Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Beku
Suara kokok ayam dari kandang tetangga bersahut-sahutan di udara pagi Kota Solo yang masih diselimuti kabut tipis. Di dalam kamar paviliun sempit itu, Eda bangun tanpa mendengar alarm ponselnya. Matanya terasa bengkak dan berat akibat semalaman menangis dalam diam.
Di sebelah kasurnya, Agus sudah tidak ada. Selimut lurik terlipat rapi di sudut kasur. Dari arah dapur, tidak ada lagi bau harum tumisan bawang putih atau sapaan datar seperti biasanya. Suasana rumah terasa jauh lebih dingin dan kaku dibanding hari-hari sebelumnya.
Eda bangkit perlahan, mengambil handuk, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wuduh. Usai menunaikan salat Subuh, ia duduk termenung di atas sajadah yang sudah mulai tipis warnanya. Pikirannya berkecamuk. Ancaman Agus semalam soal uang bensin lima puluh ribu rupiah terus berputar-putar di kepalanya. Di dompetnya, uang tunai tinggal menyisakan beberapa lembar uang sepuluh ribuan.
Pukul setengah enam, Eda sudah siap dengan seragam dinas cokelat mudanya. Ia melangkah ke ruang tengah dengan tas kerja di tangan. Di meja makan, tidak ada piring sarapan atau segelas teh hangat seperti biasanya. Agus duduk di kursi plastik dekat pintu depan sambil menghisap rokok kretek, sementara Doni sedang memanaskan sepeda motor bebek tuanya di halaman.
Begitu melihat Eda keluar kamar, Agus berdiri tanpa suara. Wajah pria itu dingin, matanya menatap Eda lurus-lurus tanpa ekspresi.
"Mana uang bensin lima puluh ribu yang kuinginkan semalam?" tanya Agus langsung to the point. Suaranya ditekan rendah agar tidak didengar oleh Ibu Ratna atau Rini yang masih di dalam kamar.
Eda berhenti di dekat meja makan. Ia menelan ludahnya yang terasa pahit. "Gus, aku benar-benar tidak pegang uang tunai lagi. Di dompet cuma ada sisa buat ongkos angkot aku ke SD Harapan Bangsa minggu ini. Kalau kamu minta lima puluh ribu buat bensin, aku naik apa ke sekolah?"
Mendengar jawaban itu, raut wajah Agus langsung berubah sinis. Ia membuang puntung rokok ke tanah, lalu menginjaknya dengan ujung sandal jepitnya.
"Oh, jadi kamu mau bilang uangmu habis? Padahal baru seminggu kemarin digaji PPPK," sindir Agus tajam, suaranya mulai meninggi. "Beralasan terus tiap kali diminta tolong. Giliran buat cicilan utang keluargamu atau buat Mama, uangmu selalu ada!"
"Itu utang bank, Agus! Dipotong otomatis sama dinas!" bela Eda, suaranya ikut bergetar menahan geram. "Bukannya aku tidak mau kasih, tapi memang dompetku kosong!"
"Alasan!" potong Agus keras. "Kalau kamu tidak mau kasih uang bensin, ya sudah! Jangan harap aku mau antar kamu ke depan gang. Jalan kaki sana sendiri ke jalan raya!"
Keributan kecil itu rupanya memancing keluar Ibu Ratna dari kamar. Wanita sepuh itu berjalan tertatih-tatih sambil memegang pinggangnya.
"Ada apa sih pagi-pagi sudah ribut teriak-teriak?!" tegur Ibu Ratna dengan nada ketus, langsung memihak menantunya. "Kamu ini jadi istri kok enggak ada nurut-nurutnya sama suami, Ed. Cuma dimintai uang bensin segitu saja kok diperdebatkan. Pamali perempuan membentak suami!"
Eda menatap ibu kandungnya sendiri dengan dada sesak. Tidak ada satu pun kalimat pembelaan atau pertanyaan apakah anaknya punya uang atau tidak. Yang ada hanyalah makian dan tuntutan agar ia selalu mengalah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Eda membalikkan badan. Ia tidak mau memperpanjang debat kusir yang menguras urat syaraf di pagi hari. Eda menyambar payung hitam di sudut pintu, lalu melangkah keluar rumah di bawah terpaan gerimis pagi yang mulai turun rintik-rintik.
"Mau kemana kamu, Ed?!" panggil Agus dari teras dengan nada mengejek. "Jalan kaki beneran? Hujan lho itu!"
Eda tidak menoleh. Ia terus melangkah cepat menembus gang sempit berair di bawah rintik gerimis. Sepatu pantofel hitamnya basah terendam genangan air comberan gang. Air mata hangat kembali meleleh di pipinya, berpadu dengan air hujan yang jatuh di wajahnya.
Jalan kaki. Ya, Eda memilih berjalan kaki menyusuri gang demi gang menuju jalan raya tempat angkot biasa mangkal, daripada harus terus-menerus tunduk di bawah tekanan mental suaminya sendiri.
Di tengah langkahnya yang berat dan napasnya yang terengah-engah karena dingin, Eda mengepalkan kedua tangannya erat-erat di dalam saku jas hujan plastiknya. Keputusannya sudah bulat. Rumah kontrakan itu bukan lagi tempat berlindung baginya, melainkan sangkar besi yang siap mematahkan sisa-sisa kewarasannya jika ia tidak segera keluar dari sana.