Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Ulang Tahun Pernikahan
Namaku Arini Saputri. Dan hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku yang ketiga.
Kalau orang lain merayakan anniversary dengan makan malam romantis dan bunga, aku merayakannya dengan menunggu. Menunggu di sebuah rumah mewah yang dingin, yang bahkan tidak pernah terasa seperti rumah.
Pukul empat sore, aku sudah berdiri di dapur.
Aku menata semua bahan dengan hati-hati. Aku ingat betul, tiga tahun lalu, saat pertama kali Bara membawaku ke rumah ini, dia pernah bilang dia sangat suka ayam asam manis buatan ibunya. Dia juga suka sup kepiting asam pedas. Sejak saat itu, aku belajar mati-matian. Aku yang dulunya bahkan tidak bisa membedakan jahe dan lengkuas, kini hafal semua bumbu favoritnya di luar kepala.
Hari ini aku ingin memberikan yang terbaik. Bukan karena aku ingin dipuji. Aku hanya ingin, untuk satu hari saja, Bara melihatku sebagai istrinya. Bukan sebagai beban. Bukan sebagai wanita mandul yang gagal memberinya keturunan seperti yang selalu diucapkan ibu mertuaku setiap kali datang.
Rumah ini terlalu besar untuk satu orang. Lantai marmernya mengkilap, lampu gantung kristalnya mahal, tapi semuanya sepi. Tidak ada foto pernikahan kami di dinding. Tidak ada jejak bahwa seorang wanita bernama Arini pernah tinggal di sini. Semua masih selera Bara. Hitam, putih, abu-abu. Dingin, seperti pemiliknya.
Jam lima sore, aku naik ke kamar. Aku membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak beludru yang sudah lama tidak kusentuh. Di dalamnya ada sebuah gaun. Gaun berwarna champagne, sederhana tapi elegan. Gaun ini Bara yang membelikannya untukku di tahun pertama pernikahan kami. Satu-satunya hadiah yang pernah ia berikan padaku tanpa diminta. Saat itu dia masih menatapku dengan hangat. Saat itu dia masih memanggilku "Sayang".
Aku memakainya. Aku bahkan mengeriting sedikit rambutku dan memakai lipstik yang sudah lama tidak kupakai. Aku bercermin. Wajahku pucat. Mataku sedikit sembab karena semalam aku tidak bisa tidur, memikirkan hari ini. Tapi aku tersenyum. Aku memaksa diriku untuk terlihat bahagia.
Aku turun kembali dan menata meja makan. Hanya untuk dua orang. Aku menyalakan dua lilin aroma vanila. Aku menaruh bunga mawar putih di tengah meja. Aku menata ayam kodok, sup kepiting, salad, dan sebuah kue kecil bertuliskan "Happy 3rd Anniversary". Tanganku gemetar saat menulisnya. Tiga tahun. Tiga tahun aku bertahan dalam pernikahan yang bahkan tidak pernah dimulai.
Pukul tujuh malam. Bara belum pulang. Biasanya dia pulang jam tujuh. Aku mencoba menghubunginya. Tidak diangkat.
Pukul setengah delapan. Makanan sudah mulai dingin. Lilin sudah setengah meleleh. Aku masih duduk tegak di kursi, dengan gaun champagne itu, menunggu seperti orang bodoh. Detak jantungku berdegup kencang, bukan karena bahagia, tapi karena cemas. Sebuah firasat buruk yang tidak bisa kujelaskan.
Dan tepat pukul delapan lewat lima menit, suara mobil terdengar di halaman. Pintu garasi terbuka.
Aku langsung berdiri. Senyumku merekah. Aku merapikan gaunku. "Mas Bara pulang," bisikku pada diriku sendiri.
Pintu utama terbuka.
Bara masuk. Dia terlihat sangat tampan seperti biasa dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Tapi dia tidak sendirian.
Di sampingnya, tangannya menggandeng seorang wanita. Wanita itu cantik, jauh lebih cantik dan modis dariku. Rambutnya panjang tergerai, makeupnya flawless, dan dia memakai dress ketat berwarna pink yang... yang menonjolkan perutnya yang sedikit membuncit.
Darahku seketika berhenti mengalir.
Wanita itu adalah Luna. Sekretaris Bara. Wanita yang sering ibu mertuaku puji-puji di telepon, "Luna itu pintar, cantik, cocok jadi istri Bara."
Bara melihatku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya tidak ada rasa bersalah. Hanya dingin dan sedikit... jijik.
"Kamu ngapain dandan seperti itu?" Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah seharian tidak bertemu.
Senyumku membeku. "Hari ini... hari ini anniversary kita yang ketiga, Mas. Aku masak kesukaan Mas..."
Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku. Bara sudah berjalan melewatiku, menarik Luna untuk duduk di sofa. Dia bahkan tidak melirik meja makan yang sudah kutata dengan penuh cinta selama berjam-jam.
Luna tersenyum sinis padaku sambil mengelus perutnya. "Wah, Mbak Arini repot-repot masak ya? Kasihan. Bara udah makan sama aku tadi di luar."
Aku berdiri kaku di samping meja makan. Gaun champagne yang kupakai terasa begitu berat dan konyol. Aku terlihat seperti badut.
Bara membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal. Dia melemparnya ke atas meja makan. Tepat di atas kue anniversary yang kubuat. Amplop itu terbuka dan isinya berhamburan. Beberapa lembar kertas.
Aku mendekat dengan langkah gontai. Kuambil kertas itu.
Di lembar pertama tertulis dengan huruf besar: SURAT GUGATAN CERAI.
Di lembar kedua adalah fotokopi hasil pemeriksaan medis. Hasil pemeriksaanku setahun yang lalu, yang menyatakan aku mengalami gangguan rahim dan kemungkinan sulit hamil.
Tanganku bergetar hebat.
"Apa... apa maksudnya ini, Mas?" Suaraku hampir tidak terdengar.
Bara berdiri dan berjalan mendekatiku. Jaraknya hanya satu meter, tapi rasanya seperti jurang yang sangat dalam.
"Artiya sudah jelas, Arini. Aku menceraikanmu," ucapnya dengan suara tenang, seolah dia hanya sedang membicarakan cuaca. "Aku sudah tidak bisa bertahan lagi dengan pernikahan yang tidak memberikan keturunan. Keluargaku butuh penerus. Perusahaan butuh penerus."
Luna ikut berdiri di belakangnya, memeluk lengan Bara manja. "Mbak Arini yang sabar ya. Bara itu kasihan. Selama tiga tahun dia terpaksa bertahan sama Mbak. Padahal dia sudah lama mencintaiku. Dan sekarang... aku sudah hamil dua bulan. Anak Bara."
Dunia ku runtuh.
Jadi ini alasannya? Jadi selama ini aku disalahkan mandul, dihina, direndahkan, hanya karena dia sudah memiliki wanita lain?
Air mataku akhirnya tumpah. Tidak bisa kutahan lagi. "Mas, kamu... kamu selingkuh? Selama ini kamu..."
"Jaga bicaramu!" Bara membentakku, untuk pertama kalinya dengan nada sekeras itu. "Aku tidak selingkuh. Aku hanya mencari apa yang tidak bisa kamu berikan. Anak! Kamu itu cacat, Arini! Kamu perempuan yang tidak sempurna!"
Kata "cacat" itu menghantam jantungku lebih keras dari apapun.
Tiga tahun. Tiga tahun aku menahan semua hinaan. Ibu mertua yang setiap datang selalu berkata, "Kapan hamil? Jangan jadi benalu di keluarga Mahendra." Ipar-iparku yang menertawakanku. Dan Bara yang tidak pernah membelaku sekalipun. Ternyata selama tiga tahun itu, dia tidak pernah menganggapku ada.
"Aku sudah siapkan kompensasi," lanjut Bara dingin. Dia mengeluarkan buku cek dan menuliskan sesuatu. "500 juta. Itu lebih dari cukup untuk perempuan sepertimu untuk memulai hidup baru. Anggap saja pesangon atas tiga tahun pengabdianmu yang gagal."
500 juta. Dia menghargai tiga tahun air mata, kesepian, dan luka ku dengan 500 juta.
Aku menatap surat cerai itu. Di bagian bawah sudah ada tanda tangan Bara Mahendra yang tegas. Tinggal tanda tanganku.
Luna tersenyum penuh kemenangan. "Cepat tanda tangan saja, Mbak. Jangan bikin Bara menunggu lama. Kasihan calon bayiku butuh kepastian."
Aku menghapus air mataku dengan kasar. Gaun champagne ini sudah basah oleh air mata. Kue anniversary di depanku terlihat begitu menyedihkan.
Aku mengambil pulpen yang tergeletak di atas amplop itu. Tanganku dingin. Hatiku mati rasa.
Aku tidak menangis lagi. Aku tidak memohon lagi. Karena aku tahu, memohon pada batu tidak akan membuatnya luluh.
Dengan satu tarikan napas panjang, aku menandatangani namaku di atas materai itu. Arini Saputri.
Goresan tinta itu terasa seperti goresan pisau yang memutus semua sisa harapanku.
Selesai. Aku bukan lagi istri Bara Mahendra.
Aku melempar pulpen itu ke meja. "Ambil uangmu. Aku tidak butuh."
Aku berbalik, naik ke kamar, mengambil satu koper kecil yang sudah lama kusiapkan di dalam lemari. Jauh di lubuk hatiku, aku tahu hari ini akan datang.
Saat aku turun dengan koper itu, Bara dan Luna masih di sana, melihatku dengan tatapan tanpa emosi.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Mas Bara," bisikku pelan, dengan senyum yang paling hancur yang pernah kubuat. "Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu."
Aku membuka pintu besar rumah itu. Di luar, hujan deras baru saja turun. Sangat deras.
Aku melangkah keluar ke dalam hujan, dengan gaun champagne, koper butut, dan hati yang hancur berkeping-keping.
Pintu di belakangku tertutup dengan keras. Mengunci semua masa laluku.
Aku berjalan tertatih di tengah hujan, tidak tahu harus kemana. Dingin menusuk tulang. Gaunku basah kuyup dan menempel di tubuh. Aku jatuh terduduk di pinggir jalan, memeluk koperku dan menangis sejadi-jadinya.
Dan saat itulah, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depanku. Lampu sorotnya menyilaukan mataku yang basah.
Seorang pria tinggi dengan payung hitam keluar dari mobil itu. Wajahnya tidak terlihat jelas karena hujan, tapi suaranya dalam dan berat.
"Kamu Arini?"
Aku mendongak dengan air mata yang bercampur air hujan.
Siapa pria ini? Bagaimana dia tahu namaku?