SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: SATU HARI SEBELUM TIRAI DIBUKA
Pagi itu, jubah abu kehijauan sudah tergantung di bingkai kayu di kamar Ruyin, lengannya terkulai rapi seperti seseorang yang menunggu dengan sabar.
Pelayan membantunya mengenakannya satu lapis demi satu lapis. Sutra itu dingin sebentar di kulit, lalu menghangat. Benang perak di tepi lengan nyaris tak terlihat kecuali saat ia menggerakkan tangan, dan cahaya jendela menyentuhnya seperti embun tipis di pinggir daun. Nyonya Lin masuk tanpa diumumkan, memutari Ruyin sekali dengan mata yang memeriksa jahitan, bukan wajah.
"Angkat tanganmu."
Ruyin mengangkatnya. Nyonya Lin menekan ujung lengan dengan dua jari, memastikan panjangnya tidak menyentuh jari-jari saat tangan diturunkan.
"Pas. Kerahnya?"
"Longgar sedikit."
"Aku sudah minta begitu." Nyonya Lin merapikan lipatan di leher, lalu menyentuh tusuk konde giok putih di meja rias dan menimbangnya di telapak tangan. "Kau tidak tahan sesuatu yang berat di kepala. Kutaruh sedikit lebih rendah, supaya tidak menarik rambutmu."
Ruyin tidak pernah mengatakan itu kepada siapa pun sejak pulang. Ia hanya menatap bayangan ibunya di cermin tembaga, tangan yang menyelipkan konde dengan sangat hati-hati, dan merasakan sesuatu yang sederhana dan hangat. Tidak semua yang diketahui orang tentang dirinya adalah teka-teki.
"Terima kasih, Ibu."
"Jangan bergerak. Kalau miring, aku harus mengulang."
———
Menjelang siang, halaman depan penuh dengan peti kecil dan kotak-kotak berpita. Pengurus rumah berdiri di tengahnya sambil menghitung dengan jarinya, dan Yucheng, yang lengan bajunya digulung sampai siku, memeriksa roda kereta bersama seorang sais tua.
Sepasang kuas dan sebatang tinta untuk tuan rumah sudah dibungkus kain sutra kelabu dan diikat tali sederhana. Ruyin menyentuhnya sekilas. Tali itu dua lilitan, bukan tiga. Ia sendiri heran mengapa ia memeriksanya.
Seorang pegawai berpakaian hijau tua dari Kediaman Pangeran Ning datang tak lama kemudian, membawa selembar papan nama kecil dari kayu untuk dicantolkan di kereta Shen, penanda yang memudahkan penjaga gerbang mengenali rombongan. Ia membungkuk sopan dan berbicara pada pengurus rumah dengan nada orang yang sudah hafal naskahnya.
"Papan ini untuk empat orang, sesuai catatan kami. Tuan, Nyonya, Tuan Muda, dan Nona Kedua."
"Empat," kata pengurus rumah. "Benar."
Ia menerima papan itu. Pegawai itu pamit dengan membungkuk, dan baru ketika kereta pegawai itu berbelok keluar gerbang, Ruyin menyadari sesuatu yang tidak sempat ia tangkap tadi.
Tuan Shen baru memastikan akan ikut pagi tadi. Kemarin sore, di aula samping, ia masih ragu karena urusan di istana. Pengurus rumah sendiri mengatakan hal itu kepada Yucheng, yang menjawab bahwa mereka akan menunggu kabar dari ayah mereka sebelum mengirim konfirmasi. Konfirmasi itu belum dikirim. Belum ada satu utusan pun yang keluar dari gerbang ini membawa kabar tentang jumlah anggota keluarga.
Dan papan itu sudah mencatat empat.
Ruyin tidak menegur pengurus rumah. Pria itu hanya menghitung hadiah lagi dengan jarinya, seperti seseorang yang tidak merasa ada yang aneh. Di sudut halaman, Bibi Qin sedang menggulung selimut perjalanan. Ketika nama Kediaman Pangeran Ning disebut oleh pegawai tadi, tangannya berhenti di tengah gulungan, hanya selama satu tarikan napas. Lalu ia melanjutkan, dan gulungan itu ia ikat lebih erat dari yang diperlukan.
———
Yucheng menghampirinya ketika matahari mulai condong, membawa dua apel dan melemparkan satu ke arah Ruyin.
"Gigit saja. Kau belum makan siang."
Ruyin menangkapnya. "Kakak yakin jamuan ini biasa saja?"
Yucheng menggigit apelnya pelan, matanya mengikuti seorang pelayan yang berlalu membawa peti. "Jamuan sastra selalu terlihat biasa," katanya akhirnya. "Orang duduk, menulis, memuji, dan pulang. Yang tidak biasa biasanya terjadi di antara pujian itu."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban kakak yang sedang makan apel." Ia tersenyum, tetapi matanya tidak ikut. "Dengar, Ruyin. Duduk saja di tempatmu. Tulis dengan jujur kalau diminta. Kalau ada yang bertanya lebih jauh dari yang pantas, lihat aku."
"Dan Kakak akan menolongku?"
"Aku akan batuk."
Ruyin tertawa, dan Yucheng ikut tertawa. Tetapi ia melihat kakaknya tidak benar-benar menjawab apakah ia tahu sesuatu, dan ia memilih menggigit apelnya sendiri.
———
Sore hari, Nyonya Lin memanggilnya ke aula samping untuk nasihat terakhir.
"Jangan menjawab pertanyaan pribadi lebih panjang dari yang ditanyakan," katanya sambil menuang teh yang sudah dingin ke cawan Ruyin. "Dan jangan anggap percakapan ringan sebagai percakapan yang benar-benar ringan. Di rumah itu, orang bertanya tentang cuaca untuk melihat bagaimana kau menjawab."
"Hanya itu?"
"Cukup itu." Ia menyodorkan semangkuk kecil bubur hangat dengan sedikit jahe dan lada. "Makan. Perjalanan besok panjang, dan kau tidak tahan perut kosong di keramaian."
Ruyin menerima mangkuk itu. Jahe dengan sedikit lada, persis seperti yang ia sukai, seperti di malam pertamanya di rumah ini. Ia mengingat bahwa malam itu ia sempat curiga ibunya tahu terlalu banyak, dan sekarang ia hanya merasa kenyang dan sedikit bersyukur. Dua perasaan itu bisa hidup berdampingan, ia mulai belajar.
———
Malam turun tanpa suara. Rumah mulai sunyi, lampu-lampu dikecilkan satu demi satu, dan dari halaman terdengar langkah pengurus rumah memeriksa gerbang untuk terakhir kali.
Di kamarnya, jubah abu kehijauan tergantung di bingkai, dan tusuk konde giok putih tergeletak di atas meja, memantulkan cahaya lilin dengan tenang. Tidak ada yang bersinar. Tidak ada yang bergetar. Hanya benda-benda yang menunggu pagi.
Ruyin duduk di tepi ranjang dan memikirkan hari-hari yang telah ia lalui. Di rumah Lu, ia belajar bahwa orang menyimpan masa kecilnya dalam potongan berbeda. Di rumah Cen, bahwa kenangan bisa hangat tanpa harus benar. Di ruang jahit, bahwa ibunya menyayanginya dan tetap bisa menyimpan sesuatu.
Dan hari ini ia belajar hal lain, yang paling tenang, dan paling sulit diabaikan. Ada orang-orang di kota ini yang mengetahui keputusannya sebelum ia membuatnya, yang mencatat langkahnya sebelum ia melangkah.
Ia memadamkan lilin. Di dalam gelap, sebelum tidur datang, satu pertanyaan duduk diam di dadanya, tanpa nada dan tanpa takut: siapa yang sudah tahu, dan sejak kapan?