Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Satu Arah ke Udara Dingin Zurich
Tiga hari berlalu dalam kedamaian yang belum pernah dirasakan sebelumnya di Vila Pinus Bogor. Kakek Suratman kini mendapatkan perawatan medis terbaik dari tim dokter spesialis pribadi yang didatangkan Xander. Wajah sang kakek kian bugar, dan untuk pertama kalinya, Dea bisa menikmati hari-harinya tanpa rasa takut—membaca buku di teras, belajar memasak kue bersama Tania, dan mendengarkan cerita-cerita masa kecil ibu sambungnya.
Namun, di balik ketenangan yang hangat itu, bayangan hitam dari pesan singkat di ponsel Hendra malam itu tak pernah benar-benar lenyap.
Malam menancapkan taringnya. Hujan gerimis membasahi dedaunan pinus di luar vila. Di dalam ruang kerja serba kayu yang remang-remang, Xander berdiri membelakangi meja, menatap pendar lampu kota di kejauhan melalui jendela kaca besar. Di mejanya, terhampar sebundel berkas intelijen terenkripsi dari Zurich, Swiss.
Pintu ruang kerja terdorong pelan. Tania melangkah masuk membawa secangkir teh chamomile hangat. Matanya yang jeli langsung menangkap sosok Xander yang tampak begitu terbeban, kemeja hitamnya tergulung hingga siku, dan sebatang cerutu yang terbakar tanpa diisap di atas asbak kristal.
"Kau tidak bisa menyembunyikannya dari kami, Xander," ujar Tania pelan, meletakkan cangkir teh di atas meja kayu.
Xander menghela napas panjang, berbalik menatap Tania. Wajah pria berambut perak itu tampak lelah, garis-garis ketegangan kembali mengukir dahi tegasnya.
"Pengirim pesan itu bernama Sebastian Vance," kata Xander dengan suara rendah yang berat. "Dua puluh tahun lalu, dia adalah Konsul Agung Mawar Hitam—pria yang dipercaya oleh ayah Diana. Dialah yang membocorkan keberadaanku pada Teratai Merah, yang menyebabkan aku dikurung dalam koma, dan dialah yang mendesak Diana agar menikah dengan Baskoro."
Napas Tania menciut. "Jadi Baskoro dan Teratai Merah... hanyalah boneka?"
"Baskoro hanyalah anjing pemungut harta yang serakah," desis Xander dingin. "Sebastian-lah sang dalang sebenarnya. Dia menguasai separuh brankas bawah tanah di Zurich, dan saat ini dia mengundang seluruh petinggi organisasi gelap dunia untuk sebuah lelang khusus dalam dua hari ke depan. Barang yang dilelang... adalah seluruh aset Mawar Hitam dan kunci rahasia yang tersimpan di dalam darah Dea."
Xander melangkah mendekati meja, mengambil sebuah paspor diplomatik hitam dan tiket penerbangan privat tunggal.
Tania mengerutkan keningnya saat melihat tiket itu. "Hanya satu tiket? Kau mau pergi sendiri?"
Xander menatap Tania dengan mata birunya yang memancarkan ketegasan sekaligus kepedihan yang mendalam. "Aku tidak akan membiarkan kalian terseret ke dalam neraka itu lagi. Pertempuran di Zurich bukanlah urusan hukum atau perebutan harta lokal. Itu adalah pertempuran di sarang serigala. Aku yang menanam benih dendam ini dua puluh tahun lalu, dan aku yang harus mencabutnya."
"Dan kau bermaksud meninggalkan Dea lagi?!" suara Tania mendadak meninggi, matanya menyala oleh kemarahan seorang ibu. "Kau baru saja memeluknya tiga hari lalu! Kau baru saja berjanji pada Kakek Suratman untuk menjaga kehangatan keluarga ini! Sekarang kau mau melanggar janji itu dan bertindak sebagai pahlawan kesepian?!"
"Ini cara satau-satunya untuk melindunginya, Tania!" tegas Xander, suaranya menggelegar dalam ruangan. "Jika aku mati di Zurich, seluruh pasukanku di bawah Freya akan mengawal kau, Dea, dan Pak Suratman ke tempat aman yang tak tersentuh oleh siapa pun!"
"Kami tidak butuh tempat aman jika harus dibayar dengan nyawamu!"
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka lebar.
Dea berdiri di ambang pintu. Gadis remaja itu mengenakan sweter longgar, namun matanya memancarkan keberanian yang begitu kuat—keberanian yang sangat mirip dengan milik mendiang ibunya, Diana. Di tangannya, Dea menggenggam erat jam saku perak antik pemberian ayah kandungnya.
Dea melangkah masuk, berhenti tepat di antara Tania dan Xander.
"Aku ikut ke Zurich," ucap Dea singkat, tegas, tanpa ada sedikit pun keraguan di suaranya.
Xander tersentak. "Dea, tidak! Kau tidak tahu seberapa berbahaya tempat itu—"
"Aku tahu tempat itu berbahaya, Ayah!" potong Dea, melangkah maju hingga berdiri tepat di depan Xander. Air mata tergenang di pelupuk matanya, namun dadanya tegap. "Selama enam belas tahun aku hidup dalam ketakutan. Aku bersembunyi dari Baskoro, aku bersembunyi dari Paman Hendra, dan aku selalu menjadi korban yang hanya bisa menangis di sudut kamar!"
Dea mendongak, menatap mata birunya yang serupa di wajah ayahnya. "Aku adalah putri dari Diana, dan aku adalah anak kandung dari Dominus Umbrae. Jika iblis bernama Sebastian itu menginginkan kunci Mawar Hitam, biarkan aku sendiri yang berdiri di hadapannya dan menunjukkan bahwa keluarga kita tidak akan bisa dihancurkan lagi!"
Tania melangkah ke samping Dea, merangkul bahu gadis itu dengan penuh kebanggaan, lalu menatap Xander dengan senyuman tipis yang menantang. "Kau dengar itu, Tuan Penguasa? Kau tidak punya hak veto di keluarga ini. Kalau kau pergi, kami pergi bersamamu. Kita hadapi iblis itu bersama-sama, atau tidak sama sekali."
Xander mematung. Pria yang selama puluhan tahun memimpin ribuan pasukan dan tidak pernah tunduk pada ancaman siapa pun itu kini berdiri tak berdaya di hadapan dua wanita luar biasa di depannya. Rasa hangat yang begitu kuat membuncah di dalam dadanya, meluluhkan dinding es tebal yang mengurung hatinya selama bertahun-tahun.
Xander memejamkan mata, menghela napas panjang yang sarat akan kekalahan yang paling indah dalam hidupnya. Ketika ia membuka matanya kembali, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis penuh rasa hormat.
"Baiklah," bisik Xander parau. Ia mengulurkan tangannya, merengkuh Dea dan Tania ke dalam pelukannya. "Kita berangkat ke Zurich bersama."
Delapan belas jam kemudian.
Badai salju tipis menyambut kedatangan Gulfstream G650 saat roda pesawat menyentuh landasan pacu privat Bandara Internasional Zurich, Swiss. Angin malam yang memusuk tulang dengan suhu minus empat derajat Celsius langsung menyergap saat pintu pesawat terbuka.
Kota Zurich tampak begitu memukau sekaligus dingin di balik hamparan salju putih. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya indah di atas permukaan Danau Zurich yang membeku sebagian, menciptakan pemandangan bak dongeng negeri dongeng—sebuah dongeng yang di dalamnya tersembunyi monster paling berbahaya di dunia.
Dari dalam jet pribadi, melangkah keluar tiga sosok yang siap menggetarkan panggung dunia bawah tanah.
Xander melangkah paling depan, dibalut mantel bulu hitam panjang bergaya bangsawan Eropa modern yang memancarkan aura Dominus Umbrae secara mutlak. Di samping kirinya, Tania melangkah dengan anggun mengenakan mantel wol merah marun terikat rapi, matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan di sekeliling pelataran bandara. Dan di antara mereka, Dea melangkah tegap mengenakan mantel putih bersahaja, membawa jam saku perak ibunya di dalam saku.
Di tepi apron bandara, enam mobil limosin Maybach serba hitam telah berbaris rapi dengan mesin menyala. Freya dan puluhan pengawal bersenjata lengkap yang telah tiba lebih awal langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat saat ketiga orang itu mendekat.
"Selamat datang di Zurich, Tuan Xander, Nyonya Tania, Nona Dea," sapa Freya tegas. "Sesuai perintah, Kastil Schloss von Hapsburg telah disiapkan dan dalam kondisi pengamanan ketat tingkat alfa."
Xander membukakan pintu limosin tengah secara pribadi untuk Tania dan Dea. Sebelum masuk ke dalam kendaraan, Xander menoleh menatap langit malam Zurich yang berkabut salju.
"Berapa lama lagi acara lelang Sebastian dimulai, Freya?" tanya Xander dingin.
"Dua puluh empat jam dari sekarang, Tuan," jawab Freya. "Acara akan diadakan di Grand Ballroom Gedung Opernhaus Zurich. Seluruh sindikat kejahatan terbesar dari Asia, Eropa, dan Amerika sudah mengonfirmasi kehadiran mereka."
Xander tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menjadi pertanda awal dari badai darah yang akan mengguncang benua Eropa.
"Bagus," desis Xander sambil masuk ke dalam mobil. "Mari kita beri tahu Sebastian... bahwa pemilik asli Mawar Hitam telah pulang untuk menagih seluruh utang darahnya."
Pintu limosin tertutup rapat. Konvoi enam mobil hitam itu melaju membelah jalanan bersalju Zurich yang dingin, menuju panggung pertempuran yang akan menentukan takdir mereka semua.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor