Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
.
Aisyah kini telah berada di depan ruko milik Pak Akbar. Wanita itu turun dari taksi setelah membayar argo, lalu berjalan dengan tenang ke arah ruko yang terlihat terbuka, setelah beberapa kali dia lewat dan pintu ruko itu dalam keadaan tertutup.
Saat baru saja menginjakkan kakinya di teras ruko, tampak seorang pria paruh baya keluar dari ruko tersebut.
“Assalamualaikum,” ucap Aisyah. “Apakah ini dengan Pak Akbar?” tanya wanita itu lagi.
“Waalaikumsalam,” ucap pria paruh baya itu. “Maaf Mbak ini siapa ya?” tanyanya dengan kening berkerut.
Aisyah menggaruk pelipisnya bingung mau menjawab apa. Bukankah kemarin mereka sudah berjanjian? Kenapa Pak Akbar bisa lupa.
“Maaf, Pak. Saya Aisyah,” ucap Aisyah memperkenalkan diri. “Yang kemarin menelpon bilang ingin menyewa ruko,” lanjutnya.
“Haa…?” Pria paruh baya itu terbelalak dengan mulut sedikit terbuka. “Mbak ini beneran bu Aisyah?” tanya pria itu seperti tak percaya.
“Iya, Pak. Saya memang Aisyah yang kemarin menelpon.” Aisyah kembali meyakinkan.
“Ah… maaf, maaf,” ucap Akbar seraya mengulurkan tangannya. “Habisnya saya pikir bu Aisyah itu sudah tua. Seumuran dengan saya lah. Mana tahu kalau ternyata masih begitu muda.”
Wajah Aisyah memerah mendengar ucapan pria paruh baya itu. “Saya juga sudah tua kok, Pak. Sudah tiga puluh lima tahun.” entah kenapa Aisyah merasa wajib mengkonfirmasi.
“Baru juga tiga puluh lima. Itu mah masih muda, Mbak Aisyah. Cuma selisih tiga tahun dari anak saya.” Pak Akbar kemudian dengan isyarat telapak tangannya mengajak Aisyah untuk masuk ke dalam rukonya. “Anak saya umurnya juga baru tiga puluh delapan tahun, loh.” Sambil berjalan Pak Akbar melanjutkan ucapannya.
Sambil terus melihat-lihat seisi ruko, Aisyah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tidak mengerti harus menjawab apa. Pasalnya, pria paruh baya di sampingnya itu bukannya berbicara tentang ruko malah berbicara tentang anaknya. Katanya anaknya tampan, katanya anaknya mapan. Bla … bla… bla…
“Ngomong-ngomong, berapa harga sewa ruko ini setahun, Pak Akbar?” Aisyah mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Soal harga, gampang lah nanti Mbak Aisyah bisa ngobrol sama Akbar. Saya mah nggak paham harga sewa-sewa seperti itu. Sebentar lagi dia pasti datang. Dia cuma keluar untuk beli makanan, soalnya tadi datang ke sini nggak bawa apa-apa.”
“Maksudnya gimana, Pak?” Aisyah menjadi bingung. Bukannya dia sedang berhadapan dengan Pak Akbar? Kenapa sekarang harus menunggu Akbar?
“Aduh… maaf,” ucap Pak Akbar sambil menggaruk tengkuknya. “Ngobrol sama Mbak Aisyah yang cantik saya jadi lupa. Jadi sebenarnya nama saya itu Rozak, bukan Akbar. Akbar itu nama anak saya. Yang pasang pengumuman di depan itu juga anak saya. Dan yang kemarin bicara dengan mbak Aisyah di telepon itu juga anak saya.”
“Oh, begitu rupanya?” Aisyah kini mengangguk-anggukkan kepalanya mulai mengerti. Hanya saja sedikit tidak habis pikir, kenapa dari tadi dipanggil dengan nama pak Akbar pria itu hanya menurut saja?
“Jadi bagaimana, Mbak Aisyah? Kira-kira Mbak Aisyah suka kan dengan ruko ini?” tanya Pak Rozak antusias.
Aisyah mengangguk kecil. Ruko itu memang cukup bagus menurut Aisyah. Walaupun kalau dari luar terlihat sedikit tua, tapi sebenarnya dalamnya terlihat nyaman. Ruang aja begitu luas, sudah ada rak dan etalase. Di bagian belakang ada dapur kecil yang lengkap peralatannya. Di lantai atas juga sudah dilengkapi dengan kasur dan lemari tempat penyimpanan pakaian. Dan sejujurnya Aisyah memang sudah sreg dengan ruko itu.
“Assalamualaikum,” suara salam terdengar dari pintu depan sebelum Aisyah menjawab. Lalu seorang pria seusia dengan Raka masuk dengan dua kantong plastik di tangan.
“Waalaikumsalam,” jawab Aisyah dan Pak Rozak serempak.
“Orang yang mau saya baru kau sudah datang, Yah?” Tanya pria itu yang tak lain adalah Akbar putra dari Pak Rozak.
“Iya!” Pak Rozak langsung mendekat ke arah Akbar dan menarik tangan pria itu untuk dibawa ke hadapan Aisyah. “Ayo sini kenalin, ini Mbak Aisyah. Cantik, kan?”
Wajah Aisyah memerah mendengar percakapan antara Akbar dan Pak Rozak. Tapi ia mengulurkan juga tangannya menyambut tangan Akbar yang dipegang oleh Pak Rozak.
“Saya Akbar, yang kemarin menerima telepon dari bu Aisyah,” ucap pria itu saat bersalaman.
“Saya Aisyah. Saya suka dengan ruko nya,” ucap Aisyah. “Kalau misalnya harganya cocok, saya jadi menyewa. Untuk sementara selama satu tahun dulu dan akan saya bayar langsung.”
Tanpa diduga, Pak Rozak malah menyebutkan nominal yang berada jauh di bawah dengan harga yang disebutkan oleh Akbar saat ditelepon dua hari yang lalu. “Untuk Mbak cantik mah harga segitu sudah pantas.”
“Yah…” tegur Akbar melirik sengit ke arah ayahnya yang seolah sengaja mencari perhatian Aisyah lalu kembali menatap ke arah Aisyah dengan wajah tak enak hati.
“Maafkan ayah saya ya, Bu Aisyah,” ucap Akbar.
“Tidak apa-apa, Pak Akbar.” Aisyah meringis kecil karena sebenarnya juga merasa tidak nyaman dengan sikap Pak Rozak.
“Pokoknya nanti, kalau yang menyewa ruko ini Mbak Aisyah, saya pasti akan menyuruh Akbar untuk bantu-bantu Mbak Aisyah.” Pak Rozak seakan tidak peduli dengan teguran anaknya. “Tenang saja Mbak, kabar ini orangnya kuat kok. Nanti dia bisa bantu mbak Aisyah angkat-angkat barang, suruh belanja atau beres-beres juga nggak apa-apa.”
“Yah, aku harus kerja!” Akbar merasa malu karena ayahnya malah terkesan mempromosikan dirinya.
“Kerja apa? Gunanya asisten apa?” Pak Rozak sama sekali tidak peduli dan malah terus mencoba merayu Aisyah agar semakin mantap untuk menyewa ruko.
Sementara Aisyah, wanita itu hanya bisa memijat pelipisnya melihat perdebatan mereka berdua yang terlihat seperti Tom and Jerry.
*
Di rumah Aisyah, Raka berjalan mondar-mandir di depan pintu. Sudah sejak dua puluh menit yang lalu pria itu sampai di rumah itu setelah menyerahkan urusan tokoh dan restoran kepada karyawan kepercayaan. Tetapi sampai sekarang Aisyah belum juga tampak batang hidungnya.
"Kemana sebenarnya dia? Kalau cuma mengantar anak-anak ke sekolah Kenapa lama sekali?" pria itu meraup wajahnya dengan gusar.
Sudah sejak tadi ia mencoba menelpon Aisyah, tetapi yang ia dapatkan hanya jawaban dari operator yang mengatakan bahwa ponselnya tidak aktif. Padahal dia sudah mencuri-curi waktu untuk bisa pulang ke rumah itu setelah memastikan Nabila baik-baik saja dan dia beralasan akan pergi ke toko. Tapi malah tidak bisa bertemu dengan Aisyah.
Hingga ketika waktu menunjukkan pukul 11.00, sebuah mobil taksi online berhenti di depan pagar rumahnya.
Masih di depan pagar, Aisyah yang melihat keberadaan mobil Raka di halaman membungkukkan sedikit badannya.
"Nanti kalau Ibu bilang ibu menunggu Fatimah di sekolah, Fatimah bilang iya, gitu ya?" bisik Aisyah di telinga Fatimah.
Fatimah yang tidak mengerti hanya mengangkat wajah menatap wajah ibunya kemudian menganggukkan kepala.
Raka yang sedang duduk di sofa ruang tengah segera keluar mendengar suara pintu pagar terbuka.
"Kamu dari mana?"
pa Rozak pasti kaget lah kalau tahu Aisyah punya suami meskipun suaminya nikah lagi..m