Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. "Dihati Gue Cuma Ada Caca"
Tapi walau mulutnya berkata begitu, mata Elang sesekali tetap melirik ke arah Valeska—memastikan musuh bebuyutannya itu tidak benar-benar dalam bahaya.
Tiba-tiba, seorang pria bertato di lengan dengan kemeja agak terbuka melangkah mendekati sofa Valeska. Pria itu tersenyum culas, menyipitkan mata begitu melihat kondisi Valeska yang sudah melayang dan kehilangan kesadaran penuh.
Tanpa permisi, pria itu mendaratkan tubuhnya tepat di samping Valeska, lalu mengelus lembut bahu cewek itu.
"Hai, Beauty... Sendirian aja, nih?" bisik pria itu dengan nada suara merayu. "Cewek secantik kamu masa ditinggal sendirian? Mau ikut Mas ke atas? Di atas lebih tenang, lho."
Valeska cuma menyunggingkan senyum teler, matanya terpejam setengah. "Apasih... Lepas... Gue banyak uang, tau..." gumam Valeska melantur, mencoba mendorong dada pria itu walau tenaganya sudah habis total.
Dari kejauhan, Marco yang memperhatikan langsung menepuk bahu Elang kencang-kencang. "Lang! Lang! Liat tuh, ada cowok asing deketin si Valeska! Wah, bahaya nih, udah main pegang-pegang aja!"
Leo ikut panik, badannya sudah setengah berdiri. "Iya, Lang! Anak orang bisa gawat kalau dibawa kabur!"
Elang menahan lengan Leo, mencoba tetap tenang walau matanya menajam. "Biarin aja. Dia yang mau datang ke sini, dia yang harus tanggung jawab. Lagian cewek kayak gitu emang sukanya cari perhatian, kan?"
Tapi perkataan Elang langsung mentok di tenggorokannya sendiri. Pria asing itu mendadak makin agresif. Dia mencengkeram rahang Valeska, menahan kepala cewek itu, lalu mulai memajukan wajahnya secara liar—jelas-jelas berniat mencium bibir Valeska secara paksa.
Mata Elang membelalak kaget. "Bangsat," batinnya murka. Rasa kemanusiaan dan nalurinya mendadak mengalahkan dendam pribadinya. Elang langsung beranjak dari kursi, siap melangkah cepat untuk menghajar pria itu—
UWEKKK!
Belum sempat Elang melangkah tiga pijakan, Valeska yang mendadak mual hebat langsung membuka mulutnya dan muntah berhamburan tepat di wajah dan kemeja pria itu.
"ANJING! BANGSAT!" pekik pria itu histeris, melompat mundur sambil mengusap mukanya yang kini penuh dengan muntahan Valeska. "Cewek sialan! Bau banget, bangsat!"
Dengan umpatan yang tak henti-hentinya keluar dari mulutnya, pria itu berjalan terburu-buru menuju toilet sambil mengutuk-ngutuk, meninggalkan Valeska yang makin terkulai di sofa sambil terbatuk-batuk kecil.
Langkah Elang terhenti seketika di tengah jalan. Marco dan Leo yang melihat kejadian itu dari jauh cuma bisa ternganga dengan mulut terbuka lebar.
Elang menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati sofa tempat Valeska terkulai. Bau alkohol dan sisa muntahan tercium cukup tajam dari area sekitar sofa tersebut.
Valeska perlahan membuka matanya yang berat dan memerah. Penglihatannya kabur, tetapi bayangan sosok cowok yang berdiri di depannya terasa sangat familier. Tanpa sengaja, matanya menangkap wajah Elang yang sedang menatapnya dengan raut kesal.
Dengan gerakan gontai dan tak seimbang, Valeska justru memajukan tubuhnya mendekati Elang. Dia menyunggingkan senyum teler yang sangat menyebalkan.
"Ehh... Lo..." tunjuk Valeska tepat di depan hidung Elang, suaranya sangat tidak jelas dan ngelantur. "Lo... kacung gue, kan? Sini lo! Temenin gue di sini, tuangin minum lagi... cepet! Jangan cuma berdiri di situ kayak patung!"
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Valeska, wajah Elang seketika berubah merah padam. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal erat di samping badan. Rasa kasihan yang sempat terlintas di benaknya kini menguap sepenuhnya, berganti dengan rasa kesal yang luar biasa.
Dalam keadaan mabuk berat dan tidak berdaya seperti ini pun, sifat angkuh dan mulut tajam cewek itu sama sekali tidak berkurang.
Elang menatap Valeska dengan tatapan dingin dan tajam. Kesabarannya benar-benar sudah habis meladeni cewek di depannya ini.
"Cuma orang gila yang mau jadi kacung cewek stres kayak lo," ucap Elang pedas dengan nada suara rendah penuh penekanan. "Tidur di sini aja lo sekalian sampai pagi, biar diangkut petugas kebersihan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Elang langsung berbalik dan melangkah lebar meninggalkan area VIP. Marco dan Leo yang berdiri tak jauh dari sana bergegas menyusul langkah Elang.
Namun, Valeska yang setengah sadar justru tidak terima ditinggalkan begitu saja. Dengan langkah sempoyongan dan sepatu high heels yang hampir membuat dirinya terjatuh berkali-kali, dia nekat melangkah menyusul Elang dari belakang.
"Woy! Kecoa... jangan kabur lo!" racau Valeska melantur.
Satu langkah sebelum Elang mencapai pintu keluar kelab, tiba-tiba dua lengan melingkar kencang di pinggangnya. GREP! Valeska menyandarkan kepalanya yang berat tepat di punggung Elang, memeluk cowok itu erat-erat dari belakang dari posisi yang sangat dekat.
Langkah Elang terhenti seketika. Tubuhnya membeku kaget, sementara Marco dan Leo di sampingnya sampai melotot tak percaya melihat adegan di depan mata mereka.
"Gue bilang tuangin minum... lo dengar enggak sih..." gumam Valeska pasrah, napasnya yang berbau alkohol berhembus menembus kain kaus yang dikenakan Elang.
Tanpa membuang waktu, Elang memegang kedua pergelangan tangan Valeska lalu mendorong tubuh cewek itu perlahan namun tegas hingga pelukannya terlepas. Elang mengusap punggung bajunya dengan raut wajah sangat geli dan terganggu.
"Lepas! Jijik gue sama lo, bau alkohol tahu enggak?!" bentak Elang sambil mundur satu langkah untuk menjaga jarak.
Valeska yang terdorong pelan hampir saja kehilangan keseimbangan, tetapi dia berhasil menahan tubuhnya di dinding. Walaupun matanya makin sayu dan kepalanya makin pusing, dia justru terkekeh sinis dengan raut wajah sangat tengil.
"Heh... sok jual mahal banget lo," ceracau Valeska sambil mengibaskan rambutnya pelan, menatap Elang dari bawah ke atas. "Mana ada cowok yang nolak dipeluk Valeska Aurelia? Ayo sini... jangan sok suci, mumpung gue lagi baik mau nyapa lo!"
Elang mengusap wajahnya kasar, benar-benar tidak habis pikir dengan tingkat percaya diri cewek di depannya ini. Bahkan saat tubuhnya sudah tidak sanggup berdiri tegak, gengsinya masih berada di langit ke tujuh.
"Lo benar-benar udah gila," kata Elang dingin. "Bukan jual mahal, tapi gue masih punya akal sehat buat enggak meladeni cewek mabuk yang baunya udah kayak tong sampah."
Valeska menyunggingkan senyum remeh, mencoba melangkah satu kali lagi ke arah Elang. "Alasan... Bilang aja lo sebenernya mau—"
Belum sempat Valeska menyelesaikan kalimatnya, lututnya mendadak lemas total. Pandangannya menggelap seketika, dan tubuhnya ambruk meluncur ke bawah.
"Eh! Val!" refleks Elang langsung maju dan menangkap kedua lengan Valeska sebelum kepala cewek itu menghantam lantai marmer yang keras.
Kepala Valeska terkulai pasrah di dada Elang. Napasnya teratur dan matanya terpejam rapat. Cewek itu akhirnya pingsan sepenuhnya, menyisakan Elang yang menahan bobot tubuhnya di tengah keramaian kelab malam.
Marco dan Leo langsung berlari mendekat dengan raut wajah panik.
"Anjir, Lang! Pingsan dia!" seru Marco sambil menunjuk Valeska. "Gimana nih? Mumpung masih di kelab, kita tinggalin aja apa gimana?"
"Bener, Lang," timpal Leo khawatir. "Kalau kita urusin, terus ada yang lihat atau salah paham, bisa ribet urusannya sama keluarganya yang kaya raya itu."
Elang menatap wajah Valeska yang kini terlihat sangat polos tanpa raut angkuh dan senyum tengilnya. Mengabaikan cewek yang sedang pingsan dan berpotensi jadi sasaran orang jahat jelas bertentangan dengan nuraninya.
Elang menghela napas berat, mengutuk kebaikannya sendiri dalam hati. Dengan sekali gerakan, dia merengkuh tubuh Valeska dan membopong cewek itu ke dalam pelukannya.
"Bantu gue ambil tasnya," ujar Elang pada Marco. "Gue anterin dia pulang."
"Sumpah lo, Lang? Lo mau anterin musuh lo sendiri?" tanya Marco tak percaya.
"Gue masih punya nurani," sahut Elang datar sambil berjalan menuju pintu keluar dengan Valeska di tangannya. "Lagian, kalau dia kenapa-napa malam ini, besok gue enggak punya musuh lagi buat diajak berantem."
Marco langsung berjalan menyamai langkah Elang yang sedang membopong Valeska menuju area parkir. Di belakang mereka, Leo menyusul sambil membawakan tas mewah milik Valeska yang tertinggal di sofa.
"Tapi jujur ya, Lang," celetuk Marco dengan senyum menggoda yang jahil. "Langkah lo tadi gercep banget pas dia mau pingsan. Jangan-jangan di balik rasa benci lo sama Valeska, sebenarnya lo ada rasa nih sama dia?"
Leo yang mendengar itu ikut-ikutan tertawa pelan dari belakang. "Iya juga sih, dari tadi mata lo kan enggak bisa lepas dari cewek ini."
Elang menoleh sebentar, menatap Marco dengan tatapan datar yang sangat tajam, sampai senyuman di wajah Marco mendadak luntur.
"Mana mungkin," sahut Elang tegas tanpa ragu sedikit pun. "Gue cuma enggak mau besok pagi ada berita cewek pingsan mati di kelab, terus gue jadi saksi yang dipanggil polisi."
Elang menyesuaikan posisi bopongannya agar tubuh Valeska tidak merosot. Dia menatap sekilas ke arah wajah Valeska yang berada sangat dekat dengan dadanya, lalu kembali menatap lurus ke depan.
Di dalam hatinya, posisi itu sudah terkunci rapat. Hanya ada satu nama yang berhasil menyita perhatiannya dari dulu, dan nama itu adalah Caca—bukan cewek manja yang ada di pelukannya saat ini.
"Di hati gue cuma ada Caca, lo tahu itu," lanjut Elang dingin sambil membukakan pintu mobilnya dengan bantuan Leo. "Udah, buruan masukin tasnya. Kita antar cewek ini pulang sebelum makin malam."