Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi Kasmaran
Bapaknya Kenzie: Sweet dreams, Ara.
Rania membulatkan mata membaca pesan dari Arkan. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat, dan pria itu tiba-tiba mengirim pesan. Apa Arkan kira Rania masih terjaga di jam segini? Atau... memang sengaja ingin mengirim pesan?
Kebetulan Rania memang belum tidur karena sedang menonton drama Korea. Ia bisa begadang kalau sudah asyik menonton drakor.
"Balas nggak, ya." gumamnya pelan. Ia menimbang sejenak, tapi akhirnya memutuskan untuk membalas.
Rania: Ya.
Tak butuh waktu lama, pesan balasan dari Arkan langsung masuk.
Arkan: Kenapa belum tidur?
Rania: Nonton drakor.
Datar. Cuek. Memang begitulah gaya Rania kalau berkirim pesan.
Arkan: Udah malam. Tidur dulu. Lanjut besok.
Rania: Kok ngatur?
Arkan: Bukan ngatur. Nyuruh.
Rania membaca pesan itu sambil mengerutkan kening. Tangannya bahkan sempat berhenti mengambil keripik dari mangkuk.
Rania: Duh, siapa kamu nyuruh-nyuruh?
Arkan: Calon imam kamu.
Rania nyaris tersedak keripik. Tangannya refleks melempar bantal ke layar televisi.
"Apa sih, nih orang!" desisnya, pipinya mulai hangat sendiri.
Tapi entah kenapa, senyum kecil malah mengembang di wajahnya. Ditatapnya layar ponsel beberapa detik sebelum akhirnya mengetik balasan.
Rania: Mimpi kali, Pak Duda.
Arkan: Kalau mimpi, jangan bangun. Biar terus sama kamu.
Rania langsung menutup ponselnya dan melemparnya ke ujung tempat tidur. "Gila, sih. Gila..." gumamnya sambil menutup wajah dengan bantal. Tapi senyum itu, tidak bisa ia sembunyikan.
Rania menarik napas panjang, berusaha menenangkan degup jantungnya yang mulai tak karuan. Tapi rasa penasaran menang, tangan nya akhirnya meraih kembali ponsel di ujung kasur.
Pesan terakhir dari Arkan masih terbuka.
Rania menggigit bibirnya, mengetik cepat:
Rania: Gombalnya orang tua gak banget. Jangan sampe aku mual.
Arkan: Gapapa. Nanti dipuk-puk.
Rania menahan napas. Matanya membulat.
"GILAAAA!!" bisiknya pelan, refleks menutup wajah dengan kedua tangan.
Layar ponsel kembali menyala.
Arkan: Udah, tidur. Beneran. Besok saya jemput. Lunch sekalian jemput Kenzie.
Rania diam. Tidak langsung membalas. Ia meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit kamarnya yang remang.
Perasaannya campur aduk. Tapi yang paling dominan: deg-degan dan... senang. Gak bisa dipungkiri.
Ponselnya kembali menyala.
Arkan: Sweet dreams, calon maminya Kenzie.
Rania langsung menarik selimut sampai ke atas kepala.
"Gak bisa begini... Gak bisa begini..." bisiknya sendiri.
Tapi senyum itu....ah, tetap mengembang di wajahnya sampai akhirnya tertidur.
Pagi itu, Rania sudah duduk di meja makan sambil tersenyum-senyum sendiri. Pandangannya terpaku ke gelas susu di depannya seolah gelas itu baru saja membisikkan lelucon paling lucu.
Galang, yang baru turun dari kamarnya, melirik heran. Ia menghampiri dapur, lalu mendekati Mbok Darmi yang sibuk menyusun sarapan.
"Mbok, emang di gelas susu itu ada apanya, sih? Tanteku dari tadi natap gelas sambil cengengesan. Jangan-jangan... gila, Mbok." bisiknya penuh curiga.
"Nggak boleh ngomong begitu sama tantenya, Den Galang." tegur Mbok Darmi sambil tetap fokus pada pekerjaannya.
Galang mendengus pelan. Tapi rasa penasarannya sudah terlanjur besar. Ia melongokkan kepala ke arah Rania yang masih saja tersenyum sendiri tanpa sadar sedang diamati.
"Edan..." gumam Galang, kemudian dengan sigap mengambil ponselnya dan merekam diam-diam.
"Cepu in ke mama, ah."
Setelahnya, ia langsung mengirimkan video itu ke mamanya.
Klunting.
Mama Cantikku: Kenapa tantemu, Galang?
Galang: Kebanyakan halu kayaknya, Ma. Apa Galang daftarin ke RSJ aja, ya?
Mama Cantikku: Hus, ngawur! Mungkin tantemu lagi kasmaran.
Galang mengerutkan dahi, berpikir keras.
"Kasmaran? Sama siapa?" gumamnya. Lalu wajahnya berubah serius. Matanya melebar.
"Eh... jangan-jangan?" Ia buru-buru membekap mulut sendiri sambil menggeleng cepat. "Gak mungkin... GAK MUNGKIN..."
"Jangan bilang... tante Rania beneran kepincut daddy-nya Zidan." gumam Galang pelan, wajahnya penuh kekhawatiran.
Ia menatap Rania yang kini sibuk mengaduk susu sambil tersenyum sendiri seolah dunia sedang baik-baik saja. Sementara di kepala Galang, alarm tanda bahaya sudah meraung-raung.
"Gawat ini... kalau beneran... gimana ngomong sama Pakde Aryo." desisnya dramatis, sambil memegangi jidat sendiri.
Galang mencoba mengetes, "Tante Rania..."
Belum sempat lanjut, Rania langsung menoleh. "Kenapa?"
"Minta uang jajan." jawab Galang asal, padahal niat aslinya cuma mau ngetes seberapa fokus tantenya yang dari tadi senyum-senyum sendiri.
"Nanti tante transfer." balas Rania santai, tanpa ragu sedikit pun.
Galang melongo. Lah, semudah itu? Ini tante udah beneran nggak fokus kayaknya.
Lagipula, Rania juga masih sering dapat kiriman dadakan dari mamanya Galang biasanya tanpa pemberitahuan. Mungkin itu salah satu alasan kenapa dia begitu royal sama keponakan satu ini.
...****************...
Siang harinya.
Rania: Aku lagi jalan sama Karina. Lewat sekolah Kenzie kayaknya. Mau sekalian aku jemputin Kenzie, nggak?
Arkan membaca pesan itu sambil meneguk kopi. Ia baru saja menyelesaikan rapat di kantor Axel.
Arkan: Kenapa sama Karina? Saya sudah bilang mau jemput kamu dan makan siang bareng, kan?
Balasnya cepat, agak kesal.
Rania: Ada aku bilang iya? Lagian tidak tiap hari aku sama Karina. Kebetulan saja dia lagi libur. Kalau mau, kita makan siang bareng Karina juga. Tapi kalau tidak, ya sudah. Kamu makan sendiri saja.
Arkan menghela napas panjang. Gagal sudah rencananya untuk membuat Rania terbawa perasaan siang itu.
Ia melirik ke Axel yang duduk di sebelah.
"Axel, ikut makan siang? Saya mau ketemu Rania. Dia sama temannya."
Axel mengangguk malas. "Hm. Boleh. Nathan, gimana?"
"Ikutlah. Mana mungkin saya tinggalkan." Jawab Arkan sambil meraih jasnya.
Nathan yang sejak tadi duduk di sofa hanya geleng-geleng. "Kita diajak cuma karena Rania lagi bareng temannya. Kalau tidak, mana mungkin kita diseret-seret."
Sementara itu, Rania memutuskan sekalian menjemput Kenzie dari sekolah. Arkan sebelumnya sudah menghubungi pihak sekolah untuk memberitahu bahwa hari ini Rania yang akan menjemput putranya.
Kenzie langsung berlari kecil begitu melihat Rania di gerbang sekolah. Wajahnya cerah dan senyumnya merekah.
"Tante Raniaaa!" Serunya senang, lalu memeluk Rania erat.
Rania ikut tersenyum, membungkuk menyambut pelukan Kenzie. "Hai, Cil. Sudah selesai sekolah, ya?"
Kenzie mengangguk semangat. "Hari ini belajar gambar, loh! Kenzie gambar rumah sama pohon."
"Wah, keren sekali! Nanti tunjukin ke tante gambarnya ya, kita makan siang dulu." Ajak Rania.
"Yay! Makan!" Seru Kenzie senang.
Karina hanya menggeleng pelan melihat keakraban itu. "Tante manis sekali, deh. Sudah kayak emaknya anak orang."
Rania hanya menolak dan mencibir manja. "Biasa saja kali, Karina."
Mereka pun melanjutkan perjalanan, menuju restoran tempat Arkan dan dua rekan lakinya sudah lebih dulu menunggu.
Di restoran.
"Calon bini sama anak lu datang, Arkan." Ujar Nathan sambil menyenggol lengan Arkan dan menganggukkan dagunya ke arah pintu masuk.
Arkan menoleh dan tersenyum tipis saat melihat Rania masuk, menggandeng tangan Kenzie yang membawa tas kecil di punggungnya.
Ia sengaja memilih meja di area umum restoran, bukan ruang privat. Ia tahu Kenzie lebih senang melihat suasana ramai dan berinteraksi dengan sekitar.
"Senang kamu, Arkan." Gumam Axel sambil melirik sekilas, lalu kembali menyesap minumannya.
Arkan berdiri menyambut mereka, menepuk kepala Kenzie pelan. "Sudah lapar?"
"Lapar sekali, Daddy." Jawab Kenzie semangat, matanya berbinar-binar melihat makanan di sekitar.
Arkan tersenyum lalu menoleh ke dua wanita yang berdiri di samping anaknya. "Kenalkan, sahabat-sahabat saya, Nathan dan Axel." Ujarnya sopan.
Nathan menyambut dengan anggukan kecil, sementara Axel berdiri sebentar sambil mengulurkan tangan, "Axel. Senang akhirnya bisa ketemu langsung."
Rania membalas dengan senyum tipis. "Rania. Ini Karina, sahabatku juga."
"Halo, Karina." Sahut Karina sambil melambaikan tangan kecil ke arah mereka.
Nathan tersenyum menyambut. "Duduk, Karina." Selorohnya santai.
Makan siang itu terasa hangat dengan obrolan mereka yang surprisingly nyambung, meski usia mereka jelas terpaut jauh.
"Aku ke toilet dulu." Bisik Rania pada Arkan. Pria itu memiringkan kepala ke arahnya dan mengangguk kecil. "Mau ditemenin?"
Rania langsung mendelik kesal. "Tidak usah ngawur." Sahutnya cepat, lalu beranjak dan pamit ke toilet.
Karina ikut menyusulnya.
"Ra... kok gue ngerasa Kak Axel mirip seseorang, ya?" Gumam Karina sambil touch up pipinya di depan cermin.
"Iya. Baru aja tadi gue mikir gitu juga. Ini gue lagi nginget-nginget, mirip siapa, ya." Sahut Rania sambil menatap bayangannya sendiri, alisnya berkerut pelan.
#Aku Up 1 Bab dulu yah...Nunggu novel ini di kontrak.
Entah kenapa Noveltoon lama banget ngontrak novel ini. Jadi kurang semangat nulisnya.