NovelToon NovelToon
Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Identitas Tersembunyi / Beda Usia
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.

Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.

Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.

Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.

Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petunjuk Kecil di Lantai Lima Belas

Hari kedua magang dimulai dengan rasa pegal yang menjalar dari leher hingga punggung bawah Andrian. Begitu kakinya menginjak lantai lima belas NSM Company, dia sudah bersiap mental untuk menerima tumpukan dokumen berdebu lainnya dari Fajar.

Namun, sebuah pemandangan tidak biasa menyambutnya di kubikel.

Di atas mejanya yang kemarin penuh dengan kertas, kini bertengger rapi sebuah kotak roti dari toko bakery premium di lobi bawah, berdampingan dengan segelas es kopi aren yang embunnya masih menetes segar.

Andrian menoleh ke kanan dan ke kiri. Meja Rendy kosong. Meja Doni juga bersih. Hanya mejanya yang mendapat 'sesajen' pagi itu.

"Mas Fajar," panggil Andrian ragu-ragu saat atasannya itu baru saja duduk. "Ini... punya siapa ya? Ketinggalan di meja saya."

Fajar melirik sekilas dari balik monitornya. Wajahnya tetap datar. "Buat kamu. Kebijakan dari departemen HRD untuk karyawan atau pemagang yang kemarin menyelesaikan target melebihi ekspektasi. Makanlah sebelum jam kerja dimulai."

Andrian mengerjap. Tumben HRD sebaik ini, batinnya. Dia melirik ke arah Budi yang baru datang. Budi mengusap perutnya sambil menatap nanar roti premium itu. "Gila, seumur-umur gue lembur di sini, boro-boro dapet roti mahal. Paling dikasih nasi bungkus sisa rapat. Hoki banget lu, Ndri."

Andrian tertawa kecil, rasa lelahnya mendadak menguap. Dia membuka kotak roti tersebut. Teksturnya sangat lembut, kontras dengan roti keras dari minimarket yang ia gigit dengan nelangsa kemarin siang. Sambil mengunyah, Andrian refleks mengambil ponselnya. Ada satu orang yang harus ia beri tahu tentang kemenangan kecilnya hari ini.

> Andrian: Pagi, Elena! Lu bener! Kemarin gue kerja rodi, hari ini gue dapet reward dari kantor. Roti premium sama kopi aren gratis. Bos gue yang nyeremin itu ternyata punya hati juga, atau HRD-nya yang lagi kesurupan malaikat.

Di lantai teratas, di balik meja kayu oak yang elegan, Elena baru saja meletakkan cangkir tehnya ketika layar ponselnya menyala. Membaca pesan Andrian, sebuah lengkungan tipis dan mematikan kembali menghiasi bibirnya.

Bodoh, batin Elena geli. Mana ada HRD yang peduli dengan perut anak magang di hari kedua.

Jemari Elena mengetuk layar dengan anggun.

> Elena: Baguslah. Nikmati rotimu. Setidaknya itu bisa menjadi energi sebelum kamu kembali disiksa oleh bosmu. Jangan lupa kemeja birumu dijaga agar tidak tumpah kopi, nanti kamu terlihat semakin berantakan.

Pesan terkirim. Elena meletakkan ponselnya, kembali fokus pada deretan grafik saham di tabletnya.

Sementara itu, di lantai operasional, Andrian yang sedang mengunyah roti tiba-tiba berhenti. Matanya menyipit membaca balasan Elena. Dia menunduk, menatap dadanya sendiri.

Kemeja yang dia pakai hari ini berwarna biru muda.

> Andrian: Tunggu. Kok lu tahu gue pakai kemeja biru hari ini?

Andrian menunggu dengan alis berkerut. Balasan tidak langsung datang. Tiga menit berlalu. Lima menit. Tepat ketika Andrian mulai merasa ada yang ganjil, ponselnya bergetar.

> Elena: Tebakan asal. Anak magang manajemen biasanya punya seragam kemeja putih atau biru muda. Dan mengingat kemarin kamu pasti sudah memakai kemeja putih untuk hari pertama, hari ini logikanya biru. Benar, kan?

Andrian membaca penjelasan panjang itu dan perlahan mengangguk. Masuk akal. Sangat logis. Dia membalas dengan emoticon tertawa.

> Andrian: Lu kalau kerja di BIN kayaknya cocok, Len. Analisis lu tajam juga. Tapi bener sih, seragam kebangsaan anak magang kalau nggak putih ya biru. Btw, makasih ya udah nemenin ngobrol pagi-pagi. Gue mau siap-siap disiksa lagi nih.

Andrian meletakkan ponselnya, mengabaikan kecurigaan kecil yang sempat melintas. Dia tidak tahu bahwa di lantai atas, Elena sedang menghela napas lega sambil memijat pangkal hidungnya.

"Hampir saja," gumam Elena pelan. Dia harus lebih berhati-hati. Mempermainkan anak magang ini memang menyenangkan, tapi jika identitasnya terbongkar terlalu cepat, hiburannya akan berakhir prematur.

Menjelang siang, prediksi Andrian terbukti benar. Fajar menghampirinya dengan sebuah map biru yang terlihat sangat penting, disegel dengan stiker rahasia perusahaan.

"Andrian, berhenti sebentar," potong Fajar. "Ini dokumen legalisasi vendor. Harus ditandatangani langsung oleh CEO hari ini juga."

Andrian menerima map itu. "Lalu saya kasih ke Mas Fajar?"

"Bukan. Kamu antar langsung ke lantai VIP. Kasihkan ke Bu Maya, sekretaris Bu Elena. Jangan sampai hilang, jangan sampai kotor, dan yang paling penting, jangan buat masalah di sana."

Jantung Andrian mencelos. Lantai VIP adalah area terlarang bagi karyawan biasa, apalagi anak magang kasta terendah sepertinya. Namun, dia tidak punya pilihan. Dengan langkah berat dan doa yang tidak putus-putus, Andrian menaiki lift khusus menuju lantai tertinggi.

Ting. Pintu lift terbuka.

Hawa di lantai VIP jauh lebih tenang, lebih sunyi, dan lebih dingin. Karpet tebal menyerap suara langkah sepatunya. Di ujung lorong, terdapat meja resepsionis yang dijaga ketat, dan di balik dinding kaca buram, adalah singgasana Sang Ratu Es.

Maya sedang duduk tegak di mejanya saat Andrian mendekat dengan kaku.

"Permisi, Bu Maya. Saya Andrian dari operasional, mengantar dokumen dari Mas Fajar," ucap Andrian sopan, menyerahkan map biru tersebut.

Maya menatap Andrian dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya menelisik, seolah sedang memindai segala hal tentang pemuda di depannya. Mata elang Maya mengunci pandangan Andrian selama beberapa detik ekstra yang membuat Andrian salah tingkah.

"Terima kasih, Andrian," kata Maya dengan nada datar namun penuh selidik. "Kemeja yang bagus. Roti paginya sudah dimakan?"

Andrian tersentak kecil. "Eh? S-Sudah, Bu. Kok Ibu tahu?"

"HRD lapor ke saya," jawab Maya lancar tanpa berkedip. "Bu Elena sedang ada tamu penting di dalam. Kamu boleh kembali ke mejamu."

Andrian menunduk hormat. Namun sebelum dia berbalik, tatapannya tidak sengaja menangkap celah kecil dari pintu ruang CEO yang sedikit terbuka.

Di dalam ruangan itu, Elena sedang berdiri membelakangi jendela, menghadapi dua orang pria paruh baya bersetelan jas mahal. Aura wanita itu benar-benar mendominasi. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan suaranya terdengar walau samar—dingin dan memotong. Elena sama sekali tidak terlihat seperti manusia yang bisa diajak bercanda. Dia adalah perwujudan absolut dari kekuasaan korporat.

Bulu kuduk Andrian merinding. Dia buru-buru memalingkan wajah dan berjalan cepat kembali ke lift. Sepanjang perjalanan turun ke lantai lima belas, bayangan wajah dingin bos besarnya itu terus terngiang di kepalanya.

Sore harinya, saat hujan kembali mengguyur Jakarta, Andrian duduk di dalam bus kota yang membawanya pulang ke apartemennya. Kaca jendela bus berembun. Sambil mendengarkan musik dari earphone, dia membuka ponselnya dan mengetik pesan ke Elena.

> Andrian: Len, lu pernah nggak ngerasa takut banget sama seseorang sampai lu rasanya pengen hilang aja kalau ada di deket dia?

Di seberang sana, Elena yang sedang berada di kursi belakang mobil mewahnya, membaca pesan itu dengan alis terangkat.

> Elena: Tergantung. Siapa orangnya? Bosmu lagi?

> Andrian: Iya. Tadi gue disuruh naik ke lantai ruangannya buat nganter dokumen. Gue nggak sengaja lihat dia lagi ngomong sama klien dari celah pintu. Gila, auranya nyeremin banget. Kayak nggak punya emosi. Nggak kebayang deh cowok mana yang berani deketin cewek sedingin itu. Pasti hidupnya kaku banget.

Mobil Elena berhenti di lampu merah. Sang CEO menatap layar ponselnya cukup lama. "Sedingin itu, ya?" gumamnya pelan, sebuah kilatan jahil kembali muncul di matanya yang lelah.

Dia mengetik balasan dengan ritme pelan namun pasti.

> Elena: Jangan menilaiku... maksudku, jangan menilai orang dari luarnya saja, Andrian. Terkadang, orang yang terlihat paling dingin adalah orang yang paling butuh seseorang untuk diajak bicara tentang hal-hal sederhana. Seperti roti premium, atau kemeja biru yang kusut.

Andrian membaca balasan itu. Dahinya berkerut. Kata-kata Elena terasa aneh. Sangat spesifik. Dan sejenak, Andrian merasa ada sesuatu yang janggal dari cara Elena mengetik pesan tersebut.

Menilaiku? batin Andrian. Dia salah ketik atau...

Namun sebelum Andrian bisa mencerna lebih jauh, pesan kedua dari Elena masuk, membuyarkan konsentrasinya.

> Elena: Sudahlah, jangan memikirkan bosmu terus. Nanti kamu jatuh cinta. Sudah sampai rumah?

Andrian tertawa geli di dalam bus, mengusir jauh-jauh pemikiran konyol yang sempat melintas di otaknya. Jatuh cinta pada bos seperti itu? Yang benar saja.

> Andrian: Jatuh cinta sama kulkas dua pintu? Nggak makasih. Mending gue ngobrol sama lu, Len. Lebih hangat. Gue baru mau turun bus nih.

Di dalam mobil mewahnya, Elena tersenyum membaca balasan itu. "Kita lihat saja nanti, Andrian. Siapa yang akan jatuh cinta duluan pada kulkas dua pintu ini."

Bersambung...

1
sphinxeditz77
Terima kasih buat kalian yang sudah mampir dan baca novel ini! 🥹❤️

Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥

Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆

Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥

Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!