Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Wuuung wuuung.
Suara dengungan energi di dalam Dantian Yang Zhen terdengar seperti mesin uap yang kelebihan beban.
Urat-urat di sekujur tubuh pemuda itu menonjol dengan warna merah menyala layaknya lahar panas.
"Aaaargh," erang Yang Zhen menahan rasa sakit yang luar biasa mencabik-cabik organ dalamnya.
Energi murni dari Jiwa Iblis Darah Kuno itu terlalu masif dan liar untuk ditampung oleh tubuh manusia biasa.
Su Lin yang berdiri di pinggir kolam langsung memancarkan aura es dari kedua telapak tangannya.
Sring.
Gadis berambut biru itu menempelkan hawa dinginnya ke punggung Yang Zhen yang mulai mengeluarkan asap tipis.
"Fokuskan pikiranmu pada ruang hampa di Dantianmu, Yang Zhen," instruksi Su Lin dengan suara bergetar.
"Jangan biarkan rasa panas ini membakar kesadaran rasionalmu."
Sentuhan es dari tangan istrinya memberikan sedikit rasa lega di tengah siksaan neraka tersebut.
Yang Zhen menggertakkan giginya dan kembali menarik napas panjang.
Huuuup.
Ia menyedot sisa kabut kristal terakhir yang telah disaring oleh formasi buatan Leluhur Ye.
Bloop bloop.
Permukaan kolam darah di bawahnya langsung menyusut turun hingga beberapa inci.
Iblis prasejarah di dasar kolam itu meronta tertahan, menyadari sebagian besar energi murninya telah dirampok secara paksa.
Di sisi lain benua utara, tepatnya di ruang rahasia Sekte Pedang Langit ibu kota.
Master Sekte Jian Tian duduk bersila di depan sebuah altar batu hitam dengan wajah yang masih diperban.
Tetesan darah segar menetes dari luka gores di pipinya menuju sebuah kristal merah di atas altar.
Tes.
"Bocah perbatasan itu pikir dia bisa menutup mataku hanya dengan menghancurkan satu cermin," gumam Jian Tian dengan nada penuh dendam.
"Dia tidak tahu bahwa aku telah menanamkan puluhan mata-mata di dalam kotanya sendiri."
Jian Tian merapalkan segel tangan yang sangat rumit menggunakan energi Tahap Langit tingkat puncaknya.
Syuut.
Kristal merah di atas altar itu memancarkan cahaya darah yang menghubungkan kesadarannya dengan sebuah artefak pelacak.
Artefak pelacak itu ternyata telah ditanam secara diam-diam oleh seorang bangsawan pengkhianat di atap aula utama Istana Awan Merah.
Melalui pandangan dari atap istana itu, Jian Tian kembali bisa melihat situasi Kota Awan Merah dari ketinggian.
Pandangannya menembus atap genteng dan terus menukik ke bawah, mencoba mencari keberadaan Yang Zhen.
"Di mana kau bersembunyi, Tikus Sombong?" bisik Jian Tian menggerakkan mata gaibnya menyusuri lorong-lorong istana.
Mata gaib itu akhirnya menemukan hawa energi yang sangat besar memancar dari ruang bawah tanah istana.
Kembali ke dalam gua bawah tanah, Yang Zhen baru saja selesai menyerap seluruh kabut energi tersebut.
Bum.
Sebuah ledakan udara spiritual meledak dari dalam tubuh pemuda berpakaian setengah telanjang itu.
Gelombang kejutnya menyapu seluruh ruangan, membuat golem baja Leluhur Ye terdorong mundur beberapa langkah.
Kriet.
"L-luar biasa," gumam Leluhur Ye menatap Yang Zhen dengan mata logamnya yang berkedip-kedip takjub.
"Dantiannya tidak meledak, ia justru menggunakan ruang hampa untuk menekan energi iblis itu menjadi inti yang baru."
Yang Zhen perlahan membuka matanya yang kini memancarkan perpaduan cahaya emas dan merah darah.
Sring.
Kultivasinya telah melesat menembus batas, naik dari Inti Emas Bintang Tiga langsung menuju Inti Emas tingkat puncak.
"Rasanya seperti aku bisa meremukkan sebuah gunung hanya dengan genggaman tanganku," ucap Yang Zhen mengepalkan tinjunya.
Su Lin menghela napas lega dan menarik kembali aura es dari tangannya.
"Kau benar-benar monster yang gila, Suamiku," puji Su Lin mengusap keringat di dahi pemuda itu.
Namun, senyum kepuasan di wajah Yang Zhen tiba-tiba menghilang dalam sekejap.
Kepekaan ruangnya yang telah meningkat pesat menangkap sebuah fluktuasi energi asing dari atas kepalanya.
Syuut.
"Tikus tua dari ibu kota itu benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah," desis Yang Zhen menatap lurus ke langit-langit gua.
"Dia menggunakan jangkar fisik di atap istana untuk mengintip kita lagi."
Su Lin langsung menghunus pedang esnya dan mendongak ke atas.
"Ada artefak pelacak yang ditanam di istana kita?" tanya Su Lin dengan nada marah.
Leluhur Ye ikut menatap ke atas dengan perasaan bersalah.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak mendeteksi adanya artefak asing saat memugar pelataran semalam," sesal sang golem baja.
Yang Zhen mendengus pelan dan merentangkan telapak tangan kanannya menghadap ke langit-langit.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Pelayan Ye. Artefak pelacak semacam ini pasti ditanam oleh orang dalam sebelum kita mengambil alih istana," analisis Yang Zhen dengan cerdas.
Pemuda itu memusatkan seluruh kekuatan gravitasi barunya yang kini bercampur dengan aura iblis darah.
Wuuung.
"Mari kita buat mata kakek tua itu buta untuk selamanya," ucap Yang Zhen dengan senyum iblis.
Ia mendorong telapak tangannya ke atas, melepaskan sebuah pilar gravitasi padat yang melesat menembus puluhan meter lapisan tanah dan batu.
Bum.
Pilar gravitasi tak kasat mata itu menghantam tepat di sebuah patung gargoyle yang berada di atap aula utama istana.
Patung batu itu langsung hancur berkeping-keping, memperlihatkan sebuah bola kristal merah yang tersembunyi di dalamnya.
Prang.
Bola kristal merah itu ikut meledak menjadi debu di udara malam tanpa sempat memancarkan sinyal peringatan.
Di ruang rahasia ibu kota, kristal di atas altar Master Sekte Jian Tian meledak dengan sangat keras.
Brak.
"Aaaargh!" jerit Jian Tian memegangi kedua matanya yang tiba-tiba mengalirkan darah segar.
Serangan balik dari hancurnya artefak pelacak itu langsung melukai saraf optik sang Master Sekte.
Pria paruh baya itu bergulingan di lantai batu hitam dengan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.
"Mata... mataku terasa seperti ditusuk ribuan jarum!" erang Jian Tian dengan napas tersengal-sengal.
Dendam dan kebencian di dalam hati Master Sekte itu kini telah mencapai titik puncaknya.
"Yang Zhen! Aku bersumpah akan mencabik-cabik seluruh kulitmu hidup-hidup!" raung Jian Tian mengutuk ke arah udara kosong.
Di ruang bawah tanah Kota Awan Merah, Yang Zhen menurunkan tangannya sambil membersihkan sisa debu spiritual.
"Mata-mata gaibnya sudah buta," lapor Yang Zhen memutar bahunya dengan santai.
Pemuda itu kemudian menoleh ke arah Su Lin dan mengambil jubah putihnya dari tangan sang istri.
Srak.
"Tapi mata-mata fisik yang menanamkan benda itu pasti masih berkeliaran menghirup udara di kota kita," lanjut Yang Zhen mengenakan jubahnya kembali.
Mata hitam pemuda itu memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat dan dingin.
Su Lin menyarungkan pedang esnya dengan senyum tipis yang mematikan.
"Kau berniat melakukan bersih-bersih malam ini, Suamiku?" tanya gadis itu memastikan.
Yang Zhen menganggukkan kepalanya pelan.
"Tentu saja. Kita tidak bisa menyambut Jenderal Pelopor besok pagi jika halaman rumah kita masih dipenuhi oleh tikus pengkhianat," jawab Yang Zhen.
Pemuda itu melangkah menuju tangga batu untuk kembali ke permukaan.
Tap tap tap.
"Pelayan Ye, tetap di sini dan pastikan kolam darah ini stabil kembali," perintah Yang Zhen tanpa menoleh.
"Gunakan batu spiritual sisa untuk memperkuat segel rantainya."
Leluhur Ye membungkukkan tubuh logamnya dengan patuh.
"Sesuai perintah Anda, Tuan Yang. Saya akan menjaga tempat ini dengan nyawa saya," jawab golem baja tersebut.
Yang Zhen dan Su Lin berjalan menaiki tangga batu dalam keheningan yang dipenuhi oleh niat membunuh.
Setibanya di pelataran belakang istana, mereka disambut oleh Wang Hao dan Mulan yang masih berjaga dengan setia.
"Kalian sudah selesai makan besarnya, Bos?" sapa Wang Hao melihat aura gurunya yang terasa jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Aura Bos sekarang terasa seperti naga raksasa yang siap menelan gunung utuh-utuh."
Mulan ikut menganggukkan kepalanya, menyadari bahwa kultivasi gurunya telah menembus batas Inti Emas puncak.
"Selamat atas peningkatan kultivasimu, Guru," ucap Mulan menundukkan kepalanya.
Yang Zhen tersenyum tipis menerima ucapan selamat dari kedua murid kesayangannya.
"Terima kasih. Tapi malam ini belum berakhir bagi kita," balas Yang Zhen menatap lurus ke arah gerbang istana.
"Hao, Mulan. Kumpulkan seluruh pasukan penjaga Asosiasi Alkemis sekarang juga."
Mendengar nada suara gurunya yang sangat serius, kedua murid itu langsung menegakkan tubuh mereka.
"Ada tugas apa, Bos? Apakah musuh dari ibu kota sudah tiba?" tanya Wang Hao meretakkan buku-buku jarinya.
Krak krak.
"Bukan musuh dari luar, Hao. Tapi musuh dari dalam," jawab Yang Zhen dengan suara bergema pelan di pelataran sepi itu.
"Ada bangsawan lokal yang berani menanamkan alat pelacak ibu kota di atap rumahku."
Mulan langsung mengerutkan keningnya, merasa sangat tersinggung karena keamanan wilayahnya ditembus.
"Itu adalah pengkhianatan tingkat tinggi, Guru," kecam Mulan dengan tatapan tajam.
"Memang benar," setuju Yang Zhen mulai berjalan menuju aula utama.
"Karena itu, malam ini kita akan melakukan inspeksi mendadak ke seluruh kediaman bangsawan di kota ini."
Pemuda lalim itu menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih di bawah cahaya bulan.
"Kita akan memotong kepala tikus mana pun yang bau badannya mirip dengan anjing-anjing dari ibu kota."
Malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat itu kini berubah menjadi malam perburuan yang sangat mengerikan.
Kota Awan Merah akan segera dimandikan dengan darah para pengkhianat sebelum matahari pagi sempat terbit.