Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Gedung Asrama Putra Universitas California terasa begitu dingin dan hampa. Sinar matahari sore yang menembus gorden kamar nomor 104 tidak lagi mampu memberi kehangatan.
Di dalam ruangan yang sudah ditinggalkan pemiliknya itu, Draxler Lutolf Ashford duduk membisu di tepi ranjang milik Ember.
Kedua tangannya tertaut erat di depan wajah, menopang kepalanya yang terasa amat berat. Pria yang biasanya dipuja karena ketampanan, ketenangan, dan status sosialnya yang tak tersentuh itu, kini tampak begitu rapuh dan hancur.
Laporan resmi dari detektif swasta kepercayaan keluarga Ashford baru saja masuk ke ponselnya sepuluh menit lalu: Marcella Ember Vitiello telah secara resmi mengajukan pengunduran diri dari universitas, menutup seluruh rekening bank lamanya, dan menghilang tanpa meninggalkan jejak penerbangan maupun lokasi tempat tinggal baru.
Bukan hanya itu, uang transferan darurat sebesar sepuluh juta dolar yang dikirimkan oleh pihak keluarga Ashford di New York demi menutup mulut dan menghentikan ancaman penyebaran video tersebut... telah berhasil dicairkan melalui beberapa akun perantara internasional hanya dalam hitungan jam.
Cair.
Uang itu benar-benar diambil.
Skandal itu diatur dengan sangat rapi, dingin, dan tanpa cela.
Draxler memejamkan matanya rapat-rapat. Hantaman kenyataan itu terasa jauh lebih menyiksa daripada pukulan fisik mana pun.
Selama beberapa hari terakhir, otaknya yang dimabuk cinta dan keputusasaan berusaha keras mencari pembenaran. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Ember dijebak, bahwa Ember diancam oleh pihak luar, atau bahwa gadis itu melakukan semua ini karena terdesak situasi emosional.
Draxler bahkan siap pasang badan di hadapan Mommy-nya dan seluruh keluarga besar Ashford di New York untuk membela Ember.
Namun, fakta yang terhampar di depan matanya meremukkan seluruh pertahanan otaknya.
Kamera yang dipasang sengaja sebelum penyatuan mereka di kamar hotel...
Pesan ancaman pemerasan yang dikirim tepat di pagi hari setelah ia menyerahkan seluruh kepolosannya...
Bercak darah di seprai putih yang sempat dikiranya sebagai lambang kesucian murni...
Dan kini, sepuluh juta dolar yang lenyap bersama keberadaan gadis itu.
"Kau benar-benar memanfaatkanku, Ember..." suara Draxler meluncur parau dari tenggorokannya, pecah oleh getaran rasa sakit yang tak tertahankan.
Tawa sinis yang getir keluar dari bibirnya.
Tawa yang meratapi kebodohannya sendiri.
Ternyata, seluruh tuduhan dan ucapan dingin Ember di taman belakang asrama malam itu bukanlah sebuah kejujuran gertakan untuk menjauhkannya, melainkan sebuah petunjuk nyata.
Ember memang tidak pernah mencintainya.
Ember mendekatinya sejak hari pertama di kampus murni karena nama besar Ashford.
Ember memanfaatkannya karena butuh batu loncatan, butuh uang, dan butuh jaminan finansial dalam jumlah fantastis.
Gadis itu telah membaca setiap kelemahan Draxler.
Ember tahu bahwa Draxler adalah pria polos yang memegang teguh janji pada ibunya, seorang perjaka murni yang belum pernah menyentuh wanita.
Ember menggunakan kesuciannya sendiri sebagai umpan paling mematikan—menyerahkan tubuhnya semalam demi mengunci rasa bersalah dan cinta Draxler, lalu memeras keluarganya di pagi hari tanpa sedikit pun rasa iba.
"Sialan..." desis Draxler seraya meremas rambutnya sendiri dengan kuat.
Air mata amarah dan kepedihan merembes menyusuri pipinya, jatuh menetes ke atas lantai kayu kamar.
Di luar pintu kamar, Brave dan Kal El berdiri membisu.
Dua sahabat yang biasanya selalu melontarkan lelucon dan candaan konyol itu kini tak sanggup mengutarakan sepatah kata pun.
Mereka menyaksikan sendiri bagaimana pangeran es yang dulunya kokoh, kini hancur berkeping-keping di dalam kamar kosong tersebut.
Brave melangkah masuk secara perlahan, meletakkan tangannya di bahu tegap Draxler yang gemetar.
"Drax... ayo pulang ke penthouse. Pihak kepolisian dan pengacara keluarga Ashford di New York sudah menangani kasus pemerasan ini. Kau tidak perlu berada di sini lagi."
Draxler tidak bergerak.
Manik matanya yang memerah menatap kosong pada sudut meja belajar tempat Ember biasa meletakkan buku-bukunya.
"Dia mendesain segalanya, Brave," ucap Draxler dengan suara rendah dan kosong, seolah jiwanya telah tercabut keluar dari tubuhnya.
"Dia mengambil keperjakaanku, dia mengambil harga diriku, dia membuatku bertekuk lutut seperti orang bodoh di depan seluruh kampus... dan setelah dia mendapatkan uang puluhan juta dolar itu, dia membuangku begitu saja."
"Drax..." panggil Kal El prihatin.
Draxler perlahan berdiri.
Tubuh tingginya bergoyang sedikit sebelum ia kembali menegakkan posisinya.
Raut wajahnya yang tadinya hancur dan basah oleh air mata perlahan-lahan berubah—mengeras, membeku, dan kehilangan seluruh pendar kehangatan yang sempat mekar beberapa hari terakhir.
Pelajaran paling berharga dan paling berdarah dalam hidupnya telah selesai dipelajari.
Nasihat sang Mommy—Glow Ashford—yang selama bertahun-tahun ia pegang, kini terngiang kembali dengan gema yang begitu pekat dan menghantui:
“Jangan pernah membuka hatimu untuk wanita sembarangan, Draxler. Dunia luar sangat kejam, dan wanita bisa menggunakan paras serta kelemahan emosionalmu untuk menghancurkanmu.”
Draxler tersenyum dingin—sebuah senyum tanpa emosi yang memancarkan kekosongan mutlak.
Mommy-nya benar.
Sang Mommy seratus persen benar.
Jatuh cinta, membuka hati, menaruh harapan pada seorang wanita, apalagi mengikatkan diri dalam sebuah hubungan atau pernikahan... adalah tindakan paling bodoh dan sia-sia yang pernah ia lakukan sepanjang 19 tahun hidupnya.
Ia telah menyerahkan kehormatannya, harga dirinya, dan cintanya yang paling murni kepada seorang gadis yang hanya menganggapnya sebagai lelucon dan mesin uang.
"Mulai hari ini..." bisik Draxler dengan intonasi yang begitu dingin hingga sanggup membekukan seluruh isi ruangan. "...nama Marcella Ember Vitiello dan seluruh konsep tentang 'cinta' telah mati dalam hidupku."
Draxler melangkah keluar dari kamar nomor 104 tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia melangkah menyusuri koridor asrama dengan punggung yang ditegakkan kaku, meninggalkan masa lalunya, kepolosannya, dan perasaan cintanya yang telah hancur berantakan di dalam kamar yang dingin itu.
Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari universitas.
Sebuah jet pribadi berlogo korporasi internasional membelah awan di atas langit California, terbang menuju ibu kota finansial utama di Pantai Timur.
Di dalam kabin kelas utama yang serba mewah dan tenang, Cinderella—yang mendiami raga Marcella Ember Vitiello—duduk bersandar di dekat jendela.
Ia mengenakan gaun kain sutra berwarna hitam elegan yang membalut tubuh tipisnya dengan sempurna.
Rambut hitam lurusnya ditata dengan keanggunan tingkat tinggi, memancarkan aura seorang wanita penguasa yang tak tersentuh.
Di atas meja lipat di hadapannya, sebuah laptop canggih menyalakan layar konfirmasi transfer dana.
Angka $10,000,000 telah secara resmi mengendap di dalam rekening cangkang internasional atas nama institusi investasi rahasia yang baru saja didirikannya.
Amunisi finansial yang teramat sangat besar untuk memulai manuver penghancuran Huntington Group secara masif dari dalam pasar saham.
Di samping laptop, terdapat sebuah dokumen resmi mengenai pengunduran diri Ember dari universitas, serta paspor baru dengan identitas korporasi yang siap digunakannya.
Cinderella menatap pemandangan awan di luar jendela kaca jet pribadi.
Raut wajahnya begitu tenang, datar, dan tanpa cela. Tidak ada penyesalan, tidak ada rasa bersalah, dan tidak ada air mata.
Sebagai Cinderella Huntington—wanita yang pernah mati secara tragis akibat pengkhianatan cinta Jonah dan Siena—ia tahu betul bahwa dunia kekuasaan dan balas dendam tidak memberi ruang untuk empati atau perasaan sentimental.
Aksi memeras keluarga Ashford menggunakan rekaman video semalam memang merupakan rencana paling kejam dan paling kotor yang pernah ia eksekusi.
Namun baginya, itu adalah langkah paling cepat dan efisien untuk mencapai dua tujuan sekaligus:
Mendapatkan modal finansial raksasa dalam waktu singkat tanpa perlu menunggu bertahun-tahun.
Memastikan bahwa Draxler Lutolf Ashford membencinya setengah mati, menganggapnya sebagai wanita murahan yang jahat, sehingga pemuda itu tidak akan pernah lagi mencarinya, mencampuri urusannya, atau terseret ke dalam perang berdarah yang akan ia kobarkan melawan keluarga Huntington.
Kau bebas sekarang, Mr. Ashford, batin Cinderella dingin.
Bencilah aku seumur hidupmu. Itu jauh lebih baik daripada kau harus mati terseret dalam perangku.
Namun, saat jet pribadi itu mengalami turbulensi tipis dan berguncang perlahan... jemari tangan Cinderella tanpa sadar meremas bagian dada gaun hitamnya.
Di balik logika dingin pimpinan eksekutif yang menguasai pikirannya, ada denyutan halus yang teramat pedih di dalam dadanya—sebuah rasa sesak yang berasal dari sudut terdalam jiwa raga Ember yang asli.
Ingatan akan tatapan mata Draxler yang memerah dan penuh air mata saat pria itu berteriak "Aku mencintaimu!" di taman belakang...
Kehangatan ciuman panas mereka di kamar hotel...
Serta kelembutan sentuhan seorang yang dengan tulus memberikan seluruh kehormatannya di atas ranjang semalam...
...berputar tanpa henti di dalam memorinya.
Cinderella memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang sarat akan beban berat.
"Cinta adalah racun paling mematikan di dunia ini," bisik Cinderella pada dirinya sendiri di dalam kabin jet yang hening.
"Kau sudah merasakannya saat menjadi Cinderella... dan kau tidak boleh membiarkan raga Ember hancur untuk kedua kalinya karena perasaan bodoh yang sama."
Cinderella membuka matanya kembali.
Manik matanya kilat memancarkan kekejaman dan ketegasan mutlak. Ia mengusap layar laptopnya, menutup seluruh dokumen tentang universitas, dan membuka halaman analisis data saham Huntington Group.
Permainan di kampus telah berakhir.