja apa sebenarnya?"

Carlo terdiam sedetik. "Bisnis. Keluarga. Rumit."

"Katanya Mas tidak punya keluarga."

"Maksudku, bisnis warisan." Ia tersenyum dan mencubit pipinya. "Jangan pikirkan itu. Kamu tinggal tunggu saja. Beberapa bulan lagi, semuanya akan selesai."

Andien mengangguk. Ia belajar mengangguk dengan lebih sering dari yang ia kira.

---

Pada minggu keempat, Andien tak tahan lagi.

Ia sudah memetakan jalan di sekitar rumah dari jendela. Ada halte bus di ujung jalan, dan toko kecil di seberang. Ia ingin membeli benang untuk menyulam, kebiasaan lamanya di desa. Hanya itu. Lima belas menit saja.

"Mbak mau ke mana?" Bu Wati muncul di dapur dengan wajah cemas.

"Ke toko, Bu. Cuma sebentar."

"Tuan Carlo bilang..."

"Cuma lima belas menit." Andien tersenyum, mencoba meyakinkan. "Saya akan hati-hati."

Bu Wati tak menjawab. Ia hanya menatap Andien dengan sorot yang tak bisa dibaca, antara iba dan takut.

Di luar, matahari sore terasa hangat. Andien berjalan menyusuri trotoar dengan kebaya sederhana dan rambut dikepang satu, merasa seperti anak kecil yang membolos dari sekolah. Ia membeli benang merah dan biru, lalu mampir sebentar di warung kecil untuk membeli es teh.

Ia sedang menyeberang jalan saat sebuah mobil putih berhenti mendadak di depannya.

Klakson berbunyi panjang. Andien terlonjak mundur, jantungnya hampir copot. Pintu mobil terbuka, dan keluar seorang perempuan berblus abu-abu rapi dengan jas putih tersampir di lengan.

"Maaf, maaf! Kamu tidak apa-apa?"

Perempuan itu cantik, dengan jenis kecantikan yang tenang dan terkendali. Rambutnya disanggul rendah, kulitnya bersih, dan sepasang mata cokelat tuanya menatap dengan kecemasan yang tulus. Di dadanya tersemat tanda pengenal: *dr. Laras Prameswari, Sp.PD.*

"Saya tidak apa-apa, Bu."

"Kamu pucat sekali. Biar saya periksa." Laras sudah memegang pergelangan tangan Andien, dua jarinya menekan nadi dengan cekatan, seolah itu gerakan yang sudah menjadi refleks. "Napasmu cepat, tapi nadinya normal. Kamu hampir saja ketabrak. Duduk dulu di sini sebentar."

"Tidak usah, Bu, saya..."

"Tidak apa-apa. Saya dokter." Laras tersenyum, hangat dan tak dibuat-buat. "Kebetulan baru pulang dinas. Kamu tinggal di sekitar sini?"

Andien ragu. Ucapan Carlo bergema di kepalanya: *keponakan Bu Wati dari desa.*

"Saya... menumpang di rumah bibi saya. Di ujung jalan itu."

"Oh, rumah putih itu?" Alis Laras terangkat sedikit. "Itu rumah milik..." Ia berhenti, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Ah, bukan urusan saya. Siapa namamu?"

"Andien, Bu."

"Andien. Nama yang cantik." Laras mengeluarkan kartu nama dari tas dan menyodorkannya. "Kalau kamu pusing atau mual setelah ini, hubungi saya. Saya serius."

Andien menerima kartu itu dengan kedua tangan, terharu oleh kebaikan perempuan yang baru ia temui. Disaat mata Laras menunduk pada tangan Andien yang memegang kartu, ia melihat sesuatu yang membuat senyumnya sedikit meredup.

Cincin emas sederhana di jari manis Andien.

"Kamu sudah menikah?"

"I-iya, Bu." Andien refleks menyembunyikan tangannya. "Baru sebentar."

"Selamat." Laras tersenyum lagi, tetapi ada jeda yang aneh sebelum kata itu keluar. "Suamimu pasti orang yang beruntung."

Perempuan itu kembali ke mobilnya, melambai singkat, dan melaju pergi. Andien memandangi punggung mobil itu, hangat oleh pertemuan singkat tadi.

Ia tak tahu bahwa di balik kemudi, Laras menggenggam setir lebih erat dari seharusnya. Matanya menatap spion, ke arah rumah putih di ujung jalan, rumah yang ia kenal betul.

Rumah yang selama ini ia kira kosong.

---

Malam itu, Andien duduk di tepi ranjang dengan kartu nama di tangan, menimbang apakah akan menceritakannya pada Carlo. Ia menimbang, lalu memutuskan: tidak. Carlo pasti marah karena ia keluar rumah.

Pukul sebelas, telepon di nakas berdering. Andien mengangkatnya dengan senyum.

"Mas?"

"Dien." Suara Carlo terdengar tegang. "Kamu keluar rumah tadi sore?"

Senyum Andien lenyap. "Dari mana Mas tahu?"

"Bu Wati melapor." Ada jeda yang panjang. "Aku sudah bilang jangan keluar. Kenapa tidak dengar?"

"Cuma beli benang, Mas. Lima belas menit."

"Kamu bicara dengan siapa?"

Dada Andien mencelos. Pertanyaan itu terlalu tajam, terlalu cepat. Bukan pertanyaan suami yang khawatir, melainkan pertanyaan orang yang takut sesuatu terbongkar.

"Tidak ada, Mas," bisiknya. "Saya cuma beli es teh."

Hening di ujung sana. Lalu embusan napas panjang, dan suara Carlo yang melunak, terlalu cepat melunak.

"Maaf, Dien. Aku hanya khawatir. Kamu tahu musuhku, kan? Jangan keluar lagi sampai aku izinkan. Mengerti?"

"Mengerti, Mas."

Sambungan terputus.

Andien menatap telepon itu lama. Lalu pelan-pelan ia membuka laci nakas dan menyelipkan kartu nama Laras di bawah tumpukan benang sulam.

Ia tak tahu mengapa ia menyembunyikannya. Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya sejak menjadi istri Carlo, ada sesuatu yang ia simpan sendiri.

Dan di seberang kota, di ruang kerja rumah megah berpagar tinggi, Carlo meletakkan ponsel dengan tangan gemetar. Di belakangnya, pintu terbuka pelan.

"Siapa yang menelepon selarut ini?"

Carlo menoleh. Laras berdiri di ambang pintu, masih mengenakan blus abu-abu yang sama, wajahnya tenang tanpa ekspresi.

"Urusan kantor," jawab Carlo. Senyumnya sempurna.

Laras mengangguk pelan. Matanya menatap suaminya sejenak, dalam dan lama, seperti dokter yang sedang membaca hasil laboratorium yang tak sesuai harapannya.

"Begitu," katanya lembut. "Ayo makan, Mas. Sudah larut."

Ia berbalik dan pergi. Tak satu pun dari mereka mengatakan apa yang sama-sama mereka ketahui: bahwa sesuatu telah retak.

---

*Bersambung ke Bab 5...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!