Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Ujian Sekte Bintang Jatuh
Setelah menempuh perjalanan melewati kota dan hutan belantara, Shen Luo akhirnya tiba di wilayah inti Aliran Lurus.
Di hadapannya berdiri Gunung Puncak Pedang yang menjulang menembus awan. Tebing-tebing terjal di sepanjang lerengnya tampak seperti bekas tebasan pedang raksasa. Beberapa pulau batu melayang di sekitar gunung dan terhubung satu sama lain oleh jembatan cahaya.
Qi spiritual di tempat ini jauh lebih pekat daripada di Desa Tanpa Nama.
Sembilan Akar Spiritual di dalam Dantian Shen Luo berdenyut perlahan, seolah menyambut Qi yang telah lama tidak mereka rasakan.
Di kaki gunung terbentang alun-alun yang dipenuhi puluhan ribu pendaftar. Para pemuda dari berbagai penjuru telah datang untuk mengikuti ujian masuk Sekte Bintang Jatuh, sebuah ujian yang hanya dibuka sekali setiap lima tahun.
Di tengah alun-alun berdiri panggung batu giok. Beberapa tetua berjubah putih duduk di atasnya dengan wajah penuh wibawa. Tepat di tengah panggung terdapat sebuah monumen giok setinggi tiga tombak. Cahaya samar terus berputar di dalam permukaannya.
Itulah Monumen Giok Pengukur Takdir.
Tetua Kepala berdiri di depan monumen dan mengangkat tangannya.
"Ujian pertama, Pengukuran Akar Spiritual!"
Suaranya menggema ke seluruh alun-alun dan seketika membuat kerumunan menjadi tenang.
"Siapa pun yang memiliki lima Akar Spiritual atau lebih tidak memenuhi syarat untuk menjadi murid Sekte Bintang Jatuh. Mereka yang memiliki tiga Akar Spiritual dapat menjadi murid luar. Dua Akar Spiritual akan menjadi murid luar elit. Sedangkan satu Akar Spiritual murni akan langsung diterima sebagai murid pelataran dalam."
Para pendaftar segera maju satu per satu.
Seorang pemuda pucat meletakkan tangannya di atas monumen. Beberapa saat kemudian, cahaya redup muncul di permukaannya.
"Lima Akar Spiritual. Tidak memenuhi syarat. Berikutnya!"
Wajah pemuda itu memucat. Ia menundukkan kepala dan segera meninggalkan panggung.
Tidak lama kemudian, seorang pemuda berjubah sutra emas maju. Begitu telapak tangannya menyentuh monumen, dua pilar cahaya merah dan biru menjulang tinggi ke udara.
"Dua Akar Spiritual, Api dan Air."
Nada suara Tetua Kepala seketika menjadi jauh lebih ramah.
"Bagus. Kau bisa menunggu di paviliun."
Perlakuan yang begitu berbeda membuat para pendaftar semakin tegang.
Di sini, bakat menentukan segalanya.
Yang memiliki bakat akan dipuji dan dihormati.
Yang dianggap tidak berguna akan disingkirkan tanpa diberi kesempatan.
Tak lama kemudian, tibalah giliran Shen Luo.
Begitu ia menaiki panggung, bisikan segera terdengar dari berbagai penjuru.
Di antara para pemuda yang mengenakan jubah indah dan membawa senjata pusaka, Shen Luo tampak sangat mencolok. Ia hanya mengenakan jubah abu-abu penuh tambalan dan sepasang sepatu jerami. Sebilah pedang kayu tua tergantung di pinggangnya, sementara kantung kain kumal tersampir di bahunya.
"Siapa yang membiarkan pengemis masuk ke sini?"
"Pedang kayu? Dia mau ikut ujian atau menebang pohon?"
Tawa terdengar dari kerumunan.
Shen Luo tidak memedulikannya.
Selama sepuluh tahun hidup di Desa Tanpa Nama, ia sudah terbiasa menerima tatapan seperti itu. Hinaan orang lain bahkan tidak cukup untuk menggoyahkan Hati Dao-nya.
Ia berjalan mendekati Monumen Giok Pengukur Takdir.
Tetua Kepala menatapnya sekilas sebelum berkata dengan tidak sabar,
"Letakkan tanganmu. Jangan buang waktu."
Shen Luo tidak menjawab. Ia mengangkat tangan dan menempelkannya pada permukaan giok, lalu mengalirkan sedikit Qi ke dalam monumen.
Wuuung!
Tidak terjadi apa-apa.
Kerumunan mulai berbisik.
Namun beberapa saat kemudian, permukaan monumen tiba-tiba bergetar hebat.
Sembilan pilar cahaya muncul hampir bersamaan.
Merah, biru, emas, hijau, cokelat, hitam, putih, ungu, dan perak.
Kesembilan warna itu memenuhi panggung.
Namun tidak ada satu pun yang benar-benar terang. Cahaya mereka saling bertabrakan dan bergetar tidak stabil, seolah-olah sembilan kekuatan berbeda sedang berusaha merebut tempat yang sama.
Seluruh alun-alun perlahan menjadi sunyi.
Tak seorang pun pernah melihat hasil seperti itu.
Tetua Kepala menatap monumen dengan wajah kaku. Ia menunggu beberapa saat, lalu ekspresinya berubah menjadi dingin.
"Sembilan Akar Spiritual."
Ia mengucapkannya seolah sedang menjatuhkan hukuman.
"Sampah."
Satu kata itu langsung memecah kesunyian.
Kerumunan pun meledak dalam tawa.
"Sembilan Akar Spiritual? Baru kali ini aku melihat bakat separah itu!"
"Lebih baik pulang dan bertani!"
"Jangan buang waktu disink. Orang seperti itu tidak akan pernah mencapai apa-apa!"
Tetua Kepala mengangkat tangan untuk menghentikan keributan.
Tatapannya kembali jatuh pada Shen Luo.
"Enyah dari sini. Sekte Bintang Jatuh tidak membutuhkan sampah sepertimu."
Tangannya bergerak.
Gelombang Qi yang kuat langsung melesat menuju Shen Luo.
Namun ketika gelombang itu menyentuh tubuhnya, kekuatan tersebut lenyap begitu saja tanpa meninggalkan sedikit pun bekas.
Shen Luo bahkan tidak bergeser setengah langkah.
Tawa di alun-alun perlahan menghilang.
Tetua Kepala menyipitkan mata.
Baru sekarang ia benar-benar memperhatikan pemuda di hadapannya.
Shen Luo menarik tangannya dari monumen dan menatap Tetua Kepala dengan tenang.
"Jadi, hanya karena hasil dari batu ini, kau sudah memutuskan bahwa aku sampah?"
"Berani sekali kau mempertanyakan keputusan Sekte Bintang Jatuh."
"Aku tidak mempertanyakan sekte."
Shen Luo menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku hanya ingin tahu apakah penilaian kalian benar."
Beberapa tetua di belakang Tetua Kepala mulai saling pandang.
Tetua Kepala mencibir.
"Dengan sembilan akar yang terbagi dan tidak memiliki satu pun akar utama, apa yang bisa kau buktikan?"
Shen Luo tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada para tetua di atas panggung.
"Aku pernah mendengar Sekte Bintang Jatuh memiliki Lorong Pedang Besi."
Mendengar nama itu, ekspresi beberapa tetua berubah.
Lorong Pedang Besi bukanlah ujian biasa. Tempat itu digunakan untuk menguji ketahanan tubuh, kemampuan bertarung, dan keberanian seorang murid. Bahkan para murid sekte yang telah berkultivasi selama bertahun-tahun tidak semuanya mampu melewatinya.
Shen Luo kembali menatap Tetua Kepala.
"Kalau aku bisa melewati Lorong Pedang Besi dengan selamat, bukankah itu cukup untuk membuktikan bahwa jumlah Akar Spiritual tidak menentukan segalanya?"
Kerumunan kembali gaduh.
"Dia ingin masuk Lorong Pedang Besi?"
"Dia gila?"
"Jangankan sembilan akar, bahkan murid dengan dua akar pun belum tentu sanggup melewatinya!"
Tetua Kepala menatap Shen Luo cukup lama.
"Apakah kau tahu apa yang sedang kau minta?"
"Ya." Jawaban Shen Luo sederhana dan tanpa keraguan.
"Aku hanya ingin satu kesempatan."
Tatapan Tetua Kepala semakin tajam.
Pemuda ini benar-benar tidak mengenal rasa takut.
Jika ia menolak, Sekte Bintang Jatuh akan terlihat seolah takut menerima tantangan seorang pemuda di hadapan puluhan ribu pendaftar.
Namun jika ia menerima, Shen Luo mungkin tidak akan keluar hidup-hidup.
Setelah beberapa saat, Tetua Kepala akhirnya tersenyum dingin.
"Baik."
Suaranya menggema ke seluruh alun-alun.
"Karena kau ingin membuktikan dirimu, Sekte Bintang Jatuh akan memberimu kesempatan."
Ia mengangkat tangannya.
"Lorong Pedang Besi akan dibuka!"
Suara itu seperti batu yang dilemparkan ke dalam danau tenang.
Seluruh alun-alun langsung gempar.
Para pendaftar saling berbisik, sementara beberapa murid sekte bahkan menunjukkan ekspresi bersemangat. Mereka tahu bahwa ujian yang sesungguhnya akan segera dimulai.
Di tengah kerumunan yang gaduh, Shen Luo tetap berdiri dengan tenang.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Sekte Bintang Jatuh, sudut bibirnya terangkat tipis.
Akhirnya, ia mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya.
Bukan melalui jumlah Akar Spiritual.
Bukan melalui penilaian sebuah monumen.
Melainkan melalui kekuatannya sendiri.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/