Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 15.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Lingga. Di bawah langit siang yang terik, di atas rooftop yang sepi, cowok misterius itu menghabiskan isi kotak bekal tersebut sendirian sampai tidak ada satu butir nasi pun yang tersisa.
Bagi orang lain, tindakan Lingga mungkin tidak masuk akal atau bahkan terlihat aneh. Namun bagi Lingga, makanan yang dibuat dengan ketulusan tidak pernah layak berakhir di tempat sampah. Dan entah mengapa, melihat kotak bekal itu kosong memberikan kepuasan tersendiri di dadanya.
Lingga menutup kembali kotak biru muda itu hingga berbunyi klik.
Ia memasukkannya ke dalam tas ransel hitamnya yang agak longgar, berniat menyimpannya terlebih dahulu.
Dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa, ia berjalan turun untuk kembali ke kelas nya.
Sampai di kelas 12 A yang siang itu terasa seperti oven raksasa.
Lingga berjalan pelan, hampir tanpa suara, menyusuri deretan meja kayu. Langkah kakinya mandek tepat di depan meja Stella.
Dari dalam tas hitamnya yang tampak usang, cowok itu mengeluarkan sebuah kotak makan milik Stella.
Kotak itu bersih, kosong, seolah tidak pernah menyisakan jejak apa pun di dalamnya.
Lingga menatap kotak itu selama beberapa detik. Guratan tipis di wajahnya yang biasa datar dan tak terbaca, sesaat melunak.
Namun, sedetik kemudian, ekspresinya kembali mengeras menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dia merogoh saku seragamnya, mengambil selembar kertas memo kecil dan sebuah pulpen. Dengan tulisan tangan yang cakar ayam namun tegas, dia menggoreskan beberapa kata di sana. Lingga menempelkan memo itu di atas tutup kotak makan, meletakkannya tepat di tengah meja Stella, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Di atas kertas kuning itu tertulis: "Masakanmu keasinan, tapi lumayan."
Setengah jam kemudian, lorong sekolah mulai bising oleh derap langkah kaki dan candaan khas anak remaja. Stella berjalan memasuki kelas bersama Rara. Keduanya baru saja kembali dari koperasi sekolah untuk membeli air mineral. Stella masih tampak murung. Matanya agak sembab, sisa dari kejadian tidak mengenakkan barusan.
"Sudahlah, Stel. Nggak usah dipikirkan lagi kelakuan Gibran. Cowok kayak dia itu emang nggak tahu diuntung," hibur Rara sambil merangkul pundak Stella seperti biasa.
Stella hanya tersenyum tipis, mencoba menghargai usaha sahabatnya. "Gue cuma nggak habis pikir aja, Ra. Kalau dia nggak suka, kenapa harus dibuang di tempat sampah depan gue? Gue kan masaknya bangun subuh-subuh."
"Makanya, anggap aja itu cara Tuhan buat nunjukin kalau dia emang brengsek," sahut Rara gemas.
Begitu mereka tiba di depan meja Stella, langkah Stella mendadak terkunci.
Matanya melebar menatap benda merah muda yang tergeletak manis di atas mejanya. Rara ikut mematung di sampingnya.
"Lho? Stel, itu kan... kotak makan lu yang di buang ga sih?" Rara menunjuk dengan jari gemetar. "Bukannya lu belum ngambil dari tong sampah koridor?"
Stella tidak menjawab. Jantungnya berdegup lebih kencang saat dia melangkah mendekat. Dia mengambil kotak makan itu, membukanya dengan tangan agak gemetar. Bersih.
Tidak ada sisa nasi goreng yang dia buat dengan susah payah. Padahal, dia ingat betul Gibran melempar kotak itu dalam keadaan tertutup rapat ke dalam tempat sampah.
Bagaimana bisa kotak ini kembali ke sini? Siapa yang memungutnya dari tempat sampah? Dan yang paling membuat otaknya berputar keras, siapa yang memakan isinya sampai habis?
Pandangan Stella kemudian jatuh pada memo kuning yang menempel di tutupnya. Dia membaca tulisan itu dalam hati. Masakanmu keasinan, tapi lumayan.
Stella mengerutkan kening. Keasinan? Memang iya? Kemarin dia bahkan belum sempat mencicipinya dengan benar karena terburu-buru. Namun, fokusnya langsung teralihkan oleh satu pertanyaan besar
Siapa orang misterius yang mau-maunya memakan makanan dari tempat sampah dan mengembalikannya dengan pesan se-kasual ini?
Rara ikut mengintip memo tersebut. "Siapa yang nulis, Stel? Nggak ada namanya. Tapi tunggu... kotak ini bersih banget. Jangan-jangan ada jin penunggu sekolah yang kelaparan?"
"Nggak mungkin, Ra. Jangan ngaco," bisik Stella. Matanya mengedar ke sekeliling kelas yang mulai ramai.
Beberapa temannya sedang sibuk bergosip, ada yang sibuk menyalin tugas, dan ada yang bermain ponsel. Tidak ada satu pun dari mereka yang tampak mencurigakan.
Sampai akhirnya, pandangan Stella terhenti pada sudut paling belakang kelas.
Di pojok kanan, dekat jendela yang menghadap ke pohon mahoni, seorang cowok sedang melipat kedua tangannya di atas meja, menjadikannya bantal untuk bertumpu.
Entah mengapa, ada dorongan kuat dalam diri Stella yang menunjuk ke arah Lingga.
Tanpa memedulikan panggila Rara, Stella melangkah tegas menuju bagian belakang kelas. Setiap langkahnya terasa berat, diselimuti oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus rasa tidak percaya.
Masa iya, cowok sedingin Lingga yang bahkan tidak pernah bicara pada siapa pun, memungut kotak makannya dari tempat sampah?
Stella berhenti tepat di samping meja Lingga. Cowok itu masih bergeming dengan posisi tidurnya, menyembunyikan wajahnya di balik lengan seragam yang digulung asal-asalan.
"Lingga," panggil Stella pelan, namun cukup tegas untuk memecah keheningan di sudut itu.
Tidak ada respons.
Stella menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk meja kayu itu dua kali dengan jemarinya. "Lingga, gue tahu lu nggak tidur. Tolong bangun sebentar." Katanya dengan nada melembut.
Perlahan, tubuh tegap itu bergerak. Lingga mengangkat kepalanya dari tumpuan lengan. Rambut hitamnya sedikit berantakan, jatuh di dahi dan hampir menyentuh pelupuk matanya. Dia menegakkan punggung, bersandar pada sandaran kursi besi dengan gerakan yang sangat santai, seolah kehadiran Stella sama sekali tidak mengusik ketenangannya.
Stella menatap langsung ke dalam manik mata cowok itu. "Ini kelakuan lu kan?" Stella mengangkat kotak makan dan memo kuning itu ke udara, tepat di depan wajah Lingga. "Lu yang ambil ini dari tempat sampah? Lu yang makan?"
Lingga tidak langsung menjawab. Dia hanya diam menatap Stella. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa senyap, terisolasi dari kebisingan anak-anak lain di depan kelas. Tatapan mata Lingga yang biasanya sedingin es dan menusuk, perlahan memancarkan sesuatu yang lain.
Ada kehangatan tersembunyi yang samar, sebuah kilatan kasih sayang yang begitu tipis namun nyata, seolah dia memahami betul betapa hancurnya perasaan Stella akibat perlakuan Gibran.
Stella menunggu sebuah pengakuan, atau setidaknya satu kata kalimat pembelaan dari bibir cowok itu. "Jawab, Lingga. Jangan diam aja."
Namun, Lingga tetaplah menjadi Lingga.
Dia tidak membuka suaranya sedikit pun. Alih-alih berbicara, cowok misterius itu hanya menggelengkan kepalanya perlahan, sekali, menyangkal dengan cara yang paling halus. Gerakan kepalanya begitu tenang, namun matanya yang dalam terus mengunci pandangan Stella, menyampaikan pesan tersirat yang tidak mampu diucapkan oleh kata-kata,
Iya itu gue, tapi syukurlah kalau lu sudah tidak sedih lagi.
Setelah gelengan kepala itu, Lingga kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap daun-daun mahoni yang bergerak ditiup angin pagi, meninggalkan Stella yang terpaku di tempatnya dengan seribu pertanyaan baru yang semakin mengakar di kepalanya.
......................
...****************...
Tbc,