Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-21
..."Wah, wah... lihat siapa yang sedang bermain peran jadi asisten berkelas," sindir Clarissa dengan nada penuh racun, menyilangkan tangan di dada. "Mahrup, kamu yakin mau mempertahankan cewek ini setelah melihat berkas jebakan yang dikirim ke seluruh direksimu jam lima sore tadi?"
Mahrup bahkan tidak merendahkan dirinya untuk membalas sindiran murah tersebut. Tanpa mengacuhkan kehadiran Clarissa maupun senyum provokatif Dion, jemari hangat Mahrup secara alami meraih pergelangan tangan Hazel, menariknya lembut namun protektif ke balik punggungnya.
"Gausah ditanggepin," bisik Mahrup dingin di dekat telinga Hazel, mengabaikan seruan Clarissa yang memanggil namanya dengan penuh amarah di belakang mereka.
Pintu sedan hitam mewah itu tertutup rapat, membungkam seluruh kebisingan malam kota Jakarta dan menyisakan keheningan yang mendadak terasa begitu intens. Di dalam kabin mobil, Hazel terduduk kaku.ia gatau kenapa sangat gelisah berada sedekat ini dengan sang CEO.
Mobil mulai melaju menembus gemerlap lampu jalanan ibu kota. Hazel menunduk pelan, meremas jemarinya di atas pangkuan.
"Tuan..." suara Hazel mengalun parau dan sangat halus, memecah hening."Maaf jika Hazel Tadi Ndak Sopan Sama Klien Maaf kalau Hazel cuma Bisa Malu Maluin"
"Hazelia," potong Mahrup rendah. Suaranya tidak dingin seperti biasanya, melainkan dalam dan sarat akan kehangatan yang menggetarkan. Pria itu memutar tubuhnya sedikit, menatap profil samping wajah Hazel yang diterpa pendar pudar lampu jalan dari balik jendela.
Hazel menoleh ragu, menyatukan iris matanya yang jernih dengan tatapan teduh milik Mahrup.
"Kamu tampil sangat luar biasa malam ini," lanjut Mahrup, tatapannya tak beralih sedikit pun dari mata Hazel. "Pak Winata bukan tipe orang yang mudah memberikan keputusannya dalam satu kali jamuan. Tapi kejujuranmu, ketulusanmu... dan caramu mencairkan suasana membuat kesepakatan bernilai ratusan miliar itu berpihak pada kita."
Hazel mengerjap kaget. Sebuah pujian tulus yang mengalir alami dari mulut seorang Mahrup Mahardika membuat dirinya sendiri gugup. Pipinya mendadak memanas, bersemu merah di bawah pencahayaan kabin yang remang.
"T-Tuan... Hazel cuma berusaha enggak bikin Tuan malu kok," bisik Hazel malu-malu, menyunggingkan senyum manis yang teramat jujur. "Hazel kan sudah janji bakal buktikan kalau Tuan enggak salah pilih orang."
Mahrup menatap senyum itu. Hatinya yang dulu beku dan runtuh akibat pengkhianatan di masa lalu kini terasa berdesir hebat.
Kehadiran Hazel bukan lagi sekadar asisten di ruang kerjanya, melainkan oase hangat yang tanpa disadari perlahan memulihkan jiwanya yang mati rasa.
"Saya nggak pernah merasa salah memilihmu, Hazelia," gumam Mahrup sangat pelan, suaranya serak yang terdengar begitu seksi mengalun di telinga hazelia.
Saat mobil mendadak berhenti di lampu merah, Hazel bergeser sedikit hingga tubuhnya tak sengaja menarik sabuk pengamannya. Mekanisme sabuk pengaman itu tersangkut, menahan dadanya dan membuat Hazel terkunci canggung.
"Eh? Kok macet sih..." gumam Hazel panik, menarik-narik tali sabuk pengamannya dengan heboh.
"Jangan ditarik kasar," tegur Mahrup lembut.
Tanpa peringatan, Mahrup memajukan tubuhnya ke arah Hazel. Jarak di antara mereka terkikis habis dalam sekejap. Kehadiran tubuh jangkung Mahrup yang begitu dekat membuat Hazel membeku total, menahan napasnya di tenggorokan.
Hazel bisa merasakan kehangatan embusan napas Mahrup yang beraroma mint dan kopi menyapu pelipisnya, sementara aroma parfum maskulin sang CEO menguasai seluruh indranya.
Tangan kanan Mahrup terulur melintasi dada Hazel, jemari panjangnya menyentuh permukaan tali sabuk pengaman tepat di dekat bahu gadis itu. Sentuhan kulit dan kehangatan yang menyerap di antara mereka membuat jantung Hazel berdegup liar bagaikan letupan kembang api.
Mahrup menarik mekanisme pengunci sabuk itu perlahan. Namun, alih-alih langsung kembali ke posisinya, gerakan jari Mahrup mendadak terhenti.
Waktu seolah melambat. Ibu jari Mahrup secara tidak sengaja mengusap lembut helai rambut Hazel yang menyangkut di tepi kerah blusnya, menyelipkannya ke belakang telinga mungil gadis itu. Tatapan mata Mahrup mengunci netra Hazel dari jarak hanya beberapa senti. Di dalam iris gelap sang CEO, tak ada lagi raut dingin pria tak tersentuh,yang ada hanyalah sorot mata seorang pria yang sedang bertarung mempertahankan perasaannya pada wanita di hadapannya.
"T-Tuan..." desis Hazel lirih, suaranya bergetar. Wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Ia mencoba memalingkan wajah, namun jarak yang terkikis di antara mereka membuat embusan napas hangat Mahrup terasa begitu nyata di kulit pipinya, mengunci seluruh indranya.
"Tetap seperti ini sebentar, Hazelia..." bisik Mahrup penuh kekaguman menatap bibir Hazel lalu kembali menatap matanya yang polos.
Ibu jari Mahrup bergerak perlahan, mengusap sudut bibir Hazel dengan kelembutan yang memabukkan, sementara jarak di antara mereka kian terkikis hingga Hazel bisa merasakan detak jantung Mahrup yang berpacu sama cepatnya.
Atmosfer romantis yang begitu pekat dan intens melingkupi mereka berdua di dalam mobil yang sunyi. Dunia di luar seolah tak lagi penting.
Namun, sebelum bibir Mahrup bersuara lagi, ponsel pribadi Mahrup yang tergeletak di konsol tengah mendadak bergetar hebat. Layar ponsel itu menyala terang, memunculkan notifikasi panggilan darurat dari nomor rumah sakit.
Tatapan Mahrup terputus kasar. Pria itu menarik tubuhnya kembali, meraih ponselnya dengan raut wajah yang mendadak berubah tegang.
Ia mengangkat telepon tersebut. Suara Dokter Spesialis dari ruang ICU menggema panik melalui pengeras suara:
"Tuan Mahrup! Kondisi Ibu Maria mendadak tak sadarkan diri karena ada indikasi obat penenang dosis tinggi yang masuk ke selangnya... Dan CCTV lorong merekam seseorang beridentitas staf Anda baru saja keluar dari ruang perawatan!"