NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: AWAL KESADARAN

Seminggu berlalu sejak malam Bang Tua menuliskan catatan kecilnya itu. Dia belum memberi tahu siapa pun, bahkan Pak Ferdinand yang paling dekat dengannya pun masih menganggap keanehan sikap Bang Tua belakangan ini hanya karena tekanan disertasi yang menumpuk, sesuatu yang membuat Bang Tua diam diam merasa bersalah karena harus terus berbohong kecil kepada satu satunya orang yang paling sering menghabiskan waktu bersamanya. Bang Tua sendiri masih belum sepenuhnya paham bagaimana cara kerja kekuatan ini, kapan bisa dia kendalikan, kapan hanya muncul begitu saja tanpa dia minta, dan seberapa besar batasannya, kalau memang ada batasan sama sekali.

Yang dia tahu pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi seperti sebelum semua ini dimulai. Bahkan kebiasaan kebiasaan kecilnya sehari hari mulai terasa berbeda, dia jadi lebih berhati hati saat menggerutu, bahkan untuk hal hal remeh seperti mendapati antrian kamar mandi kos yang lama, sampai sampai suatu pagi dia sempat menahan diri dari komentar dalam hati soal penghuni kos sebelah yang terlalu lama mandi, khawatir jangan jangan besok orang itu tiba tiba kena diare atau semacamnya, sebuah kekhawatiran yang terdengar konyol tapi terasa sangat nyata baginya sekarang.

Sore itu, dia duduk sendirian di warung kopi Bu Rohana, lebih lama dari biasanya, menatap cangkir kopinya yang sudah setengah dingin, pikirannya melayang jauh memikirkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Apakah dia harus mencoba lagi, menguji batasan kekuatannya lebih jauh? Atau justru sebaliknya, berusaha melupakan semuanya, kembali menjalani hidup seperti dulu, diam dan menjaga diri sendiri tetap bersih, berpura pura tidak pernah menemukan apa apa.

Bu Rohana sempat lewat menawarkan gorengan tambahan seperti biasa, dan Bang Tua menerimanya sambil melontarkan candaan ringan, "boleh, Bu, sekalian doain saya biar cepat kelar disertasinya ya", sebuah candaan biasa yang sebenarnya menyimpan makna ganda yang hanya dia sendiri yang mengerti, mengingat betapa dia baru saja menyadari bahwa doa doa atau harapan yang diucapkan dengan sungguh sungguh bisa jadi punya kekuatan yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.

Di tengah lamunannya, ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari grup dosen jurusan, mengabarkan bahwa akan ada kasus baru yang cukup pelik menimpa salah satu mahasiswa tingkat akhir, sesuatu yang menyangkut dugaan pelanggaran serius yang melibatkan oknum internal kampus sendiri, dan kabarnya akan dibahas dalam rapat mendadak besok pagi.

Bang Tua membaca pesan itu berulang kali, dahinya berkerut. Ini bukan lagi masalah sepele seperti antrian BBM atau penipuan telepon receh. Ini masalah yang menyangkut institusi tempatnya bekerja, menyangkut nasib seorang mahasiswa, dan kemungkinan besar, menyangkut kepentingan orang orang yang punya kekuasaan lebih besar darinya di kampus.

Dia membaca pesan itu sekali lagi, mencoba mencari petunjuk lebih detail soal kasus apa sebenarnya yang dimaksud, tapi pesan singkat dari sekretaris jurusan itu hanya memuat informasi seadanya, cukup untuk membuat penasaran tapi tidak cukup untuk benar benar memahami duduk perkaranya. Dia membalas pesan itu dengan singkat, "siap, saya usahakan hadir", jawaban baku yang biasa dia gunakan untuk undangan rapat mendadak semacam ini, meski kali ini jarinya terasa lebih berat menekan tombol kirim dibanding biasanya.

Dia menatap layar ponselnya lama, jantungnya berdebar dengan alasan yang berbeda dari biasanya, bukan lagi debar ketakutan semata, tapi juga debar dari sesuatu yang mirip dengan tekad yang mulai tumbuh perlahan di dalam dirinya. Sempat terlintas juga di kepalanya lelucon kecil untuk meredakan ketegangan, "kalau sampai besok aku ngedumel di rapat dan tiba tiba semua yang bersalah ketahuan seketika, wah, bisa bisa aku diangkat jadi satpam kampus dadakan, spesialisasi mendeteksi kebohongan", tapi kali ini leluconnya sendiri terasa berbeda, tidak sepenuhnya berhasil menghibur dirinya seperti biasanya, karena dia tahu betul apa yang akan dia hadapi besok bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap enteng.

Selama ini dia selalu memilih diam ketika melihat ketidakadilan, karena percaya suaranya tidak akan pernah cukup untuk mengubah apa pun. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tahu, atau setidaknya mulai percaya, bahwa anggapan itu mungkin saja keliru.

Bang Tua menghela napas panjang, meneguk sisa kopinya yang sudah dingin sekaligus, lalu bangkit dari kursinya dengan langkah yang terasa sedikit berbeda dari biasanya, lebih mantap, meski masih diselimuti keraguan yang belum sepenuhnya hilang.

Dia belum tahu persis apa yang akan dia hadapi besok pagi di rapat itu. Dia belum tahu sejauh mana dia berani menggunakan kekuatan yang baru saja dia sadari ini, atau apakah dia akan sanggup menjaga rahasianya sendiri di tengah tekanan yang mungkin akan datang. Yang dia tahu, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai, dan kali ini, entah kenapa, dia merasa tidak akan bisa lagi kembali menjadi Bang Tua yang dulu, yang hanya bisa menggerutu pelan lalu berjalan pergi.

Malam itu, sebelum tidur, dia sempat menatap cermin kamar kosnya lama sekali, memandangi wajahnya sendiri yang selama ini selalu berusaha tampil datar dan tenang di depan semua orang, sampai sampai sempat terpikir olehnya untuk mempraktikkan ekspresi "pahlawan super" di depan cermin, mengangkat dagu tinggi tinggi dengan gaya dramatis, sebelum akhirnya tertawa sendiri melihat pantulannya yang menurutnya terlihat konyol, lebih mirip dosen yang kurang tidur dibanding sosok pahlawan mana pun.

"Besok," gumamnya pelan pada bayangan dirinya sendiri, kali ini dengan nada yang lebih serius meski masih menyisakan sedikit senyum geli di ujung bibirnya, "kita lihat, apa yang bisa aku lakukan."

Dia merebahkan diri ke kasurnya yang tipis, menatap langit langit kamar yang sudah sangat dia hafal setiap detailnya, mencoba menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan. Sesekali dia tersenyum sendiri mengingat kembali momen momen jenaka yang sempat terlintas di kepalanya sepanjang minggu ini, semacam pengingat kecil bahwa meski hidupnya baru saja berubah drastis, bagian dari dirinya yang suka melucu dan usil itu tidak sepenuhnya hilang, hanya butuh waktu untuk kembali menemukan keseimbangannya di tengah kenyataan baru yang harus dia hadapi.

Di luar jendela, suara jangkrik malam terdengar bersahutan, ditingkahi sesekali suara motor yang lewat di gang, kehidupan kota yang terus berjalan seperti biasa, tanpa tahu bahwa salah satu penghuninya baru saja menyadari sesuatu yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya. Bang Tua menutup matanya perlahan, membiarkan rasa kantuk yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengambil alih, membawanya ke tidur yang mungkin akan jadi tidur terakhirnya sebagai Bang Tua yang lama, sebelum esok hari dia bangun sebagai seseorang yang mulai berani menghadapi dunia dengan cara yang sama sekali berbeda.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!