NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:537
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. ANTARA MISTIS DAN MASA LALU

"Kayaknya gue beneran dikerjain sama tuh bocah. Awas aja, kali ini enggak bakal gue kasih ampun!"

Rahsya tidak tahan lagi. Ia menuruni tangga dengan langkah lebar yang berdentum, menuju kamar tamu yang ditempati Amel.

Braakk! Braakk! Braakk!

Rahsya menggedor pintu kayu itu sekuat tenaga.

"Woi, keluar! Jangan sembunyi kamu, Amel!" teriaknya.

Nihil. Tidak ada sahutan. Rahsya mencoba memutar knop, namun terkunci rapat.

"Sial, kayaknya dia sudah tidur dan pura-pura enggak dengar," gumamnya penuh prasangka. Ia segera berlari mengambil kunci cadangan dan kembali dalam sekejap.

Pintu terbuka. Rahsya merangsek masuk, namun ia tertegun. Kamar itu kosong melompong. Seprainya masih rapi, bantal-bantalnya tersusun sempurna seolah belum disentuh manusia.

"Ke mana dia?"

Puk!

Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu belakangnya. Tubuh Rahsya menegang seketika. Ia menoleh dengan gerakan lambat yang kaku.

"Ah, setan!"

Rahsya memekik, nyaris melompat ke atas tempat tidur.

"Ih, Kakak! Ini Amel, bukan setan!"

Amel berdiri di sana dengan wajah yang tertutup masker kecantikan putih tebal. Rambut hitam panjangnya yang sepinggang dibiarkan tergerai menutupi bahu piyama dress putihnya. Dalam remang cahaya, penampilannya benar-benar mirip kuntilanak versi modern.

"Kamu... ngapain pakai begituan malam-malam begini?!"

Rahsya berkacak pinggang, napasnya tersengal-sengal menahan jantung yang hampir copot.

"Ini tuh perawatan wajah, Kak. Biar muka aku makin kinclong. Di rumah aku memang sudah biasa pakai masker tiap malam," jawab Amel tanpa dosa.

"Tapi ini bukan rumah kamu, Amel! Kamu harus tahu aturan! Kamu mau bikin saya mati kena serangan jantung, hah?!"

"Enggak mau lah! Nanti aku jodohnya sama siapa kalau Kakak meninggoy?" sahut Amel sambil mengerling genit di balik masker putihnya.

"Mana saya tahu! Eh, eh... kok jadi ngebahas saya mati sih? Saya ke sini mau marahin kamu! Kamu sudah ganggu tidur saya, ketuk-ketuk pintu kamar saya berkali-kali. Kamu pasti tadi sembunyi, kan? Soalnya saya enggak lihat kamu di depan pintu!"

Amel mengerutkan kening, membuat masker di wajahnya sedikit retak. "Kakak ngomong apa sih? Orang Amel dari tadi sibuk maskeran di dapur sambil nunggu air mendidih. Terus Kakak ngapain datang ke kamar aku, terus buka-buka segala?"

Amel tersenyum malu-malu yang malah membuat Rahsya merasa muak. "Jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa? Kamu jangan kegeeran! Saya ke sini cuma mau negur kamu!"

"Iya, Amel tahu. Tapi beneran sumpah deh Kak, suer! Amel enggak ngetuk pintu kamar Kakak. Dari tadi Amel di dapur. Kalau enggak percaya tanya saja sama Pak Mamat. Beliau lagi ngopi di sana."

Darah Rahsya mendadak terasa dingin. Ia tidak melihat kebohongan di mata Amel. Tanpa kata, ia langsung melesat menuju dapur. Benar saja, Pak Mamat masih duduk santai dengan cangkir kopinya.

"Pak!" sapa Rahsya singkat.

"Eh, Den. Kenapa ya?" Pak Mamat bangkit dengan hormat.

"Apa benar kalau Amel dari tadi di sini?"

"Betul, Den. Neng Amel tadi bantu saya menyeduh kopi juga. Memangnya ada apa?"

Rahsya tertegun. Bulu kuduknya meremang hebat. "Ah... enggak apa-apa Pak, cuma nanya. Dilanjut saja ngopinya."

Ia berbalik dengan langkah gontai kembali ke arah Amel.

"Gimana? Bener kan aku enggak bohong?" tanya Amel penuh kemenangan. Rahsya hanya mengangguk patah-patah, pikirannya berkecamuk. Ia segera melangkah kembali ke kamarnya tanpa bicara lagi.

'Mungkin gue cuma halusinasi karena kecapekan,' batinnya mencoba mencari penjelasan medis.

Namun, tepat saat ia menutup pintu kamarnya sendiri, suara bisikan lembut—yang kali ini jelas bukan suara Amel—terdengar tepat di belakang telinganya: "Ganteng... temenin main, yuk..."

"Hah? Siapa tuh?!" Rahsya sontak berbalik. Gerakannya begitu cepat hingga otot lehernya terasa kaku. Matanya menyisir setiap sudut kamar dengan waspada—dari balik lemari jati yang besar, kolong tempat tidur, hingga bayangan gorden yang bergoyang pelan ditiup angin malam.

Jantungnya berdentum kencang, menciptakan simfoni ketakutan di dalam dadanya. Namun, ruangan itu kosong. Hanya ada keheningan yang menekan dan aroma kayu tua yang khas. Tidak ada sosok Amel, tidak ada Pak Mamat, apalagi wanita tanpa kepala. Hanya ada dirinya sendiri yang berdiri mematung dengan napas tersengal di tengah kamar yang temaram.

"Ck. Udahlah, mungkin gue emang butuh tidur," gumamnya sambil mengusap wajah kasar. Ia mencoba merasionalisasi segalanya.

Sebagai seorang dokter, ia tahu betul bahwa otak yang kelelah ekstrem dan kurang tidur bisa menciptakan halusinasi auditorik yang sangat nyata. Ia menyalahkan rentetan kejadian absurd sejak dini hari tadi—dari persalinan sapi hingga teror di telaga—sebagai pemicu rusaknya fungsi logikanya malam ini.

Dengan langkah yang dipaksakan tenang, Rahsya kembali merangkak naik ke atas ranjang. Ia menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada, lalu memejamkan mata kuat-kuat, berusaha menenggelamkan diri dalam kegelapan tidurnya.

"Tidur, Rahsya. Besok pagi semuanya bakal normal lagi," bisiknya pada diri sendiri, sembari merapalkan doa-doa pendek yang ia hafal.

Namun, tepat saat kesadarannya mulai meredup menuju alam mimpi, ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Kasur di samping kakinya perlahan-lahan melesak ke bawah, seolah-olah ada seseorang yang baru saja duduk dengan sangat pelan di tepi ranjangnya. Rahsya membeku. Matanya tetap terpejam, namun seluruh saraf di tubuhnya menjerit waspada. Ia bisa merasakan hawa dingin yang lembap merayap naik ke betisnya, diikuti oleh suara bisikan yang sangat halus, tepat di depan wajahnya.

"Kak... beneran enggak mau obatin aku sekarang?"

Rahsya menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberaniannya yang kini mungkin hanya tinggal satu persen. Dengan tangan gemetar, ia memutar tubuhnya. Di tepi ranjang, seorang gadis sedang duduk membelakanginya. Saat Rahsya melangkah mendekat, gadis itu menoleh perlahan dan menyunggingkan senyum lebar yang sangat manis. Wajahnya imut, sekilas mirip dengan Amel, namun memiliki aura yang jauh lebih tenang dan dewasa.

Gadis itu mengenakan dress hitam selutut yang kontras dengan kulitnya yang bersih, sementara rambut hitam sebahunya membingkai wajahnya dengan sempurna.

Bukannya lari tunggang langgang, Rahsya justru terpaku. Ingatannya terseret mundur sepuluh tahun lalu, saat ia merayakan ulang tahun ke-18 di desa ini. Gadis di depannya adalah sosok yang memberinya kado paling "ikonik" sepanjang sejarah hidupnya: sehelai celana dalam kuning bermotif bebek. Benda keramat yang sempat hilang dicuri sahabatnya, Reno, namun berhasil ia rebut kembali dan ia simpan rapi hingga detik ini sebagai pusaka sejarah.

"Kamu?" bisik Rahsya, suaranya melembut drastis, jauh berbeda saat ia membentak Amel tadi.

"Kenapa kamu bisa ada di sini?"

Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Rahsya. Ia justru menatap Rahsya dengan binar mata yang sayu.

"Aku cuma mau minta tolong, bisa obatin luka aku enggak?" tanyanya dengan nada suara yang halus dan mendayu. Ia memiringkan kepalanya, menyibakkan helaian rambut hitamnya untuk memperlihatkan sebuah luka goresan yang cukup panjang di lehernya.

Rahsya sontak panik. Naluri dokternya mengambil alih; ia segera menyambar kotak P3K dari atas nakas dan duduk di samping gadis itu.

"Ini kenapa bisa sampai begini?" tanya Rahsya telaten, jemarinya dengan lembut mengoleskan antiseptik ke luka tersebut.

"Aku juga enggak tahu, Kak. Tiba-tiba leher aku sudah luka seperti ini," jawabnya pelan sambil menatap lekat wajah Rahsya dari jarak dekat.

"Maaf kalau aku mengganggu tidur Kakak dan main nyelonong masuk kamar. Soalnya kata warga di sini, Kakak itu dokter hebat, jadi aku langsung datang ke sini."

Rahsya menyelesaikan perbannya dengan rapi. "Iya, enggak apa-apa. Lagipula kalau dibiarkan, luka ini bisa infeksi," ucapnya sambil merapikan sisa kasa.

Meski hatinya berbunga-bunga, otak medis Rahsya mulai memproses kejanggalan. Bagaimana gadis ini masuk? Pintu kamar terkunci rapat, pintu vila pun sudah digembok oleh Pak Mamat. Namun, pesona gadis "kado bebek" ini benar-benar membutakannya.

Jika dia hantu, kenapa sentuhan tangannya terasa hangat? Kenapa wajahnya merona dan tidak pucat? Rahsya tidak peduli lagi. Persetan jika gadis ini berniat merampok seisi vilanya, ia justru sudah berkhayal jauh ingin mengenalkannya sebagai calon menantu kepada orang tuanya.

"Oh iya, dari tadi kita bicara tapi saya belum tahu namamu. Nama kamu siapa?" tanya Rahsya sambil menatap mata gadis itu dalam-dalam, berharap kali ini ia tidak menghilang lagi seperti sepuluh tahun lalu.

"Emm... nama aku Kinanti, Kak. Panggil saja Kinan," ucapnya lirih. Suaranya terdengar seperti gemerisik daun di tengah keheningan malam, lembut namun entah mengapa terasa dingin di telinga Rahsya.

"Nama yang cantik, sama seperti orangnya," puji Rahsya spontan. Gombalan yang biasanya ia haramkan, kini meluncur begitu saja dengan mulus.

Kinan menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut hitam sebahunya. "Kakak bisa saja," bisiknya tersipu. Jemarinya yang pucat memainkan ujung dress hitamnya, sebuah gerak tubuh yang terlihat sangat manusiawi bagi Rahsya.

"Oh iya, kenalkan, namaku Rahsya. Kayaknya kita seumuran, deh. Jadi panggil Rahsya saja, jangan terlalu formal," ujar Rahsya sambil berusaha merapikan rambutnya yang berantakan dengan jemari.

Kinan mendongak, menatap mata Rahsya dengan binar yang sulit diartikan. "Kakak lebih tua dua tahun dari aku. Jadi enggak sopan kalau aku cuma panggil nama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!