NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Gerbang Awan Putih

Gerbang Sekte Awan Putih jauh lebih megah dari yang pernah Lin Mu bayangkan—dua pilar batu putih menjulang tinggi, diukir dengan formasi pelindung yang berpendar lembut, dikelilingi kabut tipis yang seolah tak pernah benar-benar menghilang meski matahari bersinar terang di atasnya. Ratusan pemuda dan pemudi dari berbagai penjuru wilayah telah berkumpul di halaman depan, semuanya mengenakan pakaian terbaik mereka, wajah-wajah tegang bercampur harap menghiasi barisan panjang yang mengular menuju meja pendaftaran.

"Aku gugup sekali," Jiang Ling bergumam di samping Lin Mu, tangannya meremas ujung jubahnya sendiri. "Lihat berapa banyak orang yang mendaftar. Kudengar hanya satu dari sepuluh yang akan diterima tahun ini."

Lin Mu mengangguk, matanya menyapu kerumunan dengan tenang. Ia bisa merasakan berbagai tingkat kekuatan qi berbeda dari orang-orang di sekitarnya—sebagian besar masih di tahap Pembuka Meridian, beberapa sudah mencapai Pengumpulan Qi tahap awal seperti dirinya, namun ada juga beberapa yang auranya cukup kuat untuk menarik perhatiannya, jelas berasal dari klan-klan besar yang mampu memberikan sumber daya latihan lebih baik sejak kecil.

Mereka baru saja hendak mengantre di barisan pendaftaran umum ketika suara familiar memanggil dari arah gerbang dalam.

"Lin Mu!"

Yun Zhi melangkah keluar dari balik gerbang, mengenakan jubah putih bersih yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, senyum tipis menghiasi wajahnya. Kehadirannya langsung menarik perhatian seluruh kerumunan di sekitar mereka—seorang murid senior sekte yang menyapa langsung salah satu peserta ujian bukanlah pemandangan biasa.

"Kau datang lebih cepat dari perkiraanku," katanya, menghampiri mereka. "Aku pikir kau baru akan tiba saat musim semi benar-benar dimulai."

"Ada beberapa hal yang memaksaku mempercepat kedatanganku," Lin Mu menjawab, tak menjelaskan lebih jauh di depan umum. Ia mengeluarkan token awan pemberian Yun Zhi dari saku dalam jubahnya. "Aku juga membawa seorang teman seperjalanan, Jiang Ling. Ia berniat mengikuti ujian penerimaan reguler."

Yun Zhi memandang Jiang Ling sejenak, mengangguk sopan. "Selamat berjuang di jalur reguler." Ia kembali menatap Lin Mu. "Dengan token itu, kau tidak perlu mengikuti seleksi awal seperti yang lain. Ikuti aku, para tetua penguji ingin bertemu langsung denganmu."

Jiang Ling menatap Lin Mu dengan mata melebar, campuran takjub dan sedikit iri yang jujur. "Kau benar-benar penuh kejutan, Lin Mu. Baiklah, aku akan mengikuti jalur biasa. Semoga kita bertemu lagi di dalam!"

Mereka berpisah sejenak—Jiang Ling menuju barisan panjang peserta reguler, sementara Lin Mu mengikuti Yun Zhi melewati gerbang dalam menuju aula pengujian khusus, tempat beberapa tetua sekte telah menunggu.

Aula Pengujian Khusus jauh lebih sunyi dibanding riuhnya halaman depan, hanya diisi lima orang tetua berjubah putih dengan berbagai lambang jabatan tersemat di dada mereka, duduk berjajar menghadap sebuah altar batu sederhana di tengah ruangan.

"Jadi kau yang disebut-sebut Yun Zhi dalam laporannya," seorang tetua tertua di tengah barisan berkata, suaranya berat dan berwibawa. "Teknik pengendalian qi lawan melalui titik akupuntur yang telah lama dianggap punah. Aku ingin melihatnya sendiri, bukan sekadar mendengar cerita."

"Tentu, Tetua," Lin Mu menjawab hormat.

"Bukan lewat pertarungan," tetua itu melanjutkan, mengangkat tangannya menghentikan asumsi Lin Mu. "Altar di hadapanmu ini adalah Altar Pengujian Meridian, formasi kuno yang bisa membaca jejak kultivasi seseorang—jenis teknik yang pernah dipelajari, kedalaman pemahamannya, bahkan jejak-jejak samar warisan leluhur kultivasi jika ada. Letakkan tanganmu di atasnya."

Lin Mu ragu sesaat. Formasi seperti ini berpotensi mengungkap terlalu banyak tentang identitas aslinya—identitas yang belum siap ia ungkapkan pada sekte mana pun, betapapun ia mempercayai Yun Zhi secara pribadi. Namun menolak permintaan langsung dari tetua sekte di hadapan seluruh dewan penguji hanya akan menimbulkan kecurigaan yang lebih besar.

Ia melangkah maju, meletakkan telapak tangannya di atas altar batu itu.

Cahaya putih lembut memancar dari permukaan altar, mengalir ke sekujur lengannya, membaca jejak qi yang mengalir di dalam meridiannya. Kelima tetua itu mengamati dengan seksama, mata mereka melebar perlahan seiring formasi menampilkan gambaran samar di udara—pola aliran teknik kultivasi yang jauh lebih kompleks dan kuno dari apa pun yang biasa mereka lihat dari peserta seusia Lin Mu.

"Ini..." salah satu tetua wanita di ujung barisan berbisik, tak percaya. "Pola aliran seperti ini hanya tercatat dalam arsip kuno sekte kita, digambarkan sebagai warisan dari Puncak Pedang Sembilan Langit."

Tetua tertua yang tadi bicara menatap Lin Mu dengan tatapan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya, campuran antara kewaspadaan dan rasa penasaran yang mendalam. "Dari mana kau mempelajari pola kultivasi seperti ini, anak muda?"

Lin Mu menjaga ketenangannya, memilih kata-katanya dengan hati-hati seperti yang telah ia latih sejak awal perjalanan ini. "Sebuah warisan keluarga yang panjang ceritanya, Tetua. Aku bersedia menjelaskan lebih detail, jika sekte ini bersedia menerimaku bukan hanya sebagai murid biasa, melainkan sebagai seseorang yang mungkin bisa dipercaya dengan rahasia yang lebih besar dari sekadar ujian penerimaan semata."

Kelima tetua saling bertukar pandang, sebuah percakapan tanpa kata yang berlangsung cukup lama sebelum akhirnya tetua tertua itu mengangguk pelan.

"Diterima," katanya akhirnya, "bukan sebagai murid luar biasa, tapi langsung sebagai murid dalam—gelar yang jarang diberikan pada peserta ujian penerimaan pertama kali dalam sejarah sekte ini. Tapi aku memperingatkanmu, Lin Mu: kepercayaan yang kami berikan hari ini datang dengan harapan bahwa suatu hari kau akan bersedia menjelaskan lebih jauh tentang siapa dirimu sebenarnya."

Lin Mu membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan sedikit kelegaan yang menyelinap di balik ketenangannya. "Aku berjanji, Tetua. Saatnya akan tiba."

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!