NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 15

BAB 15

"Buku apa lagi ini, Maya?" tanya Dito ragu seraya menatap buku sketsa kulit di atas meja.

"Buka halaman lima belas," perintah Maya singkat.

Nia mengulurkan jemarinya, membuka lembaran kertas tebal bertekstur kasar di dalam buku tersebut. Namun, begitu pandangannya menangkap goresan pensil di sana, napas Nia terhenti seketika.

Di atas kertas itu, tergambar rancangan kerajinan logam yang sangat rumit, tetapi dieksekusi dengan presisi geometris yang sempurna. Sebuah rancangan harness dada dan pelat bahu fleksibel berbahan kuningan pahat. Yang membuat Nia terperanjat hingga menutupi mulutnya adalah bagaimana garis-garis tegas logam itu digambar secara khusus untuk mengapit, menopang, dan mengunci siluet gaun sutra buatan Maya.

"Ini... ini luar biasa," bisik Nia dengan suara bergetar seraya menyusuri arsiran pensil yang halus. "Struktur logam ini bukan sekadar hiasan luar! Ini adalah rangka penyangga fungsional! Garis logam ini dirancang untuk menopang seluruh bobot lipatan kain sutra tebalmu di bagian pinggang dan bahu, sehingga kain sutranya bisa mengembang sempurna tanpa butuh penguat sintetis di bagian dalam! Siapa yang menggambar sketsa sejenius ini, Maya?"

"Rendra," jawab Maya singkat.

Dito dan Nia seketika mendongak bersamaan, bertukar pandang dengan ekspresi kaget yang tidak bisa ditutupi.

"Rendra?" ulang Dito penuh ketidakpercayaan. "Maksudmu Rendra sang kurator dan ahli logam yang kaku itu? Pria yang paling sering mendebat dan membedah kelemahan gaunmu di depan para juri?"

"Dialah orangnya," kata Maya tegas seraya menatap lurus ke arah sketsa di hadapannya. "Kritik pedas yang ia lontarkan selama ini bukan untuk menjatuhkanku. Dia menyadari betul kelemahan struktur gaunku yang rentan runtuh dan diserang. Dan setelah apa yang kami lalui bersama sore tadi di pelataran candi, dia menyerahkan buku sketsa ini. Dia merancang kerangka ukiran logam ini secara khusus... sebagai penopang bagi kainku."

Nia kembali mengamati detail teknis di lembaran tersebut dengan cermat.

"Gaya arsirannya sangat bersih, proporsional, dan kokoh," puji Nia jujur. "Pendekatan struktur geometrisnya memang mengingatkan pada kerangka ukiran logam klasik tingkat tinggi. Tapi keahlian Rendra dalam memetakan beban material di atas kertas ini benar-benar di luar dugaan. Ini karya maestro."

Mendengar analisis Nia, Dito perlahan berdiri tegak. Matanya yang semula redup kini berbinar tajam ketika otak bisnisnya mulai melihat peluang besar.

"Maya... jika kau mengintegrasikan kerajinan logam rancangan Rendra ini ke dalam gaun sutramu," analisis Dito dengan semangat yang membumbung tinggi, "kita tidak lagi menjual gaun malam biasa di panggung eksibisi! Karya ini berubah menjadi mahakarya kolaboratif berskala tinggi antara desainer busana kontemporer dan perupa logam ternama! Bobot nilai karya kita di mata juri, pengamat seni, dan kurator independen akan melonjak drastis!"

"Tapi bagaimana hal ini bisa menyelesaikan krisis finansial lima ratus juta minggu ini, Dito?" sela Nia kritis, memotong euforia Dito. "Desain paling hebat di dunia sekalipun tidak ada artinya kalau kita tidak punya uang untuk membeli bahan logamnya dan membiayai produksi di sanggar!"

"Di sinilah celah hukum dan bisnisnya!" seru Dito seraya memukul meja dengan semangat baru yang membara. "Ada konsorsium pendamping kerajinan lokal, Nusantara Craft Fund, yang kebetulan dipimpin oleh mitra senior panitia eksibisi. Mereka memiliki alokasi dana hibah darurat yang dialokasikan khusus untuk karya kolaborasi berbasis seni tradisional dan busana modern. Jika kita bisa mengamankan komitmen kolaborasi resmi secara hitam di atas putih antara kau dan Rendra besok pagi, aku bisa mengajukan draf ini untuk mencairkan hibah produksi lima ratus juta rupiah dalam waktu empat puluh delapan jam!"

Napas Maya memburu mendengar penjelasan Dito. Skenario yang dipaparkan Dito sangat logis, berisiko tinggi, namun memberikan secercah harapan yang riil untuk menyelamatkan rumah modenya dari kehancuran tanpa harus memohon pinjaman pada imperium bisnis ayahnya.

"Tapi ada satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar," tambah Dito seraya menatap Maya dengan sangat serius. "Rendra harus setuju untuk berkolaborasi secara resmi. Kalian berdua harus menandatangani berkas kesepakatan produksi bersama sebelum batas waktu pendaftaran ulang babak lima besar ditutup lusa."

Maya menarik napas panjang. Menyatukan kain sutranya dengan logam Rendra berarti ia harus menurunkan ego artistiknya, mengundang pria kaku itu masuk ke dalam ruang kreatif terintimnya—sekaligus menerima takdir ikatan karya yang terpapar di dalam visi masa lalu mereka.

Suasana rapat yang semula muram kini diliputi oleh ketegangan baru—ketegangan yang dipicu oleh pacuan waktu dan pertaruhan harga diri.

"Satu masalah teknis lagi," sela Nia seraya menunjuk kolom detail spesifikasi bahan di sudut kanan kertas sketsa Rendra. "Pahat logam ini menggunakan teknik lost-wax casting dengan bahan paduan kuningan tebal dan perak bakar. Di kota ini, tidak banyak sanggar kerja yang memiliki tungku pembakaran presisi tinggi untuk mengeksekusi kerangka rumit seperti ini dalam tenggat waktu dua hari."

"Sanggar tempa milik Rendra di kawasan industri tua," sambung Maya dengan suara mantap dan keyakinan yang mengkristal.

Maya mengulurkan tangannya ke tengah meja. Ia menutup buku sketsa kulit tua itu rapat-rapat, lalu menggenggamnya erat. Rasa ragu, ketakutan akan kebangkrutan, dan gengsi profesional yang sebelumnya menyelimuti dirinya kini telah musnah, berganti menjadi tekad bulat untuk memperjuangkan kelangsungan studionya dan nasib para penenunnya.

"Siapkan seluruh dokumen berkas kolaborasi untuk besok pagi, Dito," perintah Maya dengan pendar mata yang berani. "Pastikan klausul hibah dari Nusantara Craft Fund sudah siap ditandatangani."

"Siap, Maya. Aku akan lembur malam ini menyusun draf hukumnya," jawab Dito mantap seraya meraih kembali laptop dan kalkulatornya dengan gairah kerja yang pulih.

"Nia, siapkan sampel kain sutra organza hitam dan benang emas terbaik yang kita miliki di dalam gudang penyimpanan," lanjut Maya mengarahkan sahabatnya. "Kita tidak boleh membawa sampel bahan yang kualitasnya setengah-setengah ke hadapan Rendra."

Nia mengangguk cepat. "Akan kupastikan seluruh gulungan sutra terbaik sudah terkemas rapi sebelum fajar menyingsing."

"Kau mau ke mana besok subuh, Maya?" tanya Nia kemudian saat melihat Maya mulai mengemas barang-barangnya.

Maya berjalan mendekati jendela kaca studio. Ia menatap menembus kegelapan malam kota yang mulai sepi, mengarahkan pandangannya jauh ke arah utara—tempat sanggar tempa tua milik Rendra berdiri di antara jajaran bangunan pabrik.

"Aku akan mendatangi sanggar tempa pria kaku itu untuk mengajak menempakan kerangka ini bersama-sama di atas tungku api," tegas Maya dengan suara yang penuh ketetapan hati.

Di balik keputusan tegas tersebut, Maya sadar betul bahwa badai sabotase dari Victor dan Clarissa belum berakhir. Namun, saat jemarinya meremas buku sketsa Rendra di dalam tas, sebuah peringatan mendadak muncul di layar ponsel Dito.

"Maya! Clarissa baru saja mengunggah teaser koleksi terbarunya dua menit lalu!" pekik Dito panik. "Desain yang dia bocorkan... persis seperti motif sutra yang mau kita bawa besok!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!