"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Bangkitnya Sang Penguasa Elemen Kristal
Sing!....
Suara tebasan pedang pemuda itu menggema di seluruh area pegunungan, menyapu habis seluruh batu-batu yang tersisa di sekitar mereka, menciptakan kabut tebal di antara mereka berdua.
Di saat-saat kondisi kritis tersebut, semua orang mengira Itsuki telah di habisi sepenuhnya. Namun, takdir berkata lain, Itsuki masih bertahan dengan sisa-sisa pelindung tenaga dan naga magma miliknya.
Di kejauhan, teman-teman Itsuki menyaksikan penghianatan yang keni itu dengan teriakan istri, mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Itsuki di tusuk dan di tendang setelah menunjukkan kemurahan hatinya.
Mereka berusaha memberontak dan berlari maju untuk menyelamatkan itsuki. Namun, langkah mereka langsung terhenti . Sejak awal pertempuran di mulai, Itsuki yang teramat melindungi teman-temannya telah mengurung mereka di kubah energi magma yang sangat tebal agar tidak terkena serangan dari naga api miliknya.
kubah pertahan itu adalah benteng pertahanan pertama yang mustahil di tembus dari dalam, mereka hanya bisa mengamuk di dalam kurungan energi itu, memukul-mukul dinding magma hingga telapak tangan mereka melepuh.
Air mata mereka mengalir tak terbendung melihat sahabat terbaik mereka siap di habisi tempat di depan kepala mereka sendiri tanpa bisa melakukan apapun.
Pemuda itu kini berdiri tegak tepat di depan kepala Itsuki yang telah bertumpu kepada kedua kakinya dengan darah yang terus menguncir deras.
Ia mengangkat pedang kegelapannya tinggi-tinggi ke udara kedua kalinya, mengumpulkan seluruh sisa energi kegelapan hingga menjadi sebuah bola distro yang tepat di arahkan ke Itsuki.
Menatap korbannya yang tak berdaya, pemuda itu berteriak histeris,"Hahaha! Matilah kau, dasar pecundang!"....
BOOM!.
Ledakkan Dashyat bersekala besar terjadi kedua kalinya, menghancurkan seluruh area perbukitan dan menelan tubuh Itsuki kedalam gulungan cahaya yang bisa menghancurkan apa saja yang di sentuhnya.
Ledakan dashyat yang baru saja terjadi mengguncang pondasi bumi, asap hitam pekat menggulung, memakan sisa-sisa kobaran api magma dan menyembunyikan segala hal kedalam kegelapan yang sangat absolut.
Bumi bergetar hebat karena sisa energi negatif. Di tengah kekacauan itu, mantan sahabat Itsuki berdiri dengan napas terengah-engah.
Perlahan, sisa-sisa debu yang menyelimuti sekitar telah hilang di tiup angin malam, pemuda penghianat itu menyeka keringat di dahinya, lalu tersenyum dengan sangat sombong.
Wajahnya di penuhi kilatan kepuasan yang nangis, ia tertawa renyah, merasa dirinya telah memenangkan pertarungan ini sepenuhnya. Di pikirannya Itsuki telah hancur menjadi debu, lenyap bersama idealisme bodohnya.
Namun, takdir berputar di luar pikirannya, ketika debu benar-benar menipis, sebuah siluet silinder yang dingin mulai terlihat. Tiba-tiba, Itsuki berdiri tegak di sana, tidak ada sedikitpun luka baru di dadanya.
Ia berdiri dengan sangat dingin, memancarkan aura yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Dengan posisi topi yang sengaja di kebelakang kan, Itsuki menatap lurus ke depan.
Seluruh pakaian pertarungannya kini telah berubah warna menjadi keperakan yang berkilau, memantulkan sisa-sisa cahaya di sekitarnya.
Kali ini, Itsuki telah bangkit dengan elemen barunya, yaitu elemen kristal. Di tangan tangannya, tergenggam sebuah pedang kristal yang membeku, mengeluarkan hawa dingin yang luar biasa hingga mampu membekukan butiran debu di udara secara instan.
Ternyata, tepat sebelum ledakan itu menghantam tubuhnya, elemen magma core Sovereign miliknya telah mencapai batas absolut nya
Di karena rasa sakit hati yang teramat sangat dan amarah yang membakar hingga kedalam sukma akibat penghianatan berulang. Inti kekuatannya justru berevolusi, inti magma yang panas beregenerasi menjadi elemen kristal yang jauh lebih mematikan.
Dari dalam kubah dingin yang kini mulai mencair, taman-taman Itsuki hanya bisa terbelalak tidak percaya.mereka menatap dengan mulut ternganga, menyaksikan bagian level Itsuki naik dengan sangat cepat dalam hitungan detik, menembus batasan mustahil yang di anggap selama ini mustahil oleh seluruh para pemburu makhluk.
Itsuki melangkah maju, suaranya terdengar sangat dingin tetapi menusuk, menggema membela keheningan lembah, menampar keras Egi pemuda di hadapannya.
"Eh, dasar manusia tidak bermarwah," ucap itsuki, setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai jarum es yang menghujam jantung. "Kau telah benar-benar melebihi makhluk yang jurjana!..... kau telah membuang semua kemanusiaan yang kau miliki demi kesenangan dan ambisi sesaat!..... Kau telah menggadaikan jiwa mu yang sesungguhnya demi kekuatan gelap yang suatu hari akan lenyap dan berujung sia-sia!".......
Mendengar kencaman itu, wajah penghianat berubah drastis dari sombong menjadi pucat pasi. Namun, Itsuki tidak memberikan waktu lagi bagi lawannya untuk mencerna kekuatan tersebut.
Itsuki meloncat tinggi ke udara, menembus langit malam, ia menatap kebawah dengan mata yang memancarkan amarah yang terukur namun penuh tenaga, konsentrasi energinya yang masif seketika membangkitkan sosok naga es raksasa yang sangat megah di udara.
Naga itu tercipta dari untaian kristal abadi yang membeku, meraung keras memecah keheningan malam. Dari atas langit, Itsuki berseru dengan suara yang bergetar hebat, menggema di sepanjang lembah gunung tersebut.
"Aku telah memberimu kesempatan kedua!.... Jika kehancuran ini yang kau inginkan!.... Maka inilah yang akan kau dapatkan!".....
Itsuki maju meluncur dari langit bagaikan meteor es, pergerakannya begitu cepat dan presisi hingga membuat lawannya kewalahan untuk sekadar menghindar.
Sang penghianat mencoba mengangkat pedang kegelapannya untuk bertahan, namun kekerasan kristal Itsuki berada di level yang berbeda. Pedang bayangan milik pemuda penghianat itu hancur total menjadi serpihan hitam di saat itu juga.
Mesti senjatanya telah hancur dan tubuhnya bergetar, di sisa-sisa keputusaan nya, pemuda itu tetap sombong. Ia berteriak histeris menantang maut, "Marilah! Kau kira kau bisa mengalahkan ku dengan sihir murahan ini, dasar BODOH?!".....
Tepat di saat kata-kata angkuh itu keluar dari mulutnya, sebuah hantaman kasat mata telak mendarat di dadanya. Pergerakan pemuda itu benar-benar telah di kunci oleh itsuki yang mengendalikan Medan magnet kristal di sekitar mereka.
Tubuh sang penghianat terlempar ratusan meter kebelakang, menghantam Bandaran tebing batu dengan keras. Belum sempat tubuh itu jatuh sepenuhnya ke tanah, dengan kecepatan kilat Itsuki telah muncul kembali tepat di hadapan pemuda itu.
Pedang kristal yang membeku kini menempel di leher sang penghianat. "Ingat selalu di dalam lubuk hatimu yang paling dalam," bisik Itsuki, tatapannya begitu menusuk ke jiwa.
"Jangan pernah meremehkan kekuatan seseorang, jangan pernah kau kura jika orang itu diam dan memilih mengalah, berarti dia lemah bisa kau injak-injak sesuka hatimu!".....
Melihat maut yang sudah berada tepat di depan mata, runtuh lah seluruh kesombongan pemuda penghianat itu. Air matanya mulai menggelinjang membasahi pipinya yang kotor oleh debu tebing. Dengan suara yang bergetar ketakutan, ia memohon dengan sangat iba.
"Maaf kan aku, Itsuki.... Aku salah! aku berjanji akan kembali ke jalan kebenaran, aku benar-benar minta maaf atas semua perlakuan buruk ku selama ini kepada mu. Kumohon, Itsuki.....ingatlah, kita adalah sahabat dan teman seperguruan yang telah melewati pahitnya kehidupan bersama sejak kecil!"......
(Bersambung).