Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Perlu Ditutup, Aku Sudah Pernah Melihatnya
Bab 14 Istri Polos Tuan Garra
"Anda sangat berlebihan! Menikah dengan anda sama sekali tidak terpikirkan oleh saya!!"
Kali ini Elisa menatap lebih berani, matanya memerah menahan amarah dan air mata. Mungkin karena tuduhan keji dari Tuan Anggara barusan yang menuduhnya materialistis. Bagi Elisa, hamil sebelum menikah adalah aib terbesar. Kemalangan, musibah yang harus ia tanggung sendiri. Namun, pria itu malah dengan seenaknya merendahkan dan memandangnya sangat buruk sekali, seolah ia adalah wanita murahan.
Lisa tak pernah sekalipun minta pria itu untuk menikahinya. Lisa juga tidak mau sepeser pun uang dari pria itu. Ibunya sudah meninggal. Dia sudah tak butuh uang pria itu lagi untuk biaya rumah sakit ibunya.
Kalau hanya untuk menghidupi dirinya sendiri dan janin di perutnya ini, Elisa masih bisa bekerja, entah kerja apa saja yang halal. Jadi pelayan cafe, jadi admin, jadi tukang cuci. Tapi bukan jual diri. Apalagi jual anak seperti yang Garra tuduhkan barusan. Itu sangat menyinggung hati nuraninya yang paling dalam. Sakit sekali.
Di depannya, Anggara menatap dingin dengan sorot mata elang. Biasanya perempuan paling pandai bersandiwara. Beraktingnya seperti jadi korban yang paling menderita di dunia, padahal mereka hanya mengincar hartanya. Anggara sudah muak dengan drama seperti itu.
"Terserah kau, Lisa. Yang pasti, aku harus pedulikan apa yang kau bawa! Itu adalah anakku! Darah dagingku!" tegas Anggara, suaranya berat dan tidak bisa dibantah.
"Tidak! Saya tidak mau! Dan anda tidak berhak mengatur hidup saya! Ini tubuh saya!" bantah Elisa, suaranya bergetar.
Hening.
Udara di kamar rumah sakit itu mendadak tegang dan berat. Wajah Anggara mengeras, rahangnya mengatup. Menghadapi satu gadis polos ini rupanya tak semudah yang dia pikirkan. Tidak seperti menghadapi klien bisnis. Gadis ini keras kepala, teguh pendiriannya, polos tapi batu. Satu lagi, sulit sekali diatur.
"Baik, kalau itu pilihanmu, Lisa. Aku akan melakukan dengan caraku!" Anggara akhirnya mengeluarkan kartu AS-nya. Ia berjalan pelan mendekati Elisa.
"Aku pastikan namamu tercoret dari kampus. Satu telepon saja. Kau tidak akan diterima di manapun untuk skripsi! Bahkan untuk kerja part time pun, tidak akan ada cafe atau restoran yang mau menerimamu di seluruh kota ini kalau aku yang bilang!"
Ancaman itu dilontarkan dengan tenang, tapi sangat mematikan. Anggara menggunakan kekuasaannya.
Elisa terbelalak, napasnya tercekat. "Kenapa Anda melakukannya? Kenapa Anda sejahat ini? Anda belum puas melihat saya menderita? Ibu saya sudah meninggal, saya hamil, saya sendirian... apa masih kurang penderitaan saya?"
"Ya! Ini baru permulaan. Jadi aku pastikan, semakin kau melawanku, semakin kau menderita! Aku akan buat kau mengerti, menolak ku ... itu adalah kesalahan terbesar," ancam Anggara tegas tanpa ampun. Matanya menatap lurus.
Elisa memejamkan matanya, air mata yang ia tahan akhirnya jatuh satu tetes. Tubuhnya gemetar.
"Salah apa saya dengan anda???? Apa salah saya? Kita hanya bertemu satu malam!"
"Kesalahanmu???? Kau mengandung anakku! Dan kau mencoba membawanya kabur dariku! Jelas?" bentak Anggara.
Elisa menggeleng pelan, isakannya tertahan. "Malam itu kita sepakat! Hanya satu malam itu saja!!! Tidak ada ikatan! Bukan salah saya... jika sekarang saya hamil!!"
"Itu salah, karena itu anakku! Dan anakku tidak boleh lahir di luar tanpa nama ku!" sela Anggara cepat.
Pria itu berdiri sangat dekat, sikapnya sangat mengintimidasi. Parfum mahalnya menyengat.
"Kau sedang membawa keturunan ku! Tidak akan ku biarkan darah dagingku terlantar di kos sempit dan jadi bahan omongan orang!"
Elisa tertunduk, tersenyum kecut dalam hati yang terasa perih. Sejak tadi, yang dibahas itu janinnya. Anaknya. Bukan Elisa. Anggara menahannya, membawanya, mengancamnya, bukan karena untuk Elisa agar di sisinya. Tapi untuk anak itu, untuk darah dagingnya yang belum lahir ke dunia. Elisa hanyalah wadah, hanya rahim untuk anak itu. Sadar akan itu membuat hatinya sakit melebihi apapun.
Elisa menarik napas berat, mencoba tegar.
"Baik, tapi tolong... saya ikut anda. Setelah anak ini lahir, tolong jangan pernah ganggu saya lagi!"
Anggara tersenyum, senyum kemenangan yang ia sembunyikan di balik wajah dinginnya. Ancaman yang berhasil. Akhirnya gadis polos itu menyerah.
"Aku yang membuat peraturan, bukan kau... Elisa! Kau tidak dalam posisi menawar. Kita lihat saja nanti setelah anak itu lahir," jawab Anggara pelan namun menusuk.
Keduanya saling menatap dalam diam. Satu tatapan pasrah yang hancur, satu tatapan menguasai yang penuh obsesi.
Tanpa mengabari Susan sahabat baiknya dan juga Abang Dimas yang juga membantunya, Elisa keluar dari rumah sakit. Hari itu, dia langsung dibawa pergi oleh Anggara seperti tahanan.
Pria itu sudah menyiapkan tempat khusus untuk wanita yang kini mengandung anaknya. Bukan di apartemen pribadinya, tapi dia sudah menyiapkan tempat yang lebih pribadi dan penjagaan yang lebih ketat, jauh dari keramaian.
Dia bisa jamin, Elisa tak akan bisa pergi darinya tanpa izin. Tak akan ada yang bisa menemukan Elisa.
Sepanjang perjalanan hampir 1,5 jam itu, Elisa hanya diam, menatap kosong ke luar jendela mobil Alphard hitam itu. Melihat gedung-gedung tinggi, sawah, dan pepohonan yang dilewati. Air matanya sudah kering.
Di sebelahnya duduk Anggara sambil memangku laptop, sesekali mengetik, sesekali melirik Elisa yang diam seperti patung. Di depan ada Alex, sekretaris atau asisten pribadi Anggara yang selalu ada di manapun dan kapanpun, yang kini fokus menyetir.
Mobil itu terasa sunyi, sangat sunyi dan canggung. Tak ada yang bersuara. Sesekali Alex mengintip lewat kaca spion. Muka Anggara fokus ke laptop tapi tangannya mengepal, sementara nona Elisa-nya menatap ke luar jendela dengan mata sembab.
Satu jam kemudian.
Mobil berhenti pelan di sebuah hunian mewah yang dikelilingi tembok tinggi. Seperti villa resort pribadi. Halamannya sangat luas, banyak pohon pinus, jarak hunian satu dan yang lain lumayan jauh, sangat privat. Elisa baru pertama kali melihat perumahan seperti itu, seperti di film-film.
"Turun!" titah Anggara singkat saat melihat Elisa diam saja dan tidak bergerak.
Elisa menurunkan satu kakinya dengan ragu, disusul kaki sebelahnya yang masih sedikit lemas. Pintunya sudah dibuka lebar oleh Alex yang berlari membukakan.
'Di mana ini?' Elisa bertanya-tanya dalam hati, ketakutan mulai merayap.
Sudah dia duga, kalau pria ini bukan orang sembarangan. Dilihatnya bangunan yang asri tapi bagus, megah, besar dan sepertinya sangat mahal. Ada kolam renang pribadi dan taman bunga.
"Silahkan, Nona Lisa!" ucap Alex lembut. Karena Lisa ketinggalan beberapa langkah jauh di belakang Anggara yang jalan duluan dengan langkah lebar, seolah tak peduli.
Elisa pun berjalan pelan, menyusuri paving blok putih di atasnya. Matanya sesekali melihat kanan kiri, ornamen, desain interior, semuanya kelihatan sangat wah sekali dan bersih.
(Sebenarnya, dia pengusaha apa? Kenapa bisa sekaya ini?)
Bulu kuduk Elisa berdiri, memikirkan usaha hitam Anggara. Jangan-jangan bisnis hitam atau money laundry, mafia? Elisa yang polos, terlalu banyak menonton berita kriminal di TV kos.
"Selamat datang Nona!" seru seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan.
Elisa kaget, baru masuk ke dalam tempat itu, langsung disambut oleh seorang kepala pelayan yang membungkuk hormat.
"Mari, saya tunjukkan kamar nona sudah disiapkan Tuan."
Elisa melihat ke depan, Anggara sudah jauh di depannya, naik tangga marmer ke lantai dua, atau mungkin lantai tiga menuju ruang kerjanya. Elisa tak mengerti dan tak peduli.
Elisa kemudian ikut berjalan dengan langkah gontai bersama kepala pelayan, menunjukkan satu kamar di lantai satu yang sangat luas. Kamar itu ukurannya 3 kali lipat kosnya.
"Ini kamar Nona. Jika butuh apapun, silahkan pencet tombol di dekat nakas itu. Pelayan akan datang 24 jam. Lemari sudah berisi baju baru untuk Nona," jelas Bibi.
Elisa mengangguk lemas.
Bibi kepala pelayan mau pergi, tapi Elisa menahannya dengan suara pelan.
"Maaf, Bibi... boleh saya bertanya sebentar?"
Bibi menatap ragu, "Silahkan, Nona."
"Apa bibi tahu, pekerjaan Pak Anggara sebenarnya apa?"
Bibi mengerutkan keningnya dan tersenyum kaku. "Maaf, Nona. Lebih baik Nona tanyakan langsung pada Pak Anggara sendiri. Saya hanya pelayan di sini."
Elisa lalu mengangguk paham, ia tidak akan mendapat jawaban.
Bibi keluar, pintunya ditutup pelan. Ceklek. Elisa mendengar suara kunci dari luar. Ia dikunci!
Elisa lelah, entah kenapa, kamar itu terasa sangat nyaman namun seperti penjara emas. Tangannya meraba ranjang king size, sangat empuk dan wangi. Ia mencoba merebahkan tubuhnya yang lelah, benar-benar nyaman sekali.
Klek!
Pintu terbuka lagi. Dikira bibi kepala pelayan yang masuk membawa makan, Elisa tak langsung bangun, ia hanya menoleh malas karena badannya masih lemas dan hatinya hancur.
"Sepertinya kau nyaman sekali di sini! Sudah betah jadi nyonya?"
Elisa langsung terperanjat bangun duduk. Buru-buru menarik bedcover tebal untuk menutupi kakinya yang hanya memakai rok selut.
Itu Anggara, sudah ganti baju kaos hitam dan menatapnya dari pintu.
"Tidak perlu ditutup! Bukankah aku sudah pernah melihat semuanya? Bahkan lebih dari itu?"
Wajah Elisa memerah padam karena malu dan marah.
Bersambung
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,