NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Balik Pintu Megah

​Malam itu, hujan gerimis membungkus kota dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Kirana berdiri ragu di depan gerbang besi menjulang tinggi yang memagari sebuah rumah bergaya klasik modern. Rumah itu tampak anggun dan megah dari luar, dengan pendar cahaya kuning hangat yang memancar dari jendela-jendela besarnya. Bagi orang asing, rumah itu adalah simbol kemewahan dan kejayaan. Namun bagi Kirana, bangunan itu tidak ubahnya sebuah benteng yang dingin dan penuh luka.

​Kirana menggenggam erat tali tas ransel lusuhnya yang sudah pudar warna hitamnya. Di usianya yang kini genap dua puluh tahun, wajahnya memancarkan kedewasaan yang melampaui usianya. Wajah manis itu menyimpan kisah masa kecil yang getir. Lima belas tahun lalu, saat usianya baru lima tahun, sebuah kecelakaan maut di jalur luar kota merenggut nyawa kedua orang tuanya dalam perjalanan liburan keluarga. Kirana muda menjadi satu-satunya yang selamat dari tragedi berdarah tersebut.

​Sejak hari naas itu, kehidupannya berubah drastis. Sanak saudaranya memalingkan muka, menolak menampungnya. Bagi mereka, Kirana bukanlah anak kecil yang patut dikasihani, melainkan sosok penyimpan petaka. Gelar penderitaan dipasangkan pada pundak kecilnya: anak pembawa sial. Bahkan Nenek Helena, satu-satunya tetua keluarga almarhum ayahnya yang tersisa, memandangnya dengan tatapan kebencian yang mendalam. Bagi sang nenek, kehadiran Kirana adalah alasan mengapa putra kebanggaannya harus tewas mengenaskan.

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

​Dengan tangan gemetar, Kirana memencet bel di samping gerbang. Tak lama kemudian, seorang penjaga gerbang berwajah tegas membukakan pintu kecil. Setelah Kirana menyebutkan namanya dengan suara bergetar, penjaga itu menatapnya ragu sebelum akhirnya membiarkan Kirana masuk menuju ruang tamu utama.

​Langkah kaki Kirana berbunyi pelan di atas lantai marmer yang berkilau. Di ujung ruangan, duduk seorang wanita tua berambut perak yang disanggul rapi. Nenek Helena tampak anggun dengan pakaian sutra gelapnya, namun matanya yang tajam menatap Kirana bagaikan bilah pisau yang siap mengiris.

​"Untuk apa kau datang ke sini?" suara sang nenek terdengar dingin, menggelegar di ruang tamu yang luas dan hening itu. Tidak ada kehangatan, tidak ada pelukan pembuka dari seorang nenek yang puluhan tahun tidak bertemu cucunya.

​Kirana menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan guncangan di dadanya. Ia berlutut perlahan di depan sang nenek, menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.

​"Nenek... ini Kirana," bisiknya lembut, berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah oleh tangis. "Maafkan Kirana jika kedatangan Kirana mengganggu Nenek. Kirana tidak bermaksud jahat..."

​"Jangan sebut aku nenekmu!" potong Helena cepat, suaranya dipenuhi amarah yang membara. "Wajahmu... melihat wajahmu hanya mengingatkanku pada anakku yang mati konyol karena ingin menyenangkanmu! Jika bukan karena liburan bodoh itu, putraku masih hidup sampai sekarang!"

​Kata-kata itu menghantam dada Kirana dengan hantaman yang sangat menyakitkan. Namun, Kirana meneguhkan hatinya. Ia ingat akan impiannya, ingat akan malam-malam panjang yang ia habiskan untuk belajar di bawah remang lampu panti.

​"Nenek, Kirana tahu Nenek membenci Kirana. Tapi Kirana mohon... kali ini saja," Kirana mendongak, menatap mata tua sang nenek dengan pandangan penuh ketulusan dan keteguhan. "Kirana sangat ingin melanjutkan pendidikan ke universitas. Kirana berhasil diterima di PTN lewat jalur prestasi. Kirana hanya butuh bantuan biaya untuk berkuliah, Nenek. Kirana berjanji, setelah lulus nanti, Kirana akan mengembalikan setiap rupiahnya dan tidak akan pernah menampakkan diri lagi di depan Nenek."

​Helena terpaku sejenak melihat binar di mata gadis muda itu. Ada ketegasan dan kecerdasan yang sangat mirip dengan almarhum putranya pada mata itu. Namun, gengsi dan rasa duka yang belum usai menutup rapat pintu hatinya.

​"Pendidikan?" Helena terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya ke kursi ukiran kayu yang megah. "Kau pikir dengan uangku, kau bisa membersihkan nasib sial yang melekat pada dirimu?"

​Kirana tetap bertahan dalam posisi berlututnya. Ia tahu, ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk memperjuangkan masa depannya. Di ruang tamu yang dingin itu, harapan seorang anak yatim piatu diuji di hadapan kerasnya hati sang nenek.

1
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Shinta, kamu lebih baik mati saja
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana 😄🙏
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!