NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Aroma Kopi dan Janji Manis

​Sinar matahari pagi menembus dinding-dinding kaca tebal penthouse mewah milik Ayden di pusat kota. Dari lantai paling atas pencakar langit itu, bentangan lanskap gedung-gedung bertingkat bersanding selaras dengan langit biru yang jernih. Udara sejuk dari pendingin ruangan berpadu dengan kehangatan mentari pagi, menyelimuti area dapur bersih berbalut marmer hitam yang elegan.

​Aisyah melangkah keluar dari kamar utama dengan gaun rumah berbahan sutra lembut berwarna putih gading. Langkah kakinya tanpa alas menyentuh lantai kayu hangat. Ia menghentikan langkah sejenak, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terasa begitu lapang dan megah.

​"Kamu sudah bangun, Aisyah?"

​Suara berat yang familiar itu menyapa dari balik meja kitchen island. Ayden berdiri di sana, hanya mengenakan celana kain abu-abu dan kemeja putih bersetrika rapi yang gulungan lengannya disingsingkan hingga ke siku. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan pesona maskulin yang tenang.

​Aisyah tersenyum tipis, melangkah mendekat. "Pagi, Ayden. Maaf, aku baru bangun. Harusnya aku yang menyiapkan sarapan untukmu."

​"Pagi, Istriku," balas Ayden lembut. Sebuah senyuman hangat terpatri di bibirnya. "Kenapa harus minta maaf? Kamu pasti sangat lelah setelah perjalanan dari vila semalam. Duduklah di sini."

​Ayden menggeser salah satu kursi tinggi berbahan kulit di balik kitchen island, meminta Aisyah untuk duduk.

​"Apa yang sedang kamu buat?" tanya Aisyah seraya mendaratkan dirinya di kursi tersebut, memperhatikan peralatan menyeduh kopi manual yang tertata rapi di atas meja.

​"Kopi hitam untuk kita berdua," jawab Ayden telaten. Tangannya bergerak dengan penuh presisi, memegang teko leher angsa dan mengucurkan air panas secara perlahan di atas bubuk kopi giling segar dalam corong dripper. Aroma khas kopi Arabika meliuk di udara, beradu dengan aroma roti panggang yang baru keluar dari pemanggang.

​Aisyah menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap gestur jemari Ayden yang begitu terampil. "Seorang CEO perusahaan besar menyeduh kopi sendiri di pagi hari? Aku seperti sedang melihat pemandangan yang langka."

​Ayden terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari tetesan kopi yang jatuh ke dalam teko kaca. "Di luar rumah, aku memang memimpin banyak orang. Tapi di dalam rumah ini, tugas utamaku adalah melayani istriku."

​Aisyah merasakan kehangatan menjalar di dadanya. "Kamu terlalu memanjakanku, Ayden."

​"Bagi pria mana pun, memanjakan wanita yang dicintainya adalah sebuah kewajiban, bukan?" Ayden menuangkan kopi hitam pekat yang berasap tipis ke dalam dua cangkir porselen putih. Ia meletakkan cangkir itu tepat di hadapan Aisyah bersama piring berisi piring roti panggang beroleskan selai alpukat dan telur setengah matang. "Cobalah. Kopi ini khusus kubuatkan untukmu."

​Aisyah menyesap kopi itu perlahan. Rasa pahit yang kaya bersatu dengan sentuhan manis buah-buahan di pangkal lidahnya. "Ini enak sekali. Pas, tidak terlalu pahit."

​"Aku senang kalau kamu menyukainya," sahut Ayden, meminum kopinya sendiri seraya menatap Aisyah penuh perhatian.

​"Terima kasih, Ayden. Kamu benar-benar suami siaga," bisik Aisyah, matanya berkaca-kaca oleh kepuasan sederhana yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

​Ayden tersenyum manis, membalas tatapan itu dengan kelembutan yang membuai. "Sama-sama, Aisyah."

​"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan rencana kita ke depan?" tanya Aisyah kemudian. Ia memutarkan tubuhnya sedikit, berpaling ke arah dinding kaca besar untuk menikmati pemandangan kota di bawah sana. "Maksudku, tentang penataan rumah ini. Apakah kamu keberatan jika aku meletakkan beberapa lukisan atau tanaman hias di sudut ruang tamu?"

​Di detik persis saat Aisyah membelakanginya dan terpesona oleh panorama kota, kehangatan di wajah Ayden menguap tanpa sisa. Tatapan mata hitamnya menyipit tajam, memancarkan kilat dingin yang penuh kalkulasi pekat—sebuah pandangan predator yang mengamati mangsanya yang tak berdaya. Bibirnya membentuk garis tipis yang kaku dan kusam.

​"Ayden?" panggil Aisyah tanpa menoleh. "Bagaimana menurutmu?"

​Dalam sekejap mata, sebelum Aisyah memutar kembali tubuhnya, ekspresi beku di wajah Ayden sirna begitu cepat, berganti kembali menjadi senyuman hangat yang mengayomi.

​"Tentu saja tidak keberatan, Aisyah," jawab Ayden dengan nada suara yang begitu tenang dan manis. "Rumah ini sekarang milikmu juga. Kamu bebas mengubah atau merapikan apa pun sesuai keinginanmu. Jika perlu, kita bisa memesan tanaman baru sore nanti."

​Aisyah kembali menghadap Ayden, matanya berbinar riang. "Sungguh? Aku selalu bermimpi punya sudut hijau kecil di dalam rumah."

​"Apapun untukmu," balas Ayden pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Bagaimana dengan rencana berlibur kita? Aku sudah mengosongkan jadwal minggu depan jika kamu ingin jalan-jalan ke luar negeri."

​Aisyah menggelengkan kepala pelan. "Tidak perlu terburu-buru, Ayden. Aku lebih suka menikmati waktu kita di sini dulu. Lagipula, pekerjaanmu di kantor pasti sedang menumpuk."

​"Pekerjaan kantor bisa ditunda, Aisyah," sela Ayden cepat. "Keinginanmu adalah prioritasku."

​"Aku serius, Ayden. Tinggal di sini bersamamu saja sudah lebih dari cukup," ujar Aisyah jujur.

​Namun, di tengah ucapan hangat itu, jemari tangan kiri Aisyah perlahan naik ke atas dadanya sendiri. Ia mencengkeram kain gaun sutranya tepat di atas jantung yang berdegup kencang secara janggal. Ada desakan rasa cemas yang mendadak menyeruak dari lubuk hatinya yang paling dalam.

​Ayden memperhatikan gerakan tangan istrinya. Matanya menatap tajam jemari Aisyah yang berada di dada. "Ada apa, Aisyah? Kenapa memegang dadamu? Kamu merasa kurang sehat?"

​Aisyah menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran janggal di dalam dadanya. Ia menatap Ayden dengan riak gelisah yang tersirat tipis di matanya.

​"Aku... aku tidak tahu, Ayden," bisik Aisyah pelan, suaranya terdengar ragu.

​"Katakan padaku. Apa yang kamu rasakan?" tanya Ayden, nadanya menuntut kejelasan dengan kepedulian yang tampak begitu nyata.

​"Semua ini... kebahagiaan ini..." Aisyah menunduk sebentar sebelum kembali menatap mata suaminya. "Terasa terlalu sempurna, Ayden. Terlalu indah sampai membuatku merasa cemas."

​Ayden mengangkat sebelah alisnya. "Cemas karena bahagia?"

​"Kamu tahu bagaimana hidupku bertahun-tahun sebelum ini," lanjut Aisyah dengan nada emosional yang tertahan. "Setelah kebangkrutan Papa dan kepergian kedua orang tuaku, hidupku hanya berisi dingin, keputusasaan, dan ketakutan. Aku terbiasa berada di dalam kegelapan. Dan sekarang... berada di penthouse megah ini, memiliki suami yang begitu perhatian seperti dirimu... aku takut ini semua hanyalah mimpi yang bisa hancur kapan saja ketika aku terbangun."

​Ayden terdiam sejenak. Ia memajukan tubuhnya, meraih tangan kanan Aisyah yang bebas di atas meja, lalu menggenggamnya erat dengan kedua telapak tangannya yang hangat.

​"Aisyah, tatap mataku," perintah Ayden lembut namun tegas.

​Aisyah menatap lurus ke dalam iris mata hitam milik Ayden.

​"Ini bukan mimpi," tegas Ayden, suaranya menghanyutkan. "Kamu berada di sini, bersamaku. Kamu berhak mendapatkan semua kebahagiaan ini setelah semua penderitaan yang kamu lalui. Jangan pernah merasa cemas atas apa yang sudah menjadi milikmu."

​"Tapi, Ayden... kadang aku merasa ketakutan tanpa alasan yang jelas," aku Aisyah, menggigit bibir bawahnya. "Seolah-olah ada badai besar yang sedang bersembunyi di balik ketenangan ini."

​Ayden menatap Aisyah dengan raut puji yang meyakinkan, meski di dasar lubuk hatinya yang paling pekat, pengakuan Aisyah justru memberi rasa kepuasan terselubung.

Ketakutanmu itu adalah instingmu, Aisyah, batin Ayden dingin. Badai itu memang ada, dan badai itu adalah aku.

​"Tidak akan ada badai yang bisa menyentuhmu selama kamu berada di sisiku," ucap Ayden menyuarakan kebohongan manisnya dengan sangat natural. Ia mengusap punggung tangan Aisyah menggunakan ibu jarinya. "Percayalah padaku. Aku yang akan menjadi perisaimu."

​Aisyah mendesah lega, membiarkan kehangatan genggaman tangan Ayden mengusir riak cemas di dadanya. "Maafkan aku... aku hanya terlalu berlebihan."

​"Tidak apa-apa," sahut Ayden pelan. Ia melirik jam tangan arloji kemewahan di pergelangan tangan kirinya. "Sudah pukul delapan. Aku harus bersiap berangkat ke kantor. Ada rapat direksi pukul sembilan pagi."

​"Ah, begitu ya? Biar kubantu menyiapkan jasmu," tawar Aisyah cepat seraya berdiri dari kursinya.

​"Tidak usah, Aisyah. Semuanya sudah kusiapkan di kamar pakaian," cegah Ayden halus. Ia berdiri, merapikan letak kerah kemejanya. "Kamu istirahat saja di rumah hari ini. Jangan terlalu lelah."

​Beberapa menit kemudian, Ayden telah mengenakan jas hitam terstruktur sempurna yang membalut tubuh tegapnya. Ia berdiri di dekat area foyer pintu utama penthouse, memegang tas dokumen kulitnya. Aisyah berdiri di hadapannya, merapikan sedikit dasi yang melingkar di leher Ayden.

​"Jangan lupa makan siangmu nanti," pesan Aisyah sambil mendongak, memberikan senyuman tulus.

​"Tentu," jawab Ayden pelan. Ia memajukan langkahnya, mendekatkan wajahnya ke arah Aisyah.

​Dengan gerakan yang teramat telaten, Ayden mendaratkan kecupan hangat di kening Aisyah. Ciuman itu bertahan beberapa detik lebih lama, membiarkan kehangatan bibirnya menyerap pada kulit kening istrinya.

​"Aku berangkat dulu, Aisyah," bisik Ayden tepat di depan wajah Aisyah ketika ia menarik kembali kepalanya.

​"Hati-hati di jalan, Ayden," balas Aisyah dengan suara lembut.

​Ayden tersenyum tipis, membalikkan badan, dan melangkah keluar dari pintu utama penthouse yang otomatis tertutup rapat dengan bunyi klik halus.

​Aisyah berdiri sendirian di foyer yang mendadak sunyi. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup udara di sekitarnya.

​Aroma parfum maskulin milik Ayden—kombinasi wangi cedarwood yang tegas, sentuhan bergamot yang segar, dan pekatnya amber—masih tertinggal tebal, melekat di udara dan membelai indra penciumannya. Aroma mewah itu menyisakan ketenangan sekaligus gaung misteri yang entah mengapa tetap terasa begitu asing di benaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!