NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Matahari pagi bersinar terang menyinari halaman kontrakan yang masih menyisakan genangan air.
Rahman Affandi berdiri di teras kamarnya sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.
Kretekk.
Terdengar bunyi tulang yang bergemeretak ringan, namun anehnya tidak ada rasa sakit sama sekali.
Kebugaran fisik selama dua puluh empat jam dari sistem benar-benar bekerja dengan sangat ajaib.
"Ah, badanku rasanya seringan kapas, seperti kembali ke umur empat puluhan saja," gumam Rahman puas.
Ia bahkan melompat kecil dua kali untuk memastikan lututnya tidak lagi berbunyi seperti engsel berkarat.
Biasanya, jam segini ia masih berbaring di kasur sambil mengoleskan minyak angin ke punggungnya.
Namun hari ini ia merasa sangat bersemangat untuk memulai harinya.
Ting!
Suara mekanis yang sangat familier itu kembali berbunyi di dalam kepalanya.
Sebuah layar biru transparan melayang tepat di depan matanya.
[Misi Utama Harian: Perbarui wajah kontrakan.]
[Target: Cat ulang seluruh tembok depan kontrakan yang sudah berlumut dengan warna cerah.]
[Hadiah: Tambahan umur 4 hari dan bonus uang tunai lima ratus ribu rupiah dari sistem.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 3 hari dan encok kronis selama 3 hari.]
Mata Rahman langsung tertuju pada kalimat bertuliskan bonus uang tunai.
Sejak kemarin ia hanya mengeluarkan uang, dan baru kali ini sistem menawarkan hadiah uang masuk.
"Lima ratus ribu?"
"Akhirnya sistem siluman ini tahu juga caranya berbisnis yang saling menguntungkan," batin Rahman sambil tersenyum lebar.
Ia segera menghitung estimasi biaya pengecatan di dalam kepalanya.
Membeli cat murah dua galon dan menyewa tenaga Mang Ujang mungkin hanya menghabiskan sekitar tiga ratus ribu.
"Kalau aku bisa menghemat biaya cat, aku masih punya untung bersih dua ratus ribu."
"Ditambah umurku bertambah empat hari, ini benar-benar penawaran yang tidak boleh dilewatkan."
Rahman segera masuk ke kamarnya dan mengambil dompet kulitnya yang tipis.
Ia berjalan cepat keluar gerbang menuju warung makan Mpok Siti yang berada tepat di seberang kontrakannya.
Warung Mpok Siti selalu ramai oleh para penyewa kontrakan Rahman yang mencari sarapan murah.
Sreng sreng sreng.
Suara spatula beradu dengan wajan terdengar nyaring dari warung tersebut.
Saat Rahman menyeberang jalan, beberapa penyewanya sedang berkumpul menunggu pesanan nasi uduk.
Ada Maya yang sedang duduk sambil membaca buku tebal.
Lalu ada Rina yang sedang menyuapi Dimas, anaknya yang sudah terlihat lebih sehat dari semalam.
Melihat kedatangan Rahman, suasana warung yang tadinya ramai mengobrol mendadak hening.
Semua mata menatap bapak kos mereka dengan pandangan waspada dan heran.
"Tumben Pak Rahman keluar pagi-pagi begini, wajahnya cerah lagi," bisik Siti kepada Rina.
Rina hanya tersenyum canggung karena ia merasa berhutang budi pada kejadian semalam.
Rahman tidak mempedulikan tatapan mereka dan langsung berteriak memanggil seseorang.
"Mang Ujang! Kebetulan kamu sedang sarapan di sini rupanya!"
Mang Ujang yang sedang asyik menyeruput kopi hitamnya langsung tersedak kaget.
Uhuk uhuk!
"Eh, iya Pak Rahman."
"Ada yang bisa saya bantu lagi pagi ini, Pak?" tanya Mang Ujang sambil mengelap mulutnya.
"Habis sarapan, kamu beli cat tembok warna biru muda dua galon."
"Hari ini juga, kamu harus mengecat seluruh tembok depan kontrakanku sampai bersih," perintah Rahman dengan suara lantang.
Mendengar perintah itu, Siti sampai menjatuhkan sendok sayurnya ke dalam panci.
Maya yang sedang membaca buku juga langsung menoleh dengan dahi berkerut tajam.
"Mengecat tembok kontrakan?" tanya Mang Ujang memastikan pendengarannya.
"Tapi Pak, tembok itu kan sudah lima tahun tidak pernah bapak sentuh sama sekali."
"Kalau aku suruh kerjakan ya kerjakan saja, jangan banyak protes."
"Ini uang lima ratus ribu, beli catnya yang agak bagusan sekalian biar warnanya awet," ucap Rahman sambil menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan.
Sebenarnya Rahman ingin menyuruh Mang Ujang membeli cat termurah.
Namun ia takut sistem akan menganggapnya curang dan membatalkan hadiahnya nanti.
Mang Ujang menerima uang itu dengan tangan sedikit gemetar.
"Baik, Pak Rahman, siap laksanakan segera!"
Rahman mengangguk puas dan kembali berjalan menuju kontrakannya.
Ia duduk di kursi kayu depan kamarnya, bersiap mengawasi pekerjaan Mang Ujang hari ini.
Namun, indra pendengarannya yang menjadi tajam berkat kebugaran sistem menangkap suara bisik-bisik dari seberang jalan.
Bisikan itu berasal dari warung Siti.
"Maya, kamu lihat sendiri kan tadi?"
"Bapak kos kalian itu pasti sedang tidak beres otaknya," ucap Siti dengan nada misterius.
"Maksud Mpok Siti bagaimana?" balas Maya penasaran.
"Kemarin malam dia meminjamkan uang ke Rina tanpa bunga."
"Tadi pagi buta dia bayar Mang Ujang buat perbaiki atap Budi dan kasih bonus lumayan besar."
"Sekarang, dia mau ngecat tembok pakai cat mahal."
Siti mendekatkan wajahnya ke arah Maya dan Rina.
"Kalian tidak merasa aneh dengan perubahan mendadak orang pelit seperti dia?"
Rina mencoba membela.
"Mungkin Pak Rahman sudah sadar dan mau berubah jadi lebih baik, Mpok."
"Halah, orang kikir mana bisa berubah dalam semalam kalau tidak ada maunya."
"Mpok curiga, jangan-jangan Pak Rahman itu sedang ikut pesugihan," bisik Siti dengan mata melotot.
Deg.
Jantung Rahman berdetak lebih cepat mendengar tuduhan konyol dari seberang jalan itu.
"Pesugihan kepalamu itu, aku ini sedang berusaha bertahan hidup!" umpat Rahman dalam hati.
Di seberang sana, percakapan masih terus berlanjut.
"Pesugihan bagaimana maksudnya, Mpok?" tanya Maya yang mulai terbawa suasana.
"Ya pesugihan, cari kekayaan pakai ilmu hitam."
"Biasanya syaratnya harus bersikap baik dulu pada calon tumbalnya supaya auranya terikat."
"Jangan-jangan perbaikan fasilitas ini cuma buat mengelabui kalian biar betah, lalu pelan-pelan kalian dijadikan tumbalnya!"
Suasana di warung itu langsung menjadi tegang.
Rina memeluk anaknya erat-erat, sementara Maya menutup bukunya dengan kasar.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus bertanya langsung padanya."
Maya berdiri dari kursi kayu warung dengan wajah penuh tekad.
"Eh, Maya, jangan gegabah kamu!" cegah Siti panik.
Namun Maya tidak peduli, gadis itu berjalan dengan langkah cepat menyeberangi jalan.
Ia langsung menghampiri Rahman yang sedang duduk bersantai di teras.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...