Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesengajaan
Naura maupun Anggara tak ada yang menyahuti. Malas melihat pasangan itu yang cuma datang buat makan. Tak ada sedikit pun bantuan di dapur.
Naura mengambil tempat duduk, dan begitupun dengan Anggara.
Cakra dan Nada ikut serta. Mereka mulai menyendok makanan masing-masing.
"Pak Cakra, mana semua pembantu di rumah ini?" tanya Naura tiba-tiba pada pria itu.
Cakra mengangkat bahu acuh tak acuh. "Tidak tahu."
Naura menatap Cakra yang sengaja pura-pura tidak tahu.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta." Tersenyum tanpa dosa.
Gadis itu hanya diam mengontrol emosinya, tanpa ingin bertanya lagi.
"Naura, lepas makan nanti, aku ingin ajak kau keluar," tiba-tiba Cakra bersuara.
"Keluar ke mana?" tanya Naura.
"Pokoknya kamu ikut saja."
"Tidak. Aku mau istirahat. Besok aku harus kerja," tolak Naura.
"Cuma sebentar."
"Aku bilang tidak, aku tidak mau."
"Kalau kau tidak mau ikut, maka aku tidak akan segan-segan menghukum mu, Naura! Aku ini suamimu, harusnya kau dengar dan ikut perintahku!" ujar Cakra tiba-tiba menggebrak meja, membuat Naura terkejut.
"Naura tidak mau ikut. Kenapa kau terus memaksanya?" ucap Anggara tiba-tiba bersuara tanpa menoleh.
Cakra menatap sinis pada kakaknya. "Dia istriku, dan kau jangan ikut campur. Apa pun yang ingin aku lakukan padanya, itu tidak ada urusannya denganmu!"
Cakra sedikit mencondongkan dirinya.
"Semenjak kau membunuhnya, aku tidak pernah menghargaimu lagi sebagai kakakku," lanjut Cakra.
"Naura. Pergi bersiap. Aku sudah mau pergi. Sekarang!" Lanjut Cakra memerintahkan gadis itu.
Naura yang masih berusaha mencerna ucapan Cakra yang menuduh Anggara sebagai pembunuh, terbuyar dari lamunannya saat mendengar perintah dari pria itu lagi.
Menoleh sekilas pada Anggara yang hanya diam. Diamnya pria itu, malah terlihat seperti mengiyakan tuduhan sang adik.
Ada apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka? batin Naura penasaran.
Meski terasa berat, tapi gadis itu tetap berdiri dari kursinya. Mau tak mau, ia terpaksa mengikuti perintah Cakra. Naura tidak mengganti pakaiannya.
Dia hanya naik ke lantai atas sejenak untuk mengambil tasnya, lalu segera turun kembali.
Anggara dan Cakra ternyata masih berada di meja makan saling diam.
Nada sudah tidak ada di sana, karena juga lagi bersiap-siap untuk pergi.
Naura melirik piring dan mangkok kotor yang berada diatas meja.
"Pulang nanti, saya yang akan kemas mejanya, Pak Anggara. Anda bisa istirahat." Tutur Naura pada pria itu. Mengingat dia akan pergi, hanya Anggara yang tersisa dirumah.
Tapi, pria itu sama sekali tak menjawab. Dia hanya diam menatap adiknya. Begitupun dengan Cakra yang menatap Anggara.
Tak ingin ambil pusing, akhirnya Naura berjalan keluar guna menunggu Cakra diluar saja. Karena jika ingin mengemas meja, itu akan mengambil waktu yang lebih lama. Dan dia tidak mau kalau sampai Cakra marah-marah lagi.
______
Suara dentuman musik terdengar memekakkan telinga. Tempat itu dipenuhi orang-orang yang berdesakan. Banyak wanita dan pria yang mengikuti alunan irama, meliuk-liukkan tubuh mereka dengan gerakan yang pas, seperti itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Naura sampai terpelongo, dia tidak menyangka kalau Cakra akan membawanya ke tempat seperti itu.
Ternyata Cakra membawa Naura ke bar.
Berbeda dengan Nada, yang tidak mempermasalahkannya karena sudah terbiasa dengan situasi tersebut.
Apa pria ini sudah gila? Aku tidak yakin kalau dia masih waras. Bisa-bisanya dia ngajak aku ke tempat seperti ini, geram Naura dalam hati, menatap Cakra yang sedang duduk meminum alkohol bersama Nada.
"Saya mau pulang. Besok saya harus bekerja," ujar Naura, berniat segera pergi.
Cakra dengan cepat menarik tangannya keras, sehingga membuat tubuh wanita itu kembali terduduk.
"Besok aku juga mau kerja, bukan cuma kau yang kerja," ujar pria itu santai.
Naura menatap tajam ke arah Cakra. "Anda sengaja, kan? Melakukan ini?"
Cakra tersenyum penuh arti. "Kalau iya, kenapa?" ujarnya, membuat Naura yang mengatupkan giginya.
"Kakakku sepertinya sangat tertarik padamu, dengan menjadikan mu bahan, aku akhirnya bisa memancing emosi tenangnya," tambah Cakra berbisik ditelinga Naura.
Jadi, dia menjadikanku alat untuk balas dendamnya? Laki-laki ini benar-benar keterlaluan, batin Naura.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls