"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.
Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.
Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:
Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?
Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?
Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan panas
Rasa malas menyelimutiku di pagi ini, awan mendung tau benar bahwa aku sedang merasa sendu. Tak terasa sudah hampir tiga minggu sudah aku berkerja, dan selama itu pula aku dan mas Adrian benar-benar tidak saling kontak.
"Hmm? ada apa?" tanyaku pada salah satu kariawan gudang.
"Itu, si Doni tadi berantem sama orang, tapi nggak tau siapa.." Ujar si kariawan gudang lain
"Kenapa..? terus orang yang di ajak berantem mana?" Tanyaku lagi penasaran.
"Orangnya pergi buru-buru" ucap si kariawan gudang lain tadi.
"Hmm, aneh..". ucapku
Sebaiknya aku bersiap untuk bekerja. Lagian itu urusan laki-laki, lagian aku kurang suka sama Doni suami Ervina.
"Hmm? kenapa?"
Baru saja Doni melewatiku dengan mata sinisnya, entah ada apa sebenarnya.
"Apa aku melakukan sesuatu padanya? kurasa tidak.." gumamku dalam.hati.
"Sudahlah Doni memang orang yang aneh sekaligus laki-laki kurang ajar. Sebaiknya aku fokus bekerja.
-
Hujan turun di sore hari, aku tertahan di depan gudang sementara yang lainnya sudah mulai pergi untuk pulang kerumah. Sementara aku duduk di bangku depan gudang sambil menunggu hujan reda. Sebenarnya aku merasa sedikit takut, karena cuaca semakin gelap.
"Hmm? Doni? Ngapain kamu di.....
Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, Doni menyeretku masuk ke gudang.
"Lepas!! apa-apaan kamu!!" aku begitu marah atas perlakuan Doni barusan
Tiba-tiba Doni memaksaku bersandar kedinding.
Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi padaku.
"Lepas Doni! kalau tidak aku akan teriak!!"
"Teriak saja, nggak ada yang denger. Aku sudah menahan cukup lama jadi biarkan aku menikmatinya sekali saja. Sekaligus aku mau balas dendam pada suamimu Adrian..". Ucap Doni mengaggetkanku.
"Apa? mas Adrian? kamu kenal dia darimana?!" tanyaku penasaran sambil menahan Doni yang terus mencoba menyentuhku.
"Suamimu tadi kesini, terus nanyain kamu, aku jawab kamu udah nggak kerja lagi disini kamu udah jual diri di remang-remang. Bodohnya suamimu malah percaya dan pergi nyari kamu ke remang-remang sana.. hahahahaa bodoh.." Ejek Doni masih memaksaku.
"Plak!" Aku menampar Doni dan lari keluar.
"Mau kemana kamu?? di luar hujan" Ucap Doni masih mengejarku keluar.
"Mas Adrian?" aku menabrak mas Adrian ketika berlari dari Doni.
"Kamu tunggu disini," ujar mas Adrian.
Entah apa yang terjadi namun sepertinya mas Adrian memukuli Doni di gudang. Aku bingung antara ingin kabur atau tetap disini, aku khawatir mas Adrian kenapa-kenapa.
Tiba-tiba mas Adrian keluar dengan sedikit darah di wajahnya. Menemuiku yang sedang berteduh, dan ia berjalan kearahku. Di bawah derasnya hujan, aku bisa melihat wajahnya yang begitu murung dan tubuhnya yang terlihat lebih kurus.
"Mas kamu nggak apa-apa?" tanyaku melihatnya berdarah sedikit di wajahnya.
Belum sempat bicara banyak, mas Adrian memeluku erat-erat. Dan tubuhnya gemetaran, mas Adrian menangis memeluku erat-erat.
"Maafin mas dek.. maaf..maaf.."
"Mas aku, aku.. sudahlah mas sekarang lebih baik mas ganti baju dulu. Aku harus pulang.." ucapku bingung harus berkata apa.
"Ayo kita pulang kerumah kita dek.." Mas Adrian memohon
"Aku nggak bisa mas, aku belum bisa.." Balasku, berlari menjauh dari mas Adrian.
Mas adrian mengejarku, aku tetap berlari jauh, di bawah hujan.
"Nggak mas mohon kamu harus pulang dek.. Kalau kamu pergi mas bisa mati, mas nggak sanggup.." ucap mas Adrian masih mencoba mengambil hatiku.
"Kamu bakal baik-baik aja mas, aku.. aku nggak bisa.." Balasku lagi.
Mas Adrian menarikku dan mengajaku masuk kemobilnya. Meski aku berusaha keras menolak namun mas Adrian tetap memaksaku masuk. Setelah aku masuk mas Adrian mengunciku di dalam mobil bersamanya.
"Mas.. kamu nggak bisa gini ke aku.." Ucapku lagi sambil berusaha untuk melepaskan diri.
Tiba-tiba.. Mas Adrian menciumku tepat di bibir. Sementara aku masih berusaha mendorongnya agar terlepas, namun.. Sepertinya aku juga menginginkannya, aku membiarkan semuanya terjadi begitu saja tanpa mencoba lari lagi. Rasanya aku tenggelam dalam kerinduan, begitu pula mas Adrian. Lama kelamaan aku dan mas Adrian terbawa suasana dan dinginnya hujan. Kami pun melakukannya di dalam mobil mas Adrian, tepat di bawah derasnya hujan di sore menjelang malam.
"Mas.. jangan.." aku melarang mas Adrian yang sedang mendorongku namun menikmatinya.
"Mas.. mmhh..."
"Sayang, mas sangat merindukan kamu sayang.. mas.. benar-benar rindu.." mas Adrian masih mendorongku, dan sepertinya semakin lama semakin mas Adrian menikmatinya.
"Mas.. aku.. aku mau.."
"Ya sayang mas juga.."
"Mmhhmmmhh..."
Sesuatu telah mengalir di dalam tubuhku, sesuatu yang hangat dan penuh cinta di dalamnya..
Untuk kali ini, aku kalah..