Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Utusan Wilayah Tengah & Bangkitnya Leluhur Tua Gu Xuan
Sementara Lin Xuan dan Tetua Mo Chen menempa kekuatan di balik kabut Makam Seribu Pedang, suasana di Puncak Utama Sekte Pedang Awan Biru justru diliputi ketegangan yang mencekam.
Empat hari menjelang hari pembukaan Turnamen Tujuh Sekte Wilayah Timur, di sebuah aula rahasia di bawah tanah Puncak Utama yang dipenuhi formasi pengumpul Qi, Ketua Sekte Gu Tianheng dan Gu Changge sedang berlutut dengan penuh hormat di depan sebuah pintu batu kuno yang tertutup debu puluhan tahun.
BOOOOOOOOM!
Pintu batu kuno itu meledak terbuka dari dalam!
Seorang kakek kurus kering berjubah emas tua dengan rambut dan alis seputih salju melangkah keluar sambil menginjak awan Qi emas padat di bawah kakinya. Tekanan spiritual yang memancar dari tubuh kakek tua itu dua kali lipat lebih berat dan menakutkan dibandingkan Gu Tianheng—karena ia adalah Leluhur Tua Sekte Pedang Awan Biru, Gu Xuan, yang telah berada di Ranah Inti Emas Tingkat Menengah selama lima puluh tahun!
"Ayah! Anda akhirnya keluar dari pertapaan!" Gu Tianheng bersujud dengan wajah lega bercampur geram.
Mata tua Leluhur Gu Xuan menyapu wajah Gu Tianheng dan cucunya, Gu Changge, dengan kilatan dingin yang mengerikan. "Tianheng! Aku baru menutup diri selama tiga tahun untuk mencoba menembus Inti Emas Tingkat Akhir, tapi saat kau membangunkanku hari ini, kau memberitahuku bahwa enam tetua sekte kita—termasuk Han Tua—telah mati dibunuh, Paviliun Harta kita habis dijarah dan dibakar, dan pelakunya adalah seorang bocah tujuh belas tahun yang Akar Spiritualnya baru saja kalian cabut dua minggu lalu?!"
"Maafkan ketidakbecusan saya, Ayah!" Gu Tianheng menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Bocah Lin Xuan itu mewarisi pusaka iblis yang sangat aneh dari dasar jurang dan kini bersembunyi bersama Mo Chen di dalam Makam Seribu Pedang! Dia bahkan bersumpah akan datang mengacau di panggung Upacara Pengangkatan Putra Suci dan Turnamen Tujuh Sekte empat hari lagi!"
"Hmph! Berani mengacau saat ada Kakek Tua ini?" Leluhur Gu Xuan mendengus dingin, namun kemudian ekspresinya berubah hormat saat menoleh ke arah kursi kehormatan di sisi kanan aula. "Apalagi hari ini, kita kedatangan tamu agung dari Wilayah Tengah!"
Di kursi kehormatan yang berlapis kulit harimau salju di sisi aula tersebut, duduk seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang mengenakan jubah perak mewah bersulam tujuh bintang emas. Di punggungnya tergantung sebilah pedang giok bintang, dan di sekeliling tubuhnya berputar aura yang sangat pekat—seorang jenius dari Sekte Pedang Bintang Wilayah Tengah yang berada di tingkat Pembangunan Fondasi Lapisan Kesembilan Puncak Sempurna!
Pemuda itu adalah Utusan Muda Ling Xiao.
Gu Changge segera membungkuk hormat dengan senyum menjilat ke arah Ling Xiao. "Kakak Senior Ling Xiao, terima kasih telah jauh-jauh datang dari Wilayah Tengah untuk menjadi saksi pengangkatanku sebagai Putra Suci sekaligus menguji bakat Akar Spiritual Pedang Murni di tubuhku agar aku bisa dibawa masuk ke Sekte Pedang Bintang!"
Ling Xiao menyesap tehnya dengan tatapan mata yang angkuh—di matanya yang berasal dari sekte raksasa Wilayah Tengah, seluruh sekte di Wilayah Timur ini tidak ubahnya seperti sekumpulan penduduk desa terpencil.
"Gu Changge, Akar Spiritual Pedang Murni yang baru kau tanamkan di tubuhmu itu memang lumayan untuk ukuran daerah terpencil seperti Wilayah Timur ini," ujar Ling Xiao datar. "Namun saat aku memeriksa tubuhmu tadi, aku merasakan bahwa esensi asli dari akar pedang itu belum sepenuhnya menyatu dengan jiwamu karena pemilik aslinya masih hidup."
Mata Ling Xiao berkilat penuh ketertarikan saat melanjutkan: "Dan dari cerita kalian tentang bocah bernama Lin Xuan itu—yang mampu menembus Pembangunan Fondasi dengan fenomena langit Naga Emas dan Gagak Hitam serta membunuh kultivator Setengah Langkah Inti Emas dari Lapisan Keempat—jelas pusaka yang dia dapatkan di dasar jurang itu bukanlah barang sembarangan! Bisa jadi itu adalah Pusaka Kuno dari Zaman Perang Senja!"
Wajah Leluhur Gu Xuan dan Gu Tianheng langsung berbinar licik!
"Utusan Muda Ling Xiao berkata sangat tepat!" kata Leluhur Gu Xuan cepat. "Empat hari lagi, saat bocah Lin Xuan itu berani keluar dari Makam Seribu Pedang dan muncul di alun-alun Turnamen Tujuh Sekte, kita akan membiarkan dia masuk ke dalam perangkap di depan umum! Begitu dia mati, pusaka kuno di tubuhnya akan kami persembahkan sepenuhnya untuk Utusan Muda Ling Xiao, sedangkan kami hanya meminta nyawanya dan esensi darahnya untuk menyempurnakan Akar Pedang di tubuh Changge!"
"Bagus," Ling Xiao tersenyum dingin sambil meletakkan cangkir tehnya. "Dengan adanya diriku di panggung generasi muda, dan adanya kalian dua kultivator Ranah Inti Emas di belakang layar... bahkan jika bocah Lin Xuan itu memiliki sayap emas sekalipun, empat hari lagi alun-alun Puncak Awan Biru akan menjadi kuburannya.
kalo bisa alur ceritax dibuat liku2 jgn baru 100 chapter sudah sampai di alam atas...buat panjang ceritax....