Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 Ratu mafia istri dokter dingin
Mobil limosin hitam yang membawa Sindi dan Mike akhirnya memasuki halaman luas sebuah mansion mewah bergaya modern minimalis.
Lampu-lampu taman bernuansa hangat menyambut kedatangan pasangan pengantin baru itu.
Mansion megah ini adalah hadiah pernikahan khusus dari keluarga Sanjaya untuk tempat tinggal mereka berdua.
Pintu mobil dibukakan oleh sopir pribadi. Sindi terlebih dahulu melangkah turun dengan anggun, gaun pengantin putihnya berkibar pelan diterpa angin malam.
Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati udara malam yang segar, lalu melirik ke arah Mike yang menyusul keluar dengan wajah masam dan gerak-gerik kaku.
"Silakan masuk, Nona Sindi, Tuan Mike," sambut kepala pelayan rumah tangga yang sudah berdiri rapi di depan pintu utama bersama empat orang asisten rumah tangga lainnya.
Sindi mengangguk ramah dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Bibi. Malam ini kami mau istirahat dulu, kalian boleh bereskan barang-barang di bagasi ya," ucap Sindi dengan nada lembut yang sangat sopan.
"Baik, Nona!" sahut kepala pelayan itu serempak.
Mike mendengus pelan mendengar cara Sindi berbicara seolah-olah wanita itu sudah sangat pantas menjadi nyonya rumah di sini. Tanpa memedulikan para pelayan atau istrinya, Mike langsung melangkah lebar melewati pintu utama, menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah penuh amarah.
Sindi hanya mengekor di belakang dengan santai, menyeret gaun beratnya pelan-pelan sambil memperhatikan interior rumah baru mereka yang luas dan bernuansa monokrom.
Begitu sampai di lantai dua, Mike membuka pintu sebuah kamar utama yang sangat besar dan mewah—kamar tidur utama yang disiapkan khusus untuk pengantin baru.
Sindi melangkah masuk ke dalam kamar itu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tidur king size berseprai sutra putih bersih yang dihiasi taburan kelopak mawar merah.
Sindi meletakkan tas tangannya di atas meja rias, lalu berbalik menatap Mike yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam dan dingin.
"Kenapa berdiri di situ terus, Mas? Masuklah, ini kamar kita," ucap Sindi dengan nada polos yang sengaja dibuat-buat untuk memancing emosi suaminya.
Mendengar kata "kita", rahang Mike mengeras seketika. Pria itu melangkah mendekat dengan gestur menolak, lalu menunjuk ke arah pintu kamar mandi dan pintu keluar secara bergantian.
"Dengar ya, Sindi," suara Mike terdengar sangat dingin, nyaris seperti bisikan.
"Mulai detik ini, dan selama kita tinggal di rumah ini, ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi. Jangan pernah coba-coba melanggarnya kalau kamu tidak mau hidupmu sengsara."
Sindi melipat kedua tangannya di depan dada, mengangkat sebelah alisnya dengan santai.
"Oh ya? Aturan apa tuh, Dokter Mike yang terhormat? Silakan bacakan, Ratu mendengarkan."
Sikap santai dan tidak acuh Sindi membuat emosi Mike makin tersulut. Pria itu mendengus tajam, merasa istrinya sama sekali tidak punya rasa takut atau malu setelah memaksa masuk ke dalam hidupnya.
"Pertama," ucap Mike sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Sindi.
"Kita tidur di kamar terpisah. Kamu tidur di kamar tamu di ujung koridor lantai bawah, dan saya di kamar utama ini. Jangan pernah berani menginjakkan kaki di kamar ini tanpa izin saya."
Sindi tersenyum tipis, matanya menyipit geli.
"Wah, pengantin baru tidur pisah kamar? Kalau orang tua kita atau wartawan tahu gimana, Mas? Mau ditaruh di mana muka keluarga Sanjaya dan Permata?"
"Jangan bawa-bawa orang tua!" potong Mike sengit. "Mereka tidak akan tahu selama kamu bisa menjaga mulut manjamu itu. Pokoknya kamar ini wilayah terlarang buat kamu!"
"Baiklah, poin pertama diterima," balas Sindi dengan nada ringan, sama sekali tidak terlihat sedih atau tersinggung.
"Terus, apa lagi aturan kedua yang mulia dokter?"
Mike menurunkan jari telunjuknya, lalu menatap Sindi dengan pandangan penuh peringatan keras.
"Kedua, jangan pernah campuri urusan pribadi saya. Siapa teman saya, ke mana saya pergi setelah jam kerja, dengan siapa saya berhubungan—itu bukan urusan kamu. Anggap saja pernikahan ini tidak pernah ada di luar rumah."
"Maksud Mas Mike, saya bebas berkeliaran ke mana aja, nggak perlu repot-repot ngurusin suami, gitu?" tanya Sindi antusias, pura-pura senang.
"Wah, kalau itu sih enak banget dong! Sindi malah untung kalau dibebasin sepenuhnya."
Mike tertegun sejenak, merasa jengkel karena respons Sindi sama sekali di luar prediksinya. Harusnya wanita di depannya ini menangis, merajuk, atau marah karena diabaikan di malam pertama mereka. Tapi Sindi justru terlihat kegirangan.
"Bagus kalau kamu paham!" sahut Mike ketus.
"Dan yang terakhir... di depan umum atau di depan keluarga besar, kita harus tetap akur dan pura-pura jadi pasutri bahagia. Tapi begitu kita di dalam rumah ini, kita orang asing. Jangan pernah sok peduli sama saya, paham?"
Sindi menghela napas pelan, lalu melangkah mendekati Mike perlahan-lahan. Gerakannya yang anggun membuat Mike refleks sedikit mundur, terkejut dengan keberanian wanita itu.
Sindi berhenti tepat satu langkah di depan Mike, mendongakkan wajahnya untuk menatap langsung ke dalam mata suaminya yang dingin.
"Mas Mike..." panggil Sindi dengan suara lembut yang sangat memikat.
"A-apa lagi?!" bentak Mike berusaha mempertahankan jarak dan nada galaknya.
Sindi tersenyum misterius. Jemari lentiknya terulur pelan, merapikan kerah jas Mike yang sedikit bergeser.
"Aturan-aturan tadi... gampang banget kok, Sindi pasti patuhi. Sindi juga nggak punya niat sedikit pun buat ikut campur urusan percintaan Mas sama perawat kesayangan Mas itu... Putri Adisti, kan namanya?"
Deg!
Jantung Mike seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya membelalak kaget mendengar Sindi menyebut nama Putri dengan begitu santai dan akurat.
"K-kamu... dari mana kamu tahu nama Putri?!" tanya Mike dengan suara tertahan, rasa curiga mendadak menghantam dadanya.
Sindi terkekeh kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun menyimpan sejuta misteri yang membuat bulu kuduk merinding. Sindi menurunkan tangannya dari kerah Mike, lalu berjalan melewati pria itu menuju pintu keluar kamar utama.
"Dunia ini sempit, Mas Mike," bisik Sindi tepat di sebelah telinga Mike saat ia melangkah keluar.
"Istri sah mana yang nggak tahu nama wanita simpanan suaminya sendiri? Betul kan, Dokter?"
Sebelum Mike sempat membalas bentakan atau melayangkan pertanyaan lebih lanjut, Sindi sudah melangkah keluar dari kamar utama dengan anggun, meninggalkan Mike yang terpaku kaku di tengah ruangan dengan sejuta tanda tanya besar di kepalanya.
Mike mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gadis itu tidak terlihat seperti putri manja yang bodoh. Tatapan mata Sindi tadi... tatapan itu begitu tajam, penuh percaya diri, seolah-olah dirinyalah yang sedang memegang kendali penuh atas permainan ini.
Cewek itu... dia benar-benar mencurigakan, batin Mike penuh rasa waspada.
Baru saja Mike hendak melangkah untuk menyusul Sindi dan meminta penjelasan, tiba-tiba ponsel yang berada di dalam saku celananya berdering nyaring, memecah keheningan malam di dalam kamar yang luas itu.
Mike merogoh ponselnya dengan kasar. Layar ponsel menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Dahi Mike berkerut dalam. Siapa yang meneleponnya selarut ini di malam pengantin mereka?
Dengan perasaan tidak enak, Mike menggeser tombol hijau di layar dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo? Siapa ini?" tanya Mike to the point dengan nada ketus.
Tidak ada suara jawaban manusia di ujung sana. Yang terdengar hanyalah suara napas yang terengah-engah, diselingi suara rintihan kesakitan yang sangat familier di telinga Mike—suara isak tangis wanita yang amat ia kenali.
"Mike... tolo... tolong aku..." suara Putri terdengar gemetar hebat dari balik telepon, dibarengi suara benturan keras dan suara tawa asing beberapa pria kasar di latar belakang.
Darah Mike seketika mendidih. Ponsel di tangannya hampir terlepas karena keterkejut.
"Putri?! Kamu di mana?! Suara apa itu?!" bentak Mike panik setengah mati.
"Aku... aku tadi dicegat orang waktu mau pulang ke kos... mereka bawa aku ke... ke..." kalimat Putri terpotong oleh jeritan nyaring, disusul suara hantaman benda keras dan sambungan telepon yang mendadak terputus total.
Tut... tut... tut...
Mike mematung. Ponselnya gemetar hebat di genggamannya. Otaknya mendadak kosong. Pikiran buruk langsung menghantam kepalanya.
Di saat yang sama, pintu kamar utama diketuk pelan dari luar. Pintu itu terbuka perlahan, dan Sindi berdiri di sana dengan senyum tipis menatap Mike yang kini pucat pasi bagaikan mayat hidup.
Bersambung......
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,