NovelToon NovelToon
Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.

Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.

Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.

Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.

Mari mengikuti ceritanya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode Sikap Dingin

Setelah menyelesaikan makan malam bersama dengan kedua orang tuanya. Refisha kembali pulang ke rumah bersama suaminya, keduanya saat ini memasuki kamar.

Ezra terlihat ingin melepas jasnya, Refisha sudah memulai dengan menarik jas itu dari tubuh suaminya dari belakang.

"Aku bisa melakukanya Refisha," ucap Ezra.

Refisha hanya tersenyum dengan melipat jas itu dan meletakkan di lengannya.

"Kamu bersih-bersih terlebih dahulu, saya akan menyiapkan pakaian ganti kamu," ucap Refisha.

"Tidak usah," Ezra berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian ganti dengan sangat cepat.

Ezra kemudian langsung pergi ke kamar mandi, wajahnya terlihat ketus buat Refisha kebingungan.

"Ada apa dengannya? Apa dia lelah?" gumam Refisha cukup heran dengan tingkah suaminya sedikit berbeda dari biasanya.

Tetapi Refisha tidak ingin ambil pusing. Refisha kemudian langsung menyimpan jas tersebut pada pakaian kotor.

Ezra saat ini berada di kamar mandi terlihat begitu kesel menatap dirinya di cermin, tampak ada amarah yang dia pendam membuat matanya terpejam dan mengingat semua kata-kata Laudya.

"Benarkah pada akhirnya dia menerima pernikahan ini karena sudah tidak punya pilihan?" Ezra sepertinya terpancing dengan ucapan Laudya.

"Sudahlah Ezra, untuk apa juga kau harus memikirkan hal ini!" Ezra mengusap wajahnya kasar.

Sungguh yang dia lakukan sekarang ini hanya berusaha untuk tenang.

Setelah Ezra bersih-bersih, Refisha kemudian juga melakukan hal yang sama. Tidak lama bagi Refisha untuk bersih-bersih dengan sekarang terlihat keluar dari kamar mandi menggunakan piyama tidurnya tanpa hijab.

Refisha melihat suaminya ternyata sudah tidur dengan posisi berbaring miring membelakangi arahnya.

"Cepat sekali tidurnya," ucap Refisha menghela nafas.

Refisha kemudian menaiki tempat tidur, masuk ke dalam selimut dan juga langsung meminjamkan mata karena dia juga sangat lelah.

Ezra ternyata belum tidur, matanya bergerak-gerak, dengan lirikan menoleh ke arah belakang.

"Sungguh dia sudah tidur? Ya sepertinya memang dia tidak ingin tahu dan menganggap semua berjalan dengan mulus," batin Ezra menghela nafas.

Ezra ternyata tidak bisa tidur, menyibak selimut dan kemudian langsung turun dari ranjang. Ezra memilih keluar dari kamar, suara pintu yang terdengar cukup keras membuat Refisha kembali terbuka.

Refisha mengerutkan dahi dan menoleh ke belakangnya, suaminya ternyata sudah tidak ada di sana. Tidak bisa bohong jika Refisha mulai menyadari ada yang tidak beres dari suaminya itu.

*****

Ezra tampak duduk di dekat kolam renang yang terdapat bangku di sana.

"Memang seperti apa mantan kekasihnya, bertahun-tahun tidak bisa dilupakan?" ucapnya benar-benar penasaran dengan lanjutan cerita Laudya.

"Kamu belum tidur Ezra!"

Ezra terbuyar dari lamunannya melihat ke arah suara tersebut dan ternyata Dellon.

"Belum mengantuk," jawabnya ketus.

"Kalau kamu belum mengantuk sebaiknya kamu pelajari tentang rapat besok," ucap Dellon.

"Belum tentu besok aku akan hadir dalam rapat," jawabnya.

"Ezra mau sampai kapan kamu seperti ini? ketidakhadiran kamu dalam beberapa rapat penting membuat para pemegang saham semakin ragu untuk kepemimpinan kamu," ucap Dellon.

"Aku tidak meminta mereka untuk percaya padaku dan aku juga tidak punya ambisi untuk menjadi pemimpin di perusahaan itu!" jawabnya.

"Lalu Jika kamu siapa? kamu putra satu-satunya papa, siapa yang akan menggantikan Papa jika bukan kamu hah?"

"Pa cukup, sejak awal Papa melibatkanku di perusahaan itu aku sudah tidak nyaman, orang-orang di sana bekerja tidak sesuai arahan, kalimat yang terucap dari mulut mereka tidak memiliki mutu sama sekali, orang-orang yang ada di sana hanya penuh ambisi yang tidak terkendali!" tegas Ezra.

"Kamu berbicara seperti ini karena kamu punya, tanpa bekerja, tanpa berusaha dan tanpa ikut campur dengan perusahaan kamu akan tetap masih hidup, tetap makan dan tetap memiliki uang, tetapi ingat Ezra kamu sekarang sudah menikah dan tanggung jawab kamu lebih besar, apa kamu akan terus memberi nafkah istri kamu dengan uang orang tua kamu?" tanyanya.

"Pa jangan membicarakan nafkah kepadaku, tanpa mengabdikan diri di perusahaan itu, aku juga bisa menghasilkan uang dan memberikan Refisha!" tegas Ezra semakin kesal dan kemudian langsung pergi.

Dellon geleng-geleng kepala dengan tingkah putranya yang selalu berbeda pendapat dengan dirinya. Sudah mood Ezra begitu berantakan dan sekarang ditambah lagi masalah Dellon harus membicarakan perusahaan kepadanya.

*******

Refisha terlihat di dapur menyiapkan sarapan untuk sang suami.

"Ezra belum turun?" Refisha menoleh ke belakang disaat Ibu mertuanya datang menghampirinya.

"Belum. Ma, beliau masih tidur," jawab Refisha.

"Kamu itu bagaimana sih, sudah jam segini Ezra masih tidur, kamu seharusnya membangunkannya dan ingatkan dia untuk datang ke kantor jam 09.00 pagi karena ada rapat besar yang harus dihadiri!" tegas Bitha.

"Refisha akan membuat sarapan dulu dan nanti akan membangunkan beliau," ucap Refisha.

"Kamu pastikan dia hadir pada rapat!" tegas Bitha melemparkan semua masalah besar itu Refisha.

Refisha mulai memahami bahwa suaminya itu memang sangat tidak suka diatur, beberapa kali dia hanya mendengar perdebatan dengan kedua mertuanya yang dibahas hanya tentang Ezra di perusahaan yang tidak profesional.

*******

Setelah Refisha menyiapkan sarapannya dan sejak tadi menunggu suaminya turun, tetapi sayangnya sang suami tidak juga kunjung turun, tetapi sebelum Refisha sudah memastikan bahwa suaminya itu bangun dan juga mandi.

Refisha hanya tinggal menunggu suaminya agar mereka sarapan bersama, sementara untuk kedua orang tua dari Ezra sudah pergi terlebih dahulu ke perusahaan untuk menghadiri rapat penting tersebut.

Karena suaminya tidak kunjung turun Refisha akhirnya mengantarkan sendiri sarapan itu. Refisha membuka pintu kamar, Ezra terlihat sudah rapi menggunakan setelan kemeja putih, tetapi tetap saja santai duduk di sofa terbaik bermain game pada ponselnya.

"Hmmm, Mama dan Papa sudah pergi ke kantor terlebih dahulu, aku tadi menunggu kamu di bawah, karena tidak kunjung datang jadi aku membawa sarapan ke kamar," ucap Refisha.

Tidak ada Ezra, dia terlihat tetap fokus pada gamenya tanpa peduli Refisha.

Refisha berusaha untuk memahami dan kemudian meletakkan sarapan itu di atas meja.

"Kita sarapan bersama saja sebelum saya pergi ke butik," ucap Refisha.

"Kalau kamu mau pergi ke butik maka pergi saja, saya juga tidak nafsu untuk sarapan," akhirnya Ezra mengeluarkan suara dengan nadanya yang ketus.

"Lalu kamu sendiri akan tetap berada di kamar?" tanyanya.

"Memangnya kenapa kamu keberatan?" tanyanya.

"Bukankah hari ini ada rapat penting. Mama dan Papa juga sudah pergi, sebaiknya langsung saja sarapan dan kemudian pergi menyusul ke kantor," ucap Refisha.

Ezra tidak peduli dengan kalimat tersebut dan tetap fokus pada ponselnya.

"Ezra tidak baik mengabaikan profesionalitas dalam pekerjaan!" kalimat singkat itu Ezra menghentikan jarinya pada ponsel itu dan melihat serius kearah Refisha.

"Kamu mulai ikut campur dengan pekerjaan saya?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar tidak suka.

"Sebagai istri sudah sewajarnya mengingatkan suaminya dan saya tidak ingin suami saya menghabiskan waktunya dengan hal yang tidak penting seperti ini dan membuat orang lain menunggu di sana," jawabnya.

"Kamu mulai menyadari bahwa apa yang saya lakukan tidak penting?" tanyanya

"Maksudnya?" tanya Refisha.

"Pergilah langsung ke butik dan jangan mengurus pekerjaan saya!" tegas Ezra.

"Tetapi saya tidak mungkin pergi jika suami saya belum berangkat...."

"Aku tidak akan kemana-mana Refisha!" Ezra meninggikan suaranya dengan membentak Refisha sehingga kaget.

"Kita baru menikah dan bukan berarti kamu harus mengatur saya!" lanjut Ezra tampak begitu marah.

Refisha sampai terdiam, mungkinkah dia terlalu menekan sehingga suaminya bersikap seperti itu.

Refisha memilih untuk pergi dari hadapan Ezra, mungkin dia kaget dengan sikap Ezra dan bukan bermaksud apapun, lebih baik membiarkan suaminya sendiri untuk mengendalikan amarahnya daripada dia semakin membuat masalah semakin besar.

Ezra menyadari apa yang dia lakukan sangat berlebihan. Ezra berdiri dari tempat duduknya meme Refisha yang ingin membuka pintu kamar dan kemudian memeluk Refisha dari belakang.

"Maafkan saya Refisha...." ucapnya lirih menyadari kebodohannya karena sudah membentak istrinya.

Bersambung......

1
Dew666
Belah durenya di cut nanggung nih
Yasinta Niken
saya suka dengan cerita2nya tapi kenapa selalu putus 2
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!